Showing posts with label cerita lepas. Show all posts
Showing posts with label cerita lepas. Show all posts

Tuesday, February 7, 2012

The Last Choice (6)

Bila ada perempuan yang sanggup memporak-porandakan pertahanan emosinya serta sanggup membuatnya melakukan apapun, maka Katty lah orangnya. Katty satu-satunya perempuan yang cukup punya nyali untuk mendebatnya dengan berapi-api, bahkan tak jarang balas menyerangnya baik dengan argumentasi maupun dengan fisik. Sejak semasa kanak-kanak Katty tak segan-segan mencubit maupun menjewer telinganya manakala Sev menggodanya. Dan dari semua itu Sev sangat menikmati pertengkaran-pertengkaran mereka karena biasanya hal itu tak akan bertahan lama. Tak sampai satu jam mereka sudah kembali berbaikan, berkuda bersama, menjelajahi hutan kecil di belakang rumah mereka, atau berenang di kolam pribadi yang ada di Drake Castle. Namun Sev tak tahan bila Katty memasang wajah terluka seperti itu. Sev tak suka mendengar kata-kata Katty yang diucapkan dengan begitu dingin. Dan Sev semakin tidak suka saat Katty, bukannya mendengar pembelaan darinya, malah berbalik dan meninggalkannya berdiri seperti orang tolol.

Namun tentu saja langkah pendek Katty tak imbang dengan tungkai panjang miliknya. Dalam sekejap Sev sudah melompat dan meraih Katty. Gadis itu tepat berada di anak tangga pertama dan Sev dengan gerakan menyentak memegang bahunya serta memutar tubuh Katty menghadap kepadanya. Namun alangkah terkejutnya Sev melihat betapa mata Katty telah basah dengan air mata. Sev begitu tersentak, refleks kedua tangannya bergerak menangkup wajah terkasih itu. Namun Katty, menolak merasa lemah, balas menatap mata gelap Sev dengan kobaran amarah di balik deraian air matanya.

“Katty, sayang, tolong jangan menangis. Aku tak tahan,” suara Sev parau.

“Kau mau aku seperti apa, Sev? Aku tak tahu harus bagaimana. Aku tak mau menjadi cengeng, aku tak mau menjadi lemah. Tapi aku tak bisa menahan perasaanku. Aku tak mengerti karena aku tak pernah mengalaminya. Aku tak pernah punya kekasih sebelumnya. Dalam situasi seperti ini aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Yang aku tahu dan baru aku sadari hanyalah ternyata aku tak mengenalmu sama sekali, kau yang laki-laki seperti itu. Aku hanya tahu kau seperti yang selama ini kufahami, kau yang kutemui di Drake Castle, laki-laki yang bisa kuandalkan. Bukan kau yang di London ini, bukan kau yang bujangan tampan dan kaya yang jadi incaran dengan barisan wanita di belakangmu. Aku kehilangan arah tentang hubungan kita sekarang,” Katty berkata dengan jujur.

“Katty...”

“Sev, kumohon untuk kali ini tolong kau mengerti aku. Biarkan aku sendiri untuk memikirkan semua ini.”

Melihat sinar permohonan di mata berwarna almond itu Sev tak berdaya. Dengan lemah dilepasnya tangannya yang menangkup wajah Katty. Dengan mata nanar dipandangnya gadis itu melangkah pelan menaiki tangga dan masuk ke kamar tamu yang dulu dia tempati tanpa sekalipun menoleh kepada laki-laki yang mengiringi kepergiannya dengan tidak rela.

Dan sekarang sudah hampir pagi namun Sev tak juga bisa memejamkan mata. Di tempat tidur berukuran besar yang sekarang ditempatinya sendiri itu terasa sangat dingin dan tidak nyaman. Dengan masam diliriknya bantal di sebelahnya yang kini kosong. Sialan kau Katty! Rutuknya dalam hati dan dalam sekali gerakan melompat bangkit. Kamar ini telah bertahun-tahun menjadi sarang pribadinya. Selama ini hanya petugas kebersihan yang diberinya ijin untuk memasukinya. Meski belum genap sebulan dia berbagi dengan Katty, namun gadis itu seolah telah berada di situ selamanya. Dan sekarang, saat dia tidak ada Sev merasakan lubang yang menganga, kosong dan hampa. Apa yang telah kau lakukan padaku, Katty? Desahnya putus asa.

Setelah yakin dia tak akan bisa tidur Sev beranjak keluar. Dengan nanar ditatapnya pintu kamar tempat Katty berada. Sev berusaha menahan diri, demi menghormati permintaan Katty, untuk tidak menerobos masuk. Namun akal sehatnya telah terbang entah kemana karena dalam sekejap melawan segala logika Sev malah membuka pintu itu. Manakala dia tidak mendapati Katty disana, dengan panik dia berderap menuju satu-satunya ruangan yang mungkin didatangi gadis itu. Studio.

Pintu ruang studio tertutup, namun tidak terkunci saat Sev memasukinya. Dan di sana, di kursi kerja, Katty tertidur dalam posisi duduk. Gadis itu tampak begitu muda dan damai. Wajahnya tampak tenang. Mulutnya yang setengah terbuka begitu menggoda. Dengan mendesah Sev mendekatinya. Dan dalam satu gerakan ringan diangkatnya Katty dan dibopongnya keluar menuju peraduan mereka berdua. Maafkan aku, Katty, aku bukannya tak menghargai permintaanmu, tetapi aku tak mau sendirian, katanya pelan seraya meletakkan Katty di atas tempat tidur besar itu. Sev mengatur posisinya di sebelah Katty, meraih gadis itu dan meletakkan kepalanya di relung bahunya dan setelah menyelimuti tubuh mereka berdua, hanya dalam hitungan menit Sev pun terlelap.

Katty terbangun, merasakan kehangatan yang melingkupinya sebagaimana yang selalu dia rasakan setiap pagi dia terbangun di sebelah Sev. Bila dulu Sev menjadi tempatnya bersandar melebihi saudara sekarang Sev bahkan telah menjadi pusat hidupnya. Sev menjadi orang terakhir yang ditatapnya sebelum matanya terpejam dan orang pertama yang ditemuinya saat dia membuka mata. Katty merasakan pesonanya, gairahnya, kehangatannya, perasaan naik turun bak roller coaster saat dia begitu percaya bahwa Sev hanya miliknya, namun juga saat dia merasa begitu terpuruk dengan ketidak-yakinan akan perasaan Sev kepadanya. Seperti semalam. Eh? Bukankah semalam...dengan panik Katty membalikkan badannya, berputar agar bisa menghadap Sev yang tengah memeluknya dari belakang.

Sev merasakan gerakan Katty yang tiba-tiba segera terbangun. Saat membuka mata yang didapatinya adalah mata almond Katty yang menyala dengan berang. “Keterlaluan kau, Sev!” desisnya penuh kemarahan dan berusaha berontak dari rengkuhan Sev.

Namun mana mau Sev melepaskan Katty begitu saja. Dengan erat dipeluknya gadis itu erat-erat. “Katty, sshh... jangan berontak, sayang,” Sev berusaha menenangkan Katty yang masih saja berusaha lepas.

“Sev!”

