Showing posts with label run to you. Show all posts
Showing posts with label run to you. Show all posts

Tuesday, January 24, 2012

Run To You (2)

Meski Lucy membutuhkan sepoci besar teh dengan susu yang banyak, mandi berendam selama setengah jam, serta membaca beberapa halaman surat kabar untuk melupakan insiden menyebalkan tadi pagi, usai makan siang moodnya sudah kembali. Bahkan setelah Lucy menunggu datangnya omelan Suster Kepala atau Suster Pengajar yang ternyata tak kunjung datang, akhirnya Lucy tertidur dengan damai. Dan saat gilirannya bertugas malam hari tiba dia dengan riang melenggang menuju ke bagian anak-anak yang ada di sayap bangunan terjauh di belakang gedung rumah sakit. Kebisingan yang terjadi di tempat yang dipenuhi makhluk-makhluk mungil yang kadang begitu menggemaskan namun tak jarang juga sangat menyebalkan tak juga mengendurkan semangatnya. Selain bertugas bersama tiga perawat senior, malam itu Lucy menerima kunjungan tak terduga dari Douglas Smithson, seorang dokter magang di unit gawat darurat yang menyempatkan diri menjenguknya sebelum pulang ke kamar sewaannya yang berada tak jauh dari rumah sakit. Di sela obrolan ringan penghilang kantuk di antara sepoci kopi, pemuda itu juga menemaninya menenangkan beberapa anak yang menolak untuk tidur dengan berbagai alasan yang intinya adalah ungkapan ketidak-nyamanan mereka atas penyakit yang diderita maupun karena tidak kerasan berada di tempat asing. Namun Doug yang begitu lembut bisa melunakkan mereka di saat Lucy hampir putus asa dan kehilangan cara untuk membujuk.
Doug pemuda yang baik. Lucy mengenalnya sudah setahun ini dan telah beberapa kali pergi berdua dengannya untuk makan malam maupun ke bioskop. Semula keduanya sama-sama berharap akan memiliki hubungan asmara yang indah. Namun keduanya akhirnya tak dapat mengingkari kenyataan bahwa mereka tak akan lebih dari teman dekat. Dengan Lucy Doug yang pemalu merasa nyaman untuk mengungkapkan semua perasaannya dan membuang semua rasa malu sementara Lucy yang ceria namun meledak-ledak serta berpandangan terbuka menanggapinya dengan apa adanya sebagaimana seorang sahabat yang baik. Hingga akhirnya mereka memutuskan bahwa hubungan persahabatan lebih berharga bagi keduanya dari pada hubungan asmara yang tidak nyambung. Chemistry antara keduanya sama sekali bukan di wilayah itu.
Lucy pulang pada hari liburnya dua minggu kemudian. Sebuah perjalanan jauh yang hanya bisa dia lakukan sebulan sekali. Sebuah desa kecil dekat Beaminster di antara perbukitan Dorset, yang artinya Lucy harus menggunakan kereta menuju Crewkerne, dimana ayahnya biasa menjemputnya dengan mobil Ford tua milik keluarga. Dan seperti biasa ayahnya telah menunggunya di stasiun. Laki-laki separuh baya dengan rambut merah wortel yang sekarang memudar dimakan usia serta mata biru lembut dan hangat, mewariskan semua garis wajah tidak istimewa serta postur kurusnya kepada putri bungsunya itu. Kecuali mata hijaunya tentu. Dan tak seorangpun dalam keluarga yang tahu dari mana warna mata Lucy berasal.
Di antara perjalanan dari stasiun menuju rumah ayah Lucy banyak bercerita tentang gossip-gossip di wilayah mereka, beberapa pasien, maupun obrolan ringan keluarga. Lucy menanggapinya dengan kegembiraan seperti biasa serta menceritakan dengan riang tentang kasus-kasus yang dipelajarinya baik di sekolah perawat maupun di rumah sakit tempatnya magang sekarang. Beberapa kali ayahnya mengerling kepadanya seolah meyakinkan diri bahwa putri bungsunya ini benar-benar segembira seperti yang ditampakkannya. Tak pernah sekalipun dia berhenti menyesali ketidak-beruntungan putri kecilnya ini. Di antara kelima anaknya hanya Lucy yang mewarisi ketidak-istimewaan wajah darinya. Keempat yang lain mewarisi rambut pirang madu serta tulang wajah tinggi menawan dengan hidung aristokrat dari ibunya. Keempat anaknya yang lain bermata biru, sama seperti kedua orang tuanya. Namun di antara mereka semua Lucy lah yang paling cerdas, kecerdasan yang sia-sia karena saat gadis itu menunjukkan minatnya untuk melanjutkan ke universitas mengikuti jejak ayahnya mengambil studi kedokteran, tidak ada lagi dana yang tersisa. Kedua kakak laki-lakinya masih belum lulus. Greg si nomor tiga sedang menjadi dokter magang di rumah sakit di Bristol sementara John yang hanya dua tahun lebih tua dari Lucy baru di universitas mengambil studi kedokteran juga. Miriam dan Charlotte menyadari kalau mereka tidak cocok dengan dunia pendidikan tinggi, jauh-jauh hari telah memutuskan menikah begitu lulus sekolah menengah dan sekarang keduanya telah menjadi ibu dari anak-anak yang memberi kontribusi sebagai cucu keluarga Prendergast. Tinggallah si bungsu Lucy, mengubur cita-citanya untuk menjadi dokter anak, memilih tetap berkarir di rumah sakit sebagai perawat. Meskipun aku tidak bisa menjadi dokter, paling tidak aku masih memiliki peluang menjadi istri dokter, begitu selalu candanya berusaha membesarkan hati.
Mrs. Prendergast menyambut kedatangan keduanya dengan senyum hangat dan ceria di pintu rumah yang meski cukup besar namun sangat sederhana itu. Diciumnya penuh cinta putri kesayangannya itu serta mengabarkan bahwa sore nanti seluruh kakak-kakak Lucy beserta ipar dan keponakan akan datang berkumpul untuk makan malam. Lucy dengan bahagia mengikuti ibunya ke dapur. Sementara ibunya sibuk melakukan entah apa di sekitar kompor Lucy duduk di meja makan sambil menikmati strawbery segar yang terhidang di keranjang di atas meja mendampingi kue buah yang cukup besar.
“Rasanya aku bisa menghabiskan kue buah ini seoarnag diri,” celetuknya. “Aku sudah begitu bosan dengan makanan rumah sakit dan makanan murah di kedai pinggir jalan.”
“Apakah kau belum bertemu pemuda tampan, seorang dokter mungkin, yang cukup punya uang untuk mengajakmu makan makanan layak di restoran, sayang?” tanya ibunya sambil lalu.
“Belum,” jawab Lucy singkat, dan entah kenapa bayangan wajah professor tampan yang angkuh itu berkelebat di matanya. “Kebalikannya malah aku membuat seorang professor tersinggung berat dan marah.”
“Oh ya? Pasti kau tidak sengaja kan sayang?”
Terpujilah hati bersih ibunya yang tak pernah berprasangka buruk. Yang menganggap dan memperlakukan semua anaknya meski sudah beranjak dewasa masih sebagai bayi mungil berhati malaikat yang tidak mungkin akan melakukan kesalahan kecuali tanpa di sengaja.
Obrolan tentang Lucy membuat seorang professor marah muncul lagi saat makan malam keluarga besar itu. Kakak-kakak Lucy yang telah menikah memang tinggal tidak jauh dari rumah orang tuanya. Sementara kedua kakak laki-lakinya selalu senang pulang saat seluruh anggota keluarga berkumpul. Sehingga setiap kedatangan Lucy selalu disambut meriah membuat Lucy selalu merasa disayang sebagaimana layaknya putri bungsu.
“Apakah professor itu sudah tua?” tanya Charlotte yang paling cantik di antara perempuan keluarga Prendergast.
“Cukup tua juga, mungkin sekitar empat puluh tahun,” sahut Lucy santai sambil mengambil sepotong besar pudding. “Tetapi dia belum punya anak dan belum menikah.”
“Oh ya? Bagaimana kau mengetahuinya? Gosip?”
“Dia mengatakannya kepadaku.”
Sebuah pernyataan yang sangat memancing rasa ingin tahu. Tapi Lucy dengan gayanya yang tidak peduli mengatakan bagaimana dia bisa bertatap muka dengan professor itu.
“Apakah dia tampan?” kali ini Miriam yang bertanya. Dia telah berhasil menyerahkan Timmy, anak bungsunya yang berusia dua tahun itu, dalam pengawasan suaminya.
“Sangat. Dia tinggi besar, rambut pirang, mata biru dan memiliki belahan dagu. Cocok sebagai seorang playboy.” Lucy berhenti sebentar untuk berfikir. “Dan dia memiliki suara yang bagus, berat dan dalam.”
“Tetapi sepertinya kau tidak suka padanya, sayang,” sahut ibunya.
“Mom, professor itu juga sangat tidak suka padaku,” jawabnya cepat. “Bayangkan saja, tertidur saat dia memberi ceramah? Benar-benar tak termaafkan.”
“Tetapi dengan begitu kau malah bisa berbicara langsung dengannya kan?” Miriam mengerling geli.
“Kalau aku itu Miriam atau Charlotte, kalian pasti tahu kata-kata yang tepat dan apa yang harus dilakukan dalam menghadapi laki-laki. Tetapi aku malah membuatnya lebih marah. Dan itu membuatku juga semakin marah. Aku pergi begitu saja dari hadapannya tanpa ba bi bu lagi,” sungut Lucy yang disambut gelak tawa semua yang mendengarkan. “Tetapi tidak apa-apa. Aku tak memiliki wajah menawan untuk diingat. Dalam waktu sebentar dia juga pasti sudah akan lupa,” tambahnya.
“Tetapi penampilan kan bukan segalanya, Lucilla,” ayahnya menimpali. Meski Lucy agak jengah dipanggil dengan nama panjangnya namun ayahnya selalu tak pernah mendengarkan keberatannya. “Mungkin ungkapan penyesalan yang sepantasnya karena tertidur saat ceramah dengan alasan masuk akal dan kata-kata yang manis akanmenciptakan opini yang bagus terhadap dirimu, sayang.”
“Tapi sayang,” ibunya menyahut, “Kau kan tahu bahwa putri kita itu terlalu manis dan jujur sehingga selalu mengungkapkan apa yang dipikirnya. Aku takkan pernah menyalahkannya. Dia memang seharusnya beristirahat dan tidak hadir dalam ceramah itu.”
“Tapi Mom, kalau Lucy tidak hadir, dia tidak akan pernah mengenal spesies laki-laki paling luar biasa itu,” Greg berkata iseng. “Ya kan, Luce?”
“Harusnya kau tetap bersikap manis padanya, Sist,” kali ini John yang ikut nimbrung.
“Tidak perlu. Dia pasti sudah diperlakukan sangat manis oleh semua perempuan yang ditemuinya. Dia jenis orang yang hanya akan makan di restoran kelas atas dan bergaul dengan kalangan atas serta membuat segerobak uang dengan praktek pribadi yang mahal.”
“Apakah ada kemungkinan kau akan bertemu dengannya lagi, sayang?” tanya ibunya belum putus asa.
“Sepertinya tidak. Dia orang Belanda, Mom. Dia datang karena permintaan Sir Wyatt, direktur rumah sakit yang sepertinya berteman dekat atau kenalan begitu.”
“Omong-omong tentang Belanda, kalian ingat teman Dad yang orang Belanda kan?” tanya ayahnya. “Dokter De Groot. Beberapa hari lalu dia menelepon Dad dan mengatakan bahwa dalam beberapa hari ke depan dia akan menghadiri sebuah seminar di London. Dan dia tidak lupa padamu, Lucilla. Dia juga menanyakan kabarmu. Dia masih ingat bahwa kau sekarang sedang di St. Norbert Hospital, Dad pernah menyinggungnya saat dia menelepon beberapa bulan yang lalu. Kami memang masih berkirim kabar dan kartu Natal, kau ingat? Dia berjanji kalau ke London nanti dia akan menemuimu. Dan dia juga masih ingat akan kunjunganmu ke Belanda belasan tahun yang lalu. Bukankah putrinya sebaya denganmu?”
Mata Lucy langsung membelalak penuh suka cita. “Oh iya, Mies dan Jaan. Mereka dulu baik sekali padaku. Juga Mevrouw De Groot. Sayang Mevrouw sudah meninggal.”
“Dokter De Groot bilang ingin mengundangmu lagi ke sana. Putrinya ingin bertemu denganmu. Kau tidak keberatan kan kalau Dad memberikan nomor handphonemu padanya?”
“Tentu tidak, Dad. Diundang ke Belanda? Pasti asyik.”
“Tetapi, Lucy, bagaimana kabarnya Doug temanmu itu?” Charlotte mengembalikan pembicaraan. Setelah kedua gadis tertua menikah dan bahagia, mereka rupanya sepakat untuk turut campur dalam kehidupan asmara Lucy yang bisa dikatakan gersang itu.
“Masih baik-baik seperti biasa. Kami sering pergi bersama bila waktu memungkinkan. Kenapa?”
“Apakah hubungan kalian akan berkembang lebih dekat?”
“Tentu. Saat ini kami sangat dekat seperti saudara. Bahkan sepertinya aku akan mencomblanginya mendekati Jessica, temanku sesama siswa perawat.”
“Astaga, Luce! Buat apa kau comblangi temanmu bila kau sendiri belum pernah dapat pacar sekalipun?”
“Hei! Hei! Kok kalian yang sewot sih?” tanya Lucy geli memandang wajah-wajah sebal di sekitarnya.
Saat libur berakhir, berbekal sekotak besar makanan dan kue-kue buatan ibunya, Lucy meski dengan berat hati kembali ke London. Kali ini Greg yang sedang ada urusan di London menemaninya naik kereta api dan taksi. Lucy sampai di St. Norbert saat sudah hampir senja. Dengan bawaan cukup banyak tubuh kurusnya tertatih-tatih menaiki tangga depan rumah sakit. Karena terlalu repot dengan barang-barangnya Lucy tak memperhatikan kehadiran Doug yang sedang melintasi lorong.
“Luce!” panggil pemuda itu.
Lucy mendongak dan tertawa lebar melihat siapa yang memanggilnya. “Hai, Doug! Bisa kau bantu aku?”
“Pasti,” Doug mendekat. Sebelum mengambil barang bawaan dari tangan Lucy pemuda itu mencium pipi Lucy. “Aku sudah tidak sabar mencicipi oleh-oleh kue buatan ibumu.”
“Jangan khawatir, ada banyak makanan yang kubawa. Dan teman-temanku terlalu ketat dengan diet mereka untuk dapat menikmatinya.”
Dan dengan tertawa-tawa keduanya berjalan menuju mess perawat di bagian belakang gedung. Namun keduanya tak memperhatikan sepasang mata yang memperhatikan dengan rasa tertarik dari depan pintu ruang konsultasi dokter-dokter spesialis yang berada di salah satu sayap rumah sakit dengan salah satu lorongnya yang terhubung dengan lorong utama.
Fraam telah berada kembali di London sejak kemarin. Dan demi memenuhi janjinya dengan Sir Wyatt untuk meninjau sebuah kasus dia berada di St. Norbert sejak siang tadi. Bersamanya seorang kawan lama, Professor James Willis. Meski Professor Willis lebih banyak beraktifitas di St. Agnes Hospital, namun dia juga memiliki beberapa pasien di St. Norbert. Dulu mereka sering bertemu dalam kegiatan-kegiatan medis maupun seminar yang diselenggarakan di berbagai penjuru dunia. Dan mereka semakin dekat ketika adik perempuan Professor Willis, Joana, menikah dengan Duert, adik lelaki Fraam beberapa tahun yang lalu.
Professor Willis, atau James, beberapa tahun lebih tua dari Fraam. Sangat tampan dengan wajah aristokrat khas Inggris, yang sekarang semakin bersinar dengan kebahagiaan setelah mempersunting seorang dokter yang berpenampilan manis dan tenang, Caroline. Fraam semalam memenuhi undangan makan malam keluarga itu yang sekarang menetap di rumah besar di Richmond bersama putra mereka yang baru berusia satu tahun. Hubungan James dan istrinya sepertinya sangat kokoh, siapapun bisa melihat betapa James memuja istri mungilnya itu. Fraam yang cukup lama mengenal James agak terkejut dengan wanita pilihan James. Seperti dirinya James tak kurang pendamping wanita yang berwajah laur biasa glamor dan menawan. Namun sepertinya Caroline yang bermata hijau itu telah menjadi pelabuhan hati James setelah sekian lama. Yang tiba-tiba mengingatkan Fraam pada gadis bermata hijau yang lain. Lucy, gadis berambut wortel berlidah tajam dan agak kurang ajar yang tanpa Fraam kehendaki menyita perhatiannya lebih dari yang seharusnya.
Dan sekarang saat Fraam terlibat pembicaraan serius dengan James dan Sir Wyatt, tiba-tiba telinganya menangkap seseorang menyerukan nama Lucy. Atau kedengarannya seperti Lucy. Dan benar saja dalam waktu tak terlalu lama dia menyaksikan Lucy dengan seorang pemuda yang sepertinya dokter magang berjalan berdua sambil tertawa-tawa melintasi lorong. Dan Fraam hampir meragukan ketajaman matanya karena di bawah lampu lorong yang tidak terlalu terang wajah Lucy yang sedang tertawa terlihat begitu segar dan secara tak terduga, cantik. Ya Tuhan, kalau Lucy Prendergast tampak cantik di matanya sepertinya dia harus cepat-cepat memeriksakan matanya.
Dokter De Groot menelepon Lucy tepat saat gadis itu akan beristirahat minum teh seusai dinas malam. Kawan lama ayahnya itu berniat untuk mengajaknya keluar untuk berbincang melepas rindu setelah sekian lama tidak bertemu. Namun setelah tarik ulur menemukan kecocokan waktu akhirnya mereka berdua memutuskan dengan sangat menyesal bahwa jadwal kerja Lucy yang padat ternyata tidak bisa bertemu dengan jadwal seminar Dr. De Groot. Namun Lucy menyanggupi untuk menerima undangan keluarga De Groot berlibur ke Belanda saat cutinya tiba. Akhirnya disepakatilah sebuah tanggal di bulan depan saat Lucy akan berangkat ke Belanda. Setelah mengucapkan terima kasih dengan manis dan tak lupa menitip salam sayang untuk Jaan dan Mies, Lucy menutup pembicaraan dengan hati berbunga-bunga.
Seminggu kemudian Lucy kena giliran dinas pagi. Itu artinya adalah makan siang yang sering kali terlambat sementara waktu makan malam masih jauh. Dan bila cukup beruntung kantin akan tetap buka meski dengan menu sisa-sisa yang orang lain enggan untuk memakannya. Namun Lucy dan rekan-rekannya senasib tidak cukup beruntung sore itu. Jam makan siang telah lama berlalu karena sudah menunjukkan pukul empat lewat saat mereka meninggalkan ruangan. Ketika melihat etalase makanan di kantin Lucy hampir kehilangan selera makan. Salad yang tersisa hanyalah tinggal daun lettuce yang telah layu dengan anchovy yang sudah mengeras dan saus yang berlendir menjijikkan. Sementara roti yang harusnya hangat, empuk dan lembut tinggal bongkahan keras dan menghitam yang sama sekali tak layak makan. Maka bersama delapan rekan lainnya Lucy memutuskan untuk mencari fish and chip dari kedai di seberang jalan yang biasanya tetap buka hingga tengah malam. Dan karena di antara mereka semua hanya Lucy yang paling muda dan paling tidak terbiasa dengan ritual sebelum tidur seperti menggulung rambut atau memasang aneka masker di wajah demi menjaga kecantikan alami, maka Lucylah yang didaulat untuk membelikan mereka semua.
Maka disinilah Lucy sekarang. Tanpa repot-repot mengganti baju, hanya dengan memakai mantel tipis untuk menutupi seragamnya dan dengan mendekap bawaan dalam kantong kertas Lucy berjalan riang menembus lalu lintas padat kota London menuju ke pintu masuk rumah sakit. Kepadatan para pejalan kaki serta kebisingan beragam kendaraan yang memenuhi jalan raya tak menghalangi langkah gadis itu yang ringan berirama bak menari. Namun tiba-tiba
Dan Lucy tanpa repot-repot mengganti baju seragamnya, hanya memakai mantel dan melenggang ceria dengan langkah-langkah kakinya yang ringan sehingga seolah menari, menuju keluar rumah sakit. Namun langkah Lucy terhenti manakala seorang anak, laki-laki, yang rupanya terlepas dari gandengan tangan ibunya, berlari melesat menabrak Lucy. Tak cukup sampai di situ, rupanya si anak tersebut langsung menghambur menuju jalan raya,meninggalkan padatnya pejalan kaki di trotoar menuju lautan mobil, taksi dan bus yang merayap dalam macetnya lalu lintas petang. Lucy yang mengetahui hal tersebut secara refleks berlari mengejar si anak, meninggalkan ibunya yang tengah menjerit histeris. Dalam sekajap mata Lucy telah berhasil menjangkau si anak yang telah tiba di seperempat lebar jalan raya. Hanya saja keduanya tak menyadari manakala sebuah taksi bermanuver merebut tempat kosong yang ditinggalkan sebuah mobil dan hanya Tuhan yang tahu bagaimana akhirnya bumper taksi tersebut menghantam Lucy yang hampir berhasil menjangkau trotoar dan mengakibatkan keduanya jatuh terpelanting setelah sempat terseret beberapa meter jauhnya. Namun Lucy bukanlah Lucy kalau tidak bisa mengantisipasi kejadian itu secepat refleksnya berjalan. Pengalaman berkelahi dengan dua abang yang badung mengajarkan padanya bagaimana cara terjatuh dengan aman. Dan kebaikan hatinya yang tanpa sadar telah tertanam dalam jiwanya sejak kecil mengatur gerak tanpa sadarnya sehingga dia bisa terjatuh dengan mengorbankan punggungnya sendiri demi menyelematkan si bocah dalam pelukannya.
Semua terjadi seolah hanya dalam sekejap mata. Dan ketika akhirnya Lucy sadar dirinya telah dikerumuni begitu banyak pejalan kaki termasuk ibu si anak yang masih histeris. Lucy merasa dirinya konyol sekali karena dalam kondisi terlentang di trotoar, kepalanya terasa sakit luar biasa akibat membentur beton, ditambah lagi kantung ikan cod dan keripik yang tadi dipeluknya di dada sekarang sudah tak karuan bentuknya terhimpit oleh si anak yang ditolongnya. Namun di antara semua orang yang mengerumuninya matanya hanya terpaku pada sosok tinggi besar yang berhasil menyeruak di antara kerumunan orang dan sekarang menatap Lucy dengan tatapan setengah geli setengah mengejek. Professor der Linssen.
“Well...well, ternyata kamu lagi,” komentarnya dan dengan luwes membungkuk untuk menarik si kecil yang masih erat memeluk leher Lucy sambil melolong-lolong ketakutan.
Setelah memberikan si kecil kepada ibunya dan meminta si ibu segera menuju ke Unit Gawat Darurat St. Norbert yang berada hanya beberapa meter dari lokasi kejadian, dia menoleh kembali ke arah Lucy. Gadis itu sedang bersusah payah bangkit dan dengan raut muka semerah udang rebus menolak beberapa orang yang berusaha menolongnya. Dan ketika Professor mengulurkan tangannya Lucy hanya mendenguskan “Terima kasih, saya bisa sendiri,” ucapan yang sia-sia karena laki-laki tersebut alih-alih mendengarkan dengan gentleman menuruti permintaan Lucy, dia malah dengan satu gerakan mudah mengangkat Lucy dan menggendongnya. Langkahnya tegap dan panjang membawa Lucy menuju halaman rumah sakit, mengabaikan sejuta protes yang terlontar dari mulut Lucy.
“Diamlah, Lucy. Lebih baik hemat nafasmu,” katanya dan dengan iseng menambahkan, “Kau bau ikan!”
Dengan Lucy dalam gendongan, Professor menyusul wanita yang membawa si bocah menuju ke Unit Gawat Darurat di bagian depan rumah sakit. Begitu mereka tiba serombongan perawat, beberapa dikenal oleh Lucy, datang dengan kursi roda. Dengan hati-hati Professor meletakkan Lucy di kursi roda. “Anak laki-laki itu aku yakin tidak terluka terlalu parah, tetapi dia tetap harus diperiksa,” katanya kepada dokter magang yang sedang berjaga dan menyambut mereka. Kemudian menoleh ke arah Lucy. “Dan kau, Miss Prendergast, kau mengalami benturan cukup keras di kepalamu dan juga goresan di sepanjang bagian tubuh belakangmu.”
Lucy terdiam seperti memikirkan sesuatu.
“Tak perlu berpura-pura tidak sakit, Lucy. Aku melihatmu ketika terseret taksi dan terpelanting ke trotoar itu. Lebih baik kau segera masuk ke ruang periksa dan bersiap diri. Kau pasti tahu prosedurnya.”
“Saya tidak berpura-pura, Professor. Saya sedang berusaha memutuskan mana bagian tubuh saya yang paling sakit,” balas Lucy sewot.
“Oh ya, untuk siapakah semua makanan yang tadi kau bawa? Aku bisa mengusahakan menggantinya karena pasti mereka sedang menunggu.”
“Itu untuk perawat di asrama kamar B-8. Sembilan potong ikan cod dan sekantung keripik kentang ukuran besar. Terimakasih kalau Anda bersedia menyuruh seseorang untuk membelikan gantinya. Namun Saya sedang tidak membawa uang cukup, Professor. Tapi nanti akan saya akan titipkan uang penggantinya kepada porter di depan untuk Anda.” Lalu dengan ekor matanya dia melihat Doug yang sedang bergegas ke arahnya. “Dokter Smithson sedang menuju kemari, saya bisa meminta tolong kepadanya,” kata Lucy. Lalu dengan tersenyum manis, seolah segala kekesalannya hilang dia berkata, “Terimakasih banyak, Professor der Linssen karena telah menolong saya.”
Lucy tak sempat memperhatikan ekspresi sang professor karena saat Doug mendekat dia telah didorong perawat masuk ke ruangan oleh perawat sementara Doug berbicara dengan professor.
Di dalam ruang periksa Lucy meminta perawat meninggalkannya dan segera menyiapkan dirinya sendiri untuk diperiksa. Dilepasnya semua pakaiannya yang penuh debu, minyak dan bau amis. Dia mencuci tangan dan wajah di wastafel lalu mengenakan baju periksa. Kasur tipis berlapis finil itu tampak begitu menggoda bagi Lucy yang baru menyadari kalau dirinya kelelahan. Segera dia membaringkan dirinya disana, menarik selimut dan mengatur posisi tidurnya tertelungkup sehingga siapapun yang nanti memeriksanya tidak akan kesulitan. Seketika saat kepalanya menyentuh bantal, seketika itu pula kantuk menyerangnya. Sehingga saat terdengar suara tirai digeser dan langkah kaki mendekat ke tempat tidur, dia berada di batas kesadaran antara tidur dan bangun.
“Nah, Lucy, mari kita lihat seberapa parah luka yang kau alami,” suara berat Professor der Linssen terdengar. Lalu terdengar seorang perawat datang dan menimpali beberapa perintah professor.
Keheranan yang menghampiri kepalanya kenapa Professor yang muncul dan bukan Doug terkalahkan oleh kantuk luar biasa. Dalam sedetik Lucy telah terlelap.
Lucy terbangun setelah tertidur selama satu jam. Paling tidak jam di dinding memberitahukan demikian. Mendapati seorang perawat senior di sebelahnya.
“Ah, rupanya kau sudah terbangun, sayang. Professor yang orang Belanda itu tadi memintaku menunggu sampai kau terbangun sendiri. Baik hati sekali dia, mau memeriksamu sendiri. Kau tahu berapa ongkos seorang konsultan kaliber internasional seperti dia dalam sekali periksa?” katanya seraya membantu Lucy bangkit.
“Ya, Suster,” sahut Lucy patuh.
“Kau mengalami lebam dan goresan punggung yang sangat parah. Namun untungnya tidak ada tulang patah. Professor sendiri bilang bahwa kau memiliki gerak refleks yang bagus sehingga memperingan luka-lukamu. Dia berada di sana saat kejadian.”
“Kenapa Professor der Linssen merasa perlu untuk memeriksa saya Suster? Kan cukup dokter praktek? Saya lihat Dokter Smithson sedang bertugas.”
“Dia sedang berada di sini. Dan karena dia melihat langsung semuanya wajar bila dia merasa itu sudah menjadi tanggung jawabnya. Nah sayang, sebentar lagi seseorang akan membawakanmu kursi roda dan mengantarmu ke asrama. Di sana pengurus asrama akan membantumu untuk mandi air hangat dan semua keperluanmu yang lain. Ku harap kau beristirahat. Professor der Linssen telah menuliskan catatan untuk Kepala Ruang tempatmu berdinas agar memberimu waktu istirahat selama minimal lima hari hingga luka-lukamu sembuh.”
“Lalu anak laki-laki itu?”
“Dia baik-baik, sayang. Dan sudah pulang bersama ibunya. Tadi ibunya kesini untuk mengucapkan terimakasih. Karena kau sedang tidur dia berjanji akan kembali besok. Nah, sayang, itu sudah datang orang yang akan menolongmu. Lebih baik kita segera bersiap.”
Hari berikutnya Lucy merasa seperti selebriti. Teman-temannya tak henti-henti datang baik membawakannya berbagai makanan maupun untuk sekedar bergossip. Tak kurang dari Kepala Perawat yang mengunjunginya, menyanjungnya atas tindakan heroik yang dilakukannya, sesuatu yang diterima dengan muka merah padam karena malu oleh Lucy. Sepanjang hidup Lucy tak pernah menerima begitu banyak perhatian dan pujian seperti ini. Bahkan pada petang itu jantungnya serasa copot saat direktur sendiri, Sir Wyatt, datang mengunjunginya. Lucy yang tidak pernah berada sedekat ini dengan orang nomor satu di St. Norbert, merasa grogi dan menjawab pertanyaan kebapakan dari direktur dengan terbata-bata. Namun semua kehebohan itu belum seberapa dibandingkan yang terjadi keesokan harinya manakala seorang perawat membawakan bingkisan luar biasa mencolok mata untuk Lucy. Rangkaian bunga yang pasti mahal dengan pita cantik, sekotak besar coklat mahal, sekaleng kopi dan sekotak teh yang semuanya dari Fortnum Mason, serta setumpuk majalah mengkilap serta novel-novel yang pasti akan disukai oleh gadis-gadis seusianya.
“Nah. Miss, apapun yang kau pikirkan tentang konsultan dan dokter spesialis, paling tidak ada satu yang cukup menghargai perbuatanmu dengan layak, atau malah berlebihan?” canda Suster Edgar si pembawa paket.
Lucy hanya tersenyum menanggapi gurauan perawat yang lembut itu. Apalagi ketika kamarnya diserbu oleh teman-temannya yang sangat penasaran dengan paket yang diterima Lucy. Bahkan selembar kartu berwarna hijau dari kertas mahal berisi coretan professor yang berantakan berisi kata-kata : Untuk Miss Prendergast, semoga lekas sembuh. Fraam der Linssen, tak luput dari perhatian mata-mata menyelidik itu. Dia pernah mengatakan namaku aneh, padahal namanya sendiri begitu sulit diucapkan. Mulutku serasa penuh hanya untuk mengucapkan namanya secara lengkap. Dan tulisan tangannya luar biasa kacau, seolah dia mencelup seekor laba-laba ke dalam tinta dan menyuruhnya berjalan di atas kertas, omel Lucy dalam hati.
Ternyata waktu pemulihan selama lima hari bagi Lucy berlalu terlalu cepat. Pada hari terakhir Lucy merasa dia sudah sehat seperti sedia kala dan sore itu dia menghadap ke kepala ruang anak untuk menerima jadwal kerjanya yang akan dimulai normal keesokan harinya. Sesudahnya karena hari masih panjang untuk dihabiskan di asrama Lucy memutuskan pergi berjalan-jalan ke mall. Sekedar window shopping pasti bagus untuk moodnya. Maka Lucy pun keluar dari lingkungan rumah sakit untuk pertama kalinya setelah lima hari menuju ke keramaian manusia yang sibuk beraktifitas di jalan. Saat di perempatan Knightsbridge lampu hijau untuk pejalan kaki menyala. Bergegas Lucy mengikuti yang lain menyeberang jalan. Tiba di tengah jalan matanya menangkap semuah mobil mewah, Aston Martin model terbaru yang tengah menanti lampu hijau buat kendaraan. Namun yang lebih menarik perhatian Lucy adalah si pengemudinya. Professor der Linssen. Tak salah lagi. Jadi dia masih berada di London. Dan perempuan yang berada di sebelahnya, berambut pirang dan begitu trendy seolah salah satu finalis British Next Top Model. Pasangan yang luar biasa dan membuat bibirnya secara tanpa sadar menganga. Namun Lucy buru-buru mengalihkan pandangan dan berlalu secepatnya. Apa yang dilakukan professor sok ganteng itu di luaran dengan gaya hidupnya yang glamor itu toh bukan urusannya. Meski dengan gemerlap kehidupan kalangan atas yang dilakoninya sangat mengherankan bila professor masih terpikir untuk mengiriminya bunga dan bingkisan. Barangkali juga itu semua dilakukan oleh sekretarisnya. Laki-laki itu cukup menuliskan kartu sekedarnya untuk memberikan sentuhan personal. Sesuatu yang cukup mudah dilakukan. Dengan itu Lucy pun membuang segala pikiran tentang professor yang agak aneh tersebut dan meneruskan rencananya menuju pusat pertokoan.
Apapun yang dipikirkan oleh Lucy, ternyata Fraam melihat saat gadis itu berjalan dengan langkah kakinya yang ringan berirama, seperti menari, begitu Fraam mendefinisikan gaya jalan Lucy yang sepertinya hanya dimiliki oleh gadis itu seorang. Rambut wortelnya berantakan tertiup angin. Dengan mengenakan celana denim dan blus ditutup jacket serta sepatu santai gadis itu tampak begitu muda. Seperti gadis sekolah menengah saja. Dan entah kenapa setiap nama Lucy melintasi kepalanya Fraam semakin sadar betapa usianya sudah tidak muda lagi. Dan itu untuk pertama kalinya, setelah bertahun-tahun menyandang gelar bujangan dengan sangat bangga, Fraam merasa sangat tidak nyaman. Seperti kali ini. Tanpa sadar matanya mengikuti gadis itu hingga hilang dari pandangan. Sekilas tadi sempat dilihatnya gadis itu menoleh ke arahnya, atau ke arah mobilnya yang memang glamor. Tapi hanya sebentar. Sebelum dia kembali melenggang menyeberangi jalan entah kemana.
“Apa yang kau lihat?” tanya Chantal, si blonde di sebelahnya.
“Bukan apa-apa. Kupikir aku melihat seseorang yang kukenal,” dan lampu pun berubah hijau untuk kendaraan. Tanpa banyak bicara Fraam menjalankan mobilnya. Diliriknya sekilas perempuan di sebelahnya. Putri salah satu kolega. Gadis sosialita yang terbiasa dengan gaya hidup kelas atas, yang tak akan mau bersusah payah bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Sokongan dana tak terbatas untuk memenuhi gaya hidupnya dari orang tuanya serta deretan calon suami kaya raya yang potensial telah dipersiapkan oleh para orang tua untuk putrinya. Fraam mendengus dalam hati. Kehidupan seperti ini, mendampingi perempuan-perempuan cantik makan malam di restoran mewah, dimana mereka bahkan terlalu takut untuk menikmati makanan-makanan mahal itu demi alasan diet ketat, atau menonton opera meski dia menyukainya, namun tanpa partner yang tepat akan terasa sangat hambar, mulai terasa membosankan. Kadang Fraam lebih menikmati jam kerjanya yang panjang dan berat di rumah sakit atau bersantai di rumahnya dalam kesunyian, membaca buku, mendengar musik, ditemani anjing golden retriever miliknya. Sepertinya aku benar-benar mulai menua, batinnya.
Hari-hari berlalu dengan normal bagi Lucy. Jam kerja yang panjang dan melelahkan di ruang anak-anak, kuliah menjemukan dari para tutor di hall, bergossip dengan teman-temannya, jalan-jalan keliling mall, satu dua kali keluar makan malam atau nonton bioskop, kadang dengan teman sesama siswa perawat, namun juga sering dengan Doug. Sesuatu yang sangat normal bagi gadis pekerja berusia awal dua puluhan seperti dirinya. Sesekali dia masih ingat sosok professor tampan dari Belanda itu. Namun hanya sekilas. Meski rasanya tak percaya kalau laki-laki itu dengan pandangan mata yang mengejek, mengatainya bau ikan, namun juga yang membopongnya menuju rumah sakit, bahkan mengiriminya bingkisan yang terlalu berlebihan untuk gadis sepertinya. Ah, kenapa pula aku harus pusing, itu uangnya sendiri. Dan mungkin baginya mengeluarkan uang untuk membeli bingkisan mewah baginya tak lebih seperti memberi sedekah bagi pengemis di jalan. Dan dengan menyeringai Lucy pun melupakannya.
Dokter De Groot memenuhi janjinya. Satu minggu sebelum tanggal yang disepakati beliau mengirimkan surat yang juga dilampiri dengan tiket penerbangan kelas ekonomi dari Heathrow ke Schipol dengan pesan bahwa Jaan yang akan menjemputnya di sana. Karena jadwal keberangkatan pesawat hari Senin sore maka Lucy berencana pulang ke rumah orang tuanya Sabtu pagi, meski itu berarti setelah dinas malam, tanpa tidur, Lucy harus mengejar kereta api dan melanjutkan tidur di perjalanan. Lucy akan berangkat ke London Senin pagi langsung ke bandara agar lebih praktis.
Malam terakhir sebelum kepulangannya ke ke Beaminster, keadaan di ruang anak-anak sangat tak tertahankan. Delapan pasien mungil itu seolah kompak mengeluarkan kemarahannya dan membuat kalang kabut ketiga perawat yang berjaga di ruangan. Dan Lucy sedang berkutat dengan seoarng batita yang sangan sakit dan sangat marah serta menangis menjerit-jerit minta pulang. Lucy berusaha mendiamkan dengan mendukungnya dan meletakkan kepalanya di pundak seraya mengocehkan kata-kata bujukan. Kata-kata bujukannya hampir berhasil kalau saja Dr. Henderson, ahli bedah yang tadi siang mengoperasi salah satu anak yang sekarang sedang tertidur nyenyak di pojok ruangan, datang untuk visite. Dan bersamanya tinggi menjulang dan sama sekali tidak jelas kepentingannya adalah Professor der Linssen. Entah kenapa Lucy merasa mulai jengkel karena sepertinya laki-laki itu selalu muncul dimana-mana. Dan melihat kedatangan kedua laki-laki itu anak dalam dukungan Lucy menjerit semakin keras.
“Professor der Linssen ingin berbicara kepadamu, Miss Prendergast,” kata Dokter Handerson.
Lucy mengerutkan alis menatapnya. Dia seoarng lelaki yang cukup pendek dan berbakat untuk menjadi gemuk dan botak. Dan yag lebih menjengkelkan dia selalu membuat anak-anak ketakutan dan menangis lebih keras. Bukan karena dia jahat, tetapi hanya karena dia sangat tidak suka melihat anak sakit, hal yang sangat ironis bagi seorang dokter. Dan sepertinya aura itulah yang tersampaikan kepada makhluk-makhluk mungil malang itu. Seperti si kecil yang menjerit-jerit marah dan putus asa dalam dukungan Lucy saat ini.
“Letakkan anak itu kembali ke boks, Suster,” perintahnya tidak sabar kepada Lucy.
Lucy tak akan berniat menuruti perintah itu. Dia malah menunduk dan membalikkan badan, kembali sibuk menenangkan si kecil. Namun dia terkejut saat sepasang lengan kokoh dan panjang terulur mengambil anak dari gendongan Lucy, dan meletakkan kepala si kecil dibahunya yang bidang. Secara otomatis si kecil menghentikan tangisnya, memutar kepalanya untuk menatap siapa yang mendukungnya dan tertawa menunjukkan gigi susunya yang baru tumbuh dua itu. Dengan wajah masih bersimbah air mata, leleran liur di bibir serta ingus di hidung, bocah itu tertawa ceria dan berkata, “Da...da....”
Professor der Linssen tertawa, dengan tangannya yang bebas menowel pipi gemuk itu. “Nah, sekarang kembalilah kepada Suster Cantik ini, sayang. Jangan rewel ya, kasihanilah dia,” dengan kata-kata itu Professor der Linssen mengembalikan si bocah kepada Lucy. “Kau tidak perlu khawatir begitu. Anak kecil suka padaku. Bukankah kau sendiri pernah mengatakan bahwa aku pasti seorang ayah yang baik?” katanya kepada Lucy.
“Yang saya khawatirkan bukanlah Anda akan menakut-nakuti anak ini, Professor. Saya hanya khawatir ingus dan liur anak ini akan mengotori baju Anda yang mahal,” jawab Lucy.
Professor der Linssen menyambutnya dengan tawa terbahak-bahak. “Miss Prendergast, selalu siap dengan jawaban yang tak terduga,” dan setelah Lucy meletakkan si kecil kembali ke boksnya laki-laki itu menambahkan, “Aku bertemu Smithson barusan dan kudengar dari dia kau akan pulang ke Beaminster besok pagi. Kebetulan aku akan ke Bristol. Aku akan memberimu tumpangan.”
Pada tawaran yang lebih mirip perintah itu Lucy hanya menanggapi dengan dingin, “Anda baik sekali. Tetapi saya pergi dengan kereta. Lagi pula Beaminster agak diluar jalur Anda.”
“Ah, Beaminster adalah bagian dari Inggris yang selalu ingin kukunjungi,” dia meyakinkan dengan manis. “Apakah jam sepuluh terlalu pagi untukmu? Kau bisa tidur di sepanjang jalan bila kau mau.”
Dengan kata lain, pikir Lucy masam, tidak akan ada bedanya aku ada atau tidak. Siapalah aku ini. Toh aku bukan si blonde yang spektakuler yang cocok untuk bertengger di mobilnya yang hebat itu.
Seolah memahami jalan pikiran Lucy, laki-laki itu menambahkan, “Kalau boleh memilih, aku pasti lebih suka kalau kau tetap terjaga sepanjang perjelanan dan menghiburku dengan celotehanmu yang suka diluar dugaan itu. Tetapi dengan jam kerjamu sekarang sepertinya aku tak bisa berharap lebih. Dan jangan katakan aku laki-laki yang suka menuntut sesuatu yang masuk akal.”
Wajah Lucy kontan memerah.
“Jam sepuluh aku akan menunggumu di depan.”
“Baiklah, Sir. Terima kasih,” katanya. Dan kepada Dokter Henderson Lucy menganggukkan kepalanya.
Dengan anggukan singkat Professor der Linssen melangkah pergi diikuti Dokter Henderson.
Keesokan paginya Lucy, karena cuaca yang sudah mulai panas, hanya mengenakan celana denim selutut dan t-shirt katun berpola bintik-bintik yang manis, telah siap dengan tas ranselnya dan berderap ke pintu depan. Masih kurang lima menit dari waktu yang dijanjikan dan dia berencana akan ngobrol sebentar dengan portir yang berjaga di bagian depan. Laki-laki ramah yang selalu siap membantu siapapun. Namun ternyata Professor der Linssen sudah berdiri di sana. Laki-laki itu dalam pakaian resmi maupun santai tetap menguarkan aura yang sama, mahal! Namun Lucy menolak untuk terintimidasi. Biar dia berpenampilan selayaknya gembel, dia tak peduli. Yang mengajak kan laki-laki itu, bukan dia yang ngotot ikut. Maka dengan mengangkat kepala Lucy berderap gagah menemuinya.
“Selamat pagi, Professor,” salamnya ceria.
“Selamat pagi, Lucy. Aku senang tak perlu harus menunggu,” katanya seraya menatap Lucy dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Bila saya terlambat mungkin Anda sudah meninggalkan saya, Sir. Dan saya pasti menyesal tidak sempat merasakan mobil Anda yang hebat itu.”
“Masih Lucy yang sama. Suasana pagi ternyata semakin mempertajam lidahmu,” komentar professor sambil tertawa geli.
Beberapa saat kemudian setelah berpamitan dengan portir, Lucy sudah duduk nyaman di jok kulit mahal dalam mobil yang sejuk dan beraroma harum. Sangat lain bila dibandingkan dengan mobil tua ayahnya. Apalagi dengan kereta api. Ditambah lagi Professor der Linssen sepertinya seorang pengemudi yang ahli, sama ahlinya dia dalam mengatasi bocah yang menangis atau menghadapi pasien di ruang operasi. Dan tidak mengherankan bila dia juga ahli dalam menangani wanita-wanita cantik. Tak pernah sekalipun dia mengeluarkan umpatan pada lalulintas London yang padat. Llucy juga tidak mendapati tangannya yang berjari-jari panjang elegan terawat itu mengetuk-ketuk kemudi dengan tidak sabar. Tanpa malu-malu Lucy mengamati pria di sampingnya itu.
“Apapun yang ada dalam pikiranmu itu, lebih baik katakan saja. Aku sudah mulai terbiasa mendengar celetukanmu itu,” kata professor. “Aku tak heran bila kau masih marah padaku. Aku memang kadang pemarah, bertemperamen buruk dan arogan. Namun aku bukan pendendam. Kau boleh tidur semaumu saat aku meberi kuliah lain kali meski aku yakin semua kuliah yang aku sampaikan sangat bermutu, namun aku akan pura-pura tidak tahu. Itu salah satu dari daftar kebaikan hatiku yang sedikit yang bisa kutawarkan padamu.”
“Sebaliknya, Sir, saya sedang mengagumi Anda. Anda memang tampan. Dan saya hampir yakin bahwa Anda juga orang baik,” kata Lucy terus terang.
Suara tawa terbahak memenuhi mobil itu. “Andai adik perempuanku bertemperamen sepertimu.”
“Anda punya adik perempuan?”
“Kenapa kau heran? Aku punya saudara, laki-laki dan perempuan seperti orang lain. Aku juga punya orang tua, lengkap sepasang, ayah dan ibu. Tentu kau tak berfikir aku dilahirkan dari batu kan?”
“Well... biasanya orang-orang tua seperti Anda akan membicarakan anak dan istri.”
“Tetapi seperti pernah kukatakan padamu aku tak memiliki keduanya. Mungkin karena bagimu aku sudah terlihat sebagai laki-laki separuh baya. Memang usiaku sudah hampir empat puluh dan tidak akan bisa dikatakan muda lagi.”
“Omong kosong. Orang bilang usia empat puluh bagi laki-laki adalah usia emas. Sedangkan perempuan lebih cepat menua.”
“Benarkah? Apa yang kalian lakukan dengan segala bedah plastik, face lift, sesi tanpa akhir di klinik kecantikan dan parade baju-baju di setiap musim?”
“Itu menunjukkan Anda hidup di planet yang berbeda dengan kami para pekerja, Sir. Anda tak akan berkata demikian kalau saja Anda tahu betapa penderitaan kami para gadis agar tetap terlihat pantas dengan segala krim wajah dan penggulung rambut itu,” Lucy mengakhiri perkataannya karena rasa kantuk tak tertahankan.
“Ah, kau sudah terlalu lelah. Tidurlah. Aku akan membangunkanmu nanti.”
Tak perlu waktu lama bagi Lucy untuk segera tertunduk dan tertidur lelap. Dia tak sadar waktu Fraam membetulkan kepala gadis itu yang hampir membentur pintu mobil dan menyandarkannya di bahu bidangnya. Aku pasti sudah gila, pikirnya sambil mengamati rambut pendek Lucy yang meski berantakan namun tebal dan bersih. Dia berkali-kali menganalisa letupan perbuatannya yang tak terkontrol bila berhubungan dengan Lucy. Seperti semalam, hanya karena mendengar dari Smithson tentang Lucy yang akan pergi ke Beaminster telah cukup membuatnya menyeret Handerson ke ruang anak menemui Lucy. Dan sesudahnya dia terheran-heran sendiri karena terus terang dia tak punya urusan apapun di Bristol. Bahkan dia telah menolak menghabiskan akhir minggu di rumah James dan Caro di Richmond hanya untuk mengantar gadis berambut wortel ini pulang. Dan tadi pagi, menatap cermin di kamarnya di hotel Ritz tempatnya mnginap, dia melihat betapa wajahnya tampak semakin tua. Terlalu tua. Terlalu tua untuk apa? Terlalu tua untuk siapa? Agaknya dia harus cepat kembali ke negaranya untuk menjaga kewarasan otaknya.

Thursday, December 29, 2011

Run To You (1)


Sinar matahari sudah terasahangat pada pukul sembilan di suatu pagi bulan Agustus, dengan bias-bias sinarnyayang berpendar keemasan menembus jendela-jendela tinggi ruang pertemuan St.Norbert Hospital yang telah dipenuhi sosok-sosok berseragam. Duduk berderetmengisi barisan kursi di aula luas itu, para perawat, baik siswa yang sedangberpraktek maupun yang sudah menjadi tenaga professional, menikmati kegiatansaling menyapa dan bergossip, mengisi sedikit waktu yang tersisa sebelum kuliahumum dimulai. Namun sekelompok perawat yang mendapat giliran jaga malam, hanyaduduk diam kelelahan dan melawan segala kantuk demi menghadiri ceramah ilmiahtentang tata cara perawatan pada pasien pasca pembedahan dengan teknologiterbaru yang akan disampaikan sendiri oleh professor yang mempopulerkan metodetersebut. Padahal harusnya saat ini mereka menikmati mandi berendam dengan airpanas yang akan melarutkan segala kepenatan, untuk kemudian menikmati sarapanpagi dengan segelas teh panas sebelum pergi ke tempat tidur. Namun susterkepala sudah mewanti-wanti mereka untuk hadir kecuali yang sedang bertugas,agar tidak membuat malu direktur yang telah bersusah payah menghadirkanprofessor yang berkebangsaan Belanda tersebut. Hanya karena direktur dan profbersahabat dekat maka sang prof bersedia menyelipkan acara tersebut diselajadwalnya yang padat.
Dan di tengah-tengah barispertama duduk siswa perawat tahun terakhir Lucy Prendergast, gadis kurus mungildengan rambut merah wortel yang dipotong pendek, sekuat tenaga berusahamemicingkan mata hijau cemerlangnya yang seperti salah tempat berada diwajahnya yang sederhana. Kelelahan setelah bertugas di bangsal anak-anaksemalam menyisakan lingkaran gelap di seputar matanya dan sama sekali tak bisamemberi nilai tambah pada penampilannya. Seragamnya yang berupa setelan blusdan celana berwarna biru beku telah kusut di sana sini. Setelah menyelesaikanlaporan untuk operan terhadap petugas shift berikut, dia memang hanya sempatmenyambar setumpuk sandwich dan segelas susu hangat sebelum berderap menujuaula menyusul rekan-rekannya yang telah lebih dulu berangkat, di bawah tatapanjudes suster kepala. Tanpa sempat memperbaiki penampilan wajah dan rambutnya.
Lucy mungkin akan langsungtertidur begitu pantatnya menyentuh kursi keras aula andai saja rekan disebelahnya tidak buru-buru menyikut rusuknya dan memintanya tetap memincingkanmata karena suster kepala, seperti biasa, bersama dua asistennya serta seorangpetugas memasuki panggung dan menyiapkan catatan. Seolah memang pengaturanwaktu yang tepat, direktur masuk mendampingi sosok yang ditunggu-tunggu. Seketikaterdengar suaran decakan kagum dari seantero aula manakala orang yangdiharapkan sebagai professor itu berjalan menuju ke barisan tempat duduk diatas panggung yang menghadap langsung ke aula. Mata-mata lelah dan mengantukseketika terpincing lebar-lebar. Begitupun wajah-wajah sebal perawat yang sedang dalam masa cuti, yang semula hadirdengan sangat berat hati karena mengorbankan jatah libur yang terbatas, segeramerubah penyesalan menjadi kelegaan karena rela bersusah payah hadir. Karenajauh dari penampilan direktur yang sudah botak dan agak kuno karena usia senja,professor yang dimaksud justru masih teramat muda dengan penampilan yang akanmembuat perempuan manapun menoleh dua kali.
Namun bagi Lucy yang memangsudah sangat mengantuk serta punya kebiasaan alami mudah tertidur kapan pun dandi mana pun, hal terakhir yang terekam dalam benaknya adalah sosok tinggi besarberambut pirang dengan mata biru dan dagu berbelah. Playboy, desisnya sebelummemejamkan mata dan tertidur nyenyak tanpa menghiraukan kehebohan disekelilingnya saat professor tampan naik ke mimbar dan dengan suara baritonyang dalam memulai ceramah.
Tiga hari sebelumnya.
Professor Fraam der Linssensedang duduk menikmati sepoci kopi panas, seperti menjadi kebiasaannya selamaini setelah praktek sore hari menjelang makan malam. Bersamanya Dokter Derek DeGroot, kolega yang sekaligus kenalan lama ayahnya. Dr. De Groot telah dua tahunbekerja di klinik yang dimiliki Fraam bersama beberapa koleganya dan menjadidokter tetap di sana. Fraam sendiri hanya sempat datang berkunjung sekali-kalikarena dia memiliki tempat praktek pribadi selain memiliki pasien di beberaparumah sakit dan kesibukannya mengajar atau seminar di berbagai negara. Diusianya yang menjelang empat puluh Fraam memang berada di puncak karir.Tergolong muda untuk pencapaian setinggi itu, hasil kerja keras tak kenal lelahselama bertahun-tahun, yang kini juga membelitnya dengan kesibukan yangterkadang jarang menyisakan waktu bersantai baginya. Kecuali dia bisa memaksasekretaris pribadinya untuk mengatur jadwal seketat mungkin demi istirahatnyaman selama beberapa hari di villa miliknya di tepi pantai atau pondok dipedesaan. Kadang dia juga bersantai menikmati matahari tropis di Hawaii atauBahama.
“Ke mana lagi kali ini, Fraam?”tanya Dr. De Groot sambil menyalakan pipanya.
“St. Norbert Hospital, London,”sahutnya singkat.
“St. Norbert huh?”
Fraam menoleh ke dokter yanglebih tua itu. “Punya kenalan di sana? Selain Sir Wyatt tentunya.”
“Putri temanku, Lucy, kudengarmenjadi siswa perawat di sana. Lucy Prendergast, teman Mies. Dulu waktu masihkecil pernah ke sini beberapa kali. Mungkin kalian pernah bertemu tetapi kaupasti lupa. Sudah lama sekali. ”
Fraam berfikir sejenak danmenggabungnkan sebentuk wajah dengan sebuah nama. Lucy. Kurus. Berambut worteldan mata berkilat sehijau zamrud, dua gigi depannya yang ompong dan pemarah.Kombinasi luar biasa yang tak mungkin terlupakan. Bahkan untuk ukuran seoranggadis kecil. Fraam teringat bagaimana Lucy berkelahi bak satria kecil melawanJaan, kakak Mies, meski Jaan tiga tahun lebih tua dan juga jauh lebih besar,hanya karena gadis itu tak mau diolok-olok tentang gigi susunya yang barutanggal. Waktu itu dia sudah menjadi dokter muda sementara Lucy masih ditahun-tahun awal SD.
“Dokter Prendergast adalahtemanku di universitas. Pria yang rendah hati dan sederhana. Cukup puas hanyadengan menjadi dokter umum di desa. Keputusan yang akhirnya disesalinyamanakala si bungsu Lucy berminat menjadi dokter. Namun apa daya dua kakaklaki-lakinya semua belum lulus sementara keuangan terbatas. Dua anak perempuanyang lain telah menikah semua. Punya lima anak di jaman sekarang ini memangseolah terlalu optimis.”
“Pasti Lucy masih sangat mudakalau dia sekarang masih di tahun akhir sekolah perawat,” komentar Fraamringan.
“Dua puluh satu tahun, karenadia setahun lebih muda dari Mies.”
Mies yang sedang dibicarakantiba-tiba muncul. Tinggi semampai dengan rambut berwarna pirang madu membingkaiwajah cantiknya, penampilan yang terlalu berlebihan untuk profesinya sebagairesepsionis di klinik. Namun selamanya kecantikan Mies memang bagaikan anggrek,eksotis dan tak terjangkau.
“Papa,” dia memanggil ayahnya.Manakala dilihatnya Fraam berada di sana, serta merta dia menghambur danmemeluk Fraam. “Fraam!” serunya.
Fraam tertawa sambilmendaratkan kecupan di pipi Mies.
“Kau jahat sekali, jarangmampir ke rumah. Aku sudah lama ingin kau ajak keluar!” rajuknya manja.
“Maaf, manis, aku sibuksekali.”
“Bagaimana kalau akhir mingguini kau bawa aku makan malam dan berdansa.”
“Sekali lagi maaf. Aku sudahpunya janji.”
“Perempuan mana kali ini?” Miescemberut.
Fraam hanya tertawa. “Akhirminggu ini aku pasti masih berada di London.”
“Aku ingin sekali pergi keLondon. Tetapi Papa tak pernah mengijinkan.”
Dr. De Groot tertawa. “Kautidak usah ke London. Bagaimana kalau kita undang saja temanmu, Lucy, ke sini?Kalian sudah lama tidak bertemu kan?”
“Lucy! Iya, pasti asyik kalaudia mau datang ke sini. Aku sudah lupa bagaimana dia sekarang. Kalau dia datangaku bisa mengasah Bahasa Inggrisku kembali.”
Dan sekarang Fraam sedangmenatap ke seluruh wajah-wajah yangmemandang penuh perhatian kepadanya. Perasaan geli yang sering dia rasakankembali membuatnya berusaha menyembunyikan seringaian dalam hati. Selalubegini. Tak bisa dicegah bayangan seorang professor adalah sosok botak gendutpendek yang pelupa dengan setelan yang bertambal di sikunya. Mana mereka dugabila Fraam sangat jauh dari itu semua. Fraam menyadari sepenuhnya daya tarikfisik yang dimilikinya.
Tak perlu waktu lama bagi Fraamuntuk menarik seluruh perhatian seluruh hadirin. Dalam beberapa saat semua berkonsentrasimendengar ceramahnya, menyerap setiap kata dan informasi yang dia katakan. Gayapidato Fraam enak didengar. Ilmiah tanpa berkesan membosankan. Pemilihan katayang tepat dan efisien menghindari kesan bertele-tele serta mudah difahami.Keterampilan yang dia dapat sebagai perpaduan bakat otak cemerlang yangdianugerahkan kepadanya serta pengalaman bertahun-tahun dalam mengisi seminardi berbagai belahan dunia. Semua mendengarkan dengan seksama kecuali sesosokkepala berambut cepak berantakan berwarna wortel menyala yang terus tertundukhampir sejak kedatangannya tadi.
Lucy Prendergast! Hampirseketika Fraam mengenali gadis itu. Tak banyak gadis berambut wortel yangberkeliaran dan cocok sekali dengan deskripsi Lucy. Masih kurus meski takterlalu tinggi. Fraam bersedia menunggu hingga bisa mengetahui warna matanyauntuk membuatnya yakin seratus persen.
Namun Lucy sama sekali tak maubersusah payah membuka matanya. Memang dia menyempatkan diri membuka mulutnya,mengumandangkan ucapan selamat datang seraya berdiri menghormati kedatangandirektur dan professor karena teman di sebelahnya menariknya. Namun dia segerakembali memejamkan mata saat menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi, dantertidur dengan damai sepanjang ceramah. Tak peduli suara dalam dan beratdengan aksen asing yang berasal dari mimbar yang tepat berada di ataskepalanya, menjelaskan semua point utama tentang angütis obliterans danpenanganan pasien yang diperlukan. Lucy dan teman-temannya memang telah berbagipengertian yang salah bahwa duduk di dua baris pertama dalam sebuah forumadalah posisi paling aman dari perhatian mata penceramah di atas podium. Merekapercaya bahwa para pembicara selalu melihat melalui atas kepala mereka sehinggasecara otomatis posisi terdekatdengan podium akan terlewati dan fokus pembicaraakan beralih ke peserta dengan tempat duduk di bagian belakang. Pengertian yangmembuat Lucy kembali melanjutkan tidurnya. Segalanya pasti baik-baik saja jikasi professor tidak memulai melemparkan beberapa pertanyaan, menunjuk secaraacak dari peserta yang mengikuti ceramahnya. Saat dia bertanya, “Dan yang menjawabpertanyaan tersebut adala...” matanya menjelajah wajah-wajah penasaran yangmenatapnya penuh harap. Dan kepala gadis yang diduganya sebagai Lucy, yangtertunduk kembali mengusik rasa penasarannya. Ayolah, Luce... dongakkan wajahmudan buka matamu agar aku yakin bahwa kau memang Lucy kecil yang pemarah itu.
Mata Fraam berkilau geli. Lucybahkan sepertinya tak bergeming sedikitpun dari posisi duduk tertunduknya.Tetapi dia berani bertaruh bahwa gadis itu sedang tertidur.
“Siswa perawat yang duduk ditengah baris pertama,” katanya lembut.
Lucy, yang kembali tulungrusuknya disikut dengan keras oleh teman di sebelahnya yang nervous, membukamata hijaunya lebar-lebar dan menatap langsung ke penceramah. Masih kagetkarena baru bangun tidur Lucy sama sekali tak punya ide apa yang telahdikatakan oleh professor dan jawaban apa yang diharapkan untuk diucapkannya.Dia membelalakkan mata kepada sosok tampan berwajah datar yang berdiri di ataspanggung di depannya. Dia tidak pernah melihat mata yang begitu tajam, namundia tahu mata itu menatapnya begitu dingin seolah ingin membekukannya hingga ketulang. Tanpa dapat dicegah wajah Lucy memanas dan dia yakin tanpa melihatcermin pun pastinya wajah capeknya sekarang sudah merah padam. Tapi itubukannya karena malu, tetapi lebih karena marah dan jengkel karena diabenar-benar benci bila dibangunkan dari tidurnya dengan mendadak. Maka diamenjawab dengan suara yang jernih dan terkontrol, “Saya tidak mendengar apayang Anda katakan, sir. Saya tertidur.”
Ekspresi professor tetap datar,meski Lucy yakin seratus persen pria itu sedang tertawa terbahak-bahak dalamhati. Maka dia menambahkan dengan sopan, “Maaf, sir,” dan nyengir dengan legasaat pandangan professor beralih kepada beberapa tangan yang teracung dibelakangnya. Lucy tak akan heran kalau yang menjawab adalah Martha Inskip. Luarbiasa manis, luar biasa cerdas, selalu mendapat nilai tertinggi untuk urusanakademik namun paling rendah dalam praktek.
Professor masih menanyakanbeberapa pertanyaan setelahnya namun tak pernah sekalipun melihat ke arah Lucy.Dan Lucy yang sudah hilang semua kantuknya terpaksa mendengarkan dengan penuhsesal semua sesi tanya jawab tersebut. Hingga saat semua berakhir. Lucy takbisa menduga lain ketika Suster kepala didampingi Suster Pengajar mendekatitempatnya duduk. Tatapan mata keduanya sudah meneriakkan adanya masalah tanpaLucy harus menduga lagi.
“Ruang persiapan aula, SusterPrendegrast,” kata Suster Pengajar ketus.
Lucy hanya memutar bola matadengan sebal, lalu mengacak rambut wortel cepaknya dengan gusar. Dia mengulurwaktu selama mungkin hingga ruangan hampir kosong sebelum melangkah gontaimenuju ruang persiapan di belakang panggung. Ucapan Good Luck! darirekan-rekannyahanya ditanggapinya dengan cengiran. Dia tak mengharapkan keberuntunganapapun. Namun pasti sangat absurd bila dia harus dikeluarkan di tahunterakhirnya hanya karena masalah konyol dengan professor sok keren itu yangtidak bisa mentolerir kantuk seorang perawat yang selesai berdinas malam. Makadia melangkah gontai, menyebrangi panggung menuju ke ruang kecil di belakangnyayang biasa digunakan sebagai ruang tunggu atau persiapan. Di sana dia mendapatiDirektur bersama professor didampingi baik oleh Suster Kepala maupun SusterPengajar. Melihat kemunculannya di pintu Suster Kepala langsung berdiri.
“Suster Prendegrast, kami akanmeninggalkanmu untuk meminta maaf secara layak kepada Professor der Linssen danmenyesali perbuatanmu yang memalukan institusi secara umum serta Direktursecara pribadi,” katanya tajam.
Saat wajah-wajah kaku ituberlalu Lucy harus berhadapan dengan professor yang duduk tenang di sofa gendutberwarna kuning norak di ruangan itu. Apapun yang dipikirkan lelaki itu samasekali tak nampak dari ekspresi wajahnya yang datar. Lelaki itu bangkit danberjalan menghampiri Lucy. Tubuh jangkungnya seolah mengintimidasi Lucy.Matanya tajam, biru, dan dingin, memandang langsung ke mata hijau Lucy.
“Namamu Prendergast?” dan saatLucy mengangguk: “Nama yang cukup aneh.”
Komentar yang cukup menyulutkemarahan Lucy hingga dia langsung menimpali dengan ketus, “Saya sudahmengatakan maaf.”
“Oh, ya, benar sekali. Meskiitu tak menampik kenyataan bahwa bukan aku yang memaksa kau untuk kemari.”
Lucy memandang ke wajah lelakiyang mungkin usianya sudah menjelang akhir tiga puluh itu. Baru disadarinyatatapan tersinggung dan lelah yang ada di sepasang mata biru itu hingga timbulrasa iba di hati Lucy. “Saya cukup tahu kalau harga diri Anda terluka, Sir.Tapi itu tidak perlu. Saya yakin semua teman saya menganggap Anda luar biasatampan. Dan kalaupun saya tertidur itu sama sekali tak ada hubungannya denganwajah Anda. Saya akan tetap tertidur meski yang berbicara adalah Brad Pitt.”
Wajah lelaki itu berkedutseolah terkejut. Namun alih-alih mengomentari kata-kata Lucy, lelaki itu hanyaberkata, “ Kamu sedang dinas malam, Miss-er-Prendergast.” Pernyataan yang bukanpertanyaan.
“Ya. Bangsal anak-anak memangselalu sibuk. Dan semalam sudah tak terkatakan lagi karena harus mengawasitujuh anak-anak hanya dengan tiga orang petugas, bukannya saya mengeluh. Namunkuliah Anda benar-benar dilaksanakan di saat yang sangat tidak tepat untuksaya. Apalagi tadi pagi saya sarapan banyak sekali, sehingga tindakan dudukmendengarkan ceramah sesudahnya benar-benar fatal,” dan saat professor tidakberkata apa-apa, Lucy menambahkan dengan gaya keibuan,”Saya duga Anda pastiseorang ayah yang baik dan penuh perhatian pada istri dan anak Anda.”
“Aku belum punya anak, jugabelum menikah,” dia terlihat geram. “Kau berbicara seolah kau ini ibu daribanyak anak. Kau sudah menikah, Miss Prendergast?”
“Saya? Tidak. Saya pasti akandipanggil Mrs bila saya sudah menikah. Lagipula siapa yang akan menikahi saya,Sir? Tetapi saya punya banyak saudara laki-laki dan perempuan. Sangat menyenangkandalam keluarga besar,” kata Lucy ceria.
Tetapi professor menanggapinyadengan suara dingin, “Kau keterlaluan, Nona, juga kurang ajar. Kau tidakseharusnya menjadi perawat, kau lebih layak menjadi istri yang usil dan cerewetyang suka sok memberi nasihat yang tidak perlu.”
Lucy berusaha tidak memerahmalu akibat kata-kata professor, tetapi dengan berani dia menatap ke mata birudingin itu dengan sinar mata hijau yang menyala-nyala, “Saya tak menyalahkanAnda yang berusaha memulihkan harga diri Anda, Professor. Sekarang kita sudahimbang kan?”
Lucy tidak menunggu diusir, dialangsung ambil langkah seribu meninggalkan lelaki jangkung yang masih melototmarah itu. Memang dikiranya aku tidak marah? Omelnya dalam hati. Seenaknya sajamenilai karakter orang padahal mereka belum saling mengenal. Wajar dia tetapmembujang di usia setua itu. Siapa pula mau jadi istri laki-laki pemarah macamdia? Dengan emosi masih membara Lucy berderap menuju ke asrama perawat,menyesali sisa-sisa jam tidurnya yang banyak berkurang.
Tetapi mana Lucy tahu bahwa ditempatnya gadis itu meninggalkannya Fraam sedang tertawa terbahak-bahak.