Showing posts with label marriage by arrangement. Show all posts
Showing posts with label marriage by arrangement. Show all posts

Friday, July 8, 2011

Marriage By Arrangement (10)

Salju turun dengan deras ketika Caro mengambil kunci dari tempat persembunyiannya di bawah keset dan memasukkannya di lubang kunci pintu pondok liburan milik James. Dalam ruangan terasa sangat dingin namun tidak lembab. Caro menyalakan lampu dan pemanas ruangan, menuju dapur dan membuka lemari pendingin, menemukannya telah penuh dengan bahan makanan. Ny. MacCoy menyambut baik teleponnya dua hari yang lalu, berjanji akan menyediakan semua keperluan Caro. Namun dia menyesal karena dia tak dapat menemui Caro karena dia harus ke Yeovil, menjaga bibinya yang sedang sakit untuk kira-kira satu bulan lamanya. Merasa puas, Caro mengambil tasnya dari mobil yang telah dia masukkan dengan aman di garasi. Saat dia keluar pondok, dia gemetar karena kedinginan dan kelelahan, serta dampak dari perjalanan ratusan kilometer, yang dipacu oleh rasa kesedihan teramat sangat karena mengetahui hubungannya dengan James telah berakhir.

Perjalanan itu sendiri bagaikan mimpi buruk bagi Caro, melalui jalanan yang licin membeku, kabut, belokan-belokan yang salah, serta jalan tol yang monoton. Beberapa kali Caro hampir menyerah karena kehilangan keberanian setelah mengemudi dengan kecepatan setinggi yang mampu dicapai mobil mininya. Dia bermalam di Kendal dan melanjutkan perjalanan kembali di pagi hari yang dingin dan kelabu, yang tidak juga berubah menjadi lebih cerah hingga dia tiba di pondok. Tentu dia singgah di beberapa tempat untuk makan atau minum kopi namun sama sekali tak bisa mengingat tempatnya dengan tepat. Yang dia tahu bahwa dia tidak lapar. Kembali ke pondok Caro segera membuat secangkir coklat panas, membongkar tas, dan segera tidur tanpa repot-repot makan terlebih dahulu.

Caro tertidur nyenyak karena kelehan dan terbangun kesiangan esok paginya untuk mendapati salju masih turun dengan deras. Pedesaan dan hutan di sekitar pondok tampak berselimut salju tebal berwarna putih menimbun semua yang ada. Caro berpakaian dengan cepat, mengenakan celana dan sweater, memastikan dirinya cukup hangat sebelum beranjak ke dapur dan memasak sarapan sederhana. Setelah kenyang dia mengambil sepatu boot yang terletak di belakang dapur, memakai mantel tebal, topi wool, menjinjing sekop yang dia temukan di gudang dan mulai bekerja membersihkan salju yang menumpuk di lantai teras sepanjang depan pintu hingga ke garasi. Kegiatan fisik yang cukup efektif untuk membuat otak dan tubuhnya bekerja tanpa kesempatan berfikir yang tidak-tidak.

Ternyata membersihkan salju menghabiskan waktu lebih panjang dari yang semula diduganya. Masih ada bagian lain yang perlu dia bersihkan di beranda belakang. Bukan pekerjaan yang mudah karena salju terus menerus turun dan membuat hasil kerja kerasnya kembali nihil. Namun itu tak masalah, Caro meyakinkan diri sendiri dengan keceriaan palsu, dia bisa melakukannya lagi besok dan besoknya lagi bila perlu, hanya untuk memberinya sesuatu untuk dilakukan. Saat akhirnya dia selesai senja telah turun dan langit menggelap meski baru jam tiga sore. Caro menyibukkan diri di dapur. Karena memasak untuk diri sendiri tak membutuhkan waktu lama, maka dia pun mulai membongkar dan merapikan dapur, menata ulang seluruh perabot dan bahan makanan, melabeli yang masih bisa dikonsumsi, serta membuang yang sudah kedaluwarsa. Saat malam menjelang, dengan memakai gaun tidur berbahan flanel yang hangat, Caro meringkuk di sofa dengan secangkir besar coklat panas, tak bisa lagi melupakan segala kesedihannya. Air mata mengalir tanpa terbendung. Kesedihan dan kesepian yang mendera membawa kembali semua kenangannya di pondok bersama James. Betapa bahagia mereka berdua saat itu. Dengan pedih Caro beranjak ke kamar tidur dan membaringkan diri. Meski matanya nyalang hingga larut, namun menjelang dini hari akhirnya dia tertidur.

Cuaca buruk masih berlangsung. Setiap hari Caro bekerja membersihkan tumpukan salju yang memenuhi jalur di depan garasi hingga ke halaman, kembali ke pondok untuk menyiapkan makanan sederhana, dan menghabiskan waktu dengan bergelung di depan perapian sambil membaca buku. Di gudang kecil belakang pondok tersedia cukup kayu bakar sehingga Caro tak khawatir kenyamanannya terganggu meski kondisi tak memungkinkan dirinya untuk berjalan-jalan ke desa terdekat. Sekali Caro mencoba perjalanan singkat ke danau tempat dia dan James dulu memancing. Namun salju tebal membuatnya hampir tersesat. Sejak saat itu Caro tak berani lagi mencoba. Caro juga tidak tahu sampai kapan cuaca buruk ini berlangsung. Ponselnya telah dia matikan sesaat setelah meninggalkan London, hanya dia nyalakan ketika dia teringat untuk mengirim pesan kepada Dr. Bright, mengabarkan bahwa dia tidak bisa hadir di klinik untuk waktu yang tak dapat ditentukan. Saat itu dia mendapati banyak panggilan tak terjawab dari telepon rumah, namun Caro mengabaikannya, mungkin Knotty atau Hannah, dan mematikan kembali ponselnya hingga sekarang. Di pondok hanya ada televisi portable dan radio, namun mungkin karena cuaca buruk semua mati sejak kedatangannya, termasuk jaringan telepon. Di tempat persembunyiannya Caro benar-benar terisolir. Caro yakin tak seorang pun tahu keberadaannya saat ini. Bukannya hal itu penting baginya. Dia memiliki semua yang dibutuhkannya dan dia cukup nyaman. Dan semakin lama dia pergi semakin baik bagi James untuk menyadari bahwa Caro serius dengan semua yang dikatakan dalam suratnya.

Telah satu minggu Caro berada di pondok ketika dia menyadari sesuatu, datang bulannya telah terlambat selama dua minggu. Caro menghitung-hitung dan kembali kepada kesimpulan semula. Mungkin ini terjadi sebelum James berangkat ke Amerika lebih sebulan yang lalu, atau saat mereka berada di rumah Caro di Essex. Caro tahu bahwa masih terlalu dini untuk memprediksi semuanya. Namun jauh di lubuk hatinya dia yakin bahwa buah cintanya dengan James telah tertanam dalam rahimnya. Secepat cuaca membaik Caro berencana ke Inverness untuk membeli alat tes kehamilan di apotik setempat. Dan sepertinya nasib baik sedang mendukung Caro ketika terbangun pagi hari dari balik jendela kamar nampak cuaca membaik. Salju tak lagi turun dan matahari bersinar meski masih dingin menggigit. Dan dari kejauhan Caro mendengar suara kendaraan pembersih salju sedang menjalankan tugasnya.

Penuh semangat Caro membersihkan diri dan berganti pakaian. Setelah meneguk segelas susu dan memakan roti bakar dan keju, Caro pun bernyanyi riang menuju garasi. Memeriksa bahan bakar mobilnya sekaligus memastikan rantai salju pada roda mobilnya yang dipasang Knotty sejak di London dulu untuk membantunya berkendara di jalan yang licin membeku masih terpasang rapi. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, untuk pertama kali sejak kedatangannya ke pondok Caro merasa ceria. Perjalanan ke Inverness terasa ringan. Caro menghabiskan waktu dengan berkeliling dan menjelajah dari toko ke toko, menikmati hari yang cerah. Dia bahkan tinggal hingga makan siang sebelum akhirnya berkendara lagi ke pondok. Dengan tak sabar dia menunggu pagi hari untuk mengetes air seninya. Dan hasilnya tepat seperti yang diduganya. Janin itu telah tumbuh dan berkembang dalam rahimnya.

Tiba-tiba masa depan tampak membentang indah di depan Caro. Caro yakin James akan bisa menerima kehadiran anak mereka. Tentu saja perceraian itu akan tetap terjadi. Tetapi James lelaki yang baik dan pasti mau bertanggung jawab terhadap bayinya. Mereka mungkin akan perlu membicarakan pola asuh yang akan mereka jalankan sebagai orang tua yang tak lagi bersama dan di jaman sekarang hal tersebut bukan lagi menjadi hal yang asing. Caro tetap harus bekerja. Kemungkinan besar dia akan mempertimbangkan kembali ambisinya untuk berpraktek di tempat yang terpencil karena membayangkan anaknya harus tumbuh di kota besar dan dirinya bekerja kembali di rumah sakit yang sibuk sungguh tak tertahankan. Mungkin anaknya nanti tak akan bisa menikmati kamar anak mewah di rumah James di Richmond. Namun hal itu tidaklah penting.

Caro merayakan kebahagiannya itu dengan memasak makanan yang cukup rumit dan istimewa untuk dirinya sendiri. Dan di Inverness dia telah membeli pula bahan-bahan untuk merajut. Meski masih sangat awal apa salahnya bila dia mulai merajut kaos kaki dan topi untuk bayinya. Malam hari saat angin kembali bertiup membawa kembali butir-butir salju, Caro menikmati merajut di depan perapian dengan hati berbunga-bunga.

Seminggu berikutnya akhirnya angin berhenti bertiup dan salju berhenti turun. Setelah sarapan Caro keluar lagi untuk memberbersihkan tumpukan salju. Dia juga memanaskan kembali mobilnya. Kemungkinan bila salju benar-benar berhenti hingga esok harinya Caro berniat memulai rencananya. Mau tidak mau dia harus menghadapi semua. Dia akan mengadakan pertemuan dengan Tuan Phips, pengacara sekaligus akuntan pribadi James sebelum akhirnya menghadapi lelaki itu sendiri. Karena apartemen lamanya telah dijual maka Caro berencana pulang dulu ke Essex sambil mencari peluang untuk bekerja kembali dan mencari tempat tinggal baru yang cocok baik buat dirinya maupun si bayi. Caro asyik bekerja sambil memikirkan semua yang akan dilakukannya di masa depan.

Caro tak tahu apa yang membuatnya menoleh, mungkin suara yang tanpa sadar tertangkap oleh gendang telinganya. Yang jelas ketika dia menolehkan kepalanya James telah berada cukup dekat dengannya. James menggerakkan tangannya dengan perlahan membuka kaca mata hitam mahal yang sering dia kenakan ketika mengemudi jarak jauh. Caro bisa melihat betapa lelahnya James. Tampak garis-garis menghiasi pipi dan keningnya dan kerutan di sekitar matanya semakin dalam. Sesuatu yang dulu tak ditemuinya. Caro menghembuskan nafas perlahan, meletakkan penggaruk salju yang tengah dipegangnya hati-hati bersandar ke dinding dan melangkah mendekati James. Dia begitu terkejut hingga tak bisa berkata-kata. James pun tampaknya demikian. Caro pun menyuarakan apa yang pertama melintas di kepalanya.

“Untung sekali aku telah membersihkan jalan depan garasi dari salju. Bagaimana kau berhasil membawa mobil kemari?”

Mulut James yang tampak lelah menyeringai. “Aku tidak bawa mobil. Aku meninggalkannya di Glenmoriston dan menumpang kendaraan pembersih salju hingga ke Shielbridge.”

Caro berseru terkejut. “Kau berjalan kaki? Itu hampir tujuh kilo... dan salju pasti masih sangat tebal. Berapa lama kau berjalan?”

James melihat jarum di jam tangannya. “Sekitar empat jam. Salju memang tebal sekali dan sulit untuk mengenali arah dengan jelas.”

Mereka berdiri berhadapan dan saling memandang sampai akhirnya Caro berkata “Kau pasti sangat lelah. Masuklah ke pondok. Kupastikan kau bisa segera mandi, makan, dan tidur.”

Caro tahu bahwa dia terdengar seperti wanita tua yang sok pengatur, namun itu lebih baik daripada hanya berdiri saja di sana. Dan itu akan membuatnya sibuk memikirkan sesuatu hingga dia siap untuk menghadapi James. Caro melepas sepatu bootnya dan meletakannya di rak sebelum ke dapur untuk menyalakan kompor. James melakukan hal serupa, melepas jacket kulit dombanya yang tebal dan menggantunya di balik pintu, kemudian menyusul Caro ke dapur.

James menarik kursi dan duduk di depan meja makan yang ada di dapur itu, mengamati Caro yang sibuk dengan penggorengan dan teko kopi. Caro memecahkan dua butir telur, kemudian menambah satu lagi. James bertubuh besar dan dia pasti lapar setengah mati, pikirnya sambil menambahkan daging asap ke dalam masakannya.

Caro tak bisa mengontrol lidahnya dan berucap, “Kenapa kamu datang, James? Aku tahu ada beberapa surat yang harus aku tanda tangani tetapi kau cukup tahu bahwa aku tak menyertakan syarat apapun dan aku akan setuju dengan semua keputusanmu. Kau tak perlu jauh-jauh kemari,” Caro menghela nafas dengan cepat. “Bagaimana kau tahu aku berada di sini?” Lucu sekali karena hal itu baru terpikir oleh Caro.

“Aku harus menemuimu, Caro.”

Caro menata telur dadardan daging asap di piring, menyajikannya di depan James bersama sepoci kopi yang masih panas mengepul. “Tak seorang pun tahu aku berada di sini,” Caro menuang kopi untuk James, “Itu dibolehkan, kupikir,” dia melanjutkan dengan ringan. “Paling tidak sampai aku menanda tangani sesuatu.”

“Ada yang harus kukatakan padamu, Caro.”

Caro menatap James sambil menuang kopi untuk dirinya sendiri. James terlihat sangat mengantuk dan bisa tertidur saat itu juga.

“Ya, aku tahu,” dia berbicara lembut tapi tak terbantahkan, nada bicara yang biasa dia gunakan dalam menghadapi pasien sulit di ruang gawat darurat. “Tetapi kau harus makan sekarang dan kemudian tidur. Kau bisa mengatakan apapun itu kepadaku setelahnya, tetapi tidak sebelumnya.” Caro memikirkan sesuatu kemudian menambahkan, “Sayang sekali telepon dan semua alat komunikasi tidak bisa berfungsi karena cuaca,” dan sebelum dia bisa menahan diri, dia bertanya, “Apakah Maureen tahu kau berada disini? Kuharap kau sempat mengabarinya saat kau masih di Inverness. Bila cuaca membaik kau bisa mendapat tumpangan ke kota. Kupikir kau sudah tak sabar ingin segera kembali.” Caro menghentikan rentetan kata-katanya karena sesuatu dalam mata James memperingatkannya. Kalau dia tidak sedang kelelahan Caro bersumpah dia melihat cahaya kemarahan di sana. “Perjalananmu cukup berat? Dimana kau menginap?”

“Aku langsung kemari tak menginap dimanapun.”

Caro membelalakkan mata. “Ha? Langsung kemari? Tetapi itu berarti kau harus menempuh ratusan kilometer dan dalam cuaca yang begitu buruk,” Caro mengalihkan pandangannya ke kejauhan, berusaha keras menahan air mata yang akan turun. Pasti James menganggap perjalanan ini cukup layak dan berharga, bahkan demi mendapatkan persetujuan cerai darinya. Sekuat itukah keinginannya untuk berpisah? Kepedihan kembali menghantamnya. “Cobalah roti ini,” Caro menawarkan seiris besar roti ke depan James. “Aku membuatnya sendiri.”

James tak memperhatikan tawaran Caro. “Kita harus bicara, Caro.”

Caro meletakkan cangkir kopinya dengan keras ke meja membuat isinya sedikit tertumpah. Tetapi suaranya cukup lembut waktu berkata, “Aku tahu. Tetapi tidak sekarang.” Bagaimanapun Caro tak bisa mengatakan bahwa dia mengulur waktu karena ingin menikmati waktu terakhirnya bersama James sedikit lebih lama dan bersiap mendengarkan apapun keputusan yang James buat untuknya. “Kau terlalu lelah sekarang dan aku harus menyiapkan tempat tidurmu. Masih tersedia cukup air panas dan kau akan menemukan semua kebutuhanmu di kamar mandi,” Caro telah bangkit dan berjalan ke kamar atas, kamar tidur satu-satunya di pondok itu.

Caro selesai menata tempat tidur waktu James masuk sehingga dia harus menghindar dengan memasuki ke kamar mandi dan membuka keran air, kemudian keluar lagi. “Aku tak akan mengganggumu. Aku akan berada di luar, kau bisa mengunci pintunya kalau mau,” katanya dan beranjak pergi.

Caro kembali ke dapur, memeriksa isi lemari dan memutuskan untuk membuat kaldu daging untuk sup. Saat bangun James pasti membutuhkan makanan, dan sup daging tak akan rusak meski selama apapun James tidur. Setelah memasak Caro mengambil mantel dan bersiap keluar lagi. Dia menjaga pikirannya tetap sibuk dengan berjalan melintasi halaman menikmati sinar matahari yang mulai muncul dengan tanda akan berakhirnya musim dingin yang buruk ini. Caro melupakan makan siang, namun menjelang sore dia kembali ke pondok untuk menyalakan perapian. Menikmati teh panas, Caro mengambil kembali rajutannya dan meneruskan pekerjaan itu di depan api yang berkobar indah. Dia membutuhkan segala ketenangan dan ketegaran yang dimilikinya bila James bangun nanti. Dia memainkan jarum rajutnya dengan lincah, menunggu pikirannya jernih dan mempersiapkan jawaban yang akan diutarakan kepada James. Namun satu hal yang pasti adalah bahwa dia masih sangat mencintai James meski hal tersebut sama sekali tak berguna untuk saat ini.

Caro begitu tenggelam dalam pikiran dan pekerjaan hingga tak menyadari James telah berada di dekatnya. Lelaki itu tanpa diduga mengenakan sweater merah tua yang dulu dirajut Caro dalam bulan madu mereka, memakai celana tua berbahan corduroy, serta sandal kamar norak yang dulu dibeli Caro di Inverness. Tenggorokannya tercekat melihat semua itu, namun dia mengingat untuk tetap tersenyum.

“Tehnya masih panas kalau kau mau,” dia menawarkan. “Kuharap kau tertidur nyenyak.”

Dan sepertinya James memang tertidur nyenyak. Wajahnya kembali segar, garis-garis kelelahannya telah hilang, dan dia juga sudah bercukur rapi. Tampak kembali menjadi James yang kompeten dan siap melakukan apapun. Caro tak sempat meneliti penampilannya sendiri, namun dia yakin bahwa dia benar-benar berantakan.

James duduk di seberang Caro dan Caro menuangkan secangkir teh untuknya. James menerima cangkir dari Caro namun kemudian meletakkannya di meja, menatapnya tajam dalam diam sehingga Caro merasa bahwa James mendengar detak jantungnya yang kencang. Untuk menekan kegugupannya Caro menanyakan apakah James telah tidur nyenyak, sama sekali lupa bahwa dia telah menanyakan hal serupa tadi. Saat James menjawab iya, Caro menambahkan bahwa tempat tidur di kamar memang benar-benar nyaman dan pondok terasa indah. Komentar yang tak mendapat tanggapan sedikitpun dari James. Caro meminum tehnya lalu kembali menenggelamkan diri dalam kegiatan merajut, berusaha menjaga tangannya tetap di pola yang benar, menunggu dengan sabar sampai James mengatakan apapun alasan dia bermobil lebih dari tujuh ratus kilo meter di musim dingin yang buruk. Bahwa James akan mengungkapkan sehalus mungkin kepadanya Caro sama sekali tak ragu. Mereka telah dan akan tetap berteman baik. Caro bersyukur dalam hati bahwa dia tak pernah mengijinkan James untuk mengetahui perasaan cintanya.

“Aku membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk menemukanmu, Caro,” kata James akhirnya. “Kau tahu ini adalah tempat terakhir yang terpikir olehku. Kau pernah mengatakan, kalau kau ingat, bahwa hanya situasi yang mengerikan yang akan membuatmu sanggup menempuh perjalanan sejauh ini sendiri. Aku tak mengingatnya sama sekali saat itu dan membuang begitu banyak waktu yang berharga mencarimu ke Essex, ke rumah sakit, ke klinik di Rose Roads, ke Richmond, ke rumah orang tuaku di York hingga ke toko John dan ibunya. Aku bahkan mencarimu ke tempat Tuan Phips...”

Caro menghela nafas. “Maafkan aku telah merepotkanmu. Aku tak memberitahu siapapun kemana aku pergi karena kupikir kau tak ingin tahu.”

“Caro...”

“Kau pergi, James. Kau meninggalkanku ke Amerika, dan kau mengacuhkanku. Bukan hanya itu kau sama sekali tak mengatakan bahwa kau ke Amerika dengan Maureen. Kau membawanya pulang ke rumah. Kau pulang pagi ketika mengantarnya. Kau membelikan cincin untuknya. Bahkan kau menghabiskan malam itu dengannya.”

“Dan kau mempercayai semua itu?” James memandangnya dengan tatapan mengejek.

“Aku menelepon ponselmu dini hari itu, James. Dan Maureen yang menjawabnya. Kau berharap aku berfikir bagaimana lagi?” Caro melempar rajutannya dan berdiri. Matanya berkilat-kilat sementara air mata membanjiri kedua pipinya. “Sebetulnya kau tak perlu berbuat sekeji itu. Kau cukup mengatakan padaku bahwa semua sudah berakhir dan aku akan pergi dengan baik-baik!” teriaknya tanpa sadar.

James tetap tenang di tempat duduknya dan menyipitkan mata. “Lalu kenapa kau diam saja selama ini, Caro? Kenapa kau tidak meneriakiku sebelumnya? Kenapa kau tak pernah marah meski aku sering pergi?”

“Bagaimana mungkin bisa? Kita sudah membuat peraturan pernikahan sebelumnya...”

“Persetan dengan segala pengaturan itu! Aku benci bila kau bersikap logis. Aku benci melihatmu menjadi dingin. Aku ingin kau berteriak kepadaku, aku ingin kau menggerutu saat kutinggalkan! Kau tahu kenapa aku memintamu mengajakku ke Essex? Karena aku ingin bertemu dengan Stephen, hantu masa lalumu itu. Dau kau tahu kenyataan yang paling memalukan bahwa aku cemburu sekali pada Stephen. Laki-laki itu bahkan telah menyiapkan tempat untuk kau membuka praktek nanti. Aku marah pada diriku sendiri karena membiarkan gadis sepertimu memporak porandakan perasaanku. Aku marah kepadamu karena kau tak pernah mau bersusah payah untuk merebut hatiku, seolah aku tak cukup berharga untuk kau perjuangkan. Aku cemburu kepada semuanya. Aku cemburu kepada John dan ibunya. Aku bahkan cemburu kepada Jason. Itulah kenapa aku pergi ke Amerika dan aku membenci setiap menit keberadaanku di sana tanpa dirimu. Namun aku sangat berharap saat kita berpisah kau akan merindukanku. Tadinya aku yakin kau merindukanku namun kita malah terjebak dengan kekonyolan bersama Maureen ini.”

“Kau di Amerika bersamanya,” Caro berbisik lemah.

“Dan kau percaya itu? Demi Tuhan Caro, apakah kau pikir aku cukup bodoh meninggalkan kau yang begitu berharga demi gadis konyol penuh kepalsuan seperti Maureen? Kupikir kau telah mengenalku dengan cukup baik,” James menghela nafas panjang.

Caro berdiri mematung tak tahu apa yang harus dipercayainya. Semua terjadi begitu cepat membuatnya bingung. “Maureen... kenapa kau membawanya ke rumah setelah kau begitu manis di telepon itu James? Kenapa kau kembali pergi meninggalkanku bersamanya hingga pagi hari? Kau pulang pukul tiga dini hari.”

“Aku memarkir mobilku di luar dan sibuk berfikir bagaimana membuatmu jatuh cinta kepadaku. Aku semula sangat berharap kau akhirnya mencintaiku sebagaimana aku mencintaimu. Oh ya, aku tahu saat kita berbulan madu bahwa kau telah menyadari perasaanmu. Namun kau tak pernah mau berusaha mengungkapkannya kepadaku. Sisi jahat dalam diriku ingin sedikit memanfaatkan Maureen yang hadir tak terduga dan membuatmu cemburu. Namun ternyata semua malah kacau balau. Padahal tak pernah sekalipun baik di Amerika maupun di Inggris aku menghabiskan waktu berdua dengannya. Satu-satunya kesempatan aku makan malam dengannya adalah atas undangan pamannya di sana dan aku bersedia lebih sebagai sopan santun karena bagaimanapun Maureen adalah bawahanku.”

“Dan kau menghabiskan malam berikutnya bersama Maureen,” Caro berbisik sedih.

“Tidak. Malam itu Arthur yang meneleponku karena ada kondisi gawat pasien yang membutuhkan penanganan cepat. Aku ke rumah sakit dan menghabiskan tujuh jam di OPD. Saat selesai hari telah pagi. Aku lupa meminta perawat untuk mengabarimu. Namun ketika aku ke kantor untuk mengambil tas ternyata ponselku tak berhasil kutemukan. Aku tak pernah menduga kalau Maureen akan senekad itu dengan mencuri ponsel. Dia memang hadir malam itu tetapi pulang lebih dulu karena tidak ikut tim bedah. Waktu aku pulang dan membaca suratmu barulah aku faham apa yang terjadi. Saat ini pihak rumah sakit telah memastikan bahwa nama Maureen tak lagi terdaftar sebagai dokter di St. Agnes.”

Keduanya membisu beberapa saat, sibuk dengan pikirannya sampai akhirnya Caro menemukan suaranya kembali. “James... maafkan kebodohanku,” Caro menatap James dengan mata berlinang-linang. Membuat pria itu tak tahan dan segera menyeberangi jarak yang memisahkan mereka dan merengkuh Caro dalam pelukannya.

“Caro...” desahnya dan mencium bibir gadis itu dalam-dalam.

“Aku mencintaimu James, dan aku menderita sekali,” Caro berbisik di bibir James.

“Aku tahu. Dan andai kau tahu betapa kalutnya aku saat kau pergi dan aku tak bisa menemukan dirimu dimana-mana. Aku tak bisa berfikir, aku tak bisa bekerja, karena kau mengisi seluruh pikiranku. Berjanjilah kau tak pernah menempatkanku pada situasi ini lagi,” James menghirup rambut istrinya, menelusupka hidungnya di batang leher Caro.

“James, aku melihat cincin yang kau beli dan aku membaca sekilas kartu itu. Maafkan aku telah berbohong,” Caro mengaku.

“Dan apakah kau membaca isi seluruh kartu itu?”

“Tidak karena saat itu terasa tidak benar bila aku membacanya.”

“Gadis bodoh. Aku sengaja meninggalkannya di kantong setelanku agar kau menemukannya. Aku membelinya untukmu di Amerika, aku menuliskan kata-kata dalam kartu itu dan merasa seperti pemuda belasan tahun yang sedang puber,” James menertawakan dirinya sendiri, “Jatuh cinta memang penuh omong kosong dan tidak logis. Tetapi kita hanya perlu mengesampingkan kekonyolannya dan membuatnya berhasil.”

“James...”

“Oh ya, aku mencintaimu, Caro, telah cukup lama. Saat melihatmu menghampiriku di altar itulah aku yakin bahwa kau gadis yang kucintai dan aku sadar bahwa seumur hidup aku akan sibuk membuatmu bahagia dan akan menikmati setiap menit dan detiknya,” James menyeringai jenaka. “Kau percaya?”

Caro mengangguk merasa sangat bahagia. Matanya yang hijau berpendar indah membuat suaminya lupa diri dan segera mengangkat dan menindihnya di atas sofa.

“James...kita belum makan...” Caro tak siap menghadapi serangan James.

“Kita bisa makan nanti,” sahut James tak peduli dan sesaat kemudian yang keluar dari bibir keduanya hanyalah desahan dua orang yang saling merindukan.

Tengah malam perut mereka sudah tidak bisa berkompromi lagi. Hanya dengan mengenakan mantel kamar keduanya makan berdua di dapur, menghabiskan sup dan roti yang tadi dimasak Caro sebelum akhirnya James membopong istrinya ke atas, ke tempat tidur mereka dan mencumbunya di sana. Berbeda dengan sebelumnya, James sangat lembut, dengan sabar menggoda dan memuaskan istrinya berkali-kali sebelum akhirnya mengijinkan dirinya melepaskan seluruh gairahnya.

Saat mereka saling berpelukan dengan lelah, Caro membimbing telapak tangan James mengelus lembut perutnya. James yang tak memahami maksud gadis itu menatap Caro dengan heran, hanya mendapati istrinya itu mengangguk dan tersenyum lembut. Sesaat James tak bisa berkata-kata. Namun akhirnya direngkuhnya Caro dan diciumnya dalam-dalam, seolah tak sanggup menahan kebahagiaan yang begitu meluap.

Putra pertama mereka lahir delapan bulan kemudian. Seorang bayi laki-laki tampan berambut gelap namun bermata hijau yang menangis begitu keras membuat para perawat kewalahan. James dengan bangga menggendong putra kecilnya dan membawanya ke tempat Caro yang tengah berbaring. Tampak lelah namun bahagia, Caro menerima ciuman suaminya. “Terima kasih atas hadiah terindah yang kau berikan padaku, Caro,” bisiknya mesra.

the end....

Thursday, July 7, 2011

Marriage By Arrangement (9)

“Dokter Soames, senang sekali bertemu Anda,” Caro mengulurkan tangan menjabat tangan Maureen, yang dimanikur dengan sempurna, kontras dengan tangannya yang meski halus tak bercela namun tampak sederhana dengan cat kukunya yang berwarna natural.”Kalian baru bertemu ataukah kalian pergi bersama-sama ke Amerika? Saya samak sekali tak ingat James pernah menyinggung nama Anda. Lagipula selama di Amerika James terlalu sibuk mendengar celoteh saya dan kurang menceritakan kegiatannya di sana,” Caro bersikap ramah, berusaha setengah mati agar tidak terdengar berlebihan meski dia yakin suaranya telah meninggi seperempat oktaf.

“Saya bertemu Professor di Amerika. Saya sedang cuti karena mengunjungi paman saya. Beruntung sekali kami bertemu sehingga kami bisa saling menemani. Anda tahu kan betapa membosankan segala kuliah dan seminar itu dan Professor memerlukan teman dan hiburan.” Maureen tertawa melengking. “Dan tanpa sengaja juga ternyata kami memakai penerbangan yang sama saat kembali ke Inggris. Professor berbaik hati memberi saya tumpangan. Sebetulnya saya enggan merepotkan, namun tawaran untuk minum teh di rumah Anda sangat menggoda karena sejak Anda tidak bekerja di rumah sakit lagi saya kehilangan kontak dengan Anda,” cerocos Maureen dengan suaranya yang dibuat-buat. “Saya serius ketika mengatakan ingin mengenal Anda dengan lebih dekat.”

“Oh ya?” Caro menanggapi dengan heran. “Manis sekali,” Caro menoleh memandang suaminya yang sepertinya diam-diam mengamati. “James, bagaimana kalau kita undang Dokter Soames makan malam sekalian? Hannah mempersiapkan sesuatu yang istimewa.”

James mengangkat alisnya sebelah. “Baiklah kalau itu maumu,” jawabnya pendek setelah berfikir sejenak.

James menggiring Maureen ke ruang duduk sementara Caro segera melangkah ke dapur untuk menemui Hannah dan mengabarkan adanya tambahan orang pada makan malam. Sebetulnya Caro tak perlu susah payah ke dapur, dia bisa menggunakan interkom kapanpun. Tetapi dia perlu waktu sejenak untuk menenangkan diri dari keinginan mencakar Maureen sekaligus melempar James dengan vas bunga. Saat menemui keduanya di ruang duduk, James segera menuangkan segelas sherry untuk istrinya, yang diterima Caro dengan kedua tangannya karena tak menurut kepada logika, kedua tangannya bergetar luar biasa.

“Saya ingin mengikuti jejak Professor Willis di bedah jantung,” kata Maureen. “Saya merasa cocok bekerja di bawah tim Anda, Professor.”

Caro berlama-lama menyesap sherrynya. Mungkin whiskey atau brandy akan lebih memperbaiki moodnya, meski sherry pun cukup lumayan. Caro merasa mati rasa. Sebersit harapan yang sejak berminggu-minggu terakhir ini mulai bersemi, kini seperti tercerabut hingga ke akar-akarnya. Sebentuk kekhawatiran menyelinap di benaknya. Haruskah pernikahannya kandas hanya karena gadis seperti Maureen Soames?

Caro meletakkan gelas minumannya dengan hati-hati dan memandang ke arah James yang sedang bersandar pada meja yang menempel di dinding. “Apakah perjalananmu sukses, James?” Caro berusaha membuat suaranya terdengar hangat meski gagal.

James bahkan tidak berusaha membuatnya lebih baik dengan menyambut ramah pertanyaannya. Dia hanya berkata dingin, “ Kuharap cukup sukses, meski aku tak mengatakan aku menikmatinya. Bagaimana denganmu, Caro? Semua baik-baik saja?”

Caro menjawab, iya, dia baik-baik saja dan kemudian sama sekali tak berusaha masuk dalam obrolan antara James dan Maureen. Gadis itu dengan sangat lihai memusatkan pembicaraan hanya pada dirinya dan James membuat Caro yang tak bisa mengikutinya hanya mengamati.

Hampir pukul sebelas malam ketika akhirnya Maureen beranjak dan berpamitan. James pun bersiap mengantar dan meminta Knotty mengeluarkan mobilnya. Caro berusaha tabah dan dengan keramahan palsu melapisi wajahnya, mengantar mereka di pintu depan. Secara luar biasa dia berhasil mengucapkan selamat malam dengan cukup bersahabat pada Maureen dan tersenyum hambar kepada suaminya. Dia beranjak ke kamar dan bersiap melupakan kegagalan malam ini dengan tidur. Tapi dia yakin bahwa dia tak akan bisa memejamkan mata. Caro menunggu kedatangan James. Satu jam dua jam berlalu tanpa tanda-tanda kehadiran lelaki itu. Dan ketika akhirnya James memasuki kamar, itu sudah jam tiga pagi. Tak ada yang lebih baik lagi dilakukan oleh Caro selain pura-pura tidur.

Caro bangun pagi seperti biasa dan melihat James masih tertidur. Tampak gurat-gurat kelelahan di wajahnya yang tampan. Dengan sedih ditatapnya wajah yang telah membuatnya jatuh cinta itu. Ujung jarinya menelusuri garis-garis halus di dahi James. Apakah aku akan kehilanganmu, James? Batinnya masygul. Dan tentu saja James tidak menjawab. Segera Caro bangkit dan dengan tak bersuara dia memakai celana woolnya yang tebal, sweater, dan topi rajutnya sebelum akhirnya mengenakan sepatu yang biasa dia pakai setiap pagi. Caro berjingkat keluar kamar karena tak ingin membangunkan James. Di ruang bawah barulah dia bersiul memanggil Jason dan membawanya jalan-jalan.

Saat Caro kembali James sudah mandi, bercukur, dan berdandan rapi, duduk di meja sarapan sambil membaca beberapa suratnya. Sepoci kopi dan hidangan sarapan sudah tersedia di meja. Sama sekali tidak tampak tanda-tanda bahwa dia baru saja menempuh perjalanan jauh Washington London serta pulang pagi dari entah apa yang dikerjakannya.

“Oh, kupikir kau ingin beristirahat dulu,” sambut Caro, sangat menyadari penampilannya yang tanpa make up dan masih acak-acakan.

James hanya mengangkat wajahnya sebentar dari dokumen yang sedang dibacanya. “Aku ada pasien yang harus aku kontrol pagi ini. Dan sepanjang hari jadwalku sangat padat.”

“Baiklah. Aku ke ats dulu,” Caro pun melangkah berlalu dengan hati teriris-iris sakit. Bahkan James tidak memberinya ciuman sekalipun mereka sudah hampir satu bulan tidak bertemu.

Caro sengaja berlama-lama berdandan. Bila dia turun nanti mungkin James sudah berangkat. Caro masih bingung harus bersikap bagaimana. Maka dia pun memperlama keberadaannya di kamar dengan membereskan beberapa pakaian yang akan dikirim ke laundry. Termasuk membongkar koper James dan mengambil pakaian- kotornya, sesuatu yang selalu dia lakukan bilamana James pulang bepergian. Tanpa prasangka apapun dia meneliti kantong-kantong baju dan celana James, khawatir ada beberapa barang yang masih tertinggal. Pada salah satu saku setelan Caro mendapati sebuah kotak kecil, kotak perhiasan dari beludru warna merah. Caro menatap kotak itu untuk beberapa lama tak yakin akan apa yang akan dilakukannya, lalu dengan hati-hati membuka tutupnya. Sebentuk cincin berada di dalamnya, cincin emas yang dihiasi dengan batu-batu berharga, tujuh setelah Caro menghitungnya. Alis Caro mengerut heran karena angka tujuh tak nampak mewakili apapun dalam hubungan mereka. Dia mengeluarkannya dan meneliti lebih lanjut. Intan, zamrud, amethyst, rubi, intan lagi, safir, dan topaz, kombinasi warna unik yang mengejutkan. Dia mengembalikan cincin kembali ke tempatnya saat teringat sebuah iklan di televisi yang menayangkan cincin serupa, tentang seorang pria yang mempersembahkan cincin itu untuk gadis yang dicintainya. Masih di kantong yang sama Caro menemukan sebentuk kartu kecil yang terbungkus sebuah amplop dari kertas mahal berwarna hijau. Dengan tangan gemetar ditariknya kartu tersebut dari amplopnya. Tulisan tangan James yang berantakan muncul di bagian atas:

To My Dearest Love

Caro cepat-cepat memasukkan kartu itu ke dalam amplop dan dengan hati-hati mengembalikan baik kotak perhiasan dan kartunya ke dalam kantong. Tubuhnya bergetar hebat. Dia tak tahu, kemarahan ataukah kesedihan yang melandanya, yang jelas dia merasa sangat tidak bahagia. Siapapun wanita yang dimaksud James dan yang akan menerima cincin itu Caro yakin sangat dicintai oleh James. Caro pun melangkah keluar kamar dengan pikiran kosong. Memasuki kamar kerjanya untuk mengambil tas dan cepat-cepat turun. Seperti dugaannya semula, James sudah pergi. Segera dia menemui Hannah di dapur.

“Anda baik-baik saja, Nyonya? Anda sepucat hantu,” komentar Hannah begitu melihat Caro.

“Ah, tidak apa-apa, Hannah, hanya sedikit lelah. Aku akan cepat sarapan. Oh ya, hari ini aku tidak sempat membereskan baju-baju yang akan dibawa ke laundry. Tolong kamu bereskan ya? Dan kalau ada barang-barang di kantong milikku atau milik Prof, kamu letakkan saja ke ruang kerja kami masing-masing. Bawa ke laundry hari ini juga. Aku sibuk sekali.”

Caro pun buru-buru ke ruang sarapan. Setelah itu dia langsung memanggil Knotty untuk mengantarnya ke klinik. Hari Kamis biasanya dia memang masuk siang di klinik karena akan pulang malam bersama James, tetapi sejak James ke Amerika dia selalu masuk pagi. Jadi kenapa hari ini harus berbeda? Dia toh juga tidak yakin kalau sore nanti James akan muncul di klinik.

Untung suasana klinik cukup sibuk sehingga Caro tak sempat memikirkan kegundahan hatinya sama sekali. Tepat sore hari James datang. Sebetulnya Caro ingin segera bersiap-siap pergi, namun pasien membanjir tak mungkin baginya membiarkan Dr. Bright menanganinya sendiri bersama Adam. Bahkan dengan kedatangan James pun pasien masih banyak yang belum tertangani. Ketika Sandra pun akhirnya pulang, terpaksa Caro yang menghandle pekerjaan resepsionis itu.

Ruang tunggu masih ramai. Caro melihat serombongan remaja baru datang dan bermaksud menyalip antrian. Mereka bergerombol menuju tempat praktek James. Selain itu Caro juga melihat mereka menghisap rokok.

“Dilarang merokok di sini dan antrilah sesuai urutanmu,” katanya mengingatkan. “Nama?”

Salah seorang pemuda yang sepertinya pemimpin mereka menatapnya acuh. “Kami tak harus menunggu. Kami akan masuk sekarang.”

“Dilarang merokok! Dan semua harus antri tanpa pengecualian!” peringatnya tegas.

Pemuda itu tertawa mengejek dan meniupkan asap rokok di wajah Caro. Saat Caro mengacuhkannya pemuda itu semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Caro.

“Siapa yang menjadi pasien di antara kalian? Dan siapa dokter yang biasa menangani kalian?” tanya Caro tetap dingin.

Pemuda itu malah menangkap pergelangan tangan Caro, berusaha mengintimidasi.

Caro membelalakkan mata hijaunya dengan tajam. “Lepaskan!” perintahnya galak.

“Wow...wow... ternyata kucing betina ini bisa galak juga!” mereka tertawa terbahak-bahak.

Beberapa pasien lain mulai berdiri mendekat. Namun James telah datang, tampak tinggi besar di antara kerumunan itu. Dan hanya dalam sekali gerakan dia berhasil mencengkeram leher pemuda itu. “Berani kau sentuh istriku, aku akan habiskan kalian!” gertaknya dingin sambil mendorong pemuda itu mundur hingga membentur dinding.

“Hey, Dok, sorry, kami tak tahu cewek itu istrimu, sumpah, kami tak tahu,” teman-temannya yang lain segera bergabung dan membenarkan. Tak hanya itu mereka juga telah membuang rokok mereka ke tempat sampah. “Ini hanya gurauan, oke? Kami tak serius! Dan kami tak menyakitinya.”

“Betul,” sahut Caro tegas. “Mereka hanya mengganggu karena bosan,” Caro memandang sekilas ke arah James yang tampak memandangnya dengan marah. “Aku akan menerima permintaan maaf mereka kalau mereka mau.”

Insiden kecil itu berakhir segera keteika James berhasil menghalau gerombolan pengacau itu keluar. Akhirnya Adam yang mengambil alih posisi di ruang resepsionis dan mengatur antrian sementara para dokter bekerja tanpa bantuan perawat. James mengikuti Caro memasuki ruangannya. “Maafkan aku, Caro, apakah mereka membuatmu takut?”

Caro memandang tajam suaminya. “Tidak,” katanya datar. “Aku tak apa-apa. Kau tak perlu bersikap berlebihan. Aku bisa mengatasinya.”

“Benarkah?” James mengernyitkan dahinya, tampak kemarahan tersimpan di matanya.

Namun Dr. Bright buru-buru muncul. “Caro, kau harus pulang sekarang,” katanya sambil menggoyang-goyangkan telunjuk dengan gaya kebapakan di wajah Caro. “James, istrimu ini telah bekerja sejak pagi. Kita berutang jam istirahat padanya.”

James semakin tajam menatap Caro. “Oh ya?”

“Iya, tadinya aku akan cepat-cepat pulang begitu kau muncul, James. Namun pasien begitu banyak,” jawabnya tenang. “Sekarang kupikir aku lebih baik pulang. Kalian para laki-laki agaknya cukup mampu menangani sisa pasien yang ada.”

“Aku akan menelepon Knotty...”

“Tak usah James, aku menelepon taksi saja. Aku perlu singgah di beberapa tempat. Berbelanja untuk Hannah.”

“Begitukah?” James tak bisa menyembunyikan kilatan tajam di matanya.

Caro hanya tersenyum. “Jangan kuatir. Aku sudah melakukannya beberapa kali. Kau tak harus selalu mengkhawatirkan keselamatanku. Tanpa itu pun tugasmu cukup banyak. Aku bisa jaga diri sendiri,” katanya berusaha keras mempertahankan wajah santai dan mulai bersiap-siap. Lima menit kemudian Caro telah berada dalam taksi yang membawanya ke toko yang terletak dekat dengan blok apartemennya dulu. Dia sangat ingin menemui ibu John di sana. Entah mengapa, melihat wajah tenang wanita tua itu terasa menentramkan hatinya.

Seperti biasa John menyambutnya begitu Crao menampakkan wajahnya di pintu toko. “Ma ada di atas!” teriaknya yang dibalas Caro dengan senyuman dan segera melangkah menaiki tangga. Wanita itu menyambutnya dengan senyumannya yang hangat.

“Nah, kemarilah, sayang. Tanpa kau bilang pun kabut di wajahmu sudah menunjukkan suasana hatimu. Kemarilah, duduk di sebelahku. Secangkir teh hangat akan mencerahkan semuanya,” katanya ramah.

Caro mengambil tempat di sebelah wanita tua itu dan menggenggam lembut tangan keriput itu, berusaha menentramkan hatinya yang galau. Wanita itu tak pernah berusaha mengorek ataupun mencecarnya dengan pertanyaan. Caro pun tak pernah menceritakan perasaannya. Mereka hanya berbincang ringan tentang segala sesuatu yang tidak penting. Namun dengan caranya sendiri wanita tua itu menghibur Caro dan meyakinkannya bahwa sedikit rasa sakit hati akan baik untuk membuatnya kuat. Akhirnya Caro tinggal hingga saat makan malam. Hari Kamis dia dan James memang tak pernah makan malam di rumah dan Hannah pun terbiasa dengan jadwal itu. Jadi tak ada alasan baginya untuk mengganggu rutinitas wanita yang begitu penuh perhatian dengan rumah tangganya. Bila saatnya tiba nanti akankah Maureen Soames atau siapapun wanita yang akan dipersunting James menggantikan dirinya nanti, bisa bersikap baik pada Hannah? Batinnya sedih.

Mereka sedang menikmati kopi bersama John dan ibunya ketika pelayan John memberitahu akan kedatangan seseorang. “Seorang lelaki yang mengaku sebagai suami nyonya dokter datang menjemput,” kata pelayan itu dengan logat Cockney yang kental.

Caro membelalakkan matanya dengan heran. Dia tak menyangka James akan datang ke tempat ini. Tapi pelayan itu tentu saja tidak bohong, karena begitu ibu John menyuruhnya mempersilakan James masuk, lelaki itu sudah berdiri menjulang di ruangan sempit itu. Dengan John dan James yang berukuran di atas rata-rata ruangan terasa sesak.

“Ah, ini dia sang suami. Terimakasih telah berbagi Caro dengan kami,” sambut ibu John dengan ramah. James tersenyum kepada wanita tua itu dan mencium lembut pipi keriputnya. “Nah, sayang, karena suamimu sudah di sini ada baiknya kau segera pulang. Kau telah menghiburku, aku senang sekali. Kami akan sangat bahagia kalau kalian berdua melewatkan banyak waktu di sini, itu kalau tidak mengganggu kesibukan kalian.”

James memang sangat luar biasa dalam berbasa-basi. Kata-katanya pada wanita tua itu begitu sopan dan lembut, sama sekali tak ada sisa dari kemarahan terpendam yang tadi sore dilihat Caro. Caro hanya mengamati sambil berdiri kaku di sebelahnya. Ketika akhirnya mereka berpamitan karena James menolak tawaran minum kopi bersama mereka, wanita tua itu melepasnya dengan senyum hangat. Setelah mencium kedua pipi wanita itu dan mendapat ciuman ringan dari John, Caro mengikuti James ke mobilnya. Dalam perjalanan pulang James tak berniat mengajaknya bicara membuat Caro merasa semakin tersiksa.

“Kuharap kau tidak keberatan aku sering mengunjungi John dan ibunya,” kata Caro lirih memecah kesunyian. “Aku tak menduga kau tahu kemana aku pergi.”

“Hanya intuisi, Caro. Marah? Kenapa aku harus marah? Aku bukan penjagamu, kau bebas berteman dengan siapa saja,” James berbicara datar. Bagai tersiram seember air dingin Caro merasakan kebekuan dalam hatinya. Mereka dengan cepat tiba di rumah. Kepada Knotty dia mengatakan agar meminta Hannah menyiapkan sandwich karena dia belum makan malam.

“Oh, ternyata kau belum makan malam. Aku pikir kau akan makan bersama Dr. Bright,” Caro merasa sangat bersalah.

“Tidak. Aku menelepon Hannah tadi. Bukan hal penting. Sandwich pun jadi.”

Caro mengikuti suaminya ke ruang duduk dan Hannah segera datang menyajikan sepoci kopi yang masih mengepul. James menatapnya saat Caro menuang minuman ke cangkir mereka berdua.

“Apaka hari ini kau telah mengirim baju-baju kotor ke laundry?” tanya James sambil lalu.

Tepat saat itu Hannah datang dengan sepiring sandwich. “Saya mengirim pakaian kotor ke laundry tadi siang,” kata wanita itu.

“Apakah ada barang yang tertinggal, Hannah?”

“Iya, tadi sudah saya letakkan di atas laci di ruang kerja Anda, Professor.”

“Baiklah, Hannah, terima kasih.”

Caro semakin merasa tertekan. Tangannya yang memegang cangkir mungil ringkih itu bergetar. Semoga James tak melihatnya, pintanya dalam hati. “Hari ini aku berangkat pagi dan Hannah yang melakukannya. Apakah kau keberatan? Apakah ada sesuatu yang penting?”

“Iya, tetapi hanya penting buatku. Aku tak keberatan Hannah melakukan hal itu. Kenapa juga harus keberatan? Dia yang selalu melakukannya sebelum aku menikah.”

Caro benci sekali melihat James yang bersikap dingin begitu.

“Kau sama sekali tak mau tahu barang apa itu, Caro?” tanya James mengejek.

Caro mengalihkan wajahnya ke atas, seolah lampu-lampu hias yang tergantung di plafon tersebut memerlukan perhatian lebih. “Tidak, James, aku tak akan usil dengan mencampuri kehidupan pribadimu. Aku cukup tahu diri dan menghormati pengaturan pernikahan kita.”

“Begitu? Kau tampaknya selalu mengingatkanku dengan pengaturan awal pernikahan kita. Jangan kuatir, Caro, aku tak melupakannya dan aku memahami betul resikonya.”

Tepat saat ponsel James berbunyi. Lelaki itu menjawabnya seketika. Sepertinya dari rumah sakit. “Oke, aku akan sampai dalam waktu kurang dari lima belas menit,” kata James kepada siapapun di ujung sana. Dan kepada Caro dia hanya berkata pendek, ”Aku harus pergi.”

Caro menatap kepergian suaminya dengan sedih. Apa yang harus kulakukan?

Ternyata James kembali tidak pulang hingga dini hari. Caro hanya membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur yang terasa dingin tanpa James di sampingnya. Sekuat tenaga dia menahan diri agar tidak menangis. Dia tak ingin James tahu bahwa betapa dia merindukannya, betapa dia tersiksa selama James pergi, dan betapa bencinya dia dengan situasi dingin di antara mereka. Tepat pukul empat pagi, melawan segala gengsi dan akal sehat akhirnya Caro menelepon ponsel James.

“Halo...” terdengar suara mengantuk seorang wanita. Maureen.

Caro memejamkan mata sejenak. Kenapa Maureen yang menjawab ponsel James? “Dimana James?”

Terdengar tawa serak Maureen yang sepertinya masih mengantuk. “Oh, nyonya yang malang sekali. Anda sama sekali tak menduga bukan bahwa Professor, atau Jimmy, sedang tertidur nyenyak sekarang? Aku tak tega membangunkannya. Dia terlalu bersemangat, Anda tahu kan?”

“Apa yang kau lakukan dengan suamiku?” suara Caro bergetar penuh kemarahan.

Kembali terdengar tawa di seberang. “Malang sekali nasibmu, Caroline. Apakah kau tahu bahwa kau terlalu naif, menyangka James akan setia padamu? Harusnya tanpa dikatakan pun kau tahu apa yang terjadi. Kami bahkan ke Amerika bersama-sama. Bodoh sekali dirimu ini, Caroline. Tahukah kau kenapa James menikahimu? Karena kau tipe istri idaman setiap pria, namun kau sama sekali bukan kekasih yang menggairahkan di tempat tidur. Lelaki perlu dua hal tersebut, kau tahu kan?”

Caro tak tahan lagi mendengar semuanya. Pikirannya terasa buntu. Satu hal yang pasti adalah dia tahu bahwa pernikahannya telah berakhir dan dia harus pergi. Secepat otaknya bisa berfikir, Caro segera bangkit dari tempat tidur. Dia mengganti baju tidurnya dengan celana wool tebal, memakai t-shirt dan sweater. Seperti robot dia mengepak beberapa pakaian ke dalam tas jinjingnya. Semua perhiasan yang dikenakannya termasuk cincin kawin dia masukkan ke kotak dan menyimpannya ke laci meja rias. Dia tak kekurangan uang, tetapi dia mengembalikan semua buku bank dan kartu atm maupun kartu kredit yang diterimanya dari James dan menyimpannya jadi satu di kotak perhiasan. Beruntung Knotty selalu menjaga agar bahan bakar mobilnya selalu penuh jadi dia tak akan kuatir untuk bepergian di pagi buta. Setelah yakin segala kebutuhan dasarnya telah masuk dalam tas dan dia telah siap, dia menuruni tangga rumah dengan mengendap-endap.

Tinggal satu hal yang harus dilakukan. Menulis surat untuk James. Perlahan dalam kegelapan Caro memasuki ruang kerja James, menutup pintunya dan menyalakan lampu baca di meja James. Air mata menggenang di pelupuk matanya saat dia duduk dan menulis. Beberapa kali dia merobek suratnya. Sampai akhirnya dia berhasil merangkai kata-kata yang cukup lumayan.

James,

Aku akan pergi sehingga kau akan bisa memproses perceraian kita. Aku tak punya nyali untuk mengatakannya terus terang kepadamu, namun aku cukup memahami dirimu. Aku pergi agar kau bebas dari ikatan ini dan bisa kembali bersenang-senang sebagaimana hidupmu dulu. Dini hari ini saat aku menelepon ponselmu dan Maureen yang menjawabnya, membuatku tersadar bahwa pernikahan kita sudah berakhir. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu dengan siapapun wanita yang kau pilih nanti. Oh ya, aku telah melihat cincin itu. Siapapun wanita yang akan kau beri cincin itu, dia pasti sangat berarti bagimu. Aku meninggalkan semua pemberianmu di laci meja rias. Aku punya cukup uang dan aku akan mencari pekerjaan secepatnya, jadi aku akan baik-baik saja. Tetapi untuk beberapa saat aku ingin menenangkan diri. Aku akan menghubungi pengacaramu secepatnya agar dia tahu dimana bisa menghubungi aku kelak. Terima kasih atas semuanya. Maaf bila surat ini sedikit kacau.

Caro

Caro melipat suratnya, meletakkannya hati-hati di tempat yang mudah dilihat. Menulis catatan untuk Knotty bahwa dia pergi untuk urusan mendadak dan memintanya membawa Jason jalan-jalan. Caro tak tahan untuk tidak membuka laci teratas meja James, dan melihat kotak dan amplop itu berada di sana, tempat Hannah meletakkannya. Kemuadian segera bangkit. Setelah melihat sekali lagi isi ruangan itu dan merekam semuanya ke dalam memorynya, Caro keluar. Rumah masih sangat sepi. Knotty dan Hannah yang tinggal di apartemen belakang belum bangun. Setelah dia meletakkan catatan untuk Knotty di dekat telepon, dengan mudah Caro keluar menuju garasi. Dan dalam kegelapan dini hari itu Caro pun meluncur pergi.

Barulah pukul sembilan James tiba di rumah. Wajahnya kusut belum bercukur daan terlihat sangat lelah. Knotty menyambutnya dengan raut muka khawatir.

“Saya tak suka membaca catatan Nyonya Willis, Professor. Dia mengatakan harus pergi untuk suatu urusan mendadak. Saya tak tahu jam berapa itu karena saat saya bangun pagi tadi nyonya sudah tidak ada.”

“Dia membawa mobil?”

“Iya. Untunglah tanki mobilnya telah saya isi penuh kemarin. Menurut Hannah sejak kemarin pagi nyonya memang sudah terlihat tidak seperti biasanya, bahkan lebih kacau dan muram dari ketika Professor ke Amerika dulu.”

“Baiklah. Pasti dia meninggalkan pesan untukku. Aku akan meneleponnya dari rumah. Ponselku tertinggal entah dimana.”

James melemparkan mantelnya ke kursi terdekat. Melangkah panjang dan cepat ke ruang studinya dan segera dia melihat lipatan kertas yang ditinggalkan Caro. Dia berdiri kaku tanpa berbuat apapun untuk beberapa lama. Wajahnya tanpa ekspresi, kemudia membuka lipatan kertas itu perlahan. Dan dengan perlahan pula dia membaca tulisan Caro, kemudian mengulangi membacanya lagi sebelum melipatnya dan menyelipkannya ke saku baju. Dia melangkah ke atas, melompati tangga dua sekaligus dan menuju ke kamar tidur. Semua tepat seperti yang dikatakan Caro. Membuka lemari baju Caro, dia melihat tak ada perubahan sama sekali. Semua gaun Caro masih tergantung di sana. Kopornya juga. Meski tahu bahwa Caro tak akan menjawab ponselnya toh James mencoba meneleponnya dengan telepon di samping ranjang mereka. James terduduk di ranjang dan mengusap wajahnya dengan lelah.

Suara ketukan di pintu kamar disusul oleh Hannah yang datang membawa nampan berisi sarapan pagi. “Anda lebih baik sarapan dulu, Professor, jadi nanti kalau nyonya pulang Anda akan merasa lebih baik,” kata wanita keibuan itu.

James menatap kosong ke kejauhan. Tentu saja Caro tak pulang.

Monday, July 4, 2011

Marriage By Arrangement (8)

Setelah akhir pekan itu James harus ke Brussel dan Leiden untuk seminar, serta terbang ke Abu Dhabi untuk sebuah konsultasi dengan seorang pasien kaya raya yang memerlukan keahliannya. Jadi rencana ke Essex sementara tertunda. Caro sendiri sangat menikmati pekerjaan barunya di Rose Roads. Sungguh tak diduga bahwa klinik sekecil itu bisa mendatangkan keruwetan sebagaimana layaknya ruang gawat darurat di rumah sakit sedang. Klinik ini memang sangat kekurangan staf. Namun untuk merekrut staf baru ternyata tidak mudah. Departemen Kesehatan Kota memiliki jumlah perawat yang sangat terbatas yang dapat diminta untuk berdinas di Rose Roads. Selain itu rata-rata perawat perempuan akan berfikir dua kali untuk datang ke tempat itu. Satu-satunya pilihan tinggal perawat laki-laki yang itupun jumlahnya sangat terbatas dan harus berebutan dengan lokasi lain sejenis yang memiliki area pelayanan lebih luas dengan fasilitas lebih sedikit. Jadilah Caro sebagai satu-satunya paramedis perempuan di klinik akhirnya mengerjakan semua tugas yang biasanya hanya bisa dilakukan para perempuan seperti membujuk pasien yang sulit dirujuk ke rumah sakit ataupun menaklukkan anak-anak kecil yang sulit sekali untuk ditangani. Selain itu karena James sangat sibuk dan sering keluar negeri, Caro membantunya dalam mengelola keuangan klinik. Memang tugas ini tak sulit karena akuntan pribadi James, Tuan Phips, turun tangan secara langsung. Namun bukan berarti bantuan Caro tidak diperlukan. Tuan Phips hanya memeriksa laporan secara berkala setiap dua minggu. Sedangkan untuk urusan anggaran belanja dan lain-lain yang biasanya dilakukan oleh James sekarang diambil alih oleh Caro.

Sedikit banyak kesibukannya yang padat mengalihkan pikiran Caro dari hal-hal yang tidak perlu. Istri lain mungkin akan was-was bila suaminya berkeliling luar negeri sendirian tanpa pernah sekalipun menawarkan diri mengajak istrinya turut serta. Apalagi suami dengan wajah tampan dan profesi menjanjikan seperti James. Hubungan kami tidak sedalam itu, pikir Caro berusaha logis. Meski James tidak mencintainya, namun Caro yakin bahwa lelaki itu cukup menyukainya dan hormat padanya. Untuk pernikahan yang tidak dilandasi rasa cinta yang menggebu dari kedua belah pihak, hubungan mereka cukup mapan. Baik hubungan fisik yang intens maupun komunikasi di antara keduanya yang terjalin bagus berdasarkan kesamaan minat dan bidang yang digeluti. Betapa mengagumkannya bahwa ternyata mereka memiliki banyak kesamaan dalam ide dan pandangan terhadap segala sesuatu. Saat berjauhan pun James tak pernah lupa untuk menelepon sekedar berbagi tentang hari-hari yang dilaluinya. Dan sifat dasar Caro sebagai pendengar yang baik sangat membantu suaminya dalam melepas keluh kesah setelah menjalani hari yang berat di ruang operasi.

Mereka merayakan natal di rumah orang tua James di York. Saudari James tidak ada yang hadir karena masing-masing merayakan di keluarga suaminya. Namun mereka tetap bertukar kado dan saling menelepon. Caro mengalami kesulitan dalam memberi hadiah pada James karena bisa dikatakan lelaki itu telah memiliki segalanya. Namun akhirnya Caro menemukan ide yang brillian. Dia membelikan James tas kerja dari perancang terkenal yang harganya sangat mahal dan mengganti inisial perancang itu dengan inisial James dari bahan emas murni. James menerimanya dengan senang dan langsung memindahkan isi tasnya ke tas hadiah Caro. Sementara untuk istrinya lelaki itu menghadiahkan satu set perhiasan dari permata yang berpendar-pendar, sangat tipikal James.

Namun pada tahun baru barulah kesempatan untuk ke Essex datang. Meski jalanan berlapis salju yang teramat tebal namun James menyetir dengan santai seolah mereka melaju di jalanan mulus di musim panas yang cerah. Caro memang agak ragu mengundang James ke tempat masa kecilnya. Sedikit rasa tak percaya diri menghantuinya dan entah kenapa dia seperti merasa bahwa ada sesuatu yang tidak benar menunggu di sana.

Rumah masa kecil Caro masih tetap seperti dulu, tak banyak berubah seolah kemajuan teknologi tidak pernah menjangkau tempat itu. Rumah berukuran sedang dengan gaya kuno itu terletak agak jauh di luar Essex. Pasangan Pelham yang merawat rumah tersebut tinggal di pondok yang berada di seberang halaman belakang. Selain itu pagar terluar rumah Caro berbatasan langsung dengan milik keluarga Maxwell yang sekarang dikelola oleh Stephen, lelaki yang cukup mewarnai kehidupan asmara Caro.

Mereka tiba di sana tepat saat makan siang. Karena alasan belum terlalu mengenal medan, James memutuskan meninggalkan Jason dalam pengawasan Knotty. Padahal Caro sudah mengatakan bahwa Jason pasti suka tinggal di sana karena selain areanya cukup luas, juga ada hutan kecil tempat Jason bisa bertualang. Namun James tetap menolak meski berjanji lain kali akan membawanya ke sana. Pasangan Pelham yang sebelumnya telah ditelepon oleh Caro menyambut mereka. Caro memeluk kedua orang yang sekarang sudah tampak renta itu sekaligus mengenalkan James kepada mereka.

“Aku menyukai orang-orang ini. Mereka begitu menyayangimu,” puji James saat mereka menikmati makan siang, hidangan daging domba ala Nyonya Pelham dengan saus buah prem yang sangat digemari oleh Caro sejak kecil.

“Iya, aku mengenal mereka sejak kecil. Setelah kedua orang tuaku meninggal aku pindah kesini dan mereka yang mengawasiku. Apalagi setelah nenek juga meninggal dan kakek terlalu tua untuk mengurusku, mereka menempatkan diri sebagai orang tua yang tidak kumiliki lagi.”

“Pasti berat bagimu kehilangan orang-orang yang kau sayangi.”

“Pasti. Tetapi aku akhirnya terbiasa. Lagi pula aku tak bisa berlama-lama menangisi kematian orang tua dan nenekku. Kakekku mengirimku ke sekolah berasrama sehingga aku selalu punya teman. Saat akhirnya kakek meninggal aku sudah cukup dewasa dan bisa mengurus diri sendiri. Lagi pula tetangga di sini semua begitu perhatian kepadaku. Tunggu saja sampai kukenalkan kau pada mereka.”

Saat yang ditunggu itu ternyata tak sampai lima menit. Karena pintu samping tiba-tiba saja terbuka dan sosok lelaki tinggi besar dengan rambut sama merahnya dengan Caro dan bermata biru telah muncul di hadapan mereka yang baru saja menyelesaikan menyantap puding.

Melihat kehadiran lelaki itu, mata hijau Caro terbelalak dan tiba-tiba wajahnya menjadi secerah matahari musim semi. “Stephen!” teriaknya buru-buru bangkit dan menghambur memeluk lelaki itu.

Yang dipanggil Stephen menyambutnya dengan tawa lebar. “Caro, gadis mungilku! Sungguh kejutan yang menyenangkan,” Stephen menjauhkan wajah Caro untuk memandangnya, kemudian kembali tertawa dan mencium pipinya.

Deheman James menyadarkan reuni kecil mereka.

“Oh, maaf, Stephen, kenalkan ini James Willis, suamiku. James, ini Stephen Maxwell, tetangga dan sahabatku sejak lama,” dengan tersipu Caro memperkenalkan kedua lelaki itu.

Tinggi Stephen hanya berbeda dua centi lebih pendek dari James. Namun kekekaran tubuhnya karena bekerja keras di pertanian membuat James nampak sangat langsing. Keduanya bersalaman. Stephen nampak kikuk menghadapi penampilan perlente James. Stephen berpenampilan layaknya orang yang hidup dan bekerja di pertanian, sederhana dengan boot, jeans dan sweater tebal yang Caro yakin adalah rajutan ibunya untuk hadiah natal. Keduanya begitu kontras. James yang berambut gelap dengan tampang aristokrat dan Stephen yang pirang acak-acakan namun menawan.

“Tak kusangka Caro akhirnya memutuskan menikah denganmu, James. Boleh kan aku panggil James? Kau boleh memanggilku Stephen.”

James tersenyum. “Tentu.”

“Baiklah, aku tak mau mengganggu kalian lebih lama lagi. Aku tadi hanya sangat penarasan dengan Caro. Tapi sepertinya dia baik-baik saja,” Stephen tersenyum lembut memandang Caro. “Datanglah makan malam nanti ke rumah. Ibu sudah tidak sabar untuk memanjakanmu.”

“Pasti,” Caro meyakinkan. Mengenang dengan penuh sayang wanita yang lembut dan baik itu. “Sampaikan sayangku pada ibu ya.”

Setelah melambai pada James, mengacak rambut Caro dan mencium dahinya sekali lagi, Stephen meninggalkan rumah. Semua itu tak luput dari perhatian James. Segala ekspresi dan bahasa tubuh Caro dan Stephen. James pengamat yang sangat cermat dengan daya ingat tajam dan analisis yang tajam. Namun Caro yang merasakan kebahagiaan karena kembali ke tempat masa kecilnya sama sekali tak memperhatikan. Dengan gembira diseretnya James menginspeksi isi rumah. “Jangan harap sesuatu yang mewah disini, oke?” katanya memperingatkan. Rumah itu sendiri tidak terlalu besar, di lantai bawah mengakomodir segala kebutuhan rumah tangga normal. Ruang tamu, ruang duduk, kamar studi dan dapur yang menyatu dengan ruang makan. Di lantai atas ada empat kamar tidur, satu kamar tidur utama yang berukuran sedang dan saat ini telah siap untuk mereka berdua, dan tiga kamar lain yang berukuran lebih kecil.

“Kami keluarga kecil. Ayahku adalah anak satu-satunya dari kakek, sementara ibuku yang telah yatim piatu sejak remaja juga anak tunggal yang dibesarkan oleh bibi jauhnya yang sekarang juga sudah tiada. Jadi bisa dikatakan kakeklah keluarga terakhir yang kumiliki,” Caro bercerita.

Ketika memasuki kamar Caro semasa gadis dulu, James hanya mendapati kesederhanaan di sana. Tidak seperti layaknya kamar gadis-gadis lain seperti kamar saudarinya, kamar Caro sangat simple. Hanya dilengkapi furniture dasar seperti tempat tidur, lemari, rak pendek berlaci dan meja kursi. Namun dari rak itu James menemukan setumpuk album foto dan ingin melihatnya.

“Aduh, aku malu kalau kau melihatnya. Aku dulu sangat konyol!” tolak Caro.

Namun James dengan sedikit rayuan akhirnya berhasil membuka album-album foto itu. Berdua mereka duduk di tempat tidur Caro yang berukuran sangat kecil bagi James. Album pertama berisi foto masa kanak-kanak Caro bersama kedua orang tuanya. James mengetahui mata hijau dan rambut merah Caro berasal karena ibunya memiliki keduanya, juga perawakan yang mungil dan lembut. Ayah Caro bertubuh tegap dan tampan dengan bibir seksi mendominasi wajahnya, bibir yang sekarang menjadi milik Caro dan James sangat memujanya. Kadang hanya dengan memikirkan bagaimana bibir Caro telah menjelajah tubuhnya cukup untuk memancing gairahnya.

Masa remaja Caro, sebagaimana gadis-gadis lain, sepertinya cukup ceria untuk gadis piatu yang tinggal di bawah asuhan pasangan manula. Caro tampak memiliki cukup banyak teman dan kebanyakan dari foto-foto itu menunjukkan Caro gadis yang aktif dalam kegiatan luar rumah. Ada foto Caro saat berkuda, berenang, maupun mendaki gunung. James memincingkan mata ke arah Caro. “Betapa luar biasa kamu menutup dirimu selama ini, Caro? Aku tak pernah menyadari bahwa kau gadis yang suka petualangan.”

“Hm... memang sebetulnya aku suka kegiatan luar rumah. Namun saat akhir sekolah menengah aku menghentikan semuanya.”

James mengerutkan alisnya. “Ada alasan khusus?”

Caro agak tersipu. “Konyolnya aku. Aku berfikir aku harus mempersiapkan diri untuk menjadi istri yang baik bagi Stephen. Aku belajar memasak dan segala hal yang berhubungan dengan rumah tangga. Bahkan aku juga sudah merencanakan punya anak dan mempersiapkan beberapa nama untuk mereka. Namun tentu saja aku gagal karena Stephen menolakku,” Caro tertawa. “Dulu aku menangis selama berhari-hari dan tidak mau keluar rumah sampai Stephen datang dan membujukku bahwa menikah bukanlah perkara mudah. Dia tak mau membuatku yang sudah dianggapnya sebagai adik kecilnya menyesal kemudian. Saat itulah aku memutuskan ke uiversitas dan mengambil kedokteran. Ah, sudahlah, itu hanya masa lalu. Setiap orang pasti pernah berbuat bodoh dan konyol di masa muda.”

Namun James menemukan dalam album berikutnya banyak terdapat foto-foto Caro dan Stephen. Mereka tampan manis dan serasi bersama. Pandangan Caro penuh pemujaan pada lelaki itu sementara Stephen jelas tak bisa menutupi rasa sayangnya kepada Caro. Kenapa semua tidak berjalan lancar begi mereka berdua?

Malam itu mereka makan malam di rumah keluarga Maxwell. Caro selalu diterima baik oleh kedua orang tua Stephen. Kalaupun kedua orang yang telah beranjak tua itu menyesali kegagalan Caro menjadi menantu mereka, mereka sama sekali tak menampakkannya. Mereka menerima James dengan penuh keramahan dan kehangatan. Setelah makan mereka berpindah ke ruang duduk. Caro tampak nyaman berada di antara Stephen dan saudara-saudaranya. Mereka memang hampir seumur dan banyak bercanda tentang masa kecil mereka. James yang menemani kedua orang tuan Stephen mengamati dari tempat duduknya dan merasa dia berusia seabad dan sama sekali tak bisa menggapai kemudaan istrinya. Namun bukan James namanya kalua tidak bisa merobohkan batas itu. Dengan sangat lihai dia menyertakan Caro dalam perbincangan mereka sehingga pada akhirnya Caro berada bersamanya, berbincang dengan kedua orang tua tersebut dan meninggalkan Stephen.

“Kau tak banyak bicara. Kau menyesal datang kemari?” tanya Caro kepada suaminya malam itu, saat mereka sedang berbaring berpelukan di kamar tidur yang dulu milik kakek dan nenek Caro.

“Tidak. Aku suka rumahmu, Caro. Aku juga suka tetanggamu. Aku merasa berterima kasih kepada mereka karena mereka memberimu rasa kekeluargaan. Pasti berat bagimu untuk hidup sendiri hanya dengan kakekmu yang sudah tua.”

“Iya. Pertama aku datamg kesini, aku agak takut dan ragu untuk berteman. Kakekku sudah sangat tua dan tidak suka beramah tamah dengan tetangga. Tetapi Stephen dan adiknya, Matt, mengundangku untuk bermain bersama kuda poni mereka. Sejak saat itulah aku seperti anak perempuan bagi keluarga mereka. Mereka sangat baik. Sayang, kuda poni itu sudah ditembak mati karena jatuh terpeleset dalam hutan dan mengalami luka parah. Kami berduka untuknya selama seminggu.”

“Kelak kita akan membangun istal dan membeli beberapa kuda disini,” James berencana. “Sehingga saat kita tua nanti kita bisa melihat anak dan cucu kita bahagia menghabiskan liburan di sini dengan berkuda.”

Caro berputar menghadap suaminya. Pikiran bahwa James merencanakan masa tua bersamanya cukup membuat hantinya terasa bahagia dan matanya berpijar, satu hal yang sangat disukai oleh suaminya.

“Aku tak tahu mana dari kata-kataku yang membuatmu tampak begitu bersemangat, Caro. Tapi aku tak menolak memanfaatkannya,” kata James parau.

Dan sesaat kemudia mereka sudah mendemonstrasikan bagaimana mereka saling mengagumi satu sama lain.

Pagi hari Caro membantu ibu Stephen untuk menyiapkan bunga untuk gereja. James pun ditinggalkan di rumah keluarga Maxwell dan asyik berbincang dengan Stephen di samping rumah. Sebuah bangunan berukuran sedang tampak berdiri di halaman samping rumah. Sepertinya bangunan tersebut masih baru dan belum ditempati. Sambil lalu James mengungkapkan rasa ingin tahunya.

“Buat apakah ruangan itu? Sepertinya dibuat cukup bagus dan permanen.”

Stephen menatap James dan tak menjawab seketika. Tampak keraguan terpancar dari mata birunya.

“Maaf bila aku terdengar kasar. Aku sama sekali tak bermaksud usil. Dan aku tak apa-apa bila kau keberatan menjawabnya.”

Stepehen masih diam. Lalu dengan berat hati akhirnya menjawab, “Ruangan itu untuk tempat praktek Caro.”

“Maaf?”

“Kau tidak salah dengar, James, ruangan itu kubuat untuk Caro bila nanti dia akan membuka praktek di sini.”

“Kapan kau membuatnya?”

“Akhir tahun kemarin. Aku telah merencanakan bila dia pulang natal ruangan itu telah siap dan aku akan melamarnya. Tetapi tentu saja aku salah. Karena musim gugur kemarin dia telah menikahimu dan natal tahun ini dia habiskan bersamamu.”

“Tapi kau telah menolaknya dua kali.”

Stephen memandang James dengan terkejut.

“Caro menceritakannya kepadaku. Kau telah menolaknya.”

“Aku tidak menolaknya. Aku hanya memberinya waktu untuk berfikir kembali apakah kami pasangan yang tepat karena aku merasa dia terlalu bagus untukku. Dan sepertinya aku benar. Dia memilihmu,” Stephen tertawa getir. “Meski dia hanya dua tahun lebih muda dariku, tetapi dia masih begitu muda dan lugu. Aku sendiri tak yakin apakah dia memahami sepenuhnya ketika dia memintaku menikah dengannya tepat setelah dia lulus universitas. Aku merasa tak adil bila tidak memberinya kesempatan untuk menikmati dunia luar, mengenal banyak orang, dan mungkin dia akan jatuh cinta dengan pemuda lain satu atau dua kali. Kalau pada akhirnya dia kembali padaku barulah aku cukup percaya diri untuk menyuntingnya. Pertemuan terakhir kami aku hampir yakin bahwa dia memang akhirnya akan datang untukku. Namun ternyata dia datang denganmu.”

“Apakah kau mencintainya?”

“Sangat. Aku sangat mencintainya.”

“Apakah Caro tahu?”

“Tidak. Dia menganggapku mencintainya sebagai seorang adik.”

“Dia patah hati ketika kau menolaknya.”

“Aku ragu dia memahami apa patah hati yang sebenarnya. Bahkan aku yakin dia sendiri tak memahami perasaannya. Dua kali dia memintaku menikahinya, dua kali aku tidak menuruti keinginannya, dan semua masih baik-baik saja. Dia menangis, tetapi hanya sebentar dan kemudian kembali tertawa sebagaimana Caro yang biasa,” Stephen tersenyum, “ Dia gadis yang luar biasa.”

“Dia memang luar biasa. Pertama kau tak akan menyadari keberadaannya karena dia tidak pernah menonjolkan diri. Tetapi begitu mengenalnya kau takkan pernah bisa melepaskan diri dari pesonanya. Setiap hari dia akan mengejutkanmu dengan hal-hal baru yang tak pernah terpikir akan dimiliki oleh gadis sepertinya. Dan tanpa sadar akhirnya kau harus mengakui bahwa duniamu berputar pada dirinya. Karena dialah Caro, yang tercinta Caro.”

“Rupanya kita berada di jalur yang sama, Professor. Dan asal kau ingat, bahwa sekali saja kau melukai dia maka kau tahu dengan siapa kau berhadapan.”

James yang tak suka daerah teritorinya dilanggar, memendam kemarahan yang berkobar di dadanya. Hanya kendali diri yang kuat yang membuatnya mampu menahan tangannya untuk meninju Stephen. Wajahnya seperti biasa datar tanpa emosi. “Aku tahu apa yang kumiliki dan bagaimana aku mempertahankannya,” hanya itu yang dikatakannya.

Mereka kembali ke London sore hari. Cuaca belum juga membaik. Namun dalam kehangatan mobil James Caro merasa nyaman.

“Kapan terakhir kali kau pulang ke Essex?” tanya James sambil lalu.

“Natal tahun kemarin.”

“Sendiri?”

“Iya. Biasanya aku naik kereta dan Stephen menjemputku di stasiun. Untuk membawa mobil sendiri salju terlalu tebal. Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Hanya aku heran bagaimana perasaanmu terhadap Stephen?”

Caro mengerutkan kening sedikit. Merasa heran. Ditatapnya suaminya, namun wajah tampannya tetap datar seperti biasa. Sedikit harapan bahwa James menyimpan rasa cemburu langsung pudar. Dengan menyeringai Caro menjawab, “Entahlah. Dulu aku pernah jatuh cinta padanya, atau kupikir begitu. Namun sekarang aku menganggapnya sebagai saudara laki-laki yang tidak pernah kumiliki. Dan kupikir Stephen pun menganggapku sebagai adiknya. Karena kalau tidak saat ini pun kami sudah menikah,” Caro tertawa. “Namun melihatnya kembali aku jadi menyadari bahwa hubungan kami tak lebih dari hubungan saudara. Dengan statusku yang sekarang ternyata sangat membantuku untuk melihat sesuatu dengan perspektif yang berbeda.”

“Kau yakin? Pernahkah terpikir olehmu untuk menanyakannya kepada Stephen? Atau pernahkah kau menanyakan alasan dia menolakmu?”

“Tanya alasannya? Kau gila! Ditolak saja sudah cukup memalukan. Aku takkan punya nyali untuk menanyakan kenapa atau mengapa. Untungnya yang menolakku hanya Stephen. Dia menolakku dengan halus, kemudian menghiburku, memberiku semangat untuk melupakan semuanya dan melihat ke depan. Siapa tahu ada seorang lelaki yang jauh lebih baik darinya telah menungguku. Atau menganjurkanku untuk bersenang-senang dulu, toh aku masih muda, masih perlu melihat beberapa hal yang layak dinikmati oleh gadis seusiaku. Itulah Stephen. Namun seperti kau tahu, ternyata dimanapun aku berada, aku tetap gadis desa yang tidak terlalu menyukai pesta-pesta glamour dan pergaulan bebas. Aku menyukai hidupku yang tidak rumit dan sangat menikmati pekerjaanku. Bila pengalamanmu dengan perempuan begitu banyak, maka pengalamanku dengan laki-laki hanya sebatas Stephen, kalau itu bisa dibilang pengalaman,” Caro kembali tertawa. Tak menyadari wajah James yang semakin dingin. “Aku sama sekali tak terkejut bila dalam kesempatan bersosialisasi dengan kolegamu aku mendengar selentingan di sana-sini tentang para wanita yang pernah terlibat denganmu.”

James menoleh ke arah istrinya. DI bibirnya tersungging senyum mengejek dan matanya berkilat tajam. “Caro, sayang, kau tidak berimajinasi bahwa aku mengkhianatimu dengan deretan wanita-wanita itu kan?”

“Aku tak punya dasar alasan, tuduhan, maupun bukti. Aku berfikir logis, James. Dan semua akan kembali ke perjanjian awal kita. Salah satu dari kita ada affair, dan terbukti, maka pernikahan kita bubar,” Caro menjawab santai.

Raut muka James tampak datar dan tak menunjukkan emosi apapun, namun mereka akhirnya meneruskan perjalanan dalam diam. Caro hanya menduga-duga perubahan tingkah laku James namun memilih untuk mendiamkannya saja. Dia memiliki cukup kesabaran dalam menunggu saat yang tepat untuk mengetahui penyebabnya. Malam itu di tempat tidur James memeluknya dalam diam setelah cukup lama hingga akhirnya Caro terlelap dalam buaiannya. Sama sekali dia tidak tahu bahwa sepanjang malam James tak melepaskannya sama sekali, matanya terpincing menatap raut lembut istrinya yang tertidur dengan damai. Barulah menjelang pagi James bisa memejamkan mata.

Hari-hari berjalan seperti biasa dengan tingkat kesibukan masing-masing yang teramat padat. Pesta tahun baru sudah usai menyisakan rentetan panjang kecelakaan yang menjaga para dokter tetap sibuk. Dan Caro yang sudah cukup berpengalaman di unit gawat darurat bekerja dengan sigap dengan para pasien yang datang membanjir ke klinik untuk berbagai macam luka, baik dari luka kecelakaan di jalan raya maupun luka karena aktifitas rumah tangga seperti terkena pecahan botol bir atau tawuran antar tetangga. Namun suatu sore Caro pulang dari klinik dengan dijemput Knotty dan melihat mobil James sudah terparkir di garasi. Hal yang sangat jarang terjadi karena bagaimanapun jam kerja James lebih panjang dan tidak teratur. Saat memasuki kamar tidur mereka dia melihat kopor James sudah terbuka dan lelaki itu sedang memilih baju dari tumpukan di lemari.

“Kau mau bepergian lagi?” tanya Caro sambil duduk di tempat tidur, mengamati aktifitas suaminya.

“Iya,” jawab James singkat.

“Kemana kali ini? Kau membawa barang lumayan banyak.”

“Amerika.”

“Asyik sekali. Utara atau selatan?”

“Utara. Philadelphia, Boston, Baltimore, Washington, tidak berurutan tentu saja, dan juga beberapa kota yang lebih kecil.”

Dan James mengatakannya dengan ringan seolah dia hanya akan pergi sehari ke Birmingham. “Kau akan pergi lama?”

“Sebulan, atau lebih. Aku cukup menantikan perjalanan ini.”

“Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?”

James menoleh, menghentikan sejenak kegiatannya memilih beberapa dasi dari koleksi miliknya. “Tidak perlu kan? Toh kau juga tidak akan ikut.”

“Kenapa tidak?”

“Caro...kita baru saja berlibur. Dan sekarang aku harus mengajar. Betul kan?”

Caro tak menjawab, namun kemarahan yang tersimpan dalam hatinya menyeruak ingin dimuntahkan. Caro berusaha mendinginkan emosinya, menata kembali tumpukan pakaian James yang terserak di atas tempat tidur, menyusunnya dengan rapi sesuai kategori, dan mengembalikan sisa yang tak jadi dibawa. “Jam berapa pesawatmu berangkat?”

“Malam ini pukul sembilan.”

“Aku akan memberitahu Hannah bahwa kita akan makan malam kebih cepat bila kau tak keberatan. Bagaimanapun makan malam di rumah pasti lebih nyaman dari pada di bandara. Atau kau lebih memilih makan dalam perjalanan nanti?”

James memandang wajah istrinya seperti hendak mengatakan sesuatu. Namun akhirnya dia menjawab ringan, “Aku makan di perjalanan saja.”

“Baiklah,” Caro menjawab sambil beranjak keluar. Dia tak ingin kekecewaannya diketahui oleh James.

Tidak sampai lima belas menit kemudian James telah tiba di ruang duduk tempat Caro berada sambil membaca koran. Setelah mengucapkan selamat tinggal dan memanggil Knotty yang akan mengantarnya ke bandara, dia pergi. Begitu saja tanpa ciuman. Caro menatap kepergiannya dengan wajah membeku. Namun hanya sesaat, karena dia segera beranjak ke dapur, memberi tahu Hannah untuk membatalkan apapun yang sedang dimasaknya. Karena makan sendiri dia hanya menginginkan sandwich.

Hari terasa panjang. Namun dengan tegar Caro melaluinya. Dia tak tahu apa permasalahan mereka dan kenapa James begitu dingin. Atau barangkali pernikahan mereka akan segera berakhir? Adakah yang salah? Namun Caro, sebagai gadis yang logis, menganggap bahwa bila pernikahan mereka hanya akan bertahan beberapa bulan pasti dia akan sanggup menghadapi apapun yang terjadi. Termasuk rasa sakit hati karena cinta yang tidak terbalas. Aku sudah terbiasa sendiri, maka menjadi sendiri lagi pasti tidak akan terlalu berat lagi, pikirnya berusaha tabah.

Caro menjalani hari senormal yang bisa dilakukannya. Setiap pagi karena malam dia sulit untuk tidur, dia bangun sangat awal dan membawa Jason jalan-jalan, sebelum akhirnya bersiap kerja dan sarapan. Dan sekarang segala urusan belanja rumah tangga selalu dilakukan oleh Caro, membebaskan Hannah dari membuat laporan keuangan, dan juga Caro terlibat semakin dalam dalam segala urusan domestik. Semua dilakukannya semata-mata untuk mengalihkan rasa sepinya karena James pergi cukup lama. Bahkan Caro mulai mendatangi lagi toko tempat dia berbelanja di dekat apartemen lamanya, dan sering kali menghabiskan waktu berbincang dengan John dan ibunya. Tak jarang mereka menwarkan Caro makan malam di lantai dua toko mereka, yang diterima Caro dengan suka cita karena bagaimanapun tanpa James dia kurang bersemangat untuk makan malam di rumah. Sebagai obat untuk mengatasi kekecewaan Hannah karena majikannya jarang makan di rumah, Caro meminta Hannah menyiapkan makan siang untuk dikirim ke klinik, dan makan bersama Dr. Bright, Adam, dan Sandra.

Setelah satu minggu tak pernah ada kabar, di pagi hari akhirnya James menelepon. Saat itu Caro ditemani Jason sedang membaca surat-surat sambil menikmati kopi pagi ketika telepon berdering. Caro segera bangkit dan melangkah menyeberangi ruangan, berteriak kepada Hannah agar tidak repot-repot mengangkat telepon. Caro berfikir mungkin itu Dr. Bright karena kalau koleganya yang lain lebih memilih meneleponnya di ponsel.

Caro mengangkat gagang telepon dan suara James, sangat jernih dan dekat di telinganya, “Hallo, Caro.”

Caro terdiam beberapa lama.

“Caro?”

Caro menghela nafas panjang. “Hallo James. Aku...aku sedikit terkejut. Aku tidak mengharapkan...apakah semuanya baik-baik saja?”

“Ya, membosankan seperti biasa. Apa yang sedang kau lakukan?”

“Sarapan. Aku baru saja membawa jason jalan-jalan,” Caro menghentikan kata-katanya, merasa sangat bodoh karena suaranya bergetar dan tanpa dia sadari tiba-tiba saja air mata meleleh di pipinya tanpa bisa ditahan lagi. “James...”

“Caro, kenapa kau menangis?”

Caro menghela nafas berat seperti anak kecil, “James, aku merindukanmu dan kau begitu jauh.”

Meski Caro mengatakannya namun sisi lain dati otaknya mengingatkan bahwa dia akan sangat menyesali ucapannya. Dia mendengar James menyeriangai penuh kelegaan, ataukah kebahagiaan? “Seperti harapanku, Caro. Tahukah kau kenapa aku pergi? Kenapa aku meninggalkanmu? Aku akan mengatakannya saat aku pulang nanti.”

“Tak bisakah kau mengatakannya sekarang, James?”

“Tidak. Aku ingin menatapmu saat mengatakannya nanti. Aku harus pergi sekarang, sayang. Selamat tinggal.”

James menelepon Caro setiap hari. Mereka berbicara cukup lama sampai Caro teringat, “James, kau tahu aku senang sekali berbicara denganmu. Tetapi kau sangat sibuk kan? Dan lagipula telepon ini pasti akan memakan biaya sangat mahal. Aku baik-baik saja sekarang meski kesepian.”

James tertawa di seberang sana. “Aku juga kesepian di sini. Lagipula kau tak tahu cara yang lebih baik lagi untuk menghabiskan uangku. Bagaimana klinik?”

Setelah itu Caro memiliki kebiasaan untuk membicarakan semuanya kepada James. Lelaki itu menelepon setiap hari, bahkan kadang lebih dari sekali. Dengan sabar dia akan mendengarkan cerita Caro tentang pasien-pasiennya yang aneh, makanan yang dimasak Hannah yang dibawanya ke klinik, perjuangannya mencari ikan segar hingga ke pelabuhan, hingga waktu yang dihabiskannya di pasar ingga tradisional di Nottinghill yang ternyata lebih mengasyikkan daripada berbelanja di swalayan. Apa saja, namun James sangat sedikit menceritakan dirinya. Memang satu dua kali dia masih bercerita tentang seminar yang sangat membosankan, kasus-kasus menarik yang dihadapinya, tournya yang melelahkan yang membuat Caro cepat-cepat memotong, “James, hati-hati, jaga kesehatanmu!” yang segera dibalas tawa lelaki itu. “Kenapa, Caro? Kau khawatir aku menghadiri terlalu banyak pesta dan bertemu gadis-gadis cantik?”

“Semuanya,” jawab Caro tanpa pikir dan buru-buru menambahkan, “ Apakah banyak gadis cantik di sana?”

“Bisa dikatakan... aku tak banyak memperhatikan. Apakah kau pikir aku akan tertarik?”

Caro berbicara dengan hati-hati. “Jika aku menjadi dirimu, aku akan sangat tertarik karena selain mataku tidak cacat juga karena kau lelaki yang cukup pantas mendapat perhatian lebih dari para wanita.”

James meledak dalam tawa, “Caro, sayangku Caro, sepertinya aku harus cepat-cepat pulang untuk membereskan kekacauan dalam otakmu itu.”

Telepon-telepon dari James menjadi saat yang sangat ditunggu oleh Caro. Tak jarang dia cepat-cepat pulang khawatir James menghubunginya saat dia tidak ada di rumah. Beberapa hari sebelum sebulan sejak kepergiannya James menelepon kembali, “Aku akan pulang dan besok sore saat minum teh aku akan sudah sampai di rumah. Kau tidak bekerja sampai malam di klinik kan?”

Hari terasa pendek keesokan harinya. Kepada Dr. Bright Caro meminta ijin untuk pulang lebih cepat. Dia juga sudah merencanakan menu makan malam yang istimewa dengan Hannah untuk menyambut kedatangan James. Setelah itu dia mengganti pakaiannya dengan yang baru dibelinya, berwarna hijau zamrud yang kontras indah dengan rambutnya yang berwarna merah dan mempertajam warna matanya. Dia ingin tampak cantik di depan James meski dia ragu apakah lelaki itu akan menyadarinya. Dan untuk meredam kegugupannya, Caro menuju ruang tengah dan menenangkan diri dengan memainkan piano. Namun saat tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti dan Jason terbangun dari kantuknya serta melesat ke pintu depan, Caro pun buru-buru beranjak meninggalkan tempatnya. Jantungnya yang berdebar sejak tadi kini semakin menggila mana kala pintu depan terbuka dan James berdiri gagah di sana. Setelah mengelus kepala Jason, lelaki itu tersenyum ke arahnya. “Hallo, Caro.”

Wajah Caro berpendar penuh kebahagiaan. Dan saaat itu dia sama sekali tak peduli bahwa seluruh perasaanya akan terlihat. Dia melangkah mendekat ketika James menambahkan, “Aku membawa seseorang bersamaku. Kau pasti tak menduganya kan?”

Caro menghentikan langkahnya. Tiba-tiba menyadari sesuatu dan kebahagiaan dalam wajahnya segera berubah menjadi penerimaan yang sopan seorang tuan rumah manakala seorang gadis dengan penampilan sangat trendy dan menyilaukan mata muncul dari belakang James dan tersenyum lebar penuh kemenangan. Maureen Soames.