“Sayang...sshh...diamlah. Kita akan membicarakan ini dengan tenang sebagaimana layaknya orang beradab, oke?” Sev membujuk Katty. Menyadari gadis itu berhenti memberontak, dengan lembut Sev memegang dagu Katty dan menatap dalam-dalam ke matanya.

“Kalau kau pikir kau bisa mengintimidasiku di daerah kekuasaanmu ini, maka kau salah besar, Sev,” kata Katty memperingatkan dengan dingin.

“Daerah kekuasaanku?” Sev tertawa pahit, “Sayang, asal kau tahu rumah ini telah menjadi milikmu. Aku tak bisa membayangkan tempat ini tanpa kamu. Kau pikir kenapa aku harus ambil resiko menerima kemarahanmu dengan membawamu kembali ke kamar ini semalam bila aku masih bisa tinggal di sini sendirian?”

Katty membelalakkan mata.

“Itulah arti dirimu bagiku, sayang. Aku tak ingin mencari pembenaran atas sikapku yang buruk kepadamu hari-hari terakhir ini. Itu salahku karena aku begitu ingin semua pekerjaan besarku selesai sehingga aku akan bisa punya lebih banyak waktu untuk kita. Aku juga sangat bersalah karena tak bisa terus terang kepadamu. Karena apa yang kau katakan itu benar adanya. Masa laluku tidak bersih sepertimu. Aku memiliki banyak hubungan dengan banyak wanita. Aku laki-laki sehat, meski sekarang bila aku ingat kembali aku merasa sangat malu. Dan aku lebih merasa malu lagi karena aku tak bisa mengingat dengan baik siapa dan bagaimana wajah mereka. Karena itu sudah lama sekali. Sebelum kita menjadi seperti ini. Dan sekarang aku hanya bisa mengharap kau cukup mengenalku untuk mempercayai bahwa aku tak akan mungkin mengkhianatimu.”

Katty membalikkan tubuhnya membelakangi Sev, hanya bisa diam dan mencerna semua perkataan Sev. Tahun-tahun yang terentang membentuk hubungan mereka berdua sejak dia berusia lima tahun, melewati masa kanak-kanak hingga masa dewasanya, dengan Sev selalu berada di sisinya. Siap menjadi pelarian dan sandaran. Memberinya kepercayaan diri bahwa dirinya masih memiliki orang yang bisa diandalkan, yang bisa menerimanya sebagaimana adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya tanpa menuntut dan menghakimi. Sekokoh itulah hubungannya. Namun ketika asmara terlibat di antara mereka kenapa dia menjadi goyah dan ragu? Seolah dia kehilangan figur dan arah tentang Sev, Severus Drake-nya.

“Entahlah, Sev. Di otakku aku tahu semua. Aku dengan mudah dan jelas bisa mengerti bahwa kita mempunyai dasar hubungan yang sangat kuat. Kau dan aku sudah mengenal begitu dalam sampai-sampai terasa menyebalkan untuk diucapkan. Namun di dalam hatiku aku tak bisa mencegah apa yang kurasakan. Aku merasa marah dan terabaikan. Bukan begini hubungan asmara yang kuinginkan. Aku tahu kau bekerja keras dan sangat mencintai pekerjaanmu. Namun emosi jahat dalam diriku selalu menuntut kenapa kau tak mau meluangkan waktu sedikit saja untukku? Tak cukup berhargakah aku untuk mendapat waktumu? Toh kita baru saja jadian. Harusnya aku merasa di awang-awang, menikmati segala perhatian dan pujian konyol dan penuh omong kosong sebagaimana gadis-gadis tolol lain. Tak bisakah aku mendapatkannya tanpa harus meminta?”

“Katty...”

“Diamlah, Sev, dengarkanlah semua omonganku, selagi aku cukup punya kegilaan mengatakannya kepadamu meski nanti mungkin aku akan sangat menyesal. Meski aku tak ingin memikirkannya jauh di dalam hatiku selalu ada keraguan akan hubungan kita. Selama ini aku tak pernah meragukanmu sebagai seorang kakak laki-laki ideal setiap gadis, namun sebagai kekasih?” Katty bangkit dan duduk, menarik Sev duduk saling berhadapan. “Tolong lihatlah aku baik-baik. Apakah aku cukup punya daya tarik untuk memikat lelaki tampan sepertimu? Cukup istimewakah aku untuk mendapatkan komitmenmu? Kau harus jujur pada dirimu sendiri, Sev. Aku tak mau kau terperangkap dalam fantasi kanak-kanak kita, ataupun ekpektasi orang tuamu tentang aku. Hal itu akan sangat menyakitkan bagiku sekaligus merendahkan akal sehatku. Aku ingin kau menjadi diri sendiri. Bukan sebagai kakak yang baik yang menjaga adik kecilnya, namun sebagai laki-laki sukses yang tampan, playboy yang senang dikelilingi wanita-wanita cantik dan trendy yang siap mendampingimu ke pesta-pesta mewah kelas atas yang akan membuat para klienmu terkesan. Semalam, menghadiri pesta perusahaan, bertemu dengan orang-orang, sesuatu yang selama ini selalu aku hindari, menyadarkan aku bahwa tentunya kau sangat familier dengan pergaulan sosial seperti itu. Kau membutuhkannya sebagai bagian dari profesimu. Dan aku tak yakin bahwa aku akan bisa menyesuaikan diri dengan gaya hidup seperti itu. Terlepas dari segala pembicaraan Mrs. Clever tentang kau dan Angela, sangat menyedihkan bagiku karena ternyata aku memerlukan wanita konyol itu untuk membuka mataku bahwa kau dan aku sangat berbeda. Sebagai pribadi kita tetap Sev dan Katty, tidak berubah seperti dulu. Tapi hidup sudah begitu kompleks kan?”

Sev memandangi gadis di depannya, menyadari penderitaan gadis itu selama ini. Menyeimbangakna antara logika dan perasaan, apalagi di usia hubungan asmara mereka yang masih sangat muda, bagi gadis yang praktis dan sederhana serta tanpa pengalaman seperti Katty tentulah bukan perkara mudah. Katty selama ini telah bersembunyi dalam cangkang aman yang tidak pernah mengijinkan dirinya untuk mengambil resiko dengan menerima orang lain cukup dekat dengannya baik secara fisik maupun asmara. Pengalaman buruk masa kanak-kanak, yang dimulai ketika ibunya meninggal, kemudian harus menerima perlakuan yang tidak adil dari ibu tiri yang membuatnya melarikan diri mencari kedamaian di keluarga Sev sedikit banyak sangat mempengaruhi perilakunya di masa dewasa. Kehadiran adik tiri yang jauh lebih cantik dan istimewa kian menekan rasa percaya dirinya hingga ke dasar. Hanya penerimaan Sev sekeluarga yang menerima dirinya sebagai bagian dari mereka yang membuat Katty tetap menjadi gadis yang ceria tanpa memperlihatkan luka-luka emosi masa lalunya. Khusus untuk Sev Katty bisa menerimanya karena Sev menawarkan perlindungan seorang kakak, sebagai bagian keluarga, kepadanya.

Sev mengutuki dirinya sendiri yang begitu gegabah dalam menangani perasaan Katty yang sensitif. Meski Katty cukup logis sehingga mau berterus terang mengungkapkan semuanya, namun tetap saja Sev merasa begitu bersalah karena tidak menyadarinya sejak awal. Dia yang tumbuh bersama Katty harusnya cukup menyadari kebutuhan gadis itu untuk pengakuan, memberinya jaminan rasa aman bahwa dia tidak akan tersakiti.

