Showing posts with label fanfiction. Show all posts
Showing posts with label fanfiction. Show all posts

Saturday, February 4, 2012

Fifteenth : For Better For Worse

Sepeninggal Maya, Masumi segera membuka semua dokumen pekerjaannya. Mereka memang baru berbulan madu selama empat hari, namun Masumi merasa pekerjaan begitu jauh dari dirinya saat ini. Setengah mati dia membangun mood untuk meraih kembali ketajaman otaknya yang telah beristirahat selama berhari-hari itu. Bagi orang sepertinya, liburan memang kata terakhir yang terpikirkan dan dapat dilaksanakan. Selalu ada sesuatu yang harus dikerjakan, selalu ada pekerjaan yang dapat mengalihkan perhatian dari kebutuhan akan liburan. Sebelum menikah dengan Maya Masumi hampir tak membutuhkan liburan, malah dia sangat membutuhkan pekerjaan sebagai satu-satunya curahan energi kreatifnya. Tak cukup membesarkan divisi seni di Daito, membereskan keruwetan di Takatsu, hingga mengambil alih pucuk pimpinan Daito, Masumi masih memiliki waktu untuk mengembangkan bisnisnya sendiri. Alasan utama Masumi melakukan hal terakhir tersebut karena dia selalu butuh sesuatu untuk dikerjakan dan tantangan untuk ditaklukan.

Sebenarnya hobi itu mulai dilakukannya saat dia mendapat hadiah dari Eisuke berupa persentasi saham di Daito. Selama hidupnya bersama Eisuke Masumi memang tidak pernah mendapatkan sesuatu dengan gratis. Dia bekerja keras, bahkan sejak kanak-kanak. Eisuke yang keras memperlakukan Masumi tak lebih seperti bawahan meski dia menyandang nama Hayami. Masumi digaji sesuai dengan hasil usahanya, plus bonus dalam setiap keberhasilannya. Hingga saat ini Masumi hanya berasumsi bahwa kekejaman Eisuke lah yang membuat lelaki tua itu memperlakukannya dengan begitu dingin. Namun bukan Masumi namanya bila tidak bisa mengambil keuntungan dalam setiap perlakuan yang diterimanya. Eisuke telah menarik batas jelas antara dia dan Masumi, menempatkan Masumi sebagai salah satu karyawan, dan memberi reward maupun punishment sesuai dengan hasil kerjanya. Maka Masumi tak memiliki beban moral untuk berhutang budi kepada Eisuke. Fasilitas, gajii, bonus, hadiah, dan persentasi saham yang diberikan kepadanya meskipun sangat besar dianggap Masumi sebagai angka yang cukup fair karena memang Masumi layak mendapatkannya. Dan seiring tahun demi tahun masa kerjanya jumlah kekayaan Masumi telah terakumulasi cukup banyak, lebih dari consumable pribadinya.

Sebetulya Masumi memang tidak pernah berambisi memiliki dan membesarkan perusahannya sendiri. Dia hidup dengan plot yang dirancang oleh Eisuke. Namun sisi lain dirinya yang selalu ingin menaklukkan suatu tantangan membuatnya mencoba untuk bermain-main dengan kapital pribadinya. Semula tidak dalam jumlah besar. Karena hanya bersifat iseng penyalur kelebihan waktu dan energinya. Dan dalam hal ini, melawan segala ilmu yang didapatnya dari Eisuke, yang selalu berekspansi untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan besar yang menguntungkan demi membesarkan kerajaan bisnis Daito, dengan menghalalkan segala cara, lima tahun lalu Masumi malah memulainya dengan membeli saham perusahaan-perusahaan kota kecil di Jepang yang sudah hampir bangkrut. Saham-saham itu berharga sangat murah. Namun Masumi cukup percaya diri dengan kemampuan bisnisnya dan bertaruh dengan diri sendiri bahwa dia bisa membuat sesuatu yang hampir mati menjadi sehat dan berproduksi lagi. Bahkan kalau bisa mendatangkan keuntungan berlipat.

Tentu saja Masumi bekerja di bawah bendera perusahaan yang memasang orang lain sebagai pimpinannya, namun tetap dilindungi perjanjian hukum berlapis yang sulit ditembus dan dipatahkan yang tidak memungkinkan bagi orang tersebut untuk berbuat macam-macam. Namun kecerdasan Masumi dalam menyusun strategi pemasaran, riset yang teramat mendetail, juga kepekaan bisnisnya yang menajam seiring dengan perjalanan karirnya di Daito, berhasil membawa perusahaan kecil yang mengelola penginapan dan wisata alam yang dimiliki oleh sebuah keluarga di kota kecil di pelosok selatan Jepang itu kembali berputar dan menghasilkan keuntungan yang hanya dalam waktu setahun setelah mengembalikan semua modal hanya dalam hitungan enam bulan.

Sukses di perusahaan pertama membuat Masumi mengambil langkah serupa untuk beberapa perusahaan sejenis yang tersebar hampir di semua perfektur. Hanya dalam waktu tiga tahun Masumi telah memiliki kerajaan kecil bisnisnya sendiri yang akhirnya memaksanya memakai jasa orang lain untuk mengurus bisnisnya. Bila Masumi melindungi keberadaannya dari ekspose umum bukannya tanpa alasan. Posisinya di Daito tak memungkinkan baginya untuk terlibat secara langsung dalam sebuah proyek pribadi. Selain itu Masumi menganggap itu hanyalah sekedar hobi di waktu luangnya yang sedikit. Tentu saja bisnis miliknya tidak akan ada apa-apany dibanding Daito. Namun bisnis kecil itu cukup tangguh dan menguntungkan. Bahkan beberapa dari perusahaan kecil itu secara terpisah telah masuk bursa nasional dengan harga saham yang cukup bersaing. Masumi sengaja memisahkan management antar perusahaan itu untuk menghindari efek domino bila salah satu perusahaan hancur, entah karena miss management maupun ekspansi dari luar.

Namun beberapa bulan lalu sebelum menikah, Maya mengungkapkan keinginannya untuk membangun sebuah hidup bersama Masumi, ingin mementaskan Bidadari Merah bersama Masumi, ingin menjalin cerita mereka berdua sendiri, barulah Masumi berfikir untuk mencurahkan waktunya lebih banyak untuk kerajaan kecilnya itu. Sebelumnya jaringan bisnisnya itu hanya dilindungi sistem standar yang tidak terlalu rumit, tidak seperti Daito yang mengaplikasikan multilayer security demi melindungi bisnisnya dari ekspansi musuh. Namun dengan rencana pernikahannya dengan Maya dan mengantisipasi segala hal buruk yang mungkin terjadi bila dia nanti harus berperang melawan Daito, paling tidak Masumi ingin mendapatkan perlindungan finansial bagi dirinya dan Maya. Maka satu-satunya jalan adalah perusahaan itu harus aman, bahkan dari ekspansi Daito yang kemungkinan besar akan mengejar, melibas, dan menghancurkan mereka berdua. Maka Masumi melalui Hijiri berusaha menemukan bekas rekan bisnis di masa lalu dan bertolak ke Singapura, beberapa saat sebelum hari pernikahannya.

Kengo Sawajiri sekitar lima tahun lebih tua dari Masumi. Mereka dulu satu universitas. Meski Masumi lebih muda namun Kengo Sawajiri mengetahui betapa cerdas otak Masumi dan kemampuan bisnisnya yang luar biasa sehingga menganggapnya rekan sederajat. Bahkan setelah mereka sama-sama terjun langsung di dunia bisnis. Kepiawaian mereka sederajat. Namun berbeda dengan Masumi yang berkonsentrasi membesarkan Daito dengan mengambil base di Jepang, Kengo memilih Hongkong sebagai pusat kegiatannya dan telah menguasai ekspor impor di wilayah Asia. Masumi menghubungi Kengo karena mereka berdua sama-sama tertarik dengan sistem keamanan perusahaan. Dulu saat merancang sistem keamanan Daito sesuai permintaan Eisuke, Masumi memang telah bekerja sama dengan Kengo. Dan sekarang untuk alasan yang sama dia menemui lelaki itu. Mengunjungi apartemen pribadinya di Singapura yang dia tinggali bersama salah satu kekasih gelapnya, wanita berkulit gelap asal Thailand, Kengo dan Masumi menghabiskan waktu selama dua hari untuk merencanakan kerja sama bisnis dan rancangan sistem keamanan mereka. Kengo memuji cara kerja otak Masumi untuk memanfaatkan pihak ketiga dalam kerjasama mereka sehingga keberadaan mereka berdua tetap terselubung. Bahkan Hijiri yang merancang pertemuan ini tidak tahu menahu strategi tersebut, pikir Masumi.

Masumi memiliki naluri yang bagus, dia menyadari keberadaan Hijiri, maupun Mizuki, di sisinya, menjadi tangan kanannya, tak lepas dari keinginan Eisuke untuk mendapat informasi pertama terhadap setiap sepak terjangnya. Meski Masumi tak meragukan loyalitas Hijiri dan Mizuki, namun Masumi tak ingin menempatkan mereka dalam posisi sulit saat dirinya harus berhadapan dengan Eisuke dan Daito. Untuk itulah Masumi memilih bekerja sendiri.

Setelah satu jam bekerja di depan laptopnya, barulah Masumi teringat mengecek ponselnya yang menghubungkannya dengan Daito. Pesan dan panggilan tak terjawab dari Mizuki dan Hijiri menumpuk sejak sehari sebelum hari pernikahannya. Namun anehnya semua itu terhenti dua hari lalu. Tak ada panggilan bahkan pesan singkat sekalipun dari kedua orang dekatnya di Daito itu. Bahkan email berisi pekerjaan pun tak lagi mengisi mailboxnya. Masumi berfikir sejenak, lalu merasa was-was, dan meningkat menjadi kekhawatiran. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Ini hanya pertanda satu hal. Masalah. Eisuke telah mulai beraksi dengan mengerahkan dua orang terbaiknya itu.

Conflict Management. Eisuke cukup kejam untuk menerapkan manajemen konflik ini terhadap orang dekatnya yang semula bersekutu, memposisikan mereka dalam situasi berlawanan, memaksa mereka bertahan dan menyerang orang yang dulu adalah kawan demi mendapat yang terbaik. Strategi menyerang titik terlemah lawan yang dalam hal ini hanya ada satu nama. Maya.

Secepat kilat Masumi meraih nomor pribadinya yang dia bagi hanya bersama Maya dan menghubungi istrinya.

***

Maya meninggalkan apartemen dengan menggunakan taksi yang telah dipesan Masumi melalui security di pintu depan. Taksi itu kemudian meluncur menuju apartemen lamanya yang sekarang ditinggali Rei bersama Sayaka. Teman-teman yang lain masih di apartemen lama, kecuali Mina yang sekarang telah pindah bersama calon suaminya. Meskipun Maya telah beberapa hari berada di ruang tertutup dan hanya bersama Masumi, namun secara mengherankan ternyata Maya sama sekali tak merindukan dunia luar. Dunianya sekarang telah terpusat pada Masumi. Dimana Masumi berada maka disitulah dia merasa bahagia. Baru lima menit dia dalam taksi dia sudah merindukan Masumi. Pasti semua akan sempurna bila dia bersama Masumi, menikmati cerahnya musim semi. Sebetulnya Maya tak ingin pergi kemana-mana. Namun dia tahu meski tak mengatakannya Masumi tak ingin diganggu. Dia cukup peka untuk membiarkan suaminya itu tenggelam dalam pekerjaan yang dicintainya itu. Dan meski sambil memaksakan diri Maya berangkat menemui Rei.
Di gang yang menuju ke apartemen yang ditinggali bersama Rei, Maya bertemu teman-teman dari Teater Ikkakuju. Dengan gembira Maya turun dan bergabung bersama mereka, meneruskan sisa dua ratus meter itu dengan berjalan kaki. Rasanya aneh. Padahal belum seminggu dia tidak bertemu mereka, namun semua terasa lain. Maya merasa menjadi pribadi yang baru.

Sesuatu yang juga dirasakan Rei begitu mereka bertemu.

“Aku tidak mau membuatmu besar kepala, Maya, tetapi kupikir pernikahan baik untukmu. Kau nampak cantik sekali,” komentar Rei.

“Ah...Rei, aku bahagia sekali. Kuharap kau segera menemukan pangeranmu dan segera menikah seperti aku,” jawab Maya yang langsung disambut oleh koor teriakan semua yang hadir.

Maka suasana pun kembali ramai seperti biasa saat mereka berkumpul. Mereka asyik membicarakan berbagai hal tentang teater dan pertunjukan. Dalam keceriaan itu terbersit dalam pikiran Maya untuk membaginya bersama Masumi. Maya tidak yakin Masumi punya cukup teman untuk diajak bercanda. Hidup suaminya itu hanya di sekitar kerja dan kerja. Kelak, tekad Maya, saat mereka sudah cukup lama bersama, saat mereka lebih mengenal satu sama lain dengan lebih baik, saat Masumi sudah bisa membuka dirinya yang selama ini tertutup, Maya ingin membagi hidup yang penuh tawa ceria, baik dalam suka dan duka, bersama Masumi. Maya ingin melihat Masumi tertawa lepas seperti laki-laki lain. Mungkin mereka akan makan ramai-ramai bersama teman-temannya. Mungkin juga mereka, bila sudah punya anak, akan membawa anak-anak mereka bermain di taman. Maya membayangkan semuanya dengan mata melamun.

Tepat saat itu suara ponselnya berbunyi. Masumi.

"Maya, kau dimana?" Masumi bertanya tanpa repot-repot mengucapkan salam.

“Aku bersama teman-teman di apartemen. Kenapa?”

"Apa kau tidak merasa diikuti? Atau dibuntuti seseorang?"

Maya mengerutkan alis mendengar suara Masumi yang khawatir. “Emm...aku tidak tahu. Tadi aku ketemu teman-teman di depan gang, jadinya aku turun dari taksi dan berjalan kaki bersama mereka. Kenapa, Masumi?”

"Maya, kamu harus selalu bergerombol bersama teman-temanmu. Tolong minta mereka memperhatikan sekeliling. Kau aktris hebat, beraktinglah seolah-olah kau tinggal di apartemen itu bersama Rei, oke? Dan bila siapapun, siapapun itu, menanyakan apakah kau bertemu aku, tolong bilang kau tidak mengetahui keberadaanku."

“Masumi...”

"Tolong dengarkan aku, Maya. Tolong jangan katakan tentang situasi kita ini kepada siapapun. Bahkan Mizuki dan Hijiri. Kau mengerti?"

“Tapi, Masumi...”

"Demi kebaikanmu, sekali ini tolong ikuti permintaanku tanpa bertanya."

Maya menyadari betapa debar jantungnya berpacu cepat di atas normal. Tanpa dia sadari wajahnya memucat. Bila Masumi sudah begitu khawatir, berarti keadaan memang benar-benar gawat. “Baiklah, Masumi.”

Terdengar desah nafas lega di seberang sana.
"Maya, maaf. Itu kulakukan hanya demi kamu. Karena aku terlalu mencintaimu dan tak ingin kehilangan kamu."

“Aku mengerti. Aku pun mencintaimu.”

"Baiklah, sayang. Jangan pulang sebelum aku meneleponmu. Aku akan mengatur cara bagaimana aku bisa menemuimu disana. Tetap minta Rei mendampingimu. Aku merindukanmu. Jaga dirimu baik-baik ya? Demi untukku."

“Baiklah.”

Saat menutup ponselnya Maya baru menyadari bahwa semua temannya sedang memperhatikannya. Melihat ketegangan di wajah Maya mereka menatapnya dengan khawatir.

“Maya, apa yang terjadi?” tanya Rei tanpa basa basi.

Dengan singkat Maya menjelaskan apa yang dikatakan Masumi di telepon.

“Bila Pak Masumi sudah khawatir, itu tandanya situasi mulai serius. Beliau orang yang tidak gegabah dalam bertindak. Demi kebaikan kalian berdua, lebih baik kau tidak usah macam-macam, Maya,” kata Rei tegas.

Tepat setelah Rei mengakhiri kata-katanya, terdengar bunyi langkah kaki berhenti di depan pintu. Refleks semua menoleh ke pintu.

“Hei, siapa yang mau tambah bir lagi? Ini, masih banyak. Kau beli banyak kan kemaren, Rei? Jangan bilang kau habiskan sendiri!” kata Maya tiba-tiba. Suaranya sangat riang seperti biasa, meski wajahnya masih tegang. Namun dalam sesaat Maya seperti memakai topeng dan menjelma menjadi Maya yang ceroboh dan ceria.

Semua terkejut melihat tingkahnya. Namun hanya beberapa detik karena mereka langsung mengerti jalan pikiran Maya. Dalam sekejap suara mereka kembali riuh dan suasana dalam rumah itu, bagi siapapun yang mendengarkan dari luar, tampak normal seperti layaknya perkumpulan anak muda yang aktif dan berisik.

Suara ketukan di pintu memang terdengar jelas oleh mereka. Namun mereka tak mempedulikan, berlagak seolah mereka memang sedang asyik bercengkrama dan tidak mengharapkan adanya tamu. Baru pada ketukan yang ketiga, Rei berteriak. “Maya! Buka pintunya! Siapa tahu itu tetangga yang sedang mengirim makanan.”

“Baik, Rei!” seru Maya yang segera meloncat bangkit dan berlari dengan ribut menuju pintu depan dan membukanya.

Mizuki telah berdiri di depan pintu. “Selamat siang, Nona Kitajima.”

Maya tersenyum lebar, menyambut Mizuki dengan ramah. “Wah... Nona Mizuki! Sungguh tak disangka. Silakan masuk, Nona. Kebetulan kami semua sedang berkumpul. Ada banyak makanan di dalam.”

Mizuki dengan pembawaanya yang tegas dan dingin tanpa basa-basi masuk ke dalam apartemen. Maya melirik sekilas tanpa kentara dan mendapati Mizuki meski dengan diam tampak mengamati seluruh isi apartemen.

“Saya baru tahu kalau Nona Kitajima pindah kemari,” katanya setelah duduk.

“Ah, ini saya tinggali bersama Rei dan Sayaka. Kebetulan kami menemukan lokasi yang bagus dan tenang saat sewa apartemen lama kami hampir habis. Lagipula Mina, salah satu teman kami juga sudah pindah, tinggal bersama calon suaminya. Omong-omong, ada perlu apa Nona Mizuki datang kesini? Tentunya Nona cukup bersusah payah menemukan alamat ini.”

“Pak Masumi mengirim saya kemari.”

Maya berusaha tidak tampak terkejut atas dusta itu.

“Oh ya? Ada perlu apa?”

“Beliau hanya ingin memastikan bahwa Anda baik-baik saja karena sudah lama Anda tidak muncul di Studio Daito.”

“Oh, itu karena kami semua pergi ke Lembah Plum baru-baru ini. Pak Genzo mengundang kami. Bersama Pak Kuronuma dan istrinya juga,” kata Maya. Kalau Nona Mizuki hendak menkonfirmasi akan sangat mudah karena pada kenyataannya mereka semua memang pergi ke pernikahan Maya dan Masumi di Lembah Plum.

“Apakah Sakurakoji juga pergi kesana?”

“Tidak, Nona Mizuki. Seperti Anda tahu, Sakurakoji dan saya, kami sama-sama sedang sibuk sendiri-sendiri dan saling tidak berhubungan. Hanya sekali dia menemui saya dan Rei sejak saya pulang dari London.”

Selanjutnya mereka berbasa-basi sejenak sebelum akhirnya Mizuki pamit.

Sepeninggal Mizuki, mereka bersandiwara seoalh tidak ada apa-apa. Setelah lewat satu jam, barulah mereka dengan pelan dan tersamar membicarakan kunjungan tak terduga itu. Setelah itu mereka memutuskan untuk meneruskan sandiwara dengan beraktifitas sebiasa mungkin karena bukan tidak mungkin kalau area tempat tinggal mereka telah dimata-matai. Kepada Masumi Maya mengirimkan pesan bahwa dia akan pergi berbelanja bersama Rei dan Sayaka, agar mereka terlihat normal sebagaimana layaknya kegiatan harian mereka. Tak lupa Maya meminta Masumi tak usah mengkhawatirkannya dan berkonsentrasi terhadap apapun yang sedang dilakukannya.

Mana mungkin aku tidak mengkhawatirkanmu, Maya, batin Masumi masam. Semua kulakukan hanya untukmu. Aku menempuh resiko sedemikian besar hanya untuk berada tetap di sampingmu.

Sore itu pula Masumi melakukan telepon darurat antar negara. Panggilannya dijawab pada dering pertama.

“Sawajiri.”

“Rupanya teleponku sudah kau nantikan, Sawajiri,” kata Masumi.

Terdengar tawa di seberang sana. “Tentunya aku sudah cukup mengenalmu untuk dapat mengantisipasi setiap gerakanmu. Kuduga kecepatan refleksmu yang luar biasa itu yang membimbingmu untuk menghubungiku.”

“Aku hanya sedang tidak merasa nyaman dengan kondisi yang sepertinya akan kuhadapi.”
Sawajiri tertawa terbahak-bahak oleh pilihan kata Masumi ini. “Itulah resikonya bila kau berniat menabuh genderang perang dengan raksasa yang kebetulan adalah guru pembimbingmu sendiri. Tapi bukankah justru itu menjadi tantangan yang sangat menarik bukan? Kuakui ketajaman nalurimu sungguh membuat iri. Bila kau menanyakan apakah orang yang dulu menjadi penghubung antara kita itu telah mengontakku, maka kau benar. Seperti yang kau perkirakan sebelumnya, orangmu itu, atau apalah namanya, baru saja menghubungiku mengatas-namakan dirimu.”

“Kapan Hijiri menghubungimu?”

“Pagi tadi. Makanya seperti aku katakan bahwa nalurimu kuat dan responmu sangat cepat. Aku, bila saja kau tidak memberiku peringatan dan memperkirakan apa yang terjadi, pasti sudah mempercayainya dan menyerahkan dirimu bulat-bulat kepadanya.”

“Dan apakah itu kau lakukan?”

“Tentu aku tidak sebodoh itu. Tawaranmu lebih menguntungkan daripada apa yang bisa ditawarkan oleh Hijiri. Bisnis tetaplah bisnis, Hayami, meski kau adalah temanku.”

Setelah bercakap-cakap sejenak akhirnya keduanya menyepakati tentang ditunjuknya seorang perantara yang kredibilitasnya telah sama-sama mereka uji. Tachibana Rui, muda, cemerlang, berani, dan ambisius, yang selama ini secara luar biasa telah memegang kendali kerajaan bisnis Masumi. Jauh lebih muda dari Hijiri, namun memiliki basic pendidikan bisnis yang bagus serta ketajaman naluri bak berlian yang hanya perlu sedikit polesan. Meski baru setengah jadi namun dengan keberadaan Masumi sebagai pemberi perintah dan arahan selama ini, sosok Tachibana sangat menjanjikan. Tachibana dijadwalkan akan bertemu Masumi keesokan harinya. Pemilihan waktu yang tepat karena sisa hari ini akan dipergunakan Masumi untuk menyelesaikan situasi yang melibatkan Maya dan teman-temannya. Saat ini Maya masih aman berada di tengah teman-temannya. Tetapi tidak untuk jangka waktu lama. Perlu tindakan teliti dan hati-hati untuk menyikapi situasi ini. Karena dampaknya akan sangat besar di hari-hari mendatang.

Menjelang senja Masumi secara tersembunyi menyelinap meninggalkan apartemen mewahnya menuju apartemen lama Maya. Mempergunakan kunci yang telah diberi pleh Maya dulu Masumi menunggu kedatangan istrinya di ruangan sederhana yang penuh kenangan itu. Dia telah membawa serta beberapa barang yang akan mereka butuhkan untuk tinggal selama beberapa hari. Sepanjang perjalanan Masumi sangat berhati-hati untuk memastikan bahwa dia tidak sedang diawasi maupun diikuti. Masumi hanya perlu menunggu sekitar setengah jam dalam kegelapan sebelum sebuah mobil box barang berhenti di depan gedung apartemen Maya. Menyelinap di antara para pekerja yang rupanya dari jasa angkutan yang sedang membantu salah seorang penghuni yang sedang pindah, Masumi yang mengenakan celana jeans, jacket, topi, dan kaca mata hitam, berhasil masuk dengan mulus ke dalam gedung.

Menjelang waktu makan malam Maya pulang bersama Rei. Tak sampai sepuluh menit Rei keluar lagi dari pintu apartemen. “Jaga rumah baik-baik ya, Maya. Hati-hati kalau di rumah sendiri dan jangan sembarangan membuka pintu untuk orang asing. Aku tidak pulang malam ini. Aku dan Sayaka harus membantu Mina berbenah.” Rei memperingatkan Maya dengan suara yang dikeraskan untuk mengelabui siapapun di luar sana yang sedang mengamati apartemen. Mereka memberi kesan seolah Maya akan tinggal sendiri di rumah.

Sepeninggal Rei, Masumi segera mengunci pintu depan dan meraih Maya dalam pelukannya. “Maya...” desahnya sambil memeluk erat istrinya, memastikan bahwa Maya baik-baik saja tak kurang suatu apa.

Maya yang memahami kekhawatiran suaminya, meski dia sendiri merasa takut dan kalut, berusaha tidak menampakkannya. Sebaliknya dia dengan tersenyum lembut menangkup wajah Masumi dengan kedua telapak tangannya. “Masumi sayang, aku baik-baik saja. Kau lihat sendiri kan?” katanya pelan.

Malam itu mereka berpelukan di atas futon di kamar lama Maya yang sangat sederhana. Sangat berbeda dengan kamar mereka di apartemen. Namun mereka sangat bahagia bisa berdekatan seperti itu. Bisa saling menguatkan dan menjaga.

“Sepertinya tak ada jalan lain, untuk beberapa hari mendatang, sampai segalanya siap bagiku untuk mengumumkan tentang pernikahan kita, sekaligus melepas semua atributku yang berhubungan dengan Daito, kita harus tinggal di sini. Karena bagaimanapun tempat ini paling aman untukmu. Selalu ada teman-temanmu yang akan menjaga dan menemanimu bila aku sewaktu-waktu harus pergi,” kata Masumi.

“Aku akan sama bahagianya di sini atau di manapun selama itu membuatmu berhenti mengkhawatirkanku.,” sahut Maya seraya merebahkan kepalanya di lekuk bahu Masumi. “Aku hanya tidak menyangka Nona Mizuki, bahkan Tuan Hijiri yang selama ini begitu loyal kepadamu, yang selama ini juga begitu banyak membantu kita, malah berbalik memusuhi kita.”

“Mereka hanya menjalankan tugas,” kata Masumi datar. “Dari semua orang, aku yang tahu persis loyalitas dan dedikasi mereka terhadap pekerjaan. Dan aku orang pertama yang tidak mau menempatkan mereka dalam posisi sulit. Bila saja aku mau, aku bisa saja berbuat curang pada Eisuke dengan membajak mereka berdua, yang kuyakin akan mereka lakukan. Tetapi itu tindakan pengecut. Aku ingin menghadapi pertarungan ini dengan keberanian seorang satria. Aku ingin memenangkannya secara jantan demi menghargai diriku sendiri yang terlalu lama dan terlalu sering bertindak curang. Untuk itu aku memintamu untuk bersabar, Maya, beri aku beberapa hari lagi. Aku harus menjalankan semua rencanaku dulu.”

“Ambillah waktu selama yang kau perlukan, Masumi. Aku tidak apa-apa.”

“Setelah semua jelas, mungkin kita akan hidup menderita.”

“Aku sudah sering menderita sendirian. Bila nanti aku harus menderita bersamamu, pasti rasanya akan lebih ringan bukan?”

Masumi menatap mata bening istrinya, melihat ketulusan yang terpancar di binar kedua bola mata itu. Ya Tuhan, kau memberiku seorang dewi, dan terkutuklah aku bila membuatnya menderita demi aku, batinnya. Masumi pun menghujani wajah Maya dengan kecupan lembut. Maya menengadah, melingkarkan kedua lengannya di leher Masumi. Sesaat kemudian mereka menikmati momen yang hanya bisa dibagi oleh mereka berdua. Momen khusus yang menyatukan keduanya dalam ikatan magis persatuan dua jiwa yang telah saling menemukan dan melengkapi.

Dua hari kemudian, setelah malam sebelumnya Masumi kembali ke kediaman resmi Hayami, bersikap seolah tidak ada sesuatu pun yang terjadi, seolah dia baru pulang dari perjalanan bisnis seperti biasa, Masumi memasuki ruang kerjanya di Gedung Daito. Mizuki, seperti biasa, telah berada di tempatnya biasa duduk, berusaha keras menghapus segala ekspresinya dalam raut muka dingin professional.

“Selamat pagi, Pak Masumi. Saya heran, Anda masih ingat jalan menuju ke kantor ini,” sambutnya dengan sindiran pedas.

“Aku tak akan tersesat karena, seperti kau tahu, gedung baru ini aku sendirilah yang menyetujui rancangannya,” sahut Masumi ringan. “Bagaimana kabar pekerjaan.”

“Bila Anda bisa mengambil liburan cukup lama dan mendadak, berarti Anda telah yakin bahwa semua baik-baik saja, Pak Masumi.”

Masumi tertawa mendengar jawaban bawahannya itu. “Rupanya kepergianku selama beberapa hari ini semakin mengasah ketajaman lidahmu. Tentunya kau telah siap menghukumku dengan tumpukan pekerjaan yang tidak mengijinkanku untuk beristirahat, bahkan untuk bernafas sekalipun.”

“Semua sudah saya siapkan di meja Anda, Pak Masumi,” jawab Mizuki, “Selamat menikmati,” tambahnya.

Masih sambil tertawa, Masumi menghilang di balik pintu.

Begitu pintu tertutup, Mizuki segera meraih ponselnya. Dengan cepat dia membuka sebuah nomor dan menuliskan sebuah pesan singkat.

Masumi Hayami sudah muncul kembali.

Di sebuah villa di Prancis Selatan.

Asa, dengan suara langkahnya yang pelan, menghampiri Eisuke yang sedang duduk menatap ke luar jendela. Setelah tiba di belakang majikannya, laki-laki tua itu memberi tanda dengan deheman ringan.

“Sepertinya kau sudah mendapat info dari Tokyo,” kata Eisuke tanpa menoleh.

“Benar, Tuan, seperti yang Tuan harapkan.”

“Baiklah, malam ini kau bersiap-siap. Kita kembali ke Jepang besok.”

Friday, January 6, 2012

Fourteenth : The Best For You


Maya sedang mengatur bunga-bunga dalam vas sebagai penghiasruangan di apartemen baru mereka. Dengan ujung ekor matanya dia mengamatisuaminya yang sedang bersantai di sofa sambil membaca buku. Mereka telah tigahari menikah dan Maya masih belum terbiasa melihat Masumi bersantai sepertiitu. Masumi yang dikenalnya adalah sosok yang enerjik dan sibuk. Dia terbiasadikelilingi banyak bawahan yang siap menjalankan semua perintahnya. Selain ituMasumi adalah jenis pribadi yang memiliki aura kekuasaan yang kental. Maya terbiasa melihatnya selalu memegangkendali, dingin, sinis, dan penuh perhitungan.

Maya masih harus berusaha keras membiasakan diri melihatMasumi dalam pakaian casual, jeans dan polo shirt serta hanya berkaus kaki.Selama berhari-hari mereka memang hanya asyik menikmati dunia baru mereka dantak mengijinkan siapapun untuk berbagi. Teman-teman Maya dari Teater Mayuko danIkkakuju cukup pengertian untuk memberi waktu kepada pasangan baru itumenikmati bulan madu mereka. Sementara untuk urusan pekerjaan baik Maya maupunMasumi sepakat untuk tidak membicarakannya. Topik tersebut sangat sensitif dankeduanya masih menikmati manisnya sebagai pasangan suami istri sehinggamembahas hal seberat itu sungguh tak bisa dimaafkan.
Tapi jauh di lubuk hati keduanya teramat sangat sadar bahwasaat itu sedang mendekat.

Sementara Masumi meski asyik membaca buku tentang teorimanagement namun pikirannya tidak sedang berada pada barisan kalimat yang adadi hadapannya. Meski tak melihat Masumi sangat merasakan keberadaan Maya diseberang ruangan. Bahkan meski mereka terpisah jarak beberapa meter Masumiseolah bisa merasakan helaan nafas istrinya, aroma hangat, halus, danlembutnya, bahkan gerak tangan serta kakinya. Masumi pun tahu bahwa Maya meskipura-pura sibuk namun sesungguhnya istrinya itu pun sedang memperhatikandirinya.

Bulan madu mereka selama tiga hari ini benar-benar luarbiasa. Tak hentinya mereka saling mempelajari satu sama lain, meski kadangmasih malu-malu berusaha meneliti setiap detil, setiap lekukan dan tonjolan,menikmati keberadaan satu sama lain. Sungguh perasaan bahagia tak terkatakankarena setiap membuka mata di pagi hari melihat orang tercinta berada dalamjangkauan. Bisa meraih dan memeluk dengan erat tanpa halangan, menghirup aromakeintiman dan menenggelamkan diri kembali dalam pusaran gairah yang begituintens yang tak menyisakan ruang sedikitpun untuk kepura-puraan.

Akhirnya karena merasa sia-sia saja membaca buku, Masumimelemparkan bukunya ke meja dan melompat bangkit. Dengan langkah-langkahpanjang dihampirinya istrinya di seberang ruangan. Meski baru musim semi, namunsore itu Maya sedang mengenakan salah satu koleksi busana musim panas daridesainer terkenal. Celana khaki yang panjangnya hanya sebatas bawah pinggul danatasan dari sutera putih berbola-bola mungil warna lembayung yang cantik.Kerutan menghiasi batas dada dan pinggang atasannya dengan tali tipis yangmenempel ringkih di kedua bahu lembutnya. Masumi sangat mengagumi selerafashion Maya sekarang. Kalau dulu Maya selalu tampil bersahaja sekarang Mayatampil elegan, berkelas, namun tetap simpel tanpa meninggalkan kesan muda danceria. Bila sempat terpikir untuk menjadikan Maya brand ambassador dari divisifashion Daito, maka sekarang dibuangnya jauh-jauh ide itu. Masumi tak akan sudimengumpankan Maya bulat-bulat kepada Daito.

Menyadari langkah Masumi Maya menoleh dan tersenyum. Senyumsejuta watt yang sanggup membuat Masumi membuang segala akal sehatnya. Kalaudia pernah menganggap senyuman Maya di panggung sebagai Aldis sempat menghipnotisnya,maka senyum Maya yang khusus ditujukan untuknya sekarang sanggup membuatnyagila. Maka tanpa sepatah kata, diraihnya Maya dalam pelukannya.

“Masumi? Hei? Ada apa?” tanya Maya, masih heran dengan sikapaneh suaminya yang sekarang makin sering dilakukannya, seolah ada doronganmisterius yang membuat lelaki itu sering bergegas menghampirinya dan memeluknyaerat-erat.

“Aku rindu kamu,” kata Masumi ringan.

“Aku tidak kemana-mana.”

“Benarkah?” Masumi tersenyum. “Bila kau tak datangmemelukku, maka aku yang datang untuk memelukmu,” tambahnya serayamembungkukkan tubuhnya agar bisa menenggelamkan wajahnya di gerai rambut Maya.

“Kau akan sakit punggung bila terus-terusan membungkukkanbadan begitu,” tegur Maya lembut.

“Aku akan terima resiko itu sebagai imbalan punya istri yangbegitu pendek,” jawab Masumi. Ada sinar jahil berkilat di matanya yang segeradisadari Maya. “Aku tak ambil pusing bila kau sakit pinggang. Toh itu badanmusendiri,” rajuknya. “ Hanya saja memalukan sekali punya suami tua renta danbungkuk,” cibirnya.

Masumi memencet hidung Maya dengan gemas sebelum akhirnyamencium hidung mungil itu dengan lembut. Milikku, pikirnya possesif. Hidungmungil ini milikku, senyum ini, bahkan jiwa ini milikku. Dan dengan satugerakan yang semakin sering dia lakukan dan semakin mudah, digendongnya Mayayang wajahnya memerah bak udak rebus mengantisipasi apa yang akan terjadikemudian. Dan benar saja saat Masumi menjatuhkannya di sofa tempat dia tadimembaca buku, Maya tak mau membuka matanya yang terpejam.

“Maya...” bisik Masumi gemas.

Saat akhirnya Maya membuka mata wajah Masumi sudah begitudekat hingga dia bisa merasakan hembusan nafasnya yang panas. Dan Maya punmengangkat tangannya, menelusuri wajah tampan dan keras itu dengan ujungjarinya. Tak henti dia meyakinkan dirinya bahwa wajah yang begitu indah miliklelaki gagah itu sekarang sudah menjadi miliknya. Suaminya. Ya, Masumi adalahsuaminya, lelaki yang akan melindunginya, lelaki kepada siapa dia akanmembaktikan dirinya, mencintainya, belahan jiwanya. Semua terasa pas. Tak adakeraguan apapun lagi. Dia akan mencintai tanpa syarat. Seperti Akoya mencintaiIshin. Seperti Mayuko mencintai Ichiren. Dan kini kisahnya sendiri dimulai,kisah Maya dan Masumi. Apapun yang terjadi di luar sana menjadi tidak pentinglagi.

Masumi menatap mata Maya yang balas menatapnya, membacakelebatan fikiran yang terpancar dari sinar mata perempuan itu. “Maya...”

“Aku mencintaimu, Masumi, sangat mencintaimu. Tahukah kauartinya?” tanya Maya lirih.

Masumi mengangguk dalam-dalam. “Aku tahu. Karena akupunmencintaimu, sepenuh hatiku.”

Dengan itu mereka saling memahami.

Beberapa saat kemudian mereka masih saling berpelukan. Masihtenggelam dalam sensasi yang baru mereka rasakan. Masih dengan setengahbermimpi Maya menyandarkan tubuhnya di dada suaminya. Lalu matanya menangkapbuku yang teronggok di meja bekas dilempar Masumi tadi serta membaca judulnya.Sebersit fikiran yang sejak tadi mengganggu menghampiri kepalanya.

“Masumi...”

“Hm...,” Masumi sedang asyik membelai rambut istrinya,matanya setengah terpejam menghirup aroma yang begitu disukainya itu.

“Bulan madu kita sudah berjalan tiga hari.”

“Iya. Kenapa? Kita merencanakan seminggu kan?”

“Apakah seminggu tidak terlalu berlebihan untukmu?”

Masumi membuka matanya, siaga dengan pertanyaan istrinyayang tiba-tiba. “Maksudmu?”

“Aku tak terbiasa melihatmu bersantai. Aku terbiasamelihatmu selalu dengan notebook, dokumen-dokumen, serta gadget canggih yangmengatur jadwal dan kegiatanmu. Aku tak terbiasa melihatmu begitu santai, halyang kau lakukan dalam tiga hari ini. Aku tak melihatmu membuka tas kerja, akutak melihatmu membuka notebookmu, bahkan aku tak pernah mendengar suaraponselmu. Ini tidak normal. Ini seolah bukan dirimu.”

“Aku sedang berbulan madu dan tidak ingin diganggupekerjaan,” kata Masumi singkat.

“Aku mengenalmu tidak hanya setahun dua tahun, Masumi. Danaku tahu bahwa pekerjaan sudah menjadi identitasmu. Sama seperti arti aktingbagiku. Kau begitu mencintai pekerjaanmu, menghabiskan hidupmu di situ, samaseperti aku mencintai dan menghabiskan hidup untuk akting. Kita bertemu karenakedua hal itu. Namun sekarang haruskah kau berubah hanya karena kita sudahmenjadi suami istri? Haruskah kau menjadi pribadi yang lain?”

Masumi merenungi sejenak perkataan istrinya. “Langsung kepokok permasalahan, eh?” tanyanya sambil tertawa kecil. “Ketika akumerencanakan pernikahan ini, aku seolah mendorong gunung dan lautan untukmengosongkan jadwalku. Aku ingin memberimu bulan madu yang sempurna tanpagangguan karena aku tak bisa memberimu upacara pernikahan yang layak untukmu.Aku telah membuatmu kehilangan banyak hal yang penting dalam hidupmu, dan akutak sanggup mengembalikan semua yang telah kurenggut itu. Satu-satunya milikkuyang berharga hanyalah pekerjaan, maka kuputuskan mengorbankan waktu bekerjaku yang berhargaitu untukmu. Aku menempatkanmu jauh di atas pekerjaanku, Maya, dan ternyata akutak menyesalinya karena kusadari bahwa kau jauh lebih berharga dibandingpekerjaan itu. “

Maya bergerak dalam pelukan Masumi. Dipandangnya wajahtampan itu. “Masumi, aku tak mau kau terpaksa berubah hanya karena aku. Akuakan baik-baik saja meski kau sibuk bekerja. Aku tak akan mengeluh bila waktubulan madu kita kau habiskan untuk menelepon dan mendiktekan berbagai perintahkepada sekretarismu. Aku menerima kau yang seperti itu, seperti kau yangmenerimaku lengkap dengan segala kebodohanku. Aku tak mau kau memberi lebihbanyak lagi untukku. Aku tak akan sanggup untuk membalasnya.”

“Kau sudah membalasnya dengan berlebihan hanya dengan mencintaiku,dengan menerima diriku yang seperti ini.”

Mendengar Masumi mengatakan hal itu membuat dada Maya terasapenuh dan tak terasa air mata menetes di pipinya. Dengan lembut dia mendekatkanwajahnya dan mencium bibir Masumi dengan lembut. “Terimakasih, belahan jiwaku,karena telah mencintaiku dengan begitu dalam,” bisiknya.

Malam hari saat Maya sudah terlelap di sebelahnya, denganperlahan Masumi bangkit dari tempat tidur dan berjalan menghampiri jendela.Dibukanya tirai hingga sinar bulan yang pucat menembus masuk ke dalam ruangan.Kemudian dijangkaunya mantel kamar dan dengan perlahan membuka pintu sertamelangkah keluar. Beberapa menit kemudian, dengan batang rokok menyaladitangan, dia berdiri di balkon, memandangi kota Tokyo yang terhampar di depannya.Dia teringat malam pertamanya berdua Maya, tidur di kamar sederhana yangterbuka jendelanya dibawah hamparan sejuta bintang. Sejuta bintang milikmereka. Dan saat sebuah bintang jatuh berkelebat di angkasa, untuk pertamakalinya dia berani mengungkapkan permohonannya. Meski dia merasa begitu konyolsesudahnya. Masumi Hayami, Jendral Perang dari Daito, berharap pada bintangjatuh? Pasti tak akan ada yang percaya. Kecuali Maya.

Pembicaraannya dengan Maya tadi kembali terngiang-ngiang ditelinganya. Mengingatkannya pada sesuatu yang berusaha dilupakannya, palingtidak selama bulan madu ini. Ya Tuhan, beri aku waktu sebentar lagi untukmembahagiakan istriku sebelum segalanya di luar kendali, pintanya dalam hati.Meski berusaha menunda, bahkan kalau bisa memungkiri kenyataan yang ada, namunjauh di relung hatinya, di dalam akal sehatnya, Masumi tahu bahwa dia harusbersiap menghadapi perang besar yang akan menghadang di depan. Dia memang telahmemiliki bermacam strategi, telah meneliti dan menguji strateginya dari segalasudut dan optimis semua akan sanggup dia atasi. Namun lawan yang dihadapinyajuga memiliki cara berfikir sepertinya. Tidak banyak yang tahu bahwa EisukeHayami memiliki otak dengan lorong-lorong bak labirin yang bisa menimbuklanterjadinya sejuta kemungkinan. Masumi yang berada langsung di bawah komando dandidikannya merasakan langsung dan menjadi saksi hidup betapa orang tua itu bisamenjadi musuh yang sangat tangguh, dingin, kejam, dan menakutkan. Perlu nyalibesar hanya untuk memikirkan mengalahkannya.

Namun Masumi sudah menyatakan tekad akan melawannya bilasedikit saja Eisuke dengan pasukan Daitonya menyentuh istrinya. Seumur hidupbaru kali ini Masumi memiliki keinginan sekuat ini, mencurahkan segala energiuntuk mencapai ambisi pribadinya. Selama ini dia bekerja keras hanya karena diatak tahu harus berbuat apa lagi untuk mengisi hidupnya. Dia sudahbertahun-tahun menjadi robot yang membanting tulang demi kejayaan Daito.Sekarang dia ingin berbuat sesuatu untuk dirinya sendiri. Untuknya dan Maya.

Maya terbangun saat merasakan kekosongan di sebelahnya.Meski masih dengan mata terpejam, diraihnya Masumi dan mendapati tempat itukosong. Segera dia membuka matanya. Dalam keremangan kamar yang hanya mendapatsinar dari rembulan musim semi di luar dia bisa melihat sosok suaminya berdiridi balkon. Masumi tampak berfikir keras. Sampai sejauh ini Masumi memang samasekali tak pernah mengatakan dengan terus terang segala kemungkinan bilapernikahan mereka terekspos. Hubungan Masumi dengan Daito, hubungan Maya denganDewan Kesenian, maupun posisi Maya sebagai pemegang Hak Pementasan BidadariMerah serta posisi Masumi sebagai Direktur Daito, salah satu perusahaan yangakan mengikuti tender pementasan cerita agung tersebut.

Maya tahu pasti sangat berat bagi Masumi untuk berada dikedua sisi yang saling berseberangan itu. Dan status Maya sebagai istrinya jugaberperan sangat besar dalam menentukan segala keputusannya. Andai aku lebihpintar, Masumi pasti tak harus menanggung semua ini sendirian. Paling tidak diabisa membicarakannya kepadaku, pikir Maya masygul.

Malam itu baik Maya maupun Masumi, meski akhirnya beradadalam satu peraduan, namun sama-sama tidak bisa tidur dan tenggelam dalampikiran masing-masing.

Pagi hari, seperti biasa, Maya terbangun merasakan dekapanhangat Masumi di belakangnya. Merasakan punggungnya menempel erat pada dadabidang Masumi, merasakan nafas hangat Masumi menerbangkan anak-anak rambutnya,serta merasakan bibir dan lidahnya menelusuri batang lehernya. Merasakankebahagiaan itu Maya menggeliat pelan dalam rengkuhan lengan kekar Masumi.

“Maya...”

“Hmm?”

“Apakah kau tidak keberatan bila hari ini aku bekerja dirumah?”

Maya terdiam sebentar. Lalu berputar untuk menghadap Masumi.Dengan matanya yang sekarang terbuka sepenuhnya ditatapnya Masumi dalam-dalam.Meski tak terlihat Maya bisa merasakan bahwa pribadi Masumi yang lama,Masuminya, seorang penguasa, sudah kembali. Maya tersenyum lebar. “Sudah mulaisadar ya?” seringainya jahil.

Melihat seringaian istrinya Masumi cemberut. “Apakah kausudah bosan berada dekat denganku? Ya ampun, Maya, kita toh menikah baru empathari?”

“Bukannya bosan. Kalau kau hari ini bekerja, paling tidakaku bisa punya waktu jalan-jalan bersama Rei. Lagipula ketika kau bersikapsebagai suami yang baik begitu aku jadi tidak punya kesempatan untukmenjahilimu. Apa asyiknya kalau aku harus menuruti semua maumu? Kau sudahmendapatkannya dari semua bawahanmu. Menjadi suami baik-baik tidak cocok dengancitramu. Apa kata Nona Mizuki kalau tahu kau seperti ini?” cibir Maya.

“Aku menikah denganmu, bukan dengan Mizuki,” kata Masumi dandengan gemas membungkam mulut Maya yang hendak melontarkan kata-kata balasandengan bibirnya.

“Masumi, aku harus menelepon Rei,” kata Maya megap-megapdisela ciuman Masumi.

“Kau bisa melakukannya nanti,” Masumi menggelitik pangkalleher Maya dengan bibirnya.

“Aku juga harus bersiap-siap untuk jalan-jalan,” Mayaberusaha mengelak.

“Masih banyak waktu,” Masumi tetap tak peduli.

“Kau sebaiknya cepat-cepat bekerja atau kau akan kehilanganjutaan yen,” Maya mencoba taktik lain.

“Tidak apa-apa. Kau lebih berharga...” Masumi melancarkankecupan-kecupan panas di wajah Maya.

“Masumi...”

“Diamlah.”

Dan seperti biasa, Masumi sangat kuat.

Seusai mandi Maya mematut dirinya di cermin, bersiap memenuhijanjinya untuk keluar bersama Rei. Karena Maya sibuk berdandan maka Masumikebagian semua tugas domestik untuk menyiapkan sarapan yang simpel untukmereka.

“Maya, sarapan sudah siap,” kata Masumi sambil memasukikamar mereka. Melihat istrinya masih mengenakan mantel mandi dia berkata,“Perlu aku pilihkan pakaian?”

Maya menoleh kepada suaminya yang tampan yang sekarang sudahberdiri di belakangnya. “Boleh.”

Masumi pun membuka lemari pakaian dan memilih dari koleksibaju Maya yang ada. Dia berfikir untuk menambah koleksi pakaian Maya. Beberapamodel baju sudah berkelebat di otaknya. Paris, aku akan mengajaknya ke Parisberbelanja dan berbulan madu lagi, pikirnya. Sebuah rencana yang membuatnyasemakin ingin cepat-cepat menyelesaikan semua rencananya.

Setelah membantu istrinya berpakaian, sebuah hobi baru yangternyata sangat disukainya, mendandani Maya, Masumi memperhatikan saat diamengoleskan lipstick di bibir mungilnya yang menggemaskan. Tiba-tiba sebersitide jahil menghampiri kepalanya. “Maya,” panggilnya lembut. Istrinya bereaksidengan menolehkan kepalanya ke arah Masumi. Secepat kila Masumi mengecup bibirMaya kuat-kuat dan membuat berantakan riasan bibirnya.

“Masumi!” jerit Maya kesal.

Dengan terbahak-bahak, menghindari serbuan Maya yangmelempar sisir ke arahnya, Masumi melompat keluar dari kamar.

Seusai sarapan, masih ada waktu satu jam sebelum Mayabertemu Rei di stasiun. Setelah membenahi meja Maya menyusul suaminya yangsudah siap dengan notebook dan dokumen yang tersusun di meja di ruangan yangtelah disulap menjadi ruang kerjanya.

“Masumi...”

Masumi menoleh menatap istrinya. “Ada apa?”

“Masumi, aku tahu bahwa aku ini bodoh sehingga tak akanbermanfaat dalam meringankan beban pekerjaanmu. Tetapi sebagai istrimu akupaling tidak ingin tahu apakah yang akan kau lakukan berikutnya? Kupikir kautak mungkin akan berada di Daito. Keadaannya akan sangat tidak enak bagi kaudan aku meski aku sama sekali tak meragukan kemampuan dan niatmu.”

Masumi terdiam sejenak. “Duduklah, Maya, karena apa yangakan kita bicarakan ini sangatlah serius, bukan obrolan pengisi waktu,” undangMasumi.

Setelah istrinya duduk di sampingnya di kursi panjang yangada di ruang kerja itu, Masumi meraih kedua tangan Maya dan menggenggamnya.“Maya, sebelumnya aku ingin kau yakin dan percaya sepenuhnya kepadaku. Akuingin tidak ada keraguan di antara kita. Bila aku memutuskan tak memberitahuapapun padamu, itu semata-mata demi kebaikanmu sendiri.”

“Tapi Masumi...”

“Maya, kau tahu dan pernah merasakan sendiri seperti apaDaito, atau Eisuke Hayami, memperlakukan musuh-musuhnya. Kau ingat kanbagaimana aku dulu? Aku yang bertanggung jawab terhadap penderitaan gurumu,kehancuran teatermu, kematian ibumu, tolong... jangan potong omonganku,” kataMasumi melihat Maya membuka mulut. “Aku tahu kau bahwa kau sudah memaafkansemua itu, tetapi aku tak akan pernah melupakan semua yang telah kulakukanpadamu dulu. Daito musuh yang sangat kuat, percayalah, dan tidak bisadiremehkan sama sekali. Jadi aku harus sangat berhati-hati kali ini karena ini sepertimelawan diriku sendiri, melawan otakku sendiri, melawan orang yang meski takmau kuakui, adalah ayahku. Meski kami tak berhubungan darah, namun emosi,pikiran dan jiwa kami sangat tertaut. Aku sangat mengenal Eisuke seperti jugaEisuke mengenal diriku. Bisa jadi apa yang kupikirkan saat ini sudah pulaterpikir oleh orang tua itu, atau sebaliknya. Dan dalam semua itu aku tak maukau terluka. Tolong demi ketentramanku, percayalah padaku, pada setiap apa yangkulakukan. Kalaupun nanti kau harus terluka, percayalah bahwa itu yang terbaikuntukmu.”

“Masumi aku tak ingin kau terluka.”

“Aku kuat, Maya, sama sepertimu. Ijinkanlah, untuk sekaliini, aku melakukan yang terbaik untukmu, istri yang sangat kucintai. Dan janganpertanyakan apapun. Untuk kali ini tolong ikuti semua perkataanku. Pilihanmuhanya ada dua, mempercayaiku dengan mutlak atau tidak sama sekali.”

Maya menatap nanar wajah keras suaminya. Berbagai perasaanyang bergolak di dalam dadanya tak mampu untuk diungkapkan. Namun dia harusmembuat keputusan. Pikirannya tahu bahwa Masumi akan berjuang keras sendirian,namun di dasar hatinya dia juga menyadari Masumi membutuhkan kekuatan dandukungannya. Dukungan yang bisa dia berikan hanya dengan dia mempercayainyatanpa ragu, mencintainya tanpa syarat. Akhirnya Maya mengangguk, “BaiklahMasumi, aku mempercayaimu dan aku berjanji untuk tidak mempertanyakan kembaliapapun keputusanmu,” katanya lirih.

“Terimakasih, sayangku, aku membutuhkan kepercayaan itu,”Masumi bernafas lega, meremas lembut kedua tangan Maya yang berada dalamgenggamannya, untuk kemudian membawa kedua tangan itu ke mulutnya danmenciumnya lembut. “Ingatlah Maya, bila semua sudah terjadi, bila kau ragudimana kau harus berpijak, bila kau kehilangan jejakku, maka satu kata yangharus kau pegang, nagareboshi-bintang jatuh, disitulah ada aku.”
***

Thursday, August 4, 2011

Thirteenth : Because You're You

Masumi seorang early riser. Biasanya tak peduli selelah apapun dia bekerja, selarut apapun dia lembur, dia akan selalu bangun di pagi hari saat fajar menyingsing. Maka meski dia dan Maya baru memejamkan mata dini hari saat ini Masumi sudah terjaga. Suara kicau burung pagi yang hinggap di pepohonan serta pantulan sinar matahari yang remang-remang menembus jendela yang sempat dia tutup semalam untuk mengantisipasi bila mereka bangun terlambat dan menghindari menjadi obyek tontonan orang iseng, mengembalikan kesadarannya sepenuhnya. Maya berbaring dalam pelukannya. Kecapekan dan tertidur nyenyak. Masumi tak ingin mengusiknya. Namun melihat bibirnya mungilnya yang sedikit terbuka Masumi tak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya. Dipagutnya pelan bibir yang semalam telah mebawanya terbang ke awang-awang itu. Maya mendesah, mengeluarkan suara-suara tidak jelas, sebelum akhirnya tenang lagi saat Masumi menggosok lembut punggungnya. Masumi meletakkan kepalanya di bantal yang juga dipakai Maya, refleks gadis itu meringkuk mendekat dan masuk kembali ke pelukannya yang hangat dan posesif.

Perasaannya pada Maya begitu kuat hingga memenuhi rongga dadanya. Belum pernah ada wanita lain yang sanggup meruntuhkan kendali dirinya seperti Maya. Ia juga belum pernah menginginkan wanita lain sebesar ini, tidak akan menunggu lama seperti ia menunggu Maya. Maya mengalihkan ketidakbahagiaannya akan hidupnya yang keras dan dingin selama ini. Karena dia Masumi tak meratapi kegersangan hatinya meski bayang-bayang masa depan mereka berdua masih sangat mengusik benaknya. Namun demi Maya Masumi harus kuat dan membuatnya berhasil seberat apapun tantangan yang harus mereka hadapi.

Kening Masumi mengerut sedikit saat ia memeluk Maya. Hidungnya menghirup aroma yang telah sangat familier dengan indra penciumannya itu, tangannya meluncur menyusuri tubuh mungil yang sedang terlelap itu, berusaha mematri setiap lekukan dan tonjolan dan menguncinya dalam ingatannya. Maya adalah pusat hidupnya sekarang, dia tak akan mengijinkan apapun memisahkan mereka berdua. Maya bergerak sedikit dan Masumi menghentikan tangannya yang tadi membelai-belai, cukup puas hanya dengan memeluknya. Matanya menatap langit-langit pondok yang sederhana.

Adegan itu meledak di benak Masumi. Pesta dari pernikahannya yang terdahulu dengan Shiori Takamiya. Gemerlap kemewahan, tamu-tamu kehormatana kelas atas membanjiri loby hotel bintang lima, aneka makanan dan sampanye yang tak pernah terlambat dihidangkan oleh barisan waiters yang berjumlah puluhan, bahkan mungkin ratusan. Shiori yang berdiri di sampingnya, tampak cantik dalam busana pengantin yang gemerlap hasil rancangan designer Paris, sibuk menebar senyum dan menyalami para undangan. Maya berhak mendapatkan semua itu, batinnya pilu. Maya tak layak diperlakukan begini, pesta yang sederhana, seadanya, sunyi, terpencil dan tersembunyi, hanya dihadiri oleh teman-temannya, bahkan ibu kandungnya pun tak bisa lagi hadir menyaksikan kebahagiaan putrinya. Semua karena dirinya. Masumi merengkuh kembali istrinya erat-erat, meminta maaf dalam setiap hembusan nafasnya, betapa besar pengorbanan yang diberikan oleh Maya hanya untuk bersamanya.

Maya menggeliat dalam pelukannya dan mengangkat kepala untuk menatap mata suaminya. Tampak ada kesenduan di sana. “Ada apa?”

Masumi menggeleng dan berusaha tersenyum, menyentuh lembut pipi Maya dengan bagian belakang jemarinya. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang merasakan kebahagiaan karena terbangun di sisimu,” ia meyakinkan Maya. Maya kelihatan masih mengantuk dan sangat sensual, matanya setengah terpejam, pipinya merona sehat dan segar, dan bibir mungil itu tampak sedikit bengkak akibat dilumat bibir Masumi yang kuat.

Maya melihat ke sekeliling. Menyadari jendela yang semalam mereka buka telah tertutup dan pagi telah menjelang. Ia mengangkat tangan dan menyentuh wajah Masumi, sama seperti cara lelaki itu menyentuhnya. Matanya menelusuri wajah Masumi dengan lembut, memuaskan hasrat hatinya, meneliti setiap garis dan kerut. Maya sama sekali tak sadar akan ekspresi wajahnya. Tetapi Masumi melihatnya dan dadanya hampir meledak karena sesak. Ingin ia berkata “Jangan mencintaiku seperti itu, aku takut kau terluka,” namun tak diucapkannya. Penting baginya untuk meyakini Maya mencintainya seperti itu. Sebagai balasannya, dikecupnya bibir Maya, sekali, dua kali, Maya mengerang dan membalasnya. Dan mereka pun kembali melanjutkan kemesraan yang telah terjalin sejak semalam.

Karena mereka berencana kembali ke Tokyo siang hari, maka Maya dan Masumi berkemas untuk meninggalkan pondok. Maya melirik dengan iri ke kopor Masumi yang tertata rapi. Miliknya sendiri begitu berantakan dan kacau hingga dia sedikit kesulitan menemukan beberapa barang yang dibutuhkannya. Melihat istrinya mencebik jengkel, Masumi tertawa dan mengambil alih memberesi kopor Maya. Dia juga memilihkan baju yang akan dikenakan Maya untuk perjalanan nanti.

“Sepertinya aku akan sangat menikmati mendandanimu nanti,” katanya sambil tersenyum.

Karena urusan berbenah dikerjakan oleh Masumi maka Maya memilih pergi ke dapur dan membantu Pak Genzo menyiapkan makan siang. Namun lagi-lagi Maya merasa sangat tak berguna karena Pak Genzolah yang pada akhirnya memasak semuanya. Saat Maya, Masumi dan Pak Genzo makan bersama, dengan iseng, karena tahu benar kapasitas Maya sebagai seorang koki, Masumi menggoda dengan menunjuk semua hidangan yang ada di meja.

“Ini masakanmu?” tanya Masumi menunjuk irisan sukiyaki di mangkuk.

“Bukan,” Maya menggeleng.

“Ini?”

“Bukan juga.”

“Lalu yang ini?”

“Ehm... itu Pak Genzo yang menumisnya.”

“Sayang, lalu mana makanan yang kau masak? Aku ingin sekali memakannya,” Masumi bertanya dengan sabar.

Malu-malu Maya menunjuk labu rebus di piring. “Aku yang mengiris dan merebusnya,” katanya pelan.

Pak Genzo menyembunyikan senyum di balik batuk-batuk kecilnya sementara Masumi dengan sumpitnya langsung mengambil hidangan itu. “Enak sekali,” pujinya. “Mungkin karena kau memasaknya dengan sepenuh hati, sehingga perasaanmu tersampaikan kepadaku lewat labu rebus ini,” katanya sambil tersenyum membesarkan hati Maya.

Setelah makan siang keduanya segera meluncur menuju Tokyo. Maya duduk dengan bahagia di sebelah Masumi yang menyetir mobilnya dengan tenang. Peristiwa kemarin seolah dalam mimpi. Namun keberadaan lelaki gagah di sampingnya meyakinkan dirinya bahwa semua itu nyata dan mereka telah sah menjadi sepasang suami istri. Tangannya dengan lembut memegang kalung rantai emas yang melingkar di leher, dimana cincin kawinnya tergantung. Masumi melirik melalui kaca spion, tersenyum melihat kelakuan istrinya dan meraih tangan Maya serta meletakkannya di dadanya, tempat cincin serupa tergantung juga di sana. Kemudian mengangkatnya ke wajahnya dan mengecup punggung tangan mungil itu dengan mesra.

Memasuki kota Tokyo barulah Maya sedikit protes ketika Masumi mengambil jalur ke arah timur kota, dan bukannya di jalur barat tempat apartemen Maya berada.

“Tunggu saja, sayang, aku ada kejutan kecil untukmu,” katanya santai sambil mengedipkan sebelah mata kepada Maya.

Saat mereka memasuki sebuah blok apartemen mewah dengan penjagaan sekuriti di pintu masuk, kemudian menuju ke area parkir pribadi di bawah tanah, Maya mulai mencerna sesuatu.

“Apartemen?”

“Tunggu saja.”

Masumi menghentikan mobilnya di tempat parkir yang terletak di lantai 4, kemudian membukakan pintu untuk Maya sebelum mengambil kopor-kopor mereka. Masih penuh tanda tanya Maya mengikuti suaminya memasuki sebuah lift dan melihat lelaki itu memencet nomor. Mereka berdiri dalam diam ketika lift meluncur naik dengan suara lembut, berhenti di lantai 10. Saat mereka berjalan menyusuri koridor berkarpet tebal, Maya memegang lengan Masumi yang membawa dua kopor mereka, mengikuti kemana lelaki itu melangkah, bertanya-tanya dalam diam. Di depan pintu nomor 5 Masumi berhenti, mengeluarkan sebuah kunci dan setelah meletakkan kopor-kopor di lantai dengan santai membuka pintu.

“Selamat datang, Bidadariku...” ucapnya mesra dan dalam sekali gerak dibopongnya Maya memasuki apartemen.

“Masumi...”

“Aku menerima ucapan terimakasih nanti saja. Dan aku akan memintanya dengan caraku sendiri,” bisiknya di leher Maya, menciumi aroma yang berdetak lembut disana, tempat favoritnya. Masumi membawa istrinya mengelilingi seluruh apartemen luas itu dalam gendongannya.

“Ini dirancang untuk ruang tamu, namun sebelumnya kita harus memilih perabot yang cocok dulu,” katanya saat mereka memasuki ruangan luas yang masih kosong.

“Memilih perabot bersamamu kita hanya sibuk berputar-putar dan bertengkar,” sahut Maya.

“Tidak masalah. Aku menikmati bertengkar denganmu. Lagipula mungkin di dunia ini akulah satu-satunya lelaki yang tahu cara membungkam mulutmu,” Masumi nyengir, dan seolah membuktikan kata-katanya, diciumnya kuat-kuat Maya, di mulut, dan membuat keduanya kehabisan nafas.

Ruangan berikut yang mereka jelajahi adalah dapur. Menyatu dengan ruang makan, dapur itu telah dilengkapi dengan peralatan masak yang modern.

“Sepertinya aku hanya akan tersesat di sini,” keluh Maya. “Aku tak tahu sama sekali cara menggunakan peralatannya.”

“Aku yang akan mengajarimu,” kata Masumi ringan sambil membawa Maya kembali ke ruang depan. Maya terbelalak menyadari bahwa di belakang pintu dia menemui sebuah tempat payung besar yang dulu dipilihnya namun ditolak oleh Masumi. “Masumi, tempat payung itu...aku tak menyangka kau menyukainya.”

“Aku tidak mengatakan tidak menyukainya. Aku hanya bilang bahwa kalau kau mau tempat payung sebesar itu, maka kau harus memiliki apartemen yang cukup besar terlebih dahulu. Dan kurasa apartemen ini cocok ukurannya untuk tempat payung kesukaanmu itu.”

Maya memandang Masumi dengan mata berkaca-kaca. “Terimakasih, Masumi, kau menghargai pilihanku.”

“Maya, hanya karena sebuah tempat payung kau terharu seperti itu?”

“Tahukah kau kadang aku sangat rendah diri bersamamu? Kau berasal dari kelas yang sangat berbeda dariku. Kadang di sampingmu aku merasa begitu rendah dan bodoh. Jadi sangat penting bagiku kau menerima aku dan seleraku yang rendah ini...”

Masumi membungkam bibir istrinya dengan bibirnya. “Aku mencintai kau karena kau adalah kau, Maya. Kau sangat mengagumkan hanya dengan menjadi dirimu sendiri.”

Akhirnya Masumi membawa istrinya memasuki ruang terakhir, kamar tidur. Maya membelalak kagum pada ruangan luas yang didominasi tempat tidur berukuran king size itu. Semua perabot telah lengkap mulai dari nakas, lampu tidur hingga gorden. Namun Masumi mengabaikan ketertarikan istrinya tentang tempat tidur, membawanya membuka lemari pakaian mereka yang besar. Maya kembali dikejutkan oleh keberadaan bajunya yang telah berderet rapi di sana, bersanding dengan baju-baju Masumi. Entah mengapa, melihat pakaian mereka terletak dalam satu tempat menimbulkan kesan intim tersendiri.

“Rei berbaik hati mengangkut bajumu dari apartemenmu dan memindahkannya kesini tadi pagi,” kata Masumi menjelaskan. Kemudia dibawanya Maya memasuki kamar mandi. Lagi-lagi Maya terkagum-kagum dengan kemewahannya.

“Ini terlalu indah.”

“Untukmu, tidak ada yang terlalu indah. Kau layak menerima semua ini. Kau istriku. Meski aku menyesal karena tidak bisa memberimu pesta pernikahan yang pantas kau terima, setidaknya terimalah hadiah dariku ini,” bisik Masumi mesra sambil membawa Maya ke ranjang mereka dan merebahkan istrinya di sana.

Beberapa saat kemudian, saat keduanya tengah berpelukan, mengantuk dan lelah, Maya berbisik pelan, “Sayang, aku tidak bermaksud mengganggu ketentramanmu. Tetapi apakah pintu depan sudah kau kunci? Dan seingatku kopor-kopor kita masih di luar pintu karena kau terlalu bersemangat untuk menggendongku.”

Masumi terperangah sebentar. Lalu secepat kilat disambarnya mantel kamar dan dia melesat ke depan, meninggalkan Maya yang tertawa terbahak-bahak.

Siang hari Maya dan Masumi menikmati waktu berdua. Mereka menonton rekaman sebuah drama klasik Jepang di layar televisi besar di ruang keluarga. Masumi duduk berselonjor menyandarkan punggungnya ke sofa sementara Maya membaringkan kepalanya di paha Masumi.

“Rasanya aku sudah lama sekali tidak berlibur seperti ini,” kata Masumi sambil membelai-belai rambut istrinya.

“Lalu berapa lama kau merencanakan liburan pernikahan kita ini?”

“Mungkin lima atau enam hari. Kenapa?”

“Aku hanya heran kenapa kau sama sekali tak pernah kelihatan membuka ponselmu. Kau bahkan tidak membuka laptopmu. Memangnya Nona Mizuki tidak mencarimu?”

Masumi tertawa. “Mizuki pasti bingung setengah mati. Aku mematikan semua ponselku, aku juga tak mengatakan apapun tentang aktifitasku selama hari-hari pernikahan kita ini.”

“Ha?” Maya yang terheran-heran bangkit dari posisi tidurnya dan memandang suaminya dengan heran. “Benarkah? Nona Mizuki juga tak tahu kalau kau membeli apartemen ini?”

“Tidak. Aku memilih semuanya sendiri. Sama seperti mawar-mawar jingga serta hadiah yang kukirim kepadamu dulu. Bagiku kau terlalu berharga untuk kuwakilkan kepada sekretarisku.”

Maya sangat tersentuh dengan ucapan sederhana itu. Ditangkupnya wajah suaminya. Kemudian pelan diciumnya bibir Masumi, “Terima kasih karena mencintaiku sedalam itu,” bisiknya. “Kau pastinya sangat beruntung memiliki orang-orang yang loyal kepadamu seperti Hijiri dan Mizuki.”

Masumi terdiam sejenak. Dipandangnya wajah istrinya. “Mereka loyal karena namaku masih Masumi Hayami. Mereka adalah orang-orang yang berhutang budi kepada ayahku. Namun nanti saat aku melepas semuanya, mereka akan kembali kepada Eisuke Hayami, tuan mereka yang sebenarnya.”

“Begitukah?”

“Mungkin mereka akan tetap loyal kepadaku. Namun posisi mereka akan sangat sulit. Aku tak mau merepotkan mereka.”

Maya mengelus wajah Masumi dengan sayang. “Masumi, percayakah kau kalau kukatakan bahwa sebenarnya kau adalah orang yang sangat baik?”

“Bila yang mengucapkan adalah bibir ini, dan bila aku cukup baik bagimu, maka jawabannya ya, aku percaya.”

“Lalu kapankah kau akan mengenalkanku kepada ayahmu?”

“Saat ini Eisuke Hayami masih berada di luar negeri. Begitu pulang nanti aku akan membawamu menemuinya. Kau siap?”

Maya mengangguk mantap. “Iya.”

“Termasuk saat aku harus melepas semuanya?”

“Pasti.”

Sementara itu jauh di pedalaman Perancis, seperti biasa Eisuke menikmati sinar matahari menyengat di taman villa yang ditempatinya.

“Apakah sudah saatnya kita berkemas pulang, Tuan?” tanya Asa, pembantunya yang setia.

“Jangan dulu, biarkan mereka menikmati bulan madu dulu. Meski aku yakin bahwa Masumi pun pasti tak sabar menunggu kepulanganku dan menjalankan seluruh rencananya, apapun itu.”

“Tetapi Tuan Hayami sama sekali tak terlihat gusar.”

“Gusar? Kenapa harus gusar? Masumi itu aku yang menemukan dan mendidiknya. Dia benar-benar laki-laki yang luar biasa. Aku sangat tak sabar menunggu kejutan apalagi yang akan dia buat,” Eisuke tertawa terbahak-bahak. “Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang ayah melihat putranya menjadi laki-laki hebat. Meski dia bukan darah dagingku, tetapi ikatanku dan dia lebih kuat dari itu. Dia hanya perlu waktu untuk memahaminya.”

“Termasuk bila dia meninggalkan Daito?”

“Dia tak akan bisa meninggalkan Daito. Selama aku masih hidup Daito akan selalu terikat dengan Masumi sekuat apapun usahanya untuk melepaskan diri. Aku sendiri yang akan memastikan bahwa kaki Masumi selamanya akan dirantai bersama Daito.”

Saturday, July 23, 2011

Twelfth : Dancing With The Stars

Kedai minum sederhana itu tak berubah meski sudah bertahun-tahun berada di pinggir jalan kecil sebuah gang di kota Tokyo yang padat. Laju kemajuan yang mewarnai daerah pemukiman di sepanjang lokasi itu seolah tak berpengaruh sama sekali. Hanya saja sekarang pengunjungnya yang berubah. Orang-orang lama telah banyak pergi digantikan wajah-wajah baru. Kecuali seorang lelaki paruh baya bercambang tebal dan berkaca mata yang sedang menikmati sake botol keduanya. Lelaki itu tidak seperti orang lain pada umumnya yang sebentar-sebentar mengecek waktu di jam tangan ataupun mengecek pesan di ponsel. Dia minum dengan tenang dan menikmatinya seolah tidak ada satu pun urusan di dunia yang bisa mengganggunya.

Namun dia menoleh dan wajahnya yang keras tersenyum manakala seorang lelaki muda di pertengahan tiga puluhan dengan dandanan rapi dan mahal memasuki kedai kecil itu dan mengedarkan pandangannya mencari seseorang. Saat dijumpainya sosok yang dicarinya, lelaki itu melangkah mendekati kursi dimana si cambang berkaca mata duduk.

“Pak Hayami, lama sekali tidak berjumpa,” sapanya ramah kepada yang lebih muda.

“Pak Kuronuma, maaf membuat Anda menunggu,” lelaki muda itu membungkuk sedikit sebelum akhirnya duduk.

Kepada penjual tua, yang dipanggil Kuronuma meneriakkan pesanannya, yang disambut dengan hangat oleh Masumi.

“Seperti masa lalu,” katanya sambil menuang sake ke mangkuk kecil di depannya.

“Iya, seperti masa lalu,” jawab Pak Kuronuma. “Meski saya sangat heran saat Anda mau menemui saya di sini, Pak Hayami. Karena orang penting seperti Anda tak akan melewatkan waktu berada di tempat seperti ini hanya sekedar untuk minum dan mengobrol saja.

Masumi tertawa. “Setelah sekian lama ternyata Anda tak kehilangan ketajaman dalam berbicara.”

Mereka menikmati minuman selama beberapa saat sambil berbicara sesuatu yang tidak begitu penting. Pak Kuronuma berbicara tentang pementasan yang sedang dikerjakannya sebelum akhirnya menyinggung soal pementasan kembali Bidadari Merah.

“Persatuan Drama Nasional sudah menghubungi saya sehubungan dengan kembalinya Maya ke Jepang,” katanya ringan. “Perlu sedikit waktu untuk kembali mengumpulkan tim yang dulu sekaligus menyesuaikan jadwal karena baik Maya dan Sakurakoji, kedua pemeran utama, saat ini sedang sibuk dengan proyek pribadi mereka. Dan bukankah mereka dua-duanya sekarang bekerja di bawah manajemen milik Daito?”

“Benar sekali,” Masumi mengiyakan. “Pementasan Bidadari Merah sendiri masih memerlukan persiapan yang tidak sedikit. Terutama berkaitan dengan tender perusahaan mana yang mendapat kesempatan sebagai penyelenggaranya.”

Pak Kuronuma tertawa. “Saya tidak akan heran kalau nanti Daito yang akan memenangkannya.”

“Anda yakin?”

“Dengan Anda, Pak Masumi Hayami yang berada di pucuk pimpinan Daito, apa yang tidak mungkin? Meski Pak Eisuke Hayami ayah Anda punya sejarah yang tidak menyenangkan dengan Bu Mayuko, namun bukan berarti Anda di posisi yang sama dengan beliau ketika berhadapan dengan Maya Kitajima.”

Masumi kembali tertawa. “Terima kasih atas pujian Anda,” diteguknya sakenya sebelum melanjutkan, “Saya akan menikah, Pak Kuronuma.”

“Oh, sudah waktunya memang. Siapa kali ini calonnya? Apa dari publik figur yang saya kenal?” tanya Pak Kuronuma, tetap datar tanpa menunjukkan ketertarikan sedikitpun.

“Anda mengenalnya dengan baik karena gadis yang akan saya nikahi itu Bidadari Merah itu sendiri, Maya Kitajima.”

Pak Kuronuma begitu terkejut hingga sake yang diminumnya tersembur dari mulutnya. “Anda serius?”

“Anda cukup tahu kalau saya tak pernah main-main dengan omongan saya.”

“Maya sendiri? Apakah sudah mengetahui rencana Anda?”

“Kami membicarakan pernikahan ini bersama, dan baik saya maupun setuju untuk meminta Anda dan Pak Genzo sebagai wakil dari keluarga Maya.”

Pak Kuronuma terdiam sejenak. “Itu berarti kalian telah berhubungan entah sejak kapan.”

Masumi tersenyum “Resminya memang belum cukup lama. Namun perasaan kami sudah bertaut cukup lama,” Masumi tersenyum mengingat begitu lama dia sudah mendambakan Maya. “Sayangnya saat ini kami sama sekali belum bisa mengumumkan hubungan kami. Banyak hal yang masih harus menjadi pertimbangan. Tetapi setidaknya kami ingin menikah dulu secara resmi dan layak. Maya gadis yang baik dan pantas mendapat semuanya. Pernikahan di kuil dan direstui oleh keluarga dan teman.”

“Anda sudah menghubungi Pak Genzo.”

“Belum. Saya akan ke lembah plum untuk bertemu beliau. Namun saya ingin mengurus legalitas pernikahan kami secara hukum lebih dulu. Dan terus terang ini tidak mudah karena saya harus sembunyi dari kejaran wartawan.” Masumi terdiam beberapa lama. “Kenapa anda tidak terdengar terlalu heran?”

“Entahlah. Mungkin jauh di otak saya, saya mengetahui bahwa ini akan terjadi. Anda orang hebat, begitu juga Maya. Terus terang saya jarang memuji artis yang pernah bekerja dengan saya. Namun gadis itu istimewa. Cocok untuk orang seperti Anda. Kalian akan jadi pasangan yang luar biasa. Kalau saya boleh membantu, biarlah saya yang menemui Pak Genzo. Rasanya sudah lama sekali saya tidak bertemu beliau. Kira-kira kapan Anda ingin melangsungkan pernikahan?”

“Secepat mungkin,” jawab Masumi mantap.

Malam itu Masumi pergi ke kantornya kembali setelah mengucapkan selamat tinggal kepada Pak Kuronuma sekaligus berjanji untuk saling mengabari. Pak Kuronuma agaknya tak banyak tanya dan cukup memahami keinginan mereka untuk merahasiakan pernikahan dari publik.Bantuannya untuk menjelaskan maksud mereka kepada Pak Genzo sungguh sangat Masumi hargai. Dia tak menyangka bahwa kebaikan tanpa pamrih itu masih ada. Dan Masumi yakin Pak Kuronuma melakukannya semata-mata karena Maya.Namun Masumi masih harus melakukan banyak hal sebelum dia bisa hidup tenang berdua dengan Maya dan memulai mimpi mereka. Masumi ingin yang terbaik bagi Maya meski untuk saat ini semua serba tidak pasti dan penuh resiko. Masumi tidak akan ragu bahwa Maya akan menerima dan mencintai dirinya apa adanya. Namun Masumi sebagai laki-laki tak ingin calon istrinya harus menderita karenanya. Kehadirannya harusnya untuk melindungi dan menguatkan, bukan untuk menambah beban derita hidup Maya.

Di kantornya yang sepi Masumi kembali bekerja dengan serius. Namun kali ini bukan untuk Daito melainkan untuk dirinya sendiri. Masumi harus mempertimbangkan bermacam strategi dan menghitung dengan matang segala resiko dan keuntungan. Masumi cukup percaya diri bahwa dirinya seorang bussinesman yang hebat. Namun demi Maya dia tak mau gegabah. Apalagi yang harus dihadapinya nanti bukanlah orang sembarangan melainkan gurunya sendiri, Eisuke Hayami. Di tengah keheningan malam, hanya bunyi kemeresek kertas dan keyboard laptop yang menemani Masumi bekerja keras dan berkonsentrasi penuh. Namun bunyi getar ponselnya membuatnya menoleh. Saat melihat layar ponselnya, Masumi langsung mengangkatnya tanpa basa basi.

“Ada kabar bagus, Hijiri?” tanyanya to the poin.

“Saya sudah menemukan orang yang Anda cari Pak, dan sudah pula berhasil membuat kontak dengan beliau. Saat ini yang bersangkutan sedang dalam perjalanan panjang namun akan singgah selama kurang lebih tiga hari di Singapura minggu depan. Bila Anda berkenan, beliau berjanji untuk meluangkan waktu menemui beliau di sana.”

Masumi menghabiskan waktu beberapa saat untuk berbincang dengan Hijiri tentang bermacam hal yang berkaitan dengan pekerjaan, hingga akhirnya Hijiri berkomentar pendek. “Tentang orang yang ingin Anda temui itu Pak Hayami, sama sekali tidak ada yang tahu apa maksud Anda, bahkan juga saya.”

“Apakah itu menjadi masalah, Hijiri?”

“Tidak, terutama bagi saya. Namun saya ingin memastikan bahwa semuanya aman di tangan saya, Pak Hayami. Saya juga akan membantu sebisa saya tanpa Anda harus mengatakan apa rencana Anda.”

“Terima kasih Hijiri, atas tawaranmu.”

Minggu berikutnya, Masumi menunggu Maya di depan pintu apartemennya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, namun belum ada tanda-tanda kepulangan gadis itu. Sebelumnya Masumi sudah menelepon Rei untuk memastikan Maya tidak menginap. Dia sengaja tidak menelepon Maya untuk memberinya kejutan. Setelah menunggu sekitar lima belas menit, akhirnya Masumi mendengar suara mobil berhenti di depan. Tak lama kemudian dia melihat sosok mungil yang dicintainya muncul di koridor. Maya tampak sangat kelelahan sehingga dia tidak menyadari keberadaan Masumi di depan pintu apartemennya. Barulah ketika jarak keduanya tinggal lima meter gadis itu menyadari siapa yang berada di sana.

“Masumi!” teriaknya bahagia tak tertahan.

“Sstt...,” Masumi memberi tanda agar Maya jangan ribut. “Nanti tetanggamu bangun.”

Maya bergegas membuka pintu apartemennya. “Sudah lama menunggu?”

“Sekitar lima belas menit,” jawab Masumi mengikuti Maya masuk apartemen dan melepas sepatunya sebelum dengan Maya. Ruangan yang sempit itu semakin terasa sempit dengan kehadiran Masumi yang memenuhi ruangan dengan tubuh tingginya. Keduanya segera melepas pakaian hangat mereka dan menuju ruang tengah, dimana Masumi segera menarik Maya dalam pelukannya. “Mana ciuman untukku, hmm...?”

Maya menengadahkan wajahnya dengan mata berbinar. Namun Masumi diam saja, tak juga bergerak menciumnya. Maya mengerutkan kening dengan heran dan bibirnya cemberut.

“Aku ingin kau memberinya,” kata Masumi.

Maya pun tanpa ragu segera mengalungkan lengannya di leher Masumi dan menariknya membungkuk mendekati wajahnya. Setelah berada di jangkauan wajahnya diciumnya lembut bibir Masumi. Lelaki itu pun tak kuasa menahan godaan lebih lama lagi dan membalas ciumannya dengan menggelora. Tak berapa lama keduanya asyik berpelukan di depan televisi, tempat favorit mereka, menikmati segelas coklat panas.

“Kau habis dari pesta?” tanya Maya baru menyadari Masumi yang memakai baju sutra seputih salju dan tuxedo. Setelannya pun berwarna hitam formal.

“Iya, makan malam bersama kolega yang telah lama menjadi rekanan di Daito,” Masumi menjawab santai.

“Perempuan?” Maya bertanya menyelidik.

“Mereka pasangan yang sudah berumur. Namun mereka membawa seorang putri mereka.”

“Cantik?”

“Sangat cantik.”

“Pintar?”

“Dia lulusan sekolah desain interior di Paris.”

“Apa yang kau lakukan dengannya?”

“Kami berdansa satu atau dua lagu, aku tak ingat.”

Tiba-tiba Maya berdiri. “Lantas kenapa kau kemari? Apakah perempuan itu menolakmu?” katanya ketus.

Masumi memandang gadisnya yang sedang merajuk. Binar-binar jenaka berpendar di matanya. “Kau cemburu, Maya?”

“Siapa bilang? Aku hanya tidak suka dijadikan pilihan terakhir setelah kau ditolak perempuan lain.”

Tawa Masumi meledak. Membuat Maya semakin marah. Namun tawa Masumi kontan berhenti ketika melihat air mata meleleh di pipi Maya. Segera diraihnya Maya ke dalam pelukannya. “Maafkan aku, Mungil, karena telah menggodamu. Sepertinya kau sedang lelah sekali hingga bad mood begini,” bisiknya di telinga Maya dan dengan lembut diciumnya air mata Maya. “Kau tahu kan, bahwa kau satu-satunya gadis yang mengisi hatiku belasan tahun terakhir ini? Hingga aku melakukan segala cara untuk selalu dekat denganmu meski itu penuh resiko?”

“Aku sangat merindukanmu, namun kau sekalipun tak menghubungiku. Meski aku tahu bahwa kau begitu sibuk, namun aku tak bisa menahan kekhawatiranku sehingga aku berfikir yang tidak-tidak,” Maya mengakui dengan malu. “Lalu kau datang tiba-tiba begini.”

Masumi mengecup lembut dahi Maya.“Maya, buanglah semua keraguanmu. Meski aku tak menghubungimu namun tak pernah sekalipun aku melupakanmu. Kalau menuruti naluriku bisa-bisa aku seharian menungguimu di lokasi pengambilan gambar dan memarahi siapapun yang dekat denganmu. Kau ingin aku begitu?”

Maya menggeleng pelan.

“Aku tidak menghubungimu karena tidak mau merusak konsentrasi dan reputasimu. Aku tahu betapa pentingnya akting bagimu. Untuk itulah aku harus menahan diri.”

“Maafkan aku, Masumi, karena sudah cemburu tanpa sebab.”

“Tidak apa-apa. Akupun begitu. Di masa lalu entah sudah berapa kali aku cemburu. Waktu kau berpacaran dengan Satomi atau waktu kau begitu dekat dengan Sakurakoji,” Masumi berbicara seolah melamun. “Cemburu itu sangat tidak enak, apalagi karena kita tidak yakin dengan perasaan orang yang kita cintai.”

“Masumi, Satomi memang pernah singgah di hatiku, namun hanya sesaat. Aku sudah lama melupakannya. Sedangkan Sakurakoji bagiku tak lebih dari lawan main bagiku. Di hatiku hanya ada kamu,” Maya menangkup wajah Masumi dengan kedua telapak tangannya. “Maafkan aku.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, selama kita saling yakin dengan perasaan masing-masing,” dengan kata-kata itu Masumi kembali mencium Maya dengan lembut. “Sebetulnya aku ke sini selain karena aku sangat rindu, aku juga ingin mengataka kepadamu bahwa kita sudah bisa bisa menentukan tanggal pernikahan sekaligus merencanakan semuanya.”

“Benarkah?” Maya membelalakkan matanya.

“Benar, kita sudah bisa melakukan beberapa persiapan.”

Berdua mereka pun sepakat menentukan hari dan tempat mereka akan menikah. Sengaja mereka menunggu hingga jadwal tayang drama televisi Maya berakhir, yang berarti kurang dari dua bulan mendatang, dan sebelum kepastian pementasan Bidadari Merah diumumkan. Selain itu adalah waktu paling masuk akal buat mereka berdua, juga karena adanya beberapa persiapan khusus yang harus dilakukan oleh Masumi. Dalam adat tradisional pernikahan di musim semi diyakini sebagai hari baik dalam sistem kalender Jepang kuno. Maya dan Masumi membutuhkan semua keberuntungan yang bisa mereka dapatkan demi pernikahan mereka yang jauh dari ideal ini.

Sudah pukul dua dinihari ketika akhirnya Masumi berpamitan pulang.

“Aku benci setiap melihatmu keluar dari pintu itu meninggalkanku,” rajuk Maya manja.

“Kau pikir aku suka harus berpisah denganmu?” Masumi membelai rambut Maya. “Sabarlah, nanti akan tiba waktunya kita selalu berdua dan kau bisa melihatku setiap saat hingga kau bosan setengah mati,” Masumi tersenyum.

“Apakah kau sibuk sekali dengan pekerjaanmu?”

“Iya,” Masumi mengangguk. Kemudian seperti berfikir sebentar dia berhenti sesaat sebelum mengatakan, “Aku akan ke Singapura, pesawatku akan berangkat jam tujuh pagi ini.”

Maya mendongak memandang wajah calon suaminya. “Berapa lama kau ke Singapura?”

“Mungkin dua atau tiga hari, aku belum yakin, tergantung urusannya.”

“Apakah urusan Daito?”

Masumi menatap gadis itu. “Bukan. Ini untuk masa depan kita. Aku harus menemui seseorang di sana, bagian dari rencanaku.”

“Apakah kau akan membaginya denganku?”

“Nanti, bila saatnya tiba. Untuk saat ini semua masih konsep yang berputar-putar di kepalaku. Yang perlu kau lakukan hanyalah percaya padaku. Aku ingin yang terbaik untukmu.”

“Tapi aku tak mau kau perlakukan seperti anak kecil. Aku sudah dewasa. Mungkin aku bodoh dan tak bisa memahami cara berfikirmu yang rumit. Namun bukan berarti aku tidak ingin tahu.”

“Sabarlah, Maya, semua ada saatnya. Tunggulah. Saat semuanya terjadi kaulah orang pertama yang berhak tahu dan kaulah orang pertama yang merasakan resikonya bila sampai gagal. Aku tak mau mencelakakanmu.”

“Menikahiku akan sangat beresiko, bukan?”

“Itulah letak tantangannya dan sangat sepadan dengan imbalannya. Siap melaluinya bersamaku?”

“Pasti,” Maya mengangguk mantap. Kemudian seperti teringat sesuatu, Maya menuju ke tempat gantungan dimana tasnya berada. Setelah mencari-cari sejenak, akhirnya dia mengeluarkan serenceng kunci, memilih satu yang berbandul Big Ben dan memberikannya kepada Masumi. “Ini kunci apartemen ini, untukmu, agar kau bisa datang sewaktu-waktu.”

Masumi menerima kunci itu dengan senyum lebar. “Akhirnya...” dan diciumnya Maya kuat- kuat sebelum akhirnya dengan enggan beranjak pergi.

***

Musim dingin telah berakhir digantikan musim semi yang indah. Pucuk-pucuk pepohonan telah menunjukkan tunas-tunasnya dan meski udara masih dingin namun matahari telah bersinar cerah sepanjang hari. Malam itu Masumi menemani ayahnya yang tengah berbincang-bincang dengan Asa, pendamping setianya, di ruang keluarga kediaman Hayami yang mewah. Masumi menatap jauh keluar jendela. Pernikahannya berlangsung empat hari lagi dan Maya beserta teman-temannya telah pergi keluar kota untuk mempersiapkan segalanya. Sebetulnya Masumi juga ingin pergi. Tetapi selain karena Maya melarangnya dengan dalih Masumi akan lebih banyak berguna di Tokyo dari pada ke luar kota bersamanya, juga karena masih ada beberapa urusan yang ingin dia selesaikan. Surat ijin pernikahan sudah mereka daftarkan bersama dua hari lalu, dimana Maya dan Masumi harus sembunyi-sembunyi untuk pergi ke kantor pemerintahan setempat. Untungnya petugas yang menerima sudah begitu tua hingga tidak mengenali Maya sebagai artis ternama maupun Masumi yang sering muncul di surat kabar dan majalah bisnis, karena mereka memang berasal dari dua dunia yang berbeda. Sekarang meski secara hukum keduanya sudah sah sebagai suami istri, mereka sepakat untuk menunggu hingga upacara pernikahan shinto yang akan dilangsungkan di kuil sebelum menjalani kehidupan sebagai pasangan suami istri.

“Masumi, apakah aku sudah mengatakan kepadamu bahwa aku akan pergi ke Perancis Selatan dalam dua hari ini?”

Suara ayahnya memecahkan lamunan Masumi dan membuat lelaki itu menoleh memandang orang tua yang sedang duduk di kursi roda.

“Belum, Ayah,” jawabnya singkat. “Bukankah Ayah baru saja pulang dari Hawaii?”

“Ah, kemanapun aku pergi, apalah artinya? Toh semua urusan Daito sudah kau tangani dengan baik, sampai bosan aku mendengarnya. Mondar mandir di rumah juga membuat semua pelayan kewalahan saja mengurusi orang tua cerewet seperti aku. Lagipula umurku semakin tua, aku tak tahu lagi sampai kapan aku masih bisa menikmati bersenang-senang.”

“Kalau itu kemauan Ayah, aku tak akan mencegahnya.”

“Sebetulnya bila kau mau memberiku apa yang paling aku inginkan, mungkin aku akan sangat kerasan di rumah.”

“Apa itu ayah? Bukankah semua perintah ayah sudah aku kerjakan?”

“Seorang cucu, aku ingin seorang cucu, dua atau lebih juga akan sangat aku terima.”

“Ayah sudah tahu jawabanku.”

Eisuke tertawa terbahak-bahak. “Kau dingin sekali ya? Bahkan tak mau susah payah berbasa-basi.”

“Rasanya tak perlu lagi kita berbasa basi, Ayah, kita terlalu mengenal satu sama lain untuk buang-buang waktu dengan berbasa-basi.”

“Tahukah kau, Masumi, bahwa dalam khayalanku yang paling gila, aku berharap kau lepas kendali dengan seorang wanita hingga membuatnya hamil dan memberiku seorang cucu. Mungkin aku tak keberatan dengan keberadaan cucu hasil kecelakaan seperti itu. Tetapi orang dingin sepertimu tak mungkin lepas kendali,” Eisuke menertawakan dirinya sendiri.

Masumi hanya diam saja, memandangi kilau keemasan dari whiskey di tangannya. Andai saja ayahnya tahu.

“Kalau memang Ayah ingin pergi malam ini juga aku akan mengontak Mizuki untuk mengurusi semuanya sementara Paman Asa bisa mulai bersiap-siap,” katanya datar tanpa ekspresi.

“Kau sudah tak sabar kan?” tanya Eisuke tiba-tiba.

Masumi tercekat. “Apa maksud Ayah?” tanyanya dingin.

Eisuke terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan, “Kau sudah sangat tak sabar ingin aku cepat-cepat pergi agar tak memberimu pertanyaan dan tugas yang aneh.”

“Kupikir begitu. Semakin cepat ayah pergi semakin baik. Kebosanan membuat ayah berfikir yang tidak-tidak.”

***

Musim semi yang indah seolah tersenyum di hari pernikahan mereka. Lembah plum berseri cerahdengan datangnya hari bahagia sang bidadari. Masumi, dalam kimono sutra hitam, dengan didampingi oleh Pak Kuronuma dan istrinya, duduk tenang menunggu kedatangan mempelai wanita. Ingatannya melayang saat memandangi interior kuil tua itu. Kuil yang sangat bersejarah bagi dia maupun Maya. Di kuil ini, bertahun-tahun yang lalu, dalam curahan hujan deras, saat dia menghabiskan malam bersama Maya yang tertidur dalam pelukannya. Sekarang, kuil tampak cerah dalam hiasan perayaan yang didekorasi khusus untuk pernikahannya. Sinar matahari membiaskan warna kuning keemasan melalui jendela kuil yang membuat suasana bermandikan cahaya.

Sesaat kemudian rombongan mempelai wanita telah tiba. Maya, dengan didampingi Pak Genzo dan Rei, berjalan pelan menuju tempat upacara. Maya mengenakan kimono pengantin berwarna putih, dengan penutup kepala tsuni kakushi yang dipenuhi ornamen rambut kanzashi di bagian atasnya, sebagai simbol yang menutup semua tanduk kecemburuan, keakuan dan egoisme. Menempelkan penutup kepala pada kimono berwarna putih juga juga melambangkan ketetapan hatinya untuk menjadi istri yang patuh dan lembut dan kesediannya untuk melaksanakan perannya dengan kesabaran dan ketenangan. Wajahnya dirias dengan bedak putih khas pengantin tradisional Jepang. Dari dekorasi, suasana maupun busana yang dikenakan semua yang hadir, seolah membawa kembali Jepang tempo dulu dalam aura upacara yang magis. Masumi hampir menitikkan air mata menatap mempelai wanitanya yang tertunduk malu di samping Pak Genzo. Begitu lugu dan murni seolah semua dalam mimpi.

Setelah semua yang berkepentingan hadir, teman-teman Maya dari Teater Mayuko dan Ikkakuju, dengan Pak Kuronuma sebagai wakil dari keluarga Masumi dan Pak Genzo sebagai wali Maya, upacara pemurnian yang dipimpin pendeta pun dimulai. Mereka mengikuti dengan khidmat saat bait-bait mantra dibacakan. Setelah itu kedua mempelai mengikuti ritual sansakudo, berdua mereka bergiliran menghirup sake sebanyak sembilan kali dari tiga mangkuk yang disediakan. Kemudian Maya dan Masumi diikuti Pak Genzo dan Pak Kuronuma serta seluruh teman Maya, duduk saling berhadapan. Dengan mantap kedua mempelai mengucapkan janji pernikahan yang diakhiri dengan bersama seluruh keluarga meminum sake sebagai tanda pertalian dua keluarga yang baru saja terbina melalui sepasang mempelai. Upacara sederhana namun khidmat itu diakhiri dengan keluarnya sesaji ranting sakaki yang ditujukan kepada Dewa Shinto untuk mengusir roh-roh jahat.

Malu-malu Maya melirik suami barunya yang duduk tegak di sebelahnya. Kepalanya tertunduk dan pipinya memerah menyadari bahwa statusnya sekarang telah berubah. Menyadari tatapan tersembunyi istrinya, Masumi menoleh. Senyum bahagia menghiasi wajahnya. Dengan lembut diraihnya tangan Maya dan diremasnya pelan penuh sayang. Ungkapan sederhana yang cukup mengundang komentar dari teman-teman Maya dan membuat gadis itu semakin tersipu.

Jamuan makan siang berlangsung di pondok lembah plum dengan hidangan tradisional khas Jepang yang khusus dipesan dari katering. Pak Genzo berbaik hati meminjamkan pondok itu untuk acara resepsi sederhana maupun untuk malam pengantin, yang diterima dengan sangat sukacita oleh Maya dan Masumi karena pondok itu lebih berkesan dan menyimpan banyak kenangan dibandingkan hotel. Menjelang sore, saat petugas katering telah membereskan semuanya, semua pergi ke hotel, meninggalkan Maya dan Masumi untuk melewatkan waktu pertama mereka bersama sebagai sepasang suami istri. Siul-siulan usil dari teman-teman Maya yang menggoda keduanya membuat wajah gadis itu memerah seperti udang rebus. Sedangkan Masumi menerima segala godaan usil itu dengan senyum lebar.

***

Di kamar pengantinnya, dengan harum semerbak mawar jingga yang memenuhi sudut-sudut ruangan, malam itu Maya menanti dengan gugup kehadiran suaminya. Rambutnya yang panjang tergerai lepas di pundak. Tanpa riasan dengan mengenakan piyama tidur berwarna seputih salju berhiaskan bunga-bunga sakura merah, Maya duduk di atas futon yang terhampar di tengah ruangan menanti malam pertamanya sebagai seorang istri. Sesaat kemudian Masumi memasuki kamar. Tubuh tegapnya berbalut kimono tidur warna gelap, begitu gagah dan tampan membuat Maya tercekat tak percaya bahwa lelaki inilah yang telah menjadi seuaminya. Senyum Masumi lembut dan mesra menyambut tatapan gugup mata bening istrinya. Dia pun segera duduk di belakang Maya dan menarik gadis itu dalam pelukannya.

“Kau gugup, sayang?”

Maya mendongak. Bibirnya yang mungil tampak merah alami dan begitu ranum membuat Masumi tak tahan dan segera mendaratkan ciuman di sana. “Akhirnya aku memilikimu, rasanya hampir tak percaya,” desahnya di bibir Maya.

Malu-malu Maya merebahkan kepalanya di dada bidang Masumi. Lelaki itu meraih tangannya, mencium telapak tangannya sebelum akhirnya mengecup jemarinya satu persatu.

“Masumi...”

“Hmm...”

“Apakah kau keberatan bila kita menghabiskan malam ini di bawah kilau bintang?”

Masumi memandang istrinya. Melihat tatapan permohonan di sana. Kemudian senyum terkembang di bibirnya. “Tentu, sayang. Dan apakah kau tahu betapa cantiknya kau hari ini, bidadariku?”

Maya tersipu. “Kau hanya menggodaku,” tampiknya malu-malu.

“Tidak. Aku sungguh-sungguh,” dan seolah ingin membuktikan kesungguhannya, Masumi mencium Maya dengan penuh gelora.

Malam itu, mereka memadamkan lampu ruangan dan membiarkan tirai jendela terbuka. Sinar bulan memancar lembut menembus kaca jendela, dan di atas sana sejuta bintang berpendar mengiringi perpaduan mereka yang pertama sebagai dua jiwa yang menyatu. Masumi membimbing istrinya yang masih begitu muda dan lembut mengarungi puncak-puncak kenikmatan asing yang selama ini tak pernah dikenalnya. Penuh kesabaran dengan sentuhan lembut ujung jari dan bibirnya Masumi mengajari Maya bagaimana seharusnya seorang perempuan diperlakukan. Maya menggeletar kala gelombang demi gelombang yang membawanya ke puncak dan menghempaskannya hingga tak berdaya dalam rengkuhan Masumi yang juga meregang dalam ledakan gairahnya.

“Masumi, itu tadi apa?” tanya Maya pelan sambil menyelusupkan wajahnya yang bersimbah peluh ke dada bidang Masumi, menghirup aroma Masumi yang begitu khas dan sangat disukainya.

“Itulah cinta,” bisik Masumi sambil bergerak menjangkau leher Maya dan menghujaninya dengan ciuman-ciuman yang membuat Maya mendesah tak berdaya.

Malam itu mereka berdua saling belajar menjelajah kenikmatan yang timbul kala kedua tubuh bersentuhan, dengan bebas berusaha mengenal lebih intim dan memuaskan keingintahuan akan pasangannya. Maya yang semula masih malu-malu akhirnya dengan penuh percaya diri berusaha memberi suaminya kenikmatan sebesar yang telah diterimanya. Membuat Masumi mengerang tak berdaya di bawah sentuhan magis itu.

Sementara di sebuah villa yang terpencil di Perancis Selatan, Eisuke duduk terpekur di beranda ditemani pendampingnya yang setia.

“Informan menelepon untuk mengabarkan bahwa mereka telah melangsungkan pernikahan di kuil yang ada di Lembah Plum, Tuan,” Asa memberi laporan dengan suara pelan dan kepala tertunduk.

Eisuke, melamun memandang halaman yang cerah bermandikan sinar matahari, seolah tak mendengar laporan Asa.