Showing posts with label the last choice. Show all posts
Showing posts with label the last choice. Show all posts

Tuesday, February 7, 2012

The Last Choice (6)

Bila ada perempuan yang sanggup memporak-porandakan pertahanan emosinya serta sanggup membuatnya melakukan apapun, maka Katty lah orangnya. Katty satu-satunya perempuan yang cukup punya nyali untuk mendebatnya dengan berapi-api, bahkan tak jarang balas menyerangnya baik dengan argumentasi maupun dengan fisik. Sejak semasa kanak-kanak Katty tak segan-segan mencubit maupun menjewer telinganya manakala Sev menggodanya. Dan dari semua itu Sev sangat menikmati pertengkaran-pertengkaran mereka karena biasanya hal itu tak akan bertahan lama. Tak sampai satu jam mereka sudah kembali berbaikan, berkuda bersama, menjelajahi hutan kecil di belakang rumah mereka, atau berenang di kolam pribadi yang ada di Drake Castle. Namun Sev tak tahan bila Katty memasang wajah terluka seperti itu. Sev tak suka mendengar kata-kata Katty yang diucapkan dengan begitu dingin. Dan Sev semakin tidak suka saat Katty, bukannya mendengar pembelaan darinya, malah berbalik dan meninggalkannya berdiri seperti orang tolol.

Namun tentu saja langkah pendek Katty tak imbang dengan tungkai panjang miliknya. Dalam sekejap Sev sudah melompat dan meraih Katty. Gadis itu tepat berada di anak tangga pertama dan Sev dengan gerakan menyentak memegang bahunya serta memutar tubuh Katty menghadap kepadanya. Namun alangkah terkejutnya Sev melihat betapa mata Katty telah basah dengan air mata. Sev begitu tersentak, refleks kedua tangannya bergerak menangkup wajah terkasih itu. Namun Katty, menolak merasa lemah, balas menatap mata gelap Sev dengan kobaran amarah di balik deraian air matanya.

“Katty, sayang, tolong jangan menangis. Aku tak tahan,” suara Sev parau.

“Kau mau aku seperti apa, Sev? Aku tak tahu harus bagaimana. Aku tak mau menjadi cengeng, aku tak mau menjadi lemah. Tapi aku tak bisa menahan perasaanku. Aku tak mengerti karena aku tak pernah mengalaminya. Aku tak pernah punya kekasih sebelumnya. Dalam situasi seperti ini aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Yang aku tahu dan baru aku sadari hanyalah ternyata aku tak mengenalmu sama sekali, kau yang laki-laki seperti itu. Aku hanya tahu kau seperti yang selama ini kufahami, kau yang kutemui di Drake Castle, laki-laki yang bisa kuandalkan. Bukan kau yang di London ini, bukan kau yang bujangan tampan dan kaya yang jadi incaran dengan barisan wanita di belakangmu. Aku kehilangan arah tentang hubungan kita sekarang,” Katty berkata dengan jujur.

“Katty...”

“Sev, kumohon untuk kali ini tolong kau mengerti aku. Biarkan aku sendiri untuk memikirkan semua ini.”

Melihat sinar permohonan di mata berwarna almond itu Sev tak berdaya. Dengan lemah dilepasnya tangannya yang menangkup wajah Katty. Dengan mata nanar dipandangnya gadis itu melangkah pelan menaiki tangga dan masuk ke kamar tamu yang dulu dia tempati tanpa sekalipun menoleh kepada laki-laki yang mengiringi kepergiannya dengan tidak rela.

Dan sekarang sudah hampir pagi namun Sev tak juga bisa memejamkan mata. Di tempat tidur berukuran besar yang sekarang ditempatinya sendiri itu terasa sangat dingin dan tidak nyaman. Dengan masam diliriknya bantal di sebelahnya yang kini kosong. Sialan kau Katty! Rutuknya dalam hati dan dalam sekali gerakan melompat bangkit. Kamar ini telah bertahun-tahun menjadi sarang pribadinya. Selama ini hanya petugas kebersihan yang diberinya ijin untuk memasukinya. Meski belum genap sebulan dia berbagi dengan Katty, namun gadis itu seolah telah berada di situ selamanya. Dan sekarang, saat dia tidak ada Sev merasakan lubang yang menganga, kosong dan hampa. Apa yang telah kau lakukan padaku, Katty? Desahnya putus asa.

Setelah yakin dia tak akan bisa tidur Sev beranjak keluar. Dengan nanar ditatapnya pintu kamar tempat Katty berada. Sev berusaha menahan diri, demi menghormati permintaan Katty, untuk tidak menerobos masuk. Namun akal sehatnya telah terbang entah kemana karena dalam sekejap melawan segala logika Sev malah membuka pintu itu. Manakala dia tidak mendapati Katty disana, dengan panik dia berderap menuju satu-satunya ruangan yang mungkin didatangi gadis itu. Studio.

Pintu ruang studio tertutup, namun tidak terkunci saat Sev memasukinya. Dan di sana, di kursi kerja, Katty tertidur dalam posisi duduk. Gadis itu tampak begitu muda dan damai. Wajahnya tampak tenang. Mulutnya yang setengah terbuka begitu menggoda. Dengan mendesah Sev mendekatinya. Dan dalam satu gerakan ringan diangkatnya Katty dan dibopongnya keluar menuju peraduan mereka berdua. Maafkan aku, Katty, aku bukannya tak menghargai permintaanmu, tetapi aku tak mau sendirian, katanya pelan seraya meletakkan Katty di atas tempat tidur besar itu. Sev mengatur posisinya di sebelah Katty, meraih gadis itu dan meletakkan kepalanya di relung bahunya dan setelah menyelimuti tubuh mereka berdua, hanya dalam hitungan menit Sev pun terlelap.

Katty terbangun, merasakan kehangatan yang melingkupinya sebagaimana yang selalu dia rasakan setiap pagi dia terbangun di sebelah Sev. Bila dulu Sev menjadi tempatnya bersandar melebihi saudara sekarang Sev bahkan telah menjadi pusat hidupnya. Sev menjadi orang terakhir yang ditatapnya sebelum matanya terpejam dan orang pertama yang ditemuinya saat dia membuka mata. Katty merasakan pesonanya, gairahnya, kehangatannya, perasaan naik turun bak roller coaster saat dia begitu percaya bahwa Sev hanya miliknya, namun juga saat dia merasa begitu terpuruk dengan ketidak-yakinan akan perasaan Sev kepadanya. Seperti semalam. Eh? Bukankah semalam...dengan panik Katty membalikkan badannya, berputar agar bisa menghadap Sev yang tengah memeluknya dari belakang.

Sev merasakan gerakan Katty yang tiba-tiba segera terbangun. Saat membuka mata yang didapatinya adalah mata almond Katty yang menyala dengan berang. “Keterlaluan kau, Sev!” desisnya penuh kemarahan dan berusaha berontak dari rengkuhan Sev.

Namun mana mau Sev melepaskan Katty begitu saja. Dengan erat dipeluknya gadis itu erat-erat. “Katty, sshh... jangan berontak, sayang,” Sev berusaha menenangkan Katty yang masih saja berusaha lepas.

“Sev!”

“Sayang...sshh...diamlah. Kita akan membicarakan ini dengan tenang sebagaimana layaknya orang beradab, oke?” Sev membujuk Katty. Menyadari gadis itu berhenti memberontak, dengan lembut Sev memegang dagu Katty dan menatap dalam-dalam ke matanya.

“Kalau kau pikir kau bisa mengintimidasiku di daerah kekuasaanmu ini, maka kau salah besar, Sev,” kata Katty memperingatkan dengan dingin.

“Daerah kekuasaanku?” Sev tertawa pahit, “Sayang, asal kau tahu rumah ini telah menjadi milikmu. Aku tak bisa membayangkan tempat ini tanpa kamu. Kau pikir kenapa aku harus ambil resiko menerima kemarahanmu dengan membawamu kembali ke kamar ini semalam bila aku masih bisa tinggal di sini sendirian?”

Katty membelalakkan mata.

“Itulah arti dirimu bagiku, sayang. Aku tak ingin mencari pembenaran atas sikapku yang buruk kepadamu hari-hari terakhir ini. Itu salahku karena aku begitu ingin semua pekerjaan besarku selesai sehingga aku akan bisa punya lebih banyak waktu untuk kita. Aku juga sangat bersalah karena tak bisa terus terang kepadamu. Karena apa yang kau katakan itu benar adanya. Masa laluku tidak bersih sepertimu. Aku memiliki banyak hubungan dengan banyak wanita. Aku laki-laki sehat, meski sekarang bila aku ingat kembali aku merasa sangat malu. Dan aku lebih merasa malu lagi karena aku tak bisa mengingat dengan baik siapa dan bagaimana wajah mereka. Karena itu sudah lama sekali. Sebelum kita menjadi seperti ini. Dan sekarang aku hanya bisa mengharap kau cukup mengenalku untuk mempercayai bahwa aku tak akan mungkin mengkhianatimu.”

Katty membalikkan tubuhnya membelakangi Sev, hanya bisa diam dan mencerna semua perkataan Sev. Tahun-tahun yang terentang membentuk hubungan mereka berdua sejak dia berusia lima tahun, melewati masa kanak-kanak hingga masa dewasanya, dengan Sev selalu berada di sisinya. Siap menjadi pelarian dan sandaran. Memberinya kepercayaan diri bahwa dirinya masih memiliki orang yang bisa diandalkan, yang bisa menerimanya sebagaimana adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya tanpa menuntut dan menghakimi. Sekokoh itulah hubungannya. Namun ketika asmara terlibat di antara mereka kenapa dia menjadi goyah dan ragu? Seolah dia kehilangan figur dan arah tentang Sev, Severus Drake-nya.

“Entahlah, Sev. Di otakku aku tahu semua. Aku dengan mudah dan jelas bisa mengerti bahwa kita mempunyai dasar hubungan yang sangat kuat. Kau dan aku sudah mengenal begitu dalam sampai-sampai terasa menyebalkan untuk diucapkan. Namun di dalam hatiku aku tak bisa mencegah apa yang kurasakan. Aku merasa marah dan terabaikan. Bukan begini hubungan asmara yang kuinginkan. Aku tahu kau bekerja keras dan sangat mencintai pekerjaanmu. Namun emosi jahat dalam diriku selalu menuntut kenapa kau tak mau meluangkan waktu sedikit saja untukku? Tak cukup berhargakah aku untuk mendapat waktumu? Toh kita baru saja jadian. Harusnya aku merasa di awang-awang, menikmati segala perhatian dan pujian konyol dan penuh omong kosong sebagaimana gadis-gadis tolol lain. Tak bisakah aku mendapatkannya tanpa harus meminta?”

“Katty...”

“Diamlah, Sev, dengarkanlah semua omonganku, selagi aku cukup punya kegilaan mengatakannya kepadamu meski nanti mungkin aku akan sangat menyesal. Meski aku tak ingin memikirkannya jauh di dalam hatiku selalu ada keraguan akan hubungan kita. Selama ini aku tak pernah meragukanmu sebagai seorang kakak laki-laki ideal setiap gadis, namun sebagai kekasih?” Katty bangkit dan duduk, menarik Sev duduk saling berhadapan. “Tolong lihatlah aku baik-baik. Apakah aku cukup punya daya tarik untuk memikat lelaki tampan sepertimu? Cukup istimewakah aku untuk mendapatkan komitmenmu? Kau harus jujur pada dirimu sendiri, Sev. Aku tak mau kau terperangkap dalam fantasi kanak-kanak kita, ataupun ekpektasi orang tuamu tentang aku. Hal itu akan sangat menyakitkan bagiku sekaligus merendahkan akal sehatku. Aku ingin kau menjadi diri sendiri. Bukan sebagai kakak yang baik yang menjaga adik kecilnya, namun sebagai laki-laki sukses yang tampan, playboy yang senang dikelilingi wanita-wanita cantik dan trendy yang siap mendampingimu ke pesta-pesta mewah kelas atas yang akan membuat para klienmu terkesan. Semalam, menghadiri pesta perusahaan, bertemu dengan orang-orang, sesuatu yang selama ini selalu aku hindari, menyadarkan aku bahwa tentunya kau sangat familier dengan pergaulan sosial seperti itu. Kau membutuhkannya sebagai bagian dari profesimu. Dan aku tak yakin bahwa aku akan bisa menyesuaikan diri dengan gaya hidup seperti itu. Terlepas dari segala pembicaraan Mrs. Clever tentang kau dan Angela, sangat menyedihkan bagiku karena ternyata aku memerlukan wanita konyol itu untuk membuka mataku bahwa kau dan aku sangat berbeda. Sebagai pribadi kita tetap Sev dan Katty, tidak berubah seperti dulu. Tapi hidup sudah begitu kompleks kan?”

Sev memandangi gadis di depannya, menyadari penderitaan gadis itu selama ini. Menyeimbangakna antara logika dan perasaan, apalagi di usia hubungan asmara mereka yang masih sangat muda, bagi gadis yang praktis dan sederhana serta tanpa pengalaman seperti Katty tentulah bukan perkara mudah. Katty selama ini telah bersembunyi dalam cangkang aman yang tidak pernah mengijinkan dirinya untuk mengambil resiko dengan menerima orang lain cukup dekat dengannya baik secara fisik maupun asmara. Pengalaman buruk masa kanak-kanak, yang dimulai ketika ibunya meninggal, kemudian harus menerima perlakuan yang tidak adil dari ibu tiri yang membuatnya melarikan diri mencari kedamaian di keluarga Sev sedikit banyak sangat mempengaruhi perilakunya di masa dewasa. Kehadiran adik tiri yang jauh lebih cantik dan istimewa kian menekan rasa percaya dirinya hingga ke dasar. Hanya penerimaan Sev sekeluarga yang menerima dirinya sebagai bagian dari mereka yang membuat Katty tetap menjadi gadis yang ceria tanpa memperlihatkan luka-luka emosi masa lalunya. Khusus untuk Sev Katty bisa menerimanya karena Sev menawarkan perlindungan seorang kakak, sebagai bagian keluarga, kepadanya.

Sev mengutuki dirinya sendiri yang begitu gegabah dalam menangani perasaan Katty yang sensitif. Meski Katty cukup logis sehingga mau berterus terang mengungkapkan semuanya, namun tetap saja Sev merasa begitu bersalah karena tidak menyadarinya sejak awal. Dia yang tumbuh bersama Katty harusnya cukup menyadari kebutuhan gadis itu untuk pengakuan, memberinya jaminan rasa aman bahwa dia tidak akan tersakiti.

“Rupanya semalam kau telah berfikir sangat keras untuk merumuskan hubungan kita, sayang.”

“Sev, salah seorang di antara kita harus ada yang melakukannya. Bila kau terlalu sibuk untuk memikirkannya, maka mau tak mau akulah yang kebagian tugas itu.”

“Sayang, aku tak pernah merasa harus memikirkannya sedalam itu karena aku sudah sangat yakin dengan perasaanku padamu. Aku tak perlu menimbang dan meninjaunya dari segala segi, termasuk tentang omong kosong ekspektasi orang tuaku maupun fantasi kanak-kanakku. Aku orang terakhir yang akan memikirkan hal-hal tolol yang merasuki kepala cantikmu itu. Aku tak perlu membuat para klien terkesan dengan pasanganku. Aku bisa membuat mereka terkesan dengan kemampuanku sendiri, tak perlu hal lainnya. Jadi, satu hal yang harus kau pegang saat kau ragu kepadaku, kepada kekurang-ajaranku yang kadang tak sengaja menelantarkanmu, bahwa dengan begitu konyol aku telah jatuh cinta setengah mati kepadamu. Sejak dulu. Namun entah kenapa kekeras kepalaanku mengalahkan harga diriku untuk merendahkan diri dan mengakuinya secara gamblang kepadamu. Kau mengerti?”

“Sev...kau...kau...” Katty terperangah mendengarkan pengakuan Sev yang blak-blakan.

“Kau tak percaya kan, sayang?” tanya Sev sambil menyeringai. Kemudian dengan sayang, dielusnya kepala Katty, “Padahal untuk mengucapkannya aku harus membuang jauh-jauh segala gengsiku. Dan kau tak mempercayainya? Sayang sekali. Aku tak tahu, bila klienku mengetahui ini mereka mungkin akan berfikir ulang untuk memakai jasaku,” katanya dengan masam.

“Karena kau tak pernah mengatakan padaku,” balas Katty pedas.

“Kuakui itu memang salahku.”

“Salah satu dari kesalahanmu. Kau belum menjelaskan soal Angela,” Katty mengejar tanpa ampun.

“Satu-satu, sayang, atau kepala cantikmu itu akan meledak. Seharusnya dengan keagresifanmu mengejar kebenaran sebuah berita, aku heran kenapa kau dulu tidak menjadi wartawan saja.”

“Sev!” seru Katty putus asa.

“Baiklah. Aku berjanji untuk menceritakan semuanya, tapi nanti. Namun satu hal yang pasti adalah Angela Clever itu tak cukup berharga untuk membuatmu cemas. Tak ada apapun di antara aku dan Angela. Aku menjamin itu.”

Kemudian tanpa Katty duga Sev bangkit dan membawa Katty bersamanya. Berat badan Katty sama sekali tak ada artinya bagi Sev.

“Hei, mau kau bawa kemana aku?” protesnya.

“Sudah siang. Aku lapar. Paling tidak kau cukup berbaik hati untuk memberiku sarapan.”

“Kau membuatku sulit mempercayai kata-katamu tadi. Jangan-jangan kau membutuhkanku di sini hanya untuk menyiapkan sarapan untukmu? Kan sudah kubilang kau cukup cari pelayan yang akan melayanimu dengan lebih baik.”

“Aku tak mau berhubungan seks dengan pelayan.”

“Kau keterlaluan!”

“Dan kau tak masuk akal!”

Pagi itu mereka menyaipkan sarapan dengan ribut. Saat roti sudah keluar dari toaster, ham dan telur sudah di goreng, serta sepoci kopi yang wangi mengepul tersaji di meja sarapan kecil di teras dapur mansion mewah itu, bukannya cepat-cepat menikmati sarapan, namun Sev malah menarik Katty duduk dipangkuannya. Diputarnya tubuh gadis itu hingga mereka saling berhadapan. “Kau tak bisa berpura-pura melupakan kewajibanmu untuk menciumku,” katanya sebelum dengan ganas melumat bibir Katty.

Katty gelagapan menerima luapan gairah Sev yang membabi buta. Dalam sekejap mereka telah melupakan semua yang telah repot-repot mereka siapkan. Untungnya kursi itu cukup kokoh untuk menyangga aktifitas fisik mereka yang seolah tak pernah terpuaskan. Saat semua telah selesai, Katty menempelkan dahinya di dahi Sev. Nafas keduanya sama-sama memburu.

“Kau bohong, Sev,” katanya pelan.

“Hmm?” Sev menelusuri leher Katty denga ujung hidungnya.

“Kau berjanji untuk membicarakan semuanya layaknya orang beradab. Tapi kau justru bertingkah bar-bar.”

Sev tertawa terbahak-bahak. “Aku kehilangan semua akal sehatku bila sudah menyangkut kamu, Katty. Tapi meski begitu aku tetap ingat bahwa kau belum pernah mengatakan apa yang kau rasakan kepadaku. Kau belum menjawab perasaanku meski kau dengan begitu tak tahu diri telah menerima layanan seksku yang luar biasa. Tapi sayang, kau harus ingat siapa aku, aku akan menagihnya, dan terus menagihnya, hingga kau mengatakan semuanya kepadaku.”

“Kau hanya buang-buang waktu,” ejek Katty. “Ini sudah siang. Kau akan terlambat untuk bekerja.”

“Ini akhir pekan.”

“Oh ya? Aku lupa kau tidak bekerja di akhir pekan.”

“Kau ke Jepang akhir pekan lalu.”

“Itu harus kulakukan sayang bila ingin minggu depan kita bisa pulang ke Oxford.”

“Sev! Kau serius?” Katty membelalak tak percaya. Kegembiraan berpendar di mata almondnya.

“Tentu,” Sev menyeringai. “Dan aku mengharapkan ungkapan rasa terima kasih yang sepadan.”

“Untuk itu kita perlu makan. Aku tak mau kau pingsan di tengah jalan,” Katty tertawa mengejek.

“Kau meragukanku, sayang?”

Tentu saja tidak. Untuk urusan satu ini tak sekalipun Katty meragukannya.

Thursday, December 29, 2011

The Last Choice (5)

Tak pernahterlintas dalam kepala Katty bahwa dia akan memiliki jenis hubungan yang begituintens secara fisik dengan Sev. Bagai berjalan di atas awan Katty tenggelamdalam euphoria atas kesadaran baru bahwa perempuan seperti dirinya ternyatabisa memiliki gairah yang begitu menggebu. Tubuh femininnya yang sekian lamaterlelap seolah dibangkitkan oleh Sev. Kini Katty jadi faham apa gunanya dadaber-cup C miliknya itu. Juga bibirnya yang baru dia sadari masuk dalam kategori seksi. Bahkan mata almondmilikinya ternyata mempunyai daya tarik tersendiri. Padahal selama ini betapa iri dia dengangadis-gadis kerempeng bak peragawati yang seperti mannequin berjalan danberdada rata, sementara dia harus risih setengah mati menyembunyikan gumpalanmenggelantung di dadanya yang seolah salah tempat pada badannya yang berposturmungil, dan telah membuatnya malu karena saat remaja selalu menjadi bahanejekan teman-teman pria. Bibirnya pun seperti salah bentuk saat diciptakankarena terlalu lebar untuk raut muka mungil dan berbentuk segitiga itu. Bahkanwarna mata, sering dia berfikiran untuk mengenakan contact lens warna hijauatau biru karena apa menariknya sih mata berwarna coklat?
Tapi ternyataSev memuja semua kekurangan itu. Atau setidaknya Sev menampilkan kesan begitu.Sering lelaki itu berlama-lama mencumbu bibir dan dadanya hingga membuat gairahKatty menggelegak ingin disalurkan. Saat mereka tengah mabuk dalam pusarangelombang yang mengiringi penyatuan fisik mereka, Sev akan menatap matanya danterkunci dalam kedalaman mata coklat almond Katty. Sebagai seorang kekasih, Sevmemang tak diragukan lagi keahliannya dalam membahagiakan pasangannya. BagiKatty yang lugu dan tak berpengalaman, mana dia sadar bahwa perempuan tanpapengalaman seperti dirinya tanpa partner yang tepat tak akan begitu mudah untukmencapai puncak kepuasan. Rasa nyaman dan aman yang diberikan oleh Sev seolahmembiusnya sehingga dia menerima dengan tanpa banyak keraguan dimensi baruhubungan mereka. Meski kadang sempat terlintas dalam benak Katty bahwa meskiselalu mengatakan bahwa Katty adalah perempuan yang telah lama ditunggunya, dansatu-satunya yang tepat untuk mendampinginya, namun Sev sama sekali tak pernahmengungkapkan kata cinta sekalipun.
Kenapa haruspusing? Pikir Katty berusaha tak peduli. Toh itu hanya sekedar kata-kata.Mereka berdua sudah sama-sama dewasa dan saling mengenal cukup lama sehinggauntuk menuntut kata-kata itu dari mulut Sev Katty merasa konyol dan absurd. Punkarena kesibukan Sev yang teramat padat membuat lelaki itu sering pulang larut,bahkan kadang harus pergi selama beberapa hari, tanpa pemberitahuan yang cukuplayak, hanya pesan pendek semisal : harusmenghadiri gala dinner anu... atau haruske Jepang untuk dua hari... , tak membuat Katty terpancing cemburu. Meskikadang tanpa bisa dicegah sebersit perasaan was-was menghinggapi dirinyamembuatnya ingin tahu dengan siapa Sev menghabiskan malam bila lelaki itupulang pagi atau apakah Sev masih menikmati hubungannya dengan wanita-wanitalain di luar sana. Dan kenapa sejauh ini tak sekalipun Sev melibatkan Kattydalam lingkungan sosialnya. Namun Katty berusaha rasional dan berfikir jernihbahwa kepribadian Sev tak akan mengijinkan lelaki itu untuk bertingkahbrengsek. Sev seorang gentleman yang tak mungkin mengkhianati wanita baik-baik,teman masa kecil seperti Katty. Bahwa Sev sebagai seorang pengacaraprofessional yang bertaraf internasional memang memiliki jam kesibukan yangpadat dan jam kerja yang panjang dan tak menentu. Dan Katty meyakinkan diriuntuk kembali ke platform dasar hubungan mereka. Bila selama bertahun-tahun diatak pernah gundah karena jarang bertemu dengan Sev, kenapa pula sekarang diaharus berubah? Maka daripada dia menghabiskan kebersamaan dengan Sev yang hanyabeberapa jam sehari dengan meributkan hal-hal yang tidak jelas, Katty lebihmemilih menikmati perhatian dan gairah lelaki itu yang seolah tak pernahterpuaskan.
Kattymenganggap dirinya telah sangat mengenal Sev dan cukup tahu betapa pesona Sevtelah menyihir setiap wanita yang berada di sekitarnya. Dulu waktu mereka masihremaja tak terkatakan betapa banyak gadis-gadis yang ingin berteman denganKatty hanya karena dia dekat dengan Sev. Sekali waktu beberapa teman dariasrama putri tempatnya bersekolah menghabiskan liburan dengan menginap diStockley House dan secara kebetulan berkenalan dengan Sev. Sejak itu merekaselalu memohon Katty mengundang mereka untuk berlibur ke rumahnya. Permintaanyang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Katty. Bahkan Lindsay Fowler, putripemilik toko serba ada di wilayah mereka telah gembar gembor bahwa dia telahmenyerahkan keperawanannya kepada Sev karena Sev memintanya menjadi pasangansaat menghadiri pesta dansa.
“Memang kaupikir dia cukup baik untuk membuatku bersikap konyol begitu?” Tanya Sev sinissaat Katty mengatakan apa yang telah beredar di gereja tentang gossip yangdikatakan oleh Lindsay.
Hinggaperiode Virginia yang ternyata berakhir di luar dugaan.
Untukmembunuh kesepian Katty mencurahkan segala energi untuk pekerjaan. Bila diaingin karirnya meningkat sepertinya inilah saat yang paling tepat. Dia beradadi jantung kota London, dalam mansion mewah milik lelaki spektakuler yangmengklaim dirinya, gadis sederhana, sebagai miliknya, dalam ruang kerja canggih,dan memiliki waktu tak terbatas tanpa gangguan, apalagi yang diharapkannya?Semua toh sudah ada dalam genggaman. Dengan bakat yang dimilikinya, Kattymerasa dirinya sudah harus keluar dari dunia aman yang selama ini memanjakannyaseolah dalam fantasi kekanakan, seperti ilustrasi yang sering dibuatnya dalambuku anak-anak.
Sudah tigaminggu Katty berada di London. Kesibukan Sev yang hanya menyisakan sedikitwaktu membuat Katty memiliki kesempatan menggali kembali kemampuan danide-idenya. Katty sudah mempertimbangkan beberapa karya yang ingin dibuatnyaselain dia juga menyelesaikan kontrak kerja yang dia buat dengan perusahaanpenerbitan yang selama ini memanfaatkan bakatnya. Dan sungguh luar biasakepercayaan diri yang baru tumbuh merubah kepribadian seseorang. Untuk pertamakalinya dalam hidup Katty merasa lega, bebas, dan entah kenapa, merasa sangatcantik dan penuh semangat. Perasaan yang memberi rona merah segar di pipinyaserta memancarkan kilau muda yang ceria di mata coklat almond itu. Dengan energi baru tersebut Katty merasasanggup untuk menaklukkan dunia.
Perubahan itusangat disadari oleh teman-teman di sekitar Katty di perusahaan penerbitan.Mereka melihat Katty sering keluar masuk gedung dan menjadi saksi hiduptransformasi gadis itu menjadi seekor kupu-kupu yang cantik.
“Kini semuatelah melihat dengan jelas betapa cantiknya cewek yang sedang jatuh cinta,”komentar Simon saat Katty mampir ke meja lelaki itu.
Menanggapikomentar tersebut Katty hanya tertawa lebar. “Apakah terlihat sejelas itu?”tanyanya iseng.
“Sejelaspapan iklan di stasiun kereta api bawah tanah. Dan aku heran cowokmu yangcanggih itu membiarkanmu berkeliaran sendirian meski kau hanya mengenakansehelai sapu tangan di tubuhmu.”
“Sev sedangsibuk sekali. Aku hanya punya sedikit waktu dengannya,” mata Katty sepertibermimpi mengingat semalam Sev pulang hampir jam dua belas malam dan segeramembangunkannya yang sedang terlelap. Dan sejak tengah malam mereka tidak tidurhingga menjelang jam lima pagi. Dan pagi ini dengan perasaan melambung sisasensualitas semalam Katty memutuskan mengenakan gaun musim panas yang ringanmelambai tanpa lengan yang meski memiliki garis leher cukup sopan namunpanjangnya hanya beberapa centi di bawah pinggul, menampakkan tungkai langsingdan padat miliknya.
“Hai!Sadarlah!” seru Simon melihat gadis itu mulai melamun.
Dengangelagapan Katty mengerjapkan matanya, “Sorry.”
“Padahalsemula aku ingin memintamu menjadi pendampingku dalam gala dinner perusahaanJumat malam nanti. Namun karena kau sudah punya cowok, terpaksa aku harus carigadis lain karena bagaimanapun aku tak ingin mengawali permusuhan denganpacarmu.”
“Jumat malamini ya?” tanya Katty untuk meyakinkan diri. “Tetapi kenapa tidak?”
“Eh?” Simonmembelalakkan matanya. “Benarkah?”
Katty menganggukmantap. “Sev sangat sibuk jadi sepertinya aku pergi pun dia tidak bakal tahu.Asal kita pulang sebelum tengah malam kurasa tak akan apa-apa.”
“Katty...”
“Ayolah,sekali-sekali aku juga ingin sedikit gila-gilaan. Dan denganmu akan aman. Sevsudah mengenalmu dan aku juga sudah menjelaskan padanya tentang hubunganpertemanan kita. Pasti tidak apa-apa. Serahkan semua padaku. Ok?”
Ya, pastitidak apa-apa. Katty tak pernah menaruh curiga terhadap semua aktifitas Sev,dan Katty yakin Sev pun pasti begitu. Lagipula toh mereka bukan lagi pasanganingusan yang sedang mengalami cinta monyet. Hubungan mereka merupakan hubungandua orang dewasa yang dijalani dengan penuh tanggung jawab dan merupakankelanjutan dari hubungan jangka panjang selama bertahun-tahun sejak merekamasih kanak-kanak. Dengan keyakinan tersebut Katty melangkah mantap menuju kejalan yang dipenuhi deretan butik-butik mewah untuk mencari gaun pesta.
Dan malam itusetelah berkutat di studionya hingga lewat waktu makan malam Katty bergelung disofa di depan layar televisi membaca buku sambil mendengarkan musik. Malam iniadalah satu di antara malam-malam Sev melewatkan makan berdua bersama Katty.Dan bila harus makan sendiri biasanya Katty tak mau repot-repot memasak danlebih memilih cara praktis memesan makanan siap saji. Saat pukul sepuluh Sevpulang hanya mendapati Katty yang sedang tertidur di ruang keluarga dengan bukuyang tergenggam longgar di tangannya. Sev menatap ke sosok gadis di depannya.Rambut coklatnya tersebar berantakan sementara bibir sensualnya sedikitterbuka. Dadanya mergerak lembut naik turun seirama tarikan nafasnya.
Tiba-tiba Sevmerasa serbuan gairah yang menggelora mengisi setiap pembuluh darahnya. Tanpamembuang waktu dengan gerakan cepat dia melepas atasan setelan dan dasinyauntuk kemudian di lempar di sandaran kursi, menyusul tas kerja yang telahmendapat perlakuan sama sebelumnya. Langkahnya mantap ketika dia mendekatitempat Katty tertidur dan tanpa suara membungkuk di sebelahnya.
“Halo....,”bisiknya di telinga Katty. Nafasnya yang panas menerbangkan anak-anak rambut dipelipis gadis itu.
Kattyterbangun, matanya mengerjap terbuka dengan bingung dan seolah kehilanganorientasi. “Sev...” suaranya parau karena masih mengantuk.
Sev takmenunggu berkata-kata, direngkuhnya Katty dengan erat, memuaskan bibirnyadengan kemanisan bibir Katty hingga gairah berkobar membakar keduanya. Malamitu keduanya tak mau lagi direpotkan untuk pindah ke kamar tidur. Sev mencumbuKatty dengan penuh nafsu, hanya menyempatkan sedikit akal sehat sebelumkeduanya bergulung dalam pusaran birahi yang tak memungkinkan adanyaperbincangan.
Beberapa saatkemudian, masih dengan pakaian yang terbuka dan acak-acakan, Katty dudukbersandar di dada Sev. Telapak tangannya yang lembut membelai bulu-bulukehitaman yang tersebar melapisi otot keras lelaki itu. Sebetulnya Katty inginberteriak, kemana saja kau! Tapi lidahnya serasa kelu dan tak satu kata punkeluar dari bibirnya.
“Apakahkesibukanmu hari ini?” tanya Sev seolah melamun sambil menenggelamkan bibirnyadalam gerai rambut Katty.
“Sepertibiasa. Bekerja di studio,” jawab Katty. Dia sebenarnya ingin menceritakanhari-harinya di kantor atau rencananya untuk menghadiri pesta di perusahaan.Tapi pasti hal tersebut tak cukup penting atau menarik bagi Sev. Dan saat Sevmenggigiti lembut area belakang telinganya yang sensitif, Katty pun melupakansemuanya.
***
Hotel tempatpesta itu berada di sisi lain London yang berseberangan dengan daerah dimanaKatty tinggal bersama Sev. Simon menjemputnya di mansion Sev dan dibuatterkagum-kagum pertama akan kemunculan Katty dalam busana pesta yang mahal danelegan, lalu pada interior mewah kediaman Sev. Katty menerima pujian Simondengan tawa lebar. Pujian Sev selalu membuatnya tersipu. Sedangkan pujianSimon, mungkin juga dari laki-laki lain tak akan sanggup membuat pipinyamemerah. Agaknya aku memang ditakdirkan menjadi kekasih Sev,pikirnya. Tak adalaki-laki lain sehebat dia. Ibarat orang tak akan memilih milkshake setelahmerasakan kelezatan sampanye.
Katty bertemudengan hampir semua teman kantor di tempat pesta. Agaknya transformasi Kattytelah menjadi gossip hangat di seluruh gedung. Katty tahu bahwa di belakangpunggungnya dulu mereka menjulukinya gadis dusun atau putri pendeta. Katty takmerasa tersinggung karena pada kenyataannya memang begitulah penampilannyadulu. Namun sekarang Katty merasa senang dengan dirinya yang baru. Bilagadis-gadis lain berusaha menarik perhatian dengan gaya dandan seseksi mungkin,memperlihatkan terlalu banyak bagian dada dan paha, maka Katty membuat dirinyaterlihat menarik dengan gaya gadis kaya yang simple tapi modis, seksi namuntidak murahan, mahal dan chic. Dan meski Simon untuk malam itu tampak tampandalam busana resminya tetap tak bisa dibandingkan dengan ketampanan Sev. Namunpaling tidak Katty tidak harus sendiri datang ke pesta seperti waktu-waktulalu.
Pesta dimulaidengan lancar. Katty, dalam waktu singkat telah menemukan rombongan rekan-rekanlain di antara penuhnya para undangan yang terdiri dari seluruh jajaraneksekutif dan karyawan penerbitan, baik regular maupun freelance, serta pararelasi bisnis perusahaan. Setelah segelas sampanye mengalir melaluitenggorokannya, serta beberapa potong tarlets dan canape mengisi perutnya,Katty berbaur bersama yang lain. Menerima ajakan beberapa laki-laki untukberdansa maupun berbincang dengan mereka. Simon pun tak kalah aktif dalambersosialisasi. Katty mengerling kepada kawannya dengan sayang dan tersenyummemberi support. Agaknya perceraian telah berdampak bagus pada lelaki itu tanpadia sadari. Simon seperti menemukan dimensi baru kepribadiannya, terlepas dariistrinya yang tukang selingkuh itu. Baik Simon maupun Katty memang berada diplanet yang sama, planet tempat orang-orang yang baru saja menemukan sisi lainkepribadian mereka.
Katty sedangmengambil setusuk udang dan memasukkannya ke dalam mulut ketika tiba-tibaseorang perempuan paruh baya muncul di hadapannya.
“Katty kan?”tanya perempuan tersebut.
Kattymembelalak menatapnya. Wanita itu berbusana resmi, anggun, mahal, dan tampakangkuh di usia senja. Katty berfikir sebentar berusaha mengingat wajah itu.“Mrs. Clever?” tebaknya.
Wanita itutersenyum “Agaknya kau tidak lupa. Bagaimana kabarmu? Sudah cukup lama ya,sejak ayahmu meninggal dulu.”
PasanganClever adalah salah satu tetangga di Oxford yang mengenal keluarga Katty. Putrimereka, Angela, dua tahun lebih tua dari Katty, sangat cantik, dan kabarnyatelah lama menapaki karir di dunia fashion. Sekitar lima tahun yang lalupasangan itu pindah ke Birmingham.
“Joe ternyatateman sekolah direktur penerbitan. Dia mengundang kami berdua, bersama Angelajuga tentunya, untuk hadir. Sayang, Angela masih berada di Paris. Yah, kau tahusendiri bagaimana dunia fashion itu.”
Kattysetengah mati ingin seseorang menyelamatkan dia dari perjumpaan tak terdugadengan wanita sombong ini.
“Oh ya,bagaimana kabar Drake Muda, tetanggamu itu? Apakah kau masih sering bertemudengan dia sewaktu kalian di Oxford? Seingatku kalian dulu sangat dekat semasakanak-kanak. Tetapi memang sulit mempertahankan keakraban masa lalu. Apalagidia sekarang sudah sangat sukses. Bujangan kaya dan tampan, mungkin terlalusibuk untuk menemui kembali teman kana-kanaknya. Orang biasanya begitu. Itunormal.”
Kattymemendam kedongkolannya dalam hati. Ingin dihapusnya cengiran puas diri diwajah wanita itu dengan mengatakan bahwa Sev dan dia sekarang bukan hanya masihakrab, namun juga telah menjadi sepasang kekasih. Tapi emosi tak akan membawakemana-mana. Maka alih-alih membantah Katty hanya tersenyum manis, “ Agaknyabegitu. Apalagi sekarang saya juga sudah sibuk di London.”
“Anak mudajaman sekarang, terlalu asyik dengan dunia karir dan tidak peduli kepadakehidupan berkeluarga. Kalian para gadis, tidak perlu harus mengejar karierterlalu tinggi. Yang perlu kalian lakukan hanyalah mencari leki-laki yang cukupbaik dan kaya dan kalian akan hidup bahagia. Angela juga. Dengan wajahnya yangcantik dan posisi kami yang cukup terpandang, dia tidak perlu harus bekerjasekeras itu bila Severus Drake berencana mempersuntingnya.”
Eh? Kattymerasa telinganya berdenging.
“Oh, ayolah,sayang...” Mrs. Clever melanjutkan melihat keterkejutan di mata Katty. “Sevmungkin tak menceritakannya padamu. Mereka berdua telah liburan bersama keHawaii musim dingin akhir tahun lalu. Apalagi yang terjadi bagi dua orang ituselama dua minggu di pulau yang eksotis itu selain percintaan yang menggebu?Dan kami yakin kali ini mereka telah saling serius. Sev begitu kaya, sukses,dan tampan sementara Angela kami yang cantik pasti merupakan pasangan yangcocok untuknya. Laki-laki dengan kedudukan seperti Severus membutuhkan pasanganyang mengerti dengan baik lingkungan sosial kelas atas. Kami benar-benar tak sabarmenunggu kabar bahagia mereka. Sayangnya baik Sev maupun Angela masih malu-maluuntuk mengatakannya. Bahkan waktu kami bertemu saat makan malam minggu lalumereka juga masih berusaha menutupi hubungan mereka. Ya ampun, kami benar-benarpenasaran.”
Mrs. Cleverterus berbicara tanpa menyadari betapa wajah Katty memucat. Simon yang beradadi seberang ruangan melihat sekilas kepada Katty dan segera tersadar bahwaKatty tengah memancarkan sinyal SOS.
***
Pukul delapanmalam. Sev memutar kunci dan membuka pintu, melangkah memasuki mansionnya denganperasaan lega dan penuh antisipasi. Pekerjaannya yang seolah tak pernahberakhir, meeting panjang seolah tanpa henti, negosiasi alot yang mengurasseluruh energi hingga tak menyisakan apapun saat dia pulang, pada akhirnyamencapai titik akhir dengan menorehkan kesuksesan dalam daftar panjangkeberhasilannya. Trend investasi skala besar di kawasan Asia telah pulamenghinggapi para klien kelas kakap yang selama ini ditangani oleh Sev. Bayang-bayangsuram ekonomi Amerika dan Eropa menciptakan kekhawatiran tersendiri bagipemegang kapital skala internasional yang bergerak di bidang produksi massal.Sebaliknya kebangkitan wilayah timur begitu menggiurkan dengan semakinmembengkaknya jumlah penduduk dengan kemampuan menengah yang bersiap menjadikonsumen baru. Menghadapi prospek cerah di benua timur dan meninggalkanbayang-bayang kemakmuran Eropa yang diperkirakan hanya akan menjadi kenanganbelaka. Sev sebagai salah satu rekanan termuda dan memiliki segala kepiawaianyang dibutuhkan seorang pengacara korporasi harus mengawal klien-klien utamadalam melakukan ekspansi pasar ke Asia. Dibutuhkan segala kecerdikan danketangguhan untuk menembus birokrasi dunia baru, menyiasati segalaundang-undang perdagangan dan keuangan serta kelihaian tingkat tinggi untukmenyelip di sela perlindungan yang diterapkan oleh negara-negara yang memasangsistem dumping demi melindungi perekonomian lokal dari serbuan investor asing.Proyek yang sudah dimulai sejak berbulan-bulan lalu mencapai puncaknya justrudalam minggu-minggu terakhir ini.
Jelas waktuyang sangat tidak tepat karena di saat Sev sangat ingin memfokuskan seluruhperhatiannya pada Katty. Katty yang telah membawa kenyamanan dan ketentramandalam mansion mewah miliknya yang selama ini selalu terasa dingin dan kaku.Hanya dengan melangkahkan kaki memasuki ruangan depan, Sev sudah merasakansemburan keberadaan Katty di wilayah pribadinya. Membayangkan gadis ituterlelap di sofa, atau mendengar senandung pelannya saat asyik di studio telahcukup membawa pergi semua beban pekerjaan dari pundaknya. Kattynya yang mungildengan mata coklat almond dan bibirnya yang seksi, yang selalu menghampiribenaknya, bahkan di saat paling tidak tepat sekalipun, seperti saat dia harusmemeriksa berkas-berkas hukum yang disiapkan oleh asistennya atau dalamperbincangan penting yang terjadi dalam jamuan makan malam resmi, dan selalumembuatnya hampir gila karena ingin segera pulang. Katty yang sejakkehadirannya bertahun-tahun lalu telah meBahkan dengan satu kerlingan sajatelah sanggup membuat Sev melepaskan semua kontrol dirinya dan segera membopongKatty ke kamar utama, sarang cinta mereka.
Hampirsetelah percintaan mereka yang pertama Sev tak lagi mengijinkan Katty menempatikamar tamu. Dia sendiri yang memindahkan semua barang pribadi Katty ke dalamkamarnya. Dan sekarang Sev bisa melihat deretan parfum dan make up Kattymenempati meja riasnya. Baju-baju Katty telah pula tergantung berjajarmendampingi pakaiannya di lemari besar di kamarnya. Mereka pun berbagi laciuntuk menyimpan tumpukan pakaian dalam dan aneka pernik lainnya. Perasaan dekatdan intim menghangatkan hatinya manakala mereka bergantian memakai kamar mandiyang sama, sikat gigi Katty berada bersisian dengan miliknya, atau alat cukurKatty yang berwarna pink dan tumpul tampak imut dan cantik mendampingi miliknyayang punya pisau ganda. Bahkan hanya dengan tumpukan dua handuk lembab bekasdipakai atau baju-baju kotor mereka yang tertumpuk di keranjang cucian Sev merasakanKatty memenuhi hatinya, lebih dari belasan tahun hubungan mereka.
Sev bukanpria sok suci. Dia menyadari benar seperti apa dirinya dan hubungan-hubungannyadengan banyak wanita. Dunia yang mungkin tidak akan siap untuk dikenalkannyapada Katty. Namun dia ingin Katty lebih mengenalnya, lebih memahaminya, bukanuntuk mencari pembenaran atas sikapnya di masa lalu, namun lebih untuk menciptakanlandasan kuat bagi hubungan asmara mereka yang masih teramat sangat muda. Sevingin bila saatnya tiba ia ingin Katty melihatnya secara keseluruhan, baik danburuknya dia dengan adil sebagai satu kesatuan manusiawi bagai dua sisi kepingmata uang. Dia ingin Katty yakin bahwa Sev lah lelaki satu-satunya yang memangdiciptakan untuk membahagiakannya.
Sev melirikjam tangan platina tipis di pergelangan tangannya dan kaget manakala sadarbahwa jarumnya sudah menunjuk ke pukul sepuluh malam. Dan Katty belum jugapulang. Mungkin dia sedang ketemu teman-temannya. Tetapi, brengsek sekalikenapa dia tidak meninggalkan pesan? Dan handphonennya pun kenapa dimatikan?Sev sudah beberapa kali mencoba menghubungi tanpa hasil.
Saat waktumenunjukkan pukul sebelas Sev merasa keringat dingin mengaliri punggungnya.Berbagai skenario jahat berputar di kepalanya. Pikiran yang tak mampudicegahnya mengingat betapa mandirinya Katty, yang merasa London sudah sebagaikota taklukannya sehingga menumpang kereta bawah tanah pun dilakoninya. Sevberharap semoga Katty punya cukup akal sehat untuk tidak berkeliaran sendirian danmemilih transportasi yang lebih aman.
Menjelangpukul dua belas Sev akhirnya mendengar pintu depan di buka dan suara Katty yangmemberi salam perpisahan kepada siapapun itu menggema halus menyirami emosinyayang sudah di puncak kepala. Dari ruang duduk diamatinya gadis kesayangannyaitu melenggang masuk dalam balutan busana pesta yang diakui Sev sangat cocokuntuk Katty. Sev menyaksikan manakala Katty tiba-tiba sadar bahwa dirinyasedang diamati serta merta menoleh, membalikkan langkahnya yang semula menujuke tangga dan bergegas menghampirinya.
“Sev...”
“Brengsek !Dari mana saja kau selarut ini baru pulang?” semburnya marah tanpa bisaditahan.
Katty terkejut.Dia benar-benar tak menyangka Sev sudah berada di rumah dalam busana santai,tanda dia pulang dari tadi. Dan lebih terkejut lagi saat Sev menegurnya penuhkemarahan.
“Aku takmenyangka kau pulang cepat. Biasanya kau pulang lewat tengah malam.”
“Jadi kaumemanfaatkan ketidak-beradaanku dengan main-main di luar?”
Wajah Kattyberkedut. Tak sampai lima detik tiba-tiba kemarahan yang selama ini terbenamdalam dirinya menggelegak ingin dilampiaskan. Mata coklatnya berkobar. “Aku takpernah usil dengan jadwalmu yang tidak wajar. Aku merasa diriku cukup dewasauntuk menerimamu yang sering pergi tanpa pemberitahuan yang layak. Aku tak maumembebani kepalaku dengan kemarahan dan prasangka yang tidak perlu karena akumerasa telah mengenalmu dengan sangat baik. Untuk itu aku mengharap perlakuanserupa darimu. Tetapi sepertinya aku salah,” dengan kata-kata itu Kattymendekat dengan berani menghampiri Sev. “Apa yang kau katakan main-main itusebetulnya adalah aku menghadiri pesta gala dinner perusahaan. Kau terlalusibuk sehingga aku sengaja tidak memberitahumu. Aku pergi dengan Simon, temankuyang sudah kau kenal. Namun kau sangat tidak adil karena kau tak pernah menceritakanapapun kepadaku. Sehingga acara makan malammu dengan Angela Clever minggukemarin harus aku dengar dari Mrs. Clever yang sangat menantikan kalian berduameresmikan hubungan, meneruskan apa yang kalian rencanakan di Hawaii padaliburan musim dingin tahun lalu.”
Sev merasasemburan hawa dingin membekukan hatinya.
“Dan mungkinbukan hanya Angela yang harus kau kenalkan lagi kepadaku. Perempuan-perempuanlain dengan siapa kau menghabiskan waktumu selama ini, mungkin ada baiknya kaubawa kepadaku sehingga aku tidak harus mendengarnya dari orang lain. Namunsebaliknya kau tak perlu terlalu marah dengan teman laki-lakiku. Karena tidakseperti dirimu yang sukses dan populer, lingkup pergaulanku dengan laki-lakisangat terbatas, dan tentu saja tidak akan sebanding dengan petualanganasmaramu.”
Dengan kata-kata ituKatty pun berbalik dan pergi meninggalkan Sev yang berdiri mematung. Namun Sevtak perlu waktu lama untuk menemukan kesadarannya dan dalam sedetik diamelangkah dan meraih Katty.

Monday, September 19, 2011

The Last Choice (4)

Setiba di mansion milik Sev, karena lelaki itu kelaparan, maka Katty pun segera menuju dapur.

“Lebih baik kau mandi dulu, makanan akan siap beberapa saat lagi,” katanya.

Tanpa banyak bicara Sev meninggalkan Katty yang sedang menginspeksi kulkasnya. Untuk ukuran bujangan Sev termasuk jenis laki-laki yang peduli dengan urusan dapur, tidak semata-mata tergantung dengan restoran, makanan beku, atau makanan siap saji. Perlengkapan di dapur canggih ini dipilih karena memang benar-benar untuk difungsikan, bukan sekedar display untuk prestise. Dan lemari penyimpannya menyediakan bahan makanan dalam jumlah dan jenis yang layak. Setelah sedikit menimbang-nimbang akhirnya Katty memutuskan untuk membuat daging panggang dengan kentang serta cesar salad. Sev bertubuh besar dan memiliki selera makan yang sehat, maka Katty pun membuka dua kerat daging yang cukup besar.

Aroma daging panggang memenuhi dapur ketika akhirnya Sev muncul. Rambut gelap Sev tampak basah dan lelaki itu mengenakan jeans dan polo shirt warna merah yang membungkus ketat tubuh tegapnya. Dia hanya mengenakan kaus kaki. Katty tahu bahwa dibanding kesegaran dan aroma sabun Sev dia merasa sangat berminyak, bau dan penuh keringat. Tetapi siapa yang peduli? Sev duduk di meja yang ada di dapur itu, matanya tajam mengawasi Katty yang bergerak lincah beraktifitas di dapur.

“Baunya enak, pemandangannya indah. Aku ingin menjadikannya permanen,” komentarnya.

“Maksudmu?” Katty meletakkan daging di atas piring, setengah matang seperti kesukaan Sev, sebelum menjangkau mangkuk di rak untuk menata salad.

“Kau di dapurku.”

“Kau konyol! Di Drake Castle kau dilayani oleh barisan pelayan yang tak akan membiarkanmu untuk mencuci sebuah sendok sekalipun. Tentunya kau bisa melakukan hal serupa di sini. Kau tinggal mencari kepala pelayan dan dia yang akan mengatur segalanya untukmu.”

“Tetapi itu sama sekali tak romantis.”

Katty membelalakkan mata. “Apa hubungannya semua ini dengan romantisme?”

“Katty, yang aku inginkan adalah, dengar baik-baik, kau di dapurku, kau di rumahku, dan terutama kau di tempat tidurku. Bukan kepala pelayan. Mengerti?”

Katty memandang Sev dan melihat kesungguhan di wajah lelaki itu, entah kenapa tiba-tiba wajahnya memanas dan itu sama sekali tak ada hubungannya dengan panggangan. Sev tertawa melihat pipi Katty yang memerah. Dengan perlahan dia bangkit dan mendekati gadis itu. Tangannya menjangkau mematikan kompor yang masih menyala sebelum akhirnya melingkarkannya di tubuh gadis itu. “Aku suka melihatmu tersipu,” bisiknya di telinga Katty.

“Aku mau mandi dulu. Aku bau,” Katty berusaha melepaskan diri.

“Siapa bilang? Baumu enak.”

Katty membelalak. “Indra penciumanmu sudah rusak,” katanya sengit.

“Sungguh, baumu enak. Kombinasi antara bawang bombay dan ikat tuna,” kata Sev kalem yang disambut cubitan Katty di lengannya.

“Kau tidak akan dapat makan malam kalau kau bilang bauku seperti bawang bombay!” ancamnya yang disambut gelak tawa Sev.

“Temani aku makan, oke? Kau berutang itu padaku. Kau sudah begitu baik hati kepada temanmu, itu membuatku iri sekali,” rayunya.

Dan bukan Sev namanya kalau tidak bisa mendapatkan apa yang dimaunya. Sebentar kemudian keduanya sudah asyik duduk berhadapan di meja dapur. Sev memakan hasil masakan Katty denga lahap sementara Katty menyesap anggur lezat yang disimpan di lemari persediaan Sev sambil menikmati sandwich. Mereka berbincang akrab seperti biasanya. Bertengkar, kemudian tertawa dan berbaikan lagi. Setelah makan keduanya menikmati sepoci kopi panas sambil bergelung di sofa menikmati film yang diambil dari koleksi Sev. Katty menyandar di dada Sev sementara lelaki itu membelai rambutnya.

“Tidur di kamarku malam ini?” tanya Sev lembut di telinga Katty.

“Ehm... lebih baik tidak,” tolak Katty halus. “Aku perlu waktu untuk membiasakan diri dengan semua ini, Sev. Beri aku waktu.”

Sev menatap wajah Katty. “Aku telah menunggumu cukup lama. Aku sampai lupa sejak kapan aku menunggumu, Katty. Namun kupikir sedikit waktu lagi tak apa-apa.”

Katty membalas menatap wajah Sev, wajah yang begitu dikenalnya dan telah mengisi hari-harinya sejak dia bisa mengingat. “Kenapa kau memilihku, Sev?”

“Karena kau istimewa. Sejak dulu kau selalu istimewa, Katty,” katanya lembut, dan selembut itu pula dia mencium bibir Katty.

Bibir Sev terasa hangat dan manis di bibir Katty. Gadis itu mendesah, kemudian mengalungkan lengannya di leher Sev dan membalas ciumannya. Hm... harus dia akui, Sev seorang pencium yang hebat dan Katty menyukai ciuman-ciumannya. Namun sayang, ciuman mereka harus diakhiri. Perasaan Katty masih terlalu rapuh untuk menerima perubahan mendadak dalam hubungan keduanya. Dengan sangat menyesal keduanya melepaskan diri. Sev bangkit dan menarik Katty bersamanya. Bergandengan mereka menuju ke kamar tamu di samping kamar utama yang akan ditempati Katty. Sev kembali memberinya ciuman selamat tidur di depan pintu, tersenyum sedikit menyeringai sebelum mendorong Katty masuk.

“Tidurlah, kunci pintunya. Aku khawatir di tengah malam aku akan mengigau dan mencarimu,” Sev tertawa. “Selamat tidur, mimpikan aku,” bisiknya lembut sebelum berbalik pergi.

Katty mengira dengan segala kejadian hari ini dia akan susah tidur. Apalagi di tempat yang masih terasa asing ini. Namun ternyata matanya terpejam dan dia tertidur dengan nyenyak begitu kepalanya menyentuh bantal. Agaknya mandi berendam air hangat barusan telah membuatnya rileks.

Katty tahu bahwa Sev selalu bangun pagi. Maka dia langsung meloncat ketika alarmnya berbunyi. Hanya sempat mencuci muka dan menyisir rambut coklatnya, gadis itu buru-buru turun ke dapur. Masih dalam piyama. Ketika dia sedang menyalakan masin pembuat kopi dan membuat toast Sev muncul. Sudah sangat rapi dalam setelan kerjanya. Melihat Katty telah sibuk di dapur lelaki itu mendekat, meraihnya dalam pelukan dan membisikkan selamat pagi di telinganya.

“Benar-benar menyenangkan mendapati seorang wanita di dapur sibuk menyiapkan sarapanmu ketika pagi. Apa lagi yang diinginkan seorang pria?” komentarnya.

“Aku merasa kita seperti pasangan yang telah lama menikah,” komentar Katty asal sambil menata daging asap dan omelette.

“Wow! Menikah? Apakah kau sudah siap sayang? Kalau iya aku bisa menyeretmu ke gereja sekarang juga karena aku sendiri sudah sangat siap sejak lama,” sahut Sev sambil tertawa.

“Itu hanya perumpamaan, Sev!” balas Katty sengit.

Pagi itu mereka sarapan berdua di balkon depan dapur yang sudah bermandikan cahaya matahari pagi kota London. Mereka tak banyak berbicara karena masing-masing sibuk dengan harian pagi yang mereka bagi berdua.

“Apa rencanamu hari, Katty?”

“Aku akan ke kantor. Mungkin baru pulang sore nanti. Aku mau semua urusanku selesai jadi aku bisa segera kembali ke Oxford dan memulai bekerja.”

“Jam berapa kau berangkat? Aku bisa menjemput dan mengantarmu.”

“Oh, tidak usah. Aku bisa naik taksi, kereta atau bus saja.”

Sev mengernyitkan dahi. “Pakai taksi saja. Jangan naik kereta atau bus. Aku khawatir.”

“Sev, aku bukan orang baru di London. Kau tak perlu mengkhawatirkan apapun. Aku bisa jaga diri.”

“Tetap saja aku khawatir,” kata Sev keras kepala. “Dan satu lagi sayang, aku tahu bahwa piyama katun itu tampak begitu nyaman untukmu. Namun bukankah sekarang sudah saatnya kau menggantinya dengan lingerie yang seksi?”

Benar-benar komentar yang tidak perlu bila Sev masih sayang dengan nyawanya. Untung Katty hanya melemparnya dengan gulungan koran dan bukan dengn cangkir kopinya. Sev berlalu sambil terbahak-bahak, meninggalkan Katty yang sebal setengah mati.

Beberapa hari itu hampir seperti mimpi bagi Katty. Meski sudah mengenal Sev hampir sepanjang hidupnya, namun mengenal Sev yang seorang bujangan tampan dan seorang pengacara sukses di sarangnya di London yang gemerlap, sungguh hal yang sangat baru bagi Katty. Berkali-kali Katty harus meyakinkan diri bahwa lelaki yang selalu menuntut ciuman selamat pagi dan selamat tidur, yang menggoda dan merayunya, yang selalu meneleponnya di siang hari saat mereka berjauhan karena masing-masing sibuk dengan pekerjaan, atau yang selalu mengiriminya pesan-pesan singkat bernada rayuan itu adalah Sev yang sama. Sev yang selalu bisa diandalkan. Sev yang dulu mengajarinya naik kuda dan berenang.

Pertunangan pura-pura mereka melaju dengan kecepatan tinggi membuat Katty tak yakin lagi akan kebenarannya. Sev memperlakukannya dengan sangat manis layaknya seorang tunangan. Terus terang Katty sangat menikmati perhatian itu. Dan Katty pun mulai memperhatikan penampilannya. Dia ingin membuat Sev terkesan dan setiap lelaki itu memujinya, pipinya akan tersipu merah dan membuat lelaki itu begitu gemas. Karena Sev sering membawanya makan malam di luar Katty pun mau bersusah payah pergi ke beauty centre untuk perawatan wajah dan rambut. “Tapi awas! Jangan sekali-kali kau berani mengecat rambutmu!” ancam Sev saat Katty mengutarakan rencananya.

Alih-alih mengantar Katty ke Stockley House, Sev malah menyiapkan sebuah studio mini untuk Katty dengan merombak salah satu kamar tamu yang cukup luas. Selain membelikan set peralatan gambar, Sev juga melengkapinya dengan komputer canggih sehingga Katty nyaman bekerja. Katty tak bisa lagi memprotes ketika kunjungannya ke London molor dari beberapa hari menjadi lebih seminggu. Sev sendiri sangat sibuk. Tak jarang dia pulang saat hari sudah sangat larut. Tetapi Katty selalu menunggunya meski itu membuatnya sering tertidur di sofa di depan televisi. Namun selarut apapun Sev pulang Katty tak pernah absen menyediakan sepiring sandwich dan sepoci kopi segar mengepul untuknya.

“Tak pernahkah kau bertanya sayang, apa saja yang telah kulakukan hingga pulang selarut ini?” goda Sev ketika dia tiba saat sudah lewat tengah malam.

“Hmmm...tidak Itu urusanmu,” sahut Katty santai.

Sev menyeringai, “Ketidak pedulianmu itu sangat berbahaya untuk ego laki-laki.”

“Tidak juga. Itu semua pilihanmu. Kalau kau memilih menghabiskan waktumu di luaran dan bermain gila, itu keputusanmu. Ada atau tidaknya aku disini pasti tak akan banyak berpengaruh. Begitu pula dengan aku. Aku berada di sini, menunggumu, dan berperan menjadi teman atau apalah namanya itu itu semata-mata karena aku memutuskan begitu. Kita dua orang yang sudah sama dewasa, Sev, dan aku cukup percaya diri bahwa baik kau maupun aku sudah cukup memahami segala resiko apa yang kita pilih dan siap menjalaninya. Sederhana sekali.”

“Apakah ketika pada akhirnya kau mencintaiku, itu juga merupakan sebuah keputusan, Katty?”

“Kurasa begitu. Bila aku sudah memutuskan maka aku pasti akan menjalaninya. Kau cukup mengenalku kan?”

Sev tidak menjawab namun meraih Katty dalam pelukannya dan merengkuhnya erat. “Tahukah kau kenapa kau begitu istimewa bagi kami, terutama aku? Ketika kau datang di Stockley House, tiba-tiba rumah kami menjadi begitu bersinar. Ibuku yang telah lama kehilangan harapan untuk memiliki putri begitu bahagia oleh kehadiranmu. Begitu pula aku dan ayahku. Kami menyaksikanmu tumbuh menjadi gadis remaja, dan tak pernah semenitmu kami tidak bersyukur atas berkah itu. Kau seolah gadis yang dikirim Tuhan untukku. Aku melewati masa kanak-kanak menjadi kakak laki-laki yang memujamu, melewati masa remaja dengan impian memilikimu kelak, dan saat dewasa aku meyakinkan diriku sendiri bahwa ternyata semua itu tak berubah. Begitu lama aku menunggumu. Bahkan ketika aku melewatkan waktu bersama begitu banyak wanita, aku selalu yakin bahwa pada akhirnya nanti kau akan tumbuh dewasa dan menungguku datang dan menghampirimu dan menjadikanmu milikku seutuhnya.” Sev menatap mata Katty penuh keyakinan saat kata-kata pengakuan meluncur dari bibirnya.

Katty hanya terdiam terpana menatap Sev, seolah sulit mempercayai bahwa kata-kata itu diucapkan oleh lelaki yang begitu tampan dan menawan yang memeluknya erat. Lelaki yang bahkan dalam mimpinya yang terliar sekalipun tak berani dia bayangkan akan menghampirinya dan menawarkan sesuatu yang melebihi ikatan persaudaraan. Selama ini Katty sudah sangat bersyukur mempunyai sandaran setangguh Sev, dia dalam pemikirannya yang begitu sederhana tak pernah mengharapkan lebih. Cukuplah Sev berada di sisinya, selalu siap mengulurkan tangan membantunya, menjadi tempat berlindung saat kehidupan yang begitu tak adil menyiksa dirinya. Namun saat wajah Sev yang tampan dengan mata gelap yang memandangnya tajam penuh pemujaan, Katty tak tahu harus berkata apa. Dunia kecilnya yang tenang terguncang membuatnya bimbang dan tak yakin akan semua yang didengarnya.

“Tapi Sev, kau begitu tampan dan sukses, tak mungkin kau memilihku dari semua gadis yang selama ini ada di sekelilingmu,” katanya lemah.

“Kau tak percaya kan, sayang, betapa aku menginginkanmu?” Seolah menguatkan kata-katanya Sev memperketat pelukannya. Tubuh bagian depan mereka saling menempel dengan ketat membuat Katty terhenyak oleh besarnya gairah dalam tubuh kokoh panas membara yang merengkuhnya. Bibir indahnya terbuka tanpa sadar. Sev menatap bibir ranum itu dan melahapnya bulat-bulat. Katty hanya bisa mendesah saat gelora yang memancar dari tubuh maskulin itu serasa membakar dirinya. Desahan Katty memicu hasrat Sev semakin tinggi. Seperti kelaparan Sev memindahkan bibirnya ke sepanjang leher Katty, menelusuri kejenjangannya dengan belaian bibir dan lidah, hingga menjangkau lekuk lembut di pertemuan tulang leher dan bahu gadis itu, menggoda dengan gigitan pelan yang membangkitkan sensasi liar asing yang selama ini tak diketahui telah dimiliki oleh Katty. Katty merintih, secara naluriah menggesekkan tubuhnya ke tubuh Sev, membuat lelaki itu menggeram dan akhirnya tanpa berkata apa-apa lagi Sev membopong tubuh mungil Katty memasuki kamarnya dan merebahkannya dengan lembut di atas tempat tidurnya yang luas. “Malam ini, kau harus jadi milikku,” ucapnya di telinga Katty.

Sev melucuti pakaian mereka berdua. Lelaki itu berusaha selembut mungkin namun gagal. Dan Katty yang terbenam dalam pusaran asing dan kehilangan orientasi tak mampu mencerna semua yang berputar di sekitarnya. Saat lelaki itu merengkuhnya dengan erat, dunia seolah meledak di sekitarnya. Matanya terbelalak dan desah ketidak-berdayaan terlontar dari bibir mungilnya. Sev sesaat menyadari sesuatu, namun gairah yang membuncah membuatnya kehilangan kendali dan sesaat kemudian suara erangannya yang parau berpacu dengan degup jantung yang bertalu-talu memukul rongga dada keduanya yang melekat erat.

“Sialan kau, Katty!” umpat Sev tiba-tiba dan melepas tubuh Katty yang bergetar tak berdaya. “Harusnya kau beritahu aku kalau ini pertama kalinya bagimu!” raungnya penuh kemarahan.

Katty terpana, terbangun dari mimpi indahnya. Matanya membelalak menatap lelaki yang baru saja merengkuhnya penuh gelora. Bibirnya bergetar. “Maaf, aku tak tahu prosedurnya,” bisiknya hampir tak terdengar. Sinar terluka terpancar dari mata almond itu. Dan Katty membenci dirinya sendiri saat tiba-tiba air mata meluncur ke pipinya. “Maaf,” desahnya dan berusaha bangkit.

Sev kembali mengumpat dan meraih Katty kembali dalam pelukannya. “Maafkan aku, sayang, aku begitu terkejut. Aku bisa saja melukaimu,” bisiknya di telinga Katty, “Maafkan aku, sekali lagi, maaf,” Sev menangkup wajah Katty. Dengan bibirnya dihapusnya air mata di pipi Katty. “Andai aku bisa membalikkan waktu, aku ingin melakukannya dengan benar untuk pengalaman pertamamu. Sebaliknya aku malah bersikap seperti orang bar-bar. Maafkan aku, sayangku,” dengan lembut dikecupinya seluruh wajah Katty.

Malam itu Sev memperlakukan Katty dengan teramat lembut. Setelah membawa Katty ke kamar mandi luas di kamar berdekorasi maskulin dengan membopongnya, Sev merebahkan Katty di tempat tidur dan merengkuhnya dalam pelukannya hingga gadis itu tertidur pulas. Saat pagi menjelang Katty terbangun saat merasakan lehernya diciumi oleh sepasang bibir membara.

“Bangun, pemalas,” bisik Sev di telinga Katty.

Katty menggeliat dan mendekatkan dirinya secara naluri mencari kehangatan dari tubuh Sev. Lelaki itu mengerang. Dan kemesraan itu pun berlanjut. Sangat berbeda dengan gairah meledak-ledak semalam. Pagi itu Sev begitu lembut dan sabar membimbing Katty melalui puncak-puncak gairah yang baru dikenalnya. Sev bisa sangat sabar membiarkan Katty mereguk semua dengan rakus sebelum akhirnya dia memuaskan gairahnya sendiri.

Mereka sarapan seperti biasa di teras yang bermandikan sinar mentari pagi. Dalam euforia bentuk baru hubungan keduanya Katty seperti berjalan di atas awan dan tak sanggup memikirkan satu pun jenis menu pagi itu. Membiarkan Sev menyiapkan segalanya. Dan telur orak-arik, daging asap, dan seteko kopi kental buatan Sev tak sanggup dinikmatinya dengan layak.

“Bajuku tak pernah terlihat seseksi sekarang,” komentar Sev mengomentari Katty yang mengenakan salah satu kemeja sutra milik Sev.

Katty memandang Sev yang hanya mengenakan jeans. Dadanya yang telanjang tampak begitu menggoda. Dan Katty merona mengingat apa yang telah dilakukannya terhadap bulu-bulu gelap di dada lelaki itu. Sev tertawa seolah membaca pikiran Katty.

“Kau berpengaruh buruk bagiku, Sev,” gerutu Katty. “Aku tak tahu apakah hari ini aku akan sanggup melanjutkan pekerjaanku dengan konsentrasi kacau seperti ini,” gerutunya yang disambut oleh gelak tawa Sev.