“Rupanya semalam kau telah berfikir sangat keras untuk merumuskan hubungan kita, sayang.”

“Sev, salah seorang di antara kita harus ada yang melakukannya. Bila kau terlalu sibuk untuk memikirkannya, maka mau tak mau akulah yang kebagian tugas itu.”

“Sayang, aku tak pernah merasa harus memikirkannya sedalam itu karena aku sudah sangat yakin dengan perasaanku padamu. Aku tak perlu menimbang dan meninjaunya dari segala segi, termasuk tentang omong kosong ekspektasi orang tuaku maupun fantasi kanak-kanakku. Aku orang terakhir yang akan memikirkan hal-hal tolol yang merasuki kepala cantikmu itu. Aku tak perlu membuat para klien terkesan dengan pasanganku. Aku bisa membuat mereka terkesan dengan kemampuanku sendiri, tak perlu hal lainnya. Jadi, satu hal yang harus kau pegang saat kau ragu kepadaku, kepada kekurang-ajaranku yang kadang tak sengaja menelantarkanmu, bahwa dengan begitu konyol aku telah jatuh cinta setengah mati kepadamu. Sejak dulu. Namun entah kenapa kekeras kepalaanku mengalahkan harga diriku untuk merendahkan diri dan mengakuinya secara gamblang kepadamu. Kau mengerti?”

“Sev...kau...kau...” Katty terperangah mendengarkan pengakuan Sev yang blak-blakan.

“Kau tak percaya kan, sayang?” tanya Sev sambil menyeringai. Kemudian dengan sayang, dielusnya kepala Katty, “Padahal untuk mengucapkannya aku harus membuang jauh-jauh segala gengsiku. Dan kau tak mempercayainya? Sayang sekali. Aku tak tahu, bila klienku mengetahui ini mereka mungkin akan berfikir ulang untuk memakai jasaku,” katanya dengan masam.

“Karena kau tak pernah mengatakan padaku,” balas Katty pedas.

“Kuakui itu memang salahku.”

“Salah satu dari kesalahanmu. Kau belum menjelaskan soal Angela,” Katty mengejar tanpa ampun.

“Satu-satu, sayang, atau kepala cantikmu itu akan meledak. Seharusnya dengan keagresifanmu mengejar kebenaran sebuah berita, aku heran kenapa kau dulu tidak menjadi wartawan saja.”

“Sev!” seru Katty putus asa.

“Baiklah. Aku berjanji untuk menceritakan semuanya, tapi nanti. Namun satu hal yang pasti adalah Angela Clever itu tak cukup berharga untuk membuatmu cemas. Tak ada apapun di antara aku dan Angela. Aku menjamin itu.”

Kemudian tanpa Katty duga Sev bangkit dan membawa Katty bersamanya. Berat badan Katty sama sekali tak ada artinya bagi Sev.

“Hei, mau kau bawa kemana aku?” protesnya.

“Sudah siang. Aku lapar. Paling tidak kau cukup berbaik hati untuk memberiku sarapan.”

“Kau membuatku sulit mempercayai kata-katamu tadi. Jangan-jangan kau membutuhkanku di sini hanya untuk menyiapkan sarapan untukmu? Kan sudah kubilang kau cukup cari pelayan yang akan melayanimu dengan lebih baik.”

“Aku tak mau berhubungan seks dengan pelayan.”

“Kau keterlaluan!”

“Dan kau tak masuk akal!”

Pagi itu mereka menyaipkan sarapan dengan ribut. Saat roti sudah keluar dari toaster, ham dan telur sudah di goreng, serta sepoci kopi yang wangi mengepul tersaji di meja sarapan kecil di teras dapur mansion mewah itu, bukannya cepat-cepat menikmati sarapan, namun Sev malah menarik Katty duduk dipangkuannya. Diputarnya tubuh gadis itu hingga mereka saling berhadapan. “Kau tak bisa berpura-pura melupakan kewajibanmu untuk menciumku,” katanya sebelum dengan ganas melumat bibir Katty.

Katty gelagapan menerima luapan gairah Sev yang membabi buta. Dalam sekejap mereka telah melupakan semua yang telah repot-repot mereka siapkan. Untungnya kursi itu cukup kokoh untuk menyangga aktifitas fisik mereka yang seolah tak pernah terpuaskan. Saat semua telah selesai, Katty menempelkan dahinya di dahi Sev. Nafas keduanya sama-sama memburu.

“Kau bohong, Sev,” katanya pelan.

“Hmm?” Sev menelusuri leher Katty denga ujung hidungnya.

“Kau berjanji untuk membicarakan semuanya layaknya orang beradab. Tapi kau justru bertingkah bar-bar.”

Sev tertawa terbahak-bahak. “Aku kehilangan semua akal sehatku bila sudah menyangkut kamu, Katty. Tapi meski begitu aku tetap ingat bahwa kau belum pernah mengatakan apa yang kau rasakan kepadaku. Kau belum menjawab perasaanku meski kau dengan begitu tak tahu diri telah menerima layanan seksku yang luar biasa. Tapi sayang, kau harus ingat siapa aku, aku akan menagihnya, dan terus menagihnya, hingga kau mengatakan semuanya kepadaku.”

“Kau hanya buang-buang waktu,” ejek Katty. “Ini sudah siang. Kau akan terlambat untuk bekerja.”

“Ini akhir pekan.”

“Oh ya? Aku lupa kau tidak bekerja di akhir pekan.”

“Kau ke Jepang akhir pekan lalu.”

“Itu harus kulakukan sayang bila ingin minggu depan kita bisa pulang ke Oxford.”

“Sev! Kau serius?” Katty membelalak tak percaya. Kegembiraan berpendar di mata almondnya.

“Tentu,” Sev menyeringai. “Dan aku mengharapkan ungkapan rasa terima kasih yang sepadan.”

“Untuk itu kita perlu makan. Aku tak mau kau pingsan di tengah jalan,” Katty tertawa mengejek.

“Kau meragukanku, sayang?”

Tentu saja tidak. Untuk urusan satu ini tak sekalipun Katty meragukannya.

Tuesday, January 24, 2012

Run To You (2)

Meski Lucy membutuhkan sepoci besar teh dengan susu yang banyak, mandi berendam selama setengah jam, serta membaca beberapa halaman surat kabar untuk melupakan insiden menyebalkan tadi pagi, usai makan siang moodnya sudah kembali. Bahkan setelah Lucy menunggu datangnya omelan Suster Kepala atau Suster Pengajar yang ternyata tak kunjung datang, akhirnya Lucy tertidur dengan damai. Dan saat gilirannya bertugas malam hari tiba dia dengan riang melenggang menuju ke bagian anak-anak yang ada di sayap bangunan terjauh di belakang gedung rumah sakit. Kebisingan yang terjadi di tempat yang dipenuhi makhluk-makhluk mungil yang kadang begitu menggemaskan namun tak jarang juga sangat menyebalkan tak juga mengendurkan semangatnya. Selain bertugas bersama tiga perawat senior, malam itu Lucy menerima kunjungan tak terduga dari Douglas Smithson, seorang dokter magang di unit gawat darurat yang menyempatkan diri menjenguknya sebelum pulang ke kamar sewaannya yang berada tak jauh dari rumah sakit. Di sela obrolan ringan penghilang kantuk di antara sepoci kopi, pemuda itu juga menemaninya menenangkan beberapa anak yang menolak untuk tidur dengan berbagai alasan yang intinya adalah ungkapan ketidak-nyamanan mereka atas penyakit yang diderita maupun karena tidak kerasan berada di tempat asing. Namun Doug yang begitu lembut bisa melunakkan mereka di saat Lucy hampir putus asa dan kehilangan cara untuk membujuk.
Doug pemuda yang baik. Lucy mengenalnya sudah setahun ini dan telah beberapa kali pergi berdua dengannya untuk makan malam maupun ke bioskop. Semula keduanya sama-sama berharap akan memiliki hubungan asmara yang indah. Namun keduanya akhirnya tak dapat mengingkari kenyataan bahwa mereka tak akan lebih dari teman dekat. Dengan Lucy Doug yang pemalu merasa nyaman untuk mengungkapkan semua perasaannya dan membuang semua rasa malu sementara Lucy yang ceria namun meledak-ledak serta berpandangan terbuka menanggapinya dengan apa adanya sebagaimana seorang sahabat yang baik. Hingga akhirnya mereka memutuskan bahwa hubungan persahabatan lebih berharga bagi keduanya dari pada hubungan asmara yang tidak nyambung. Chemistry antara keduanya sama sekali bukan di wilayah itu.
Lucy pulang pada hari liburnya dua minggu kemudian. Sebuah perjalanan jauh yang hanya bisa dia lakukan sebulan sekali. Sebuah desa kecil dekat Beaminster di antara perbukitan Dorset, yang artinya Lucy harus menggunakan kereta menuju Crewkerne, dimana ayahnya biasa menjemputnya dengan mobil Ford tua milik keluarga. Dan seperti biasa ayahnya telah menunggunya di stasiun. Laki-laki separuh baya dengan rambut merah wortel yang sekarang memudar dimakan usia serta mata biru lembut dan hangat, mewariskan semua garis wajah tidak istimewa serta postur kurusnya kepada putri bungsunya itu. Kecuali mata hijaunya tentu. Dan tak seorangpun dalam keluarga yang tahu dari mana warna mata Lucy berasal.
Di antara perjalanan dari stasiun menuju rumah ayah Lucy banyak bercerita tentang gossip-gossip di wilayah mereka, beberapa pasien, maupun obrolan ringan keluarga. Lucy menanggapinya dengan kegembiraan seperti biasa serta menceritakan dengan riang tentang kasus-kasus yang dipelajarinya baik di sekolah perawat maupun di rumah sakit tempatnya magang sekarang. Beberapa kali ayahnya mengerling kepadanya seolah meyakinkan diri bahwa putri bungsunya ini benar-benar segembira seperti yang ditampakkannya. Tak pernah sekalipun dia berhenti menyesali ketidak-beruntungan putri kecilnya ini. Di antara kelima anaknya hanya Lucy yang mewarisi ketidak-istimewaan wajah darinya. Keempat yang lain mewarisi rambut pirang madu serta tulang wajah tinggi menawan dengan hidung aristokrat dari ibunya. Keempat anaknya yang lain bermata biru, sama seperti kedua orang tuanya. Namun di antara mereka semua Lucy lah yang paling cerdas, kecerdasan yang sia-sia karena saat gadis itu menunjukkan minatnya untuk melanjutkan ke universitas mengikuti jejak ayahnya mengambil studi kedokteran, tidak ada lagi dana yang tersisa. Kedua kakak laki-lakinya masih belum lulus. Greg si nomor tiga sedang menjadi dokter magang di rumah sakit di Bristol sementara John yang hanya dua tahun lebih tua dari Lucy baru di universitas mengambil studi kedokteran juga. Miriam dan Charlotte menyadari kalau mereka tidak cocok dengan dunia pendidikan tinggi, jauh-jauh hari telah memutuskan menikah begitu lulus sekolah menengah dan sekarang keduanya telah menjadi ibu dari anak-anak yang memberi kontribusi sebagai cucu keluarga Prendergast. Tinggallah si bungsu Lucy, mengubur cita-citanya untuk menjadi dokter anak, memilih tetap berkarir di rumah sakit sebagai perawat. Meskipun aku tidak bisa menjadi dokter, paling tidak aku masih memiliki peluang menjadi istri dokter, begitu selalu candanya berusaha membesarkan hati.
Mrs. Prendergast menyambut kedatangan keduanya dengan senyum hangat dan ceria di pintu rumah yang meski cukup besar namun sangat sederhana itu. Diciumnya penuh cinta putri kesayangannya itu serta mengabarkan bahwa sore nanti seluruh kakak-kakak Lucy beserta ipar dan keponakan akan datang berkumpul untuk makan malam. Lucy dengan bahagia mengikuti ibunya ke dapur. Sementara ibunya sibuk melakukan entah apa di sekitar kompor Lucy duduk di meja makan sambil menikmati strawbery segar yang terhidang di keranjang di atas meja mendampingi kue buah yang cukup besar.
“Rasanya aku bisa menghabiskan kue buah ini seoarnag diri,” celetuknya. “Aku sudah begitu bosan dengan makanan rumah sakit dan makanan murah di kedai pinggir jalan.”
“Apakah kau belum bertemu pemuda tampan, seorang dokter mungkin, yang cukup punya uang untuk mengajakmu makan makanan layak di restoran, sayang?” tanya ibunya sambil lalu.
“Belum,” jawab Lucy singkat, dan entah kenapa bayangan wajah professor tampan yang angkuh itu berkelebat di matanya. “Kebalikannya malah aku membuat seorang professor tersinggung berat dan marah.”
“Oh ya? Pasti kau tidak sengaja kan sayang?”
Terpujilah hati bersih ibunya yang tak pernah berprasangka buruk. Yang menganggap dan memperlakukan semua anaknya meski sudah beranjak dewasa masih sebagai bayi mungil berhati malaikat yang tidak mungkin akan melakukan kesalahan kecuali tanpa di sengaja.
Obrolan tentang Lucy membuat seorang professor marah muncul lagi saat makan malam keluarga besar itu. Kakak-kakak Lucy yang telah menikah memang tinggal tidak jauh dari rumah orang tuanya. Sementara kedua kakak laki-lakinya selalu senang pulang saat seluruh anggota keluarga berkumpul. Sehingga setiap kedatangan Lucy selalu disambut meriah membuat Lucy selalu merasa disayang sebagaimana layaknya putri bungsu.
“Apakah professor itu sudah tua?” tanya Charlotte yang paling cantik di antara perempuan keluarga Prendergast.
“Cukup tua juga, mungkin sekitar empat puluh tahun,” sahut Lucy santai sambil mengambil sepotong besar pudding. “Tetapi dia belum punya anak dan belum menikah.”
“Oh ya? Bagaimana kau mengetahuinya? Gosip?”
“Dia mengatakannya kepadaku.”
Sebuah pernyataan yang sangat memancing rasa ingin tahu. Tapi Lucy dengan gayanya yang tidak peduli mengatakan bagaimana dia bisa bertatap muka dengan professor itu.
“Apakah dia tampan?” kali ini Miriam yang bertanya. Dia telah berhasil menyerahkan Timmy, anak bungsunya yang berusia dua tahun itu, dalam pengawasan suaminya.
“Sangat. Dia tinggi besar, rambut pirang, mata biru dan memiliki belahan dagu. Cocok sebagai seorang playboy.” Lucy berhenti sebentar untuk berfikir. “Dan dia memiliki suara yang bagus, berat dan dalam.”
“Tetapi sepertinya kau tidak suka padanya, sayang,” sahut ibunya.
“Mom, professor itu juga sangat tidak suka padaku,” jawabnya cepat. “Bayangkan saja, tertidur saat dia memberi ceramah? Benar-benar tak termaafkan.”
“Tetapi dengan begitu kau malah bisa berbicara langsung dengannya kan?” Miriam mengerling geli.
“Kalau aku itu Miriam atau Charlotte, kalian pasti tahu kata-kata yang tepat dan apa yang harus dilakukan dalam menghadapi laki-laki. Tetapi aku malah membuatnya lebih marah. Dan itu membuatku juga semakin marah. Aku pergi begitu saja dari hadapannya tanpa ba bi bu lagi,” sungut Lucy yang disambut gelak tawa semua yang mendengarkan. “Tetapi tidak apa-apa. Aku tak memiliki wajah menawan untuk diingat. Dalam waktu sebentar dia juga pasti sudah akan lupa,” tambahnya.
“Tetapi penampilan kan bukan segalanya, Lucilla,” ayahnya menimpali. Meski Lucy agak jengah dipanggil dengan nama panjangnya namun ayahnya selalu tak pernah mendengarkan keberatannya. “Mungkin ungkapan penyesalan yang sepantasnya karena tertidur saat ceramah dengan alasan masuk akal dan kata-kata yang manis akanmenciptakan opini yang bagus terhadap dirimu, sayang.”
“Tapi sayang,” ibunya menyahut, “Kau kan tahu bahwa putri kita itu terlalu manis dan jujur sehingga selalu mengungkapkan apa yang dipikirnya. Aku takkan pernah menyalahkannya. Dia memang seharusnya beristirahat dan tidak hadir dalam ceramah itu.”
“Tapi Mom, kalau Lucy tidak hadir, dia tidak akan pernah mengenal spesies laki-laki paling luar biasa itu,” Greg berkata iseng. “Ya kan, Luce?”
“Harusnya kau tetap bersikap manis padanya, Sist,” kali ini John yang ikut nimbrung.
“Tidak perlu. Dia pasti sudah diperlakukan sangat manis oleh semua perempuan yang ditemuinya. Dia jenis orang yang hanya akan makan di restoran kelas atas dan bergaul dengan kalangan atas serta membuat segerobak uang dengan praktek pribadi yang mahal.”
“Apakah ada kemungkinan kau akan bertemu dengannya lagi, sayang?” tanya ibunya belum putus asa.
“Sepertinya tidak. Dia orang Belanda, Mom. Dia datang karena permintaan Sir Wyatt, direktur rumah sakit yang sepertinya berteman dekat atau kenalan begitu.”
“Omong-omong tentang Belanda, kalian ingat teman Dad yang orang Belanda kan?” tanya ayahnya. “Dokter De Groot. Beberapa hari lalu dia menelepon Dad dan mengatakan bahwa dalam beberapa hari ke depan dia akan menghadiri sebuah seminar di London. Dan dia tidak lupa padamu, Lucilla. Dia juga menanyakan kabarmu. Dia masih ingat bahwa kau sekarang sedang di St. Norbert Hospital, Dad pernah menyinggungnya saat dia menelepon beberapa bulan yang lalu. Kami memang masih berkirim kabar dan kartu Natal, kau ingat? Dia berjanji kalau ke London nanti dia akan menemuimu. Dan dia juga masih ingat akan kunjunganmu ke Belanda belasan tahun yang lalu. Bukankah putrinya sebaya denganmu?”
Mata Lucy langsung membelalak penuh suka cita. “Oh iya, Mies dan Jaan. Mereka dulu baik sekali padaku. Juga Mevrouw De Groot. Sayang Mevrouw sudah meninggal.”
“Dokter De Groot bilang ingin mengundangmu lagi ke sana. Putrinya ingin bertemu denganmu. Kau tidak keberatan kan kalau Dad memberikan nomor handphonemu padanya?”
“Tentu tidak, Dad. Diundang ke Belanda? Pasti asyik.”
“Tetapi, Lucy, bagaimana kabarnya Doug temanmu itu?” Charlotte mengembalikan pembicaraan. Setelah kedua gadis tertua menikah dan bahagia, mereka rupanya sepakat untuk turut campur dalam kehidupan asmara Lucy yang bisa dikatakan gersang itu.
“Masih baik-baik seperti biasa. Kami sering pergi bersama bila waktu memungkinkan. Kenapa?”
“Apakah hubungan kalian akan berkembang lebih dekat?”
“Tentu. Saat ini kami sangat dekat seperti saudara. Bahkan sepertinya aku akan mencomblanginya mendekati Jessica, temanku sesama siswa perawat.”
“Astaga, Luce! Buat apa kau comblangi temanmu bila kau sendiri belum pernah dapat pacar sekalipun?”
“Hei! Hei! Kok kalian yang sewot sih?” tanya Lucy geli memandang wajah-wajah sebal di sekitarnya.
Saat libur berakhir, berbekal sekotak besar makanan dan kue-kue buatan ibunya, Lucy meski dengan berat hati kembali ke London. Kali ini Greg yang sedang ada urusan di London menemaninya naik kereta api dan taksi. Lucy sampai di St. Norbert saat sudah hampir senja. Dengan bawaan cukup banyak tubuh kurusnya tertatih-tatih menaiki tangga depan rumah sakit. Karena terlalu repot dengan barang-barangnya Lucy tak memperhatikan kehadiran Doug yang sedang melintasi lorong.
“Luce!” panggil pemuda itu.
Lucy mendongak dan tertawa lebar melihat siapa yang memanggilnya. “Hai, Doug! Bisa kau bantu aku?”
“Pasti,” Doug mendekat. Sebelum mengambil barang bawaan dari tangan Lucy pemuda itu mencium pipi Lucy. “Aku sudah tidak sabar mencicipi oleh-oleh kue buatan ibumu.”
“Jangan khawatir, ada banyak makanan yang kubawa. Dan teman-temanku terlalu ketat dengan diet mereka untuk dapat menikmatinya.”
Dan dengan tertawa-tawa keduanya berjalan menuju mess perawat di bagian belakang gedung. Namun keduanya tak memperhatikan sepasang mata yang memperhatikan dengan rasa tertarik dari depan pintu ruang konsultasi dokter-dokter spesialis yang berada di salah satu sayap rumah sakit dengan salah satu lorongnya yang terhubung dengan lorong utama.
Fraam telah berada kembali di London sejak kemarin. Dan demi memenuhi janjinya dengan Sir Wyatt untuk meninjau sebuah kasus dia berada di St. Norbert sejak siang tadi. Bersamanya seorang kawan lama, Professor James Willis. Meski Professor Willis lebih banyak beraktifitas di St. Agnes Hospital, namun dia juga memiliki beberapa pasien di St. Norbert. Dulu mereka sering bertemu dalam kegiatan-kegiatan medis maupun seminar yang diselenggarakan di berbagai penjuru dunia. Dan mereka semakin dekat ketika adik perempuan Professor Willis, Joana, menikah dengan Duert, adik lelaki Fraam beberapa tahun yang lalu.
Professor Willis, atau James, beberapa tahun lebih tua dari Fraam. Sangat tampan dengan wajah aristokrat khas Inggris, yang sekarang semakin bersinar dengan kebahagiaan setelah mempersunting seorang dokter yang berpenampilan manis dan tenang, Caroline. Fraam semalam memenuhi undangan makan malam keluarga itu yang sekarang menetap di rumah besar di Richmond bersama putra mereka yang baru berusia satu tahun. Hubungan James dan istrinya sepertinya sangat kokoh, siapapun bisa melihat betapa James memuja istri mungilnya itu. Fraam yang cukup lama mengenal James agak terkejut dengan wanita pilihan James. Seperti dirinya James tak kurang pendamping wanita yang berwajah laur biasa glamor dan menawan. Namun sepertinya Caroline yang bermata hijau itu telah menjadi pelabuhan hati James setelah sekian lama. Yang tiba-tiba mengingatkan Fraam pada gadis bermata hijau yang lain. Lucy, gadis berambut wortel berlidah tajam dan agak kurang ajar yang tanpa Fraam kehendaki menyita perhatiannya lebih dari yang seharusnya.
Dan sekarang saat Fraam terlibat pembicaraan serius dengan James dan Sir Wyatt, tiba-tiba telinganya menangkap seseorang menyerukan nama Lucy. Atau kedengarannya seperti Lucy. Dan benar saja dalam waktu tak terlalu lama dia menyaksikan Lucy dengan seorang pemuda yang sepertinya dokter magang berjalan berdua sambil tertawa-tawa melintasi lorong. Dan Fraam hampir meragukan ketajaman matanya karena di bawah lampu lorong yang tidak terlalu terang wajah Lucy yang sedang tertawa terlihat begitu segar dan secara tak terduga, cantik. Ya Tuhan, kalau Lucy Prendergast tampak cantik di matanya sepertinya dia harus cepat-cepat memeriksakan matanya.
Dokter De Groot menelepon Lucy tepat saat gadis itu akan beristirahat minum teh seusai dinas malam. Kawan lama ayahnya itu berniat untuk mengajaknya keluar untuk berbincang melepas rindu setelah sekian lama tidak bertemu. Namun setelah tarik ulur menemukan kecocokan waktu akhirnya mereka berdua memutuskan dengan sangat menyesal bahwa jadwal kerja Lucy yang padat ternyata tidak bisa bertemu dengan jadwal seminar Dr. De Groot. Namun Lucy menyanggupi untuk menerima undangan keluarga De Groot berlibur ke Belanda saat cutinya tiba. Akhirnya disepakatilah sebuah tanggal di bulan depan saat Lucy akan berangkat ke Belanda. Setelah mengucapkan terima kasih dengan manis dan tak lupa menitip salam sayang untuk Jaan dan Mies, Lucy menutup pembicaraan dengan hati berbunga-bunga.
Seminggu kemudian Lucy kena giliran dinas pagi. Itu artinya adalah makan siang yang sering kali terlambat sementara waktu makan malam masih jauh. Dan bila cukup beruntung kantin akan tetap buka meski dengan menu sisa-sisa yang orang lain enggan untuk memakannya. Namun Lucy dan rekan-rekannya senasib tidak cukup beruntung sore itu. Jam makan siang telah lama berlalu karena sudah menunjukkan pukul empat lewat saat mereka meninggalkan ruangan. Ketika melihat etalase makanan di kantin Lucy hampir kehilangan selera makan. Salad yang tersisa hanyalah tinggal daun lettuce yang telah layu dengan anchovy yang sudah mengeras dan saus yang berlendir menjijikkan. Sementara roti yang harusnya hangat, empuk dan lembut tinggal bongkahan keras dan menghitam yang sama sekali tak layak makan. Maka bersama delapan rekan lainnya Lucy memutuskan untuk mencari fish and chip dari kedai di seberang jalan yang biasanya tetap buka hingga tengah malam. Dan karena di antara mereka semua hanya Lucy yang paling muda dan paling tidak terbiasa dengan ritual sebelum tidur seperti menggulung rambut atau memasang aneka masker di wajah demi menjaga kecantikan alami, maka Lucylah yang didaulat untuk membelikan mereka semua.
Maka disinilah Lucy sekarang. Tanpa repot-repot mengganti baju, hanya dengan memakai mantel tipis untuk menutupi seragamnya dan dengan mendekap bawaan dalam kantong kertas Lucy berjalan riang menembus lalu lintas padat kota London menuju ke pintu masuk rumah sakit. Kepadatan para pejalan kaki serta kebisingan beragam kendaraan yang memenuhi jalan raya tak menghalangi langkah gadis itu yang ringan berirama bak menari. Namun tiba-tiba
Dan Lucy tanpa repot-repot mengganti baju seragamnya, hanya memakai mantel dan melenggang ceria dengan langkah-langkah kakinya yang ringan sehingga seolah menari, menuju keluar rumah sakit. Namun langkah Lucy terhenti manakala seorang anak, laki-laki, yang rupanya terlepas dari gandengan tangan ibunya, berlari melesat menabrak Lucy. Tak cukup sampai di situ, rupanya si anak tersebut langsung menghambur menuju jalan raya,meninggalkan padatnya pejalan kaki di trotoar menuju lautan mobil, taksi dan bus yang merayap dalam macetnya lalu lintas petang. Lucy yang mengetahui hal tersebut secara refleks berlari mengejar si anak, meninggalkan ibunya yang tengah menjerit histeris. Dalam sekajap mata Lucy telah berhasil menjangkau si anak yang telah tiba di seperempat lebar jalan raya. Hanya saja keduanya tak menyadari manakala sebuah taksi bermanuver merebut tempat kosong yang ditinggalkan sebuah mobil dan hanya Tuhan yang tahu bagaimana akhirnya bumper taksi tersebut menghantam Lucy yang hampir berhasil menjangkau trotoar dan mengakibatkan keduanya jatuh terpelanting setelah sempat terseret beberapa meter jauhnya. Namun Lucy bukanlah Lucy kalau tidak bisa mengantisipasi kejadian itu secepat refleksnya berjalan. Pengalaman berkelahi dengan dua abang yang badung mengajarkan padanya bagaimana cara terjatuh dengan aman. Dan kebaikan hatinya yang tanpa sadar telah tertanam dalam jiwanya sejak kecil mengatur gerak tanpa sadarnya sehingga dia bisa terjatuh dengan mengorbankan punggungnya sendiri demi menyelematkan si bocah dalam pelukannya.
Semua terjadi seolah hanya dalam sekejap mata. Dan ketika akhirnya Lucy sadar dirinya telah dikerumuni begitu banyak pejalan kaki termasuk ibu si anak yang masih histeris. Lucy merasa dirinya konyol sekali karena dalam kondisi terlentang di trotoar, kepalanya terasa sakit luar biasa akibat membentur beton, ditambah lagi kantung ikan cod dan keripik yang tadi dipeluknya di dada sekarang sudah tak karuan bentuknya terhimpit oleh si anak yang ditolongnya. Namun di antara semua orang yang mengerumuninya matanya hanya terpaku pada sosok tinggi besar yang berhasil menyeruak di antara kerumunan orang dan sekarang menatap Lucy dengan tatapan setengah geli setengah mengejek. Professor der Linssen.
“Well...well, ternyata kamu lagi,” komentarnya dan dengan luwes membungkuk untuk menarik si kecil yang masih erat memeluk leher Lucy sambil melolong-lolong ketakutan.
Setelah memberikan si kecil kepada ibunya dan meminta si ibu segera menuju ke Unit Gawat Darurat St. Norbert yang berada hanya beberapa meter dari lokasi kejadian, dia menoleh kembali ke arah Lucy. Gadis itu sedang bersusah payah bangkit dan dengan raut muka semerah udang rebus menolak beberapa orang yang berusaha menolongnya. Dan ketika Professor mengulurkan tangannya Lucy hanya mendenguskan “Terima kasih, saya bisa sendiri,” ucapan yang sia-sia karena laki-laki tersebut alih-alih mendengarkan dengan gentleman menuruti permintaan Lucy, dia malah dengan satu gerakan mudah mengangkat Lucy dan menggendongnya. Langkahnya tegap dan panjang membawa Lucy menuju halaman rumah sakit, mengabaikan sejuta protes yang terlontar dari mulut Lucy.
“Diamlah, Lucy. Lebih baik hemat nafasmu,” katanya dan dengan iseng menambahkan, “Kau bau ikan!”
Dengan Lucy dalam gendongan, Professor menyusul wanita yang membawa si bocah menuju ke Unit Gawat Darurat di bagian depan rumah sakit. Begitu mereka tiba serombongan perawat, beberapa dikenal oleh Lucy, datang dengan kursi roda. Dengan hati-hati Professor meletakkan Lucy di kursi roda. “Anak laki-laki itu aku yakin tidak terluka terlalu parah, tetapi dia tetap harus diperiksa,” katanya kepada dokter magang yang sedang berjaga dan menyambut mereka. Kemudian menoleh ke arah Lucy. “Dan kau, Miss Prendergast, kau mengalami benturan cukup keras di kepalamu dan juga goresan di sepanjang bagian tubuh belakangmu.”
Lucy terdiam seperti memikirkan sesuatu.
“Tak perlu berpura-pura tidak sakit, Lucy. Aku melihatmu ketika terseret taksi dan terpelanting ke trotoar itu. Lebih baik kau segera masuk ke ruang periksa dan bersiap diri. Kau pasti tahu prosedurnya.”
“Saya tidak berpura-pura, Professor. Saya sedang berusaha memutuskan mana bagian tubuh saya yang paling sakit,” balas Lucy sewot.
“Oh ya, untuk siapakah semua makanan yang tadi kau bawa? Aku bisa mengusahakan menggantinya karena pasti mereka sedang menunggu.”
“Itu untuk perawat di asrama kamar B-8. Sembilan potong ikan cod dan sekantung keripik kentang ukuran besar. Terimakasih kalau Anda bersedia menyuruh seseorang untuk membelikan gantinya. Namun Saya sedang tidak membawa uang cukup, Professor. Tapi nanti akan saya akan titipkan uang penggantinya kepada porter di depan untuk Anda.” Lalu dengan ekor matanya dia melihat Doug yang sedang bergegas ke arahnya. “Dokter Smithson sedang menuju kemari, saya bisa meminta tolong kepadanya,” kata Lucy. Lalu dengan tersenyum manis, seolah segala kekesalannya hilang dia berkata, “Terimakasih banyak, Professor der Linssen karena telah menolong saya.”
Lucy tak sempat memperhatikan ekspresi sang professor karena saat Doug mendekat dia telah didorong perawat masuk ke ruangan oleh perawat sementara Doug berbicara dengan professor.
Di dalam ruang periksa Lucy meminta perawat meninggalkannya dan segera menyiapkan dirinya sendiri untuk diperiksa. Dilepasnya semua pakaiannya yang penuh debu, minyak dan bau amis. Dia mencuci tangan dan wajah di wastafel lalu mengenakan baju periksa. Kasur tipis berlapis finil itu tampak begitu menggoda bagi Lucy yang baru menyadari kalau dirinya kelelahan. Segera dia membaringkan dirinya disana, menarik selimut dan mengatur posisi tidurnya tertelungkup sehingga siapapun yang nanti memeriksanya tidak akan kesulitan. Seketika saat kepalanya menyentuh bantal, seketika itu pula kantuk menyerangnya. Sehingga saat terdengar suara tirai digeser dan langkah kaki mendekat ke tempat tidur, dia berada di batas kesadaran antara tidur dan bangun.
“Nah, Lucy, mari kita lihat seberapa parah luka yang kau alami,” suara berat Professor der Linssen terdengar. Lalu terdengar seorang perawat datang dan menimpali beberapa perintah professor.
Keheranan yang menghampiri kepalanya kenapa Professor yang muncul dan bukan Doug terkalahkan oleh kantuk luar biasa. Dalam sedetik Lucy telah terlelap.
Lucy terbangun setelah tertidur selama satu jam. Paling tidak jam di dinding memberitahukan demikian. Mendapati seorang perawat senior di sebelahnya.
“Ah, rupanya kau sudah terbangun, sayang. Professor yang orang Belanda itu tadi memintaku menunggu sampai kau terbangun sendiri. Baik hati sekali dia, mau memeriksamu sendiri. Kau tahu berapa ongkos seorang konsultan kaliber internasional seperti dia dalam sekali periksa?” katanya seraya membantu Lucy bangkit.
“Ya, Suster,” sahut Lucy patuh.
“Kau mengalami lebam dan goresan punggung yang sangat parah. Namun untungnya tidak ada tulang patah. Professor sendiri bilang bahwa kau memiliki gerak refleks yang bagus sehingga memperingan luka-lukamu. Dia berada di sana saat kejadian.”
“Kenapa Professor der Linssen merasa perlu untuk memeriksa saya Suster? Kan cukup dokter praktek? Saya lihat Dokter Smithson sedang bertugas.”
“Dia sedang berada di sini. Dan karena dia melihat langsung semuanya wajar bila dia merasa itu sudah menjadi tanggung jawabnya. Nah sayang, sebentar lagi seseorang akan membawakanmu kursi roda dan mengantarmu ke asrama. Di sana pengurus asrama akan membantumu untuk mandi air hangat dan semua keperluanmu yang lain. Ku harap kau beristirahat. Professor der Linssen telah menuliskan catatan untuk Kepala Ruang tempatmu berdinas agar memberimu waktu istirahat selama minimal lima hari hingga luka-lukamu sembuh.”
“Lalu anak laki-laki itu?”
“Dia baik-baik, sayang. Dan sudah pulang bersama ibunya. Tadi ibunya kesini untuk mengucapkan terimakasih. Karena kau sedang tidur dia berjanji akan kembali besok. Nah, sayang, itu sudah datang orang yang akan menolongmu. Lebih baik kita segera bersiap.”
Hari berikutnya Lucy merasa seperti selebriti. Teman-temannya tak henti-henti datang baik membawakannya berbagai makanan maupun untuk sekedar bergossip. Tak kurang dari Kepala Perawat yang mengunjunginya, menyanjungnya atas tindakan heroik yang dilakukannya, sesuatu yang diterima dengan muka merah padam karena malu oleh Lucy. Sepanjang hidup Lucy tak pernah menerima begitu banyak perhatian dan pujian seperti ini. Bahkan pada petang itu jantungnya serasa copot saat direktur sendiri, Sir Wyatt, datang mengunjunginya. Lucy yang tidak pernah berada sedekat ini dengan orang nomor satu di St. Norbert, merasa grogi dan menjawab pertanyaan kebapakan dari direktur dengan terbata-bata. Namun semua kehebohan itu belum seberapa dibandingkan yang terjadi keesokan harinya manakala seorang perawat membawakan bingkisan luar biasa mencolok mata untuk Lucy. Rangkaian bunga yang pasti mahal dengan pita cantik, sekotak besar coklat mahal, sekaleng kopi dan sekotak teh yang semuanya dari Fortnum Mason, serta setumpuk majalah mengkilap serta novel-novel yang pasti akan disukai oleh gadis-gadis seusianya.
“Nah. Miss, apapun yang kau pikirkan tentang konsultan dan dokter spesialis, paling tidak ada satu yang cukup menghargai perbuatanmu dengan layak, atau malah berlebihan?” canda Suster Edgar si pembawa paket.
Lucy hanya tersenyum menanggapi gurauan perawat yang lembut itu. Apalagi ketika kamarnya diserbu oleh teman-temannya yang sangat penasaran dengan paket yang diterima Lucy. Bahkan selembar kartu berwarna hijau dari kertas mahal berisi coretan professor yang berantakan berisi kata-kata : Untuk Miss Prendergast, semoga lekas sembuh. Fraam der Linssen, tak luput dari perhatian mata-mata menyelidik itu. Dia pernah mengatakan namaku aneh, padahal namanya sendiri begitu sulit diucapkan. Mulutku serasa penuh hanya untuk mengucapkan namanya secara lengkap. Dan tulisan tangannya luar biasa kacau, seolah dia mencelup seekor laba-laba ke dalam tinta dan menyuruhnya berjalan di atas kertas, omel Lucy dalam hati.
Ternyata waktu pemulihan selama lima hari bagi Lucy berlalu terlalu cepat. Pada hari terakhir Lucy merasa dia sudah sehat seperti sedia kala dan sore itu dia menghadap ke kepala ruang anak untuk menerima jadwal kerjanya yang akan dimulai normal keesokan harinya. Sesudahnya karena hari masih panjang untuk dihabiskan di asrama Lucy memutuskan pergi berjalan-jalan ke mall. Sekedar window shopping pasti bagus untuk moodnya. Maka Lucy pun keluar dari lingkungan rumah sakit untuk pertama kalinya setelah lima hari menuju ke keramaian manusia yang sibuk beraktifitas di jalan. Saat di perempatan Knightsbridge lampu hijau untuk pejalan kaki menyala. Bergegas Lucy mengikuti yang lain menyeberang jalan. Tiba di tengah jalan matanya menangkap semuah mobil mewah, Aston Martin model terbaru yang tengah menanti lampu hijau buat kendaraan. Namun yang lebih menarik perhatian Lucy adalah si pengemudinya. Professor der Linssen. Tak salah lagi. Jadi dia masih berada di London. Dan perempuan yang berada di sebelahnya, berambut pirang dan begitu trendy seolah salah satu finalis British Next Top Model. Pasangan yang luar biasa dan membuat bibirnya secara tanpa sadar menganga. Namun Lucy buru-buru mengalihkan pandangan dan berlalu secepatnya. Apa yang dilakukan professor sok ganteng itu di luaran dengan gaya hidupnya yang glamor itu toh bukan urusannya. Meski dengan gemerlap kehidupan kalangan atas yang dilakoninya sangat mengherankan bila professor masih terpikir untuk mengiriminya bunga dan bingkisan. Barangkali juga itu semua dilakukan oleh sekretarisnya. Laki-laki itu cukup menuliskan kartu sekedarnya untuk memberikan sentuhan personal. Sesuatu yang cukup mudah dilakukan. Dengan itu Lucy pun membuang segala pikiran tentang professor yang agak aneh tersebut dan meneruskan rencananya menuju pusat pertokoan.
Apapun yang dipikirkan oleh Lucy, ternyata Fraam melihat saat gadis itu berjalan dengan langkah kakinya yang ringan berirama, seperti menari, begitu Fraam mendefinisikan gaya jalan Lucy yang sepertinya hanya dimiliki oleh gadis itu seorang. Rambut wortelnya berantakan tertiup angin. Dengan mengenakan celana denim dan blus ditutup jacket serta sepatu santai gadis itu tampak begitu muda. Seperti gadis sekolah menengah saja. Dan entah kenapa setiap nama Lucy melintasi kepalanya Fraam semakin sadar betapa usianya sudah tidak muda lagi. Dan itu untuk pertama kalinya, setelah bertahun-tahun menyandang gelar bujangan dengan sangat bangga, Fraam merasa sangat tidak nyaman. Seperti kali ini. Tanpa sadar matanya mengikuti gadis itu hingga hilang dari pandangan. Sekilas tadi sempat dilihatnya gadis itu menoleh ke arahnya, atau ke arah mobilnya yang memang glamor. Tapi hanya sebentar. Sebelum dia kembali melenggang menyeberangi jalan entah kemana.
“Apa yang kau lihat?” tanya Chantal, si blonde di sebelahnya.
“Bukan apa-apa. Kupikir aku melihat seseorang yang kukenal,” dan lampu pun berubah hijau untuk kendaraan. Tanpa banyak bicara Fraam menjalankan mobilnya. Diliriknya sekilas perempuan di sebelahnya. Putri salah satu kolega. Gadis sosialita yang terbiasa dengan gaya hidup kelas atas, yang tak akan mau bersusah payah bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Sokongan dana tak terbatas untuk memenuhi gaya hidupnya dari orang tuanya serta deretan calon suami kaya raya yang potensial telah dipersiapkan oleh para orang tua untuk putrinya. Fraam mendengus dalam hati. Kehidupan seperti ini, mendampingi perempuan-perempuan cantik makan malam di restoran mewah, dimana mereka bahkan terlalu takut untuk menikmati makanan-makanan mahal itu demi alasan diet ketat, atau menonton opera meski dia menyukainya, namun tanpa partner yang tepat akan terasa sangat hambar, mulai terasa membosankan. Kadang Fraam lebih menikmati jam kerjanya yang panjang dan berat di rumah sakit atau bersantai di rumahnya dalam kesunyian, membaca buku, mendengar musik, ditemani anjing golden retriever miliknya. Sepertinya aku benar-benar mulai menua, batinnya.
Hari-hari berlalu dengan normal bagi Lucy. Jam kerja yang panjang dan melelahkan di ruang anak-anak, kuliah menjemukan dari para tutor di hall, bergossip dengan teman-temannya, jalan-jalan keliling mall, satu dua kali keluar makan malam atau nonton bioskop, kadang dengan teman sesama siswa perawat, namun juga sering dengan Doug. Sesuatu yang sangat normal bagi gadis pekerja berusia awal dua puluhan seperti dirinya. Sesekali dia masih ingat sosok professor tampan dari Belanda itu. Namun hanya sekilas. Meski rasanya tak percaya kalau laki-laki itu dengan pandangan mata yang mengejek, mengatainya bau ikan, namun juga yang membopongnya menuju rumah sakit, bahkan mengiriminya bingkisan yang terlalu berlebihan untuk gadis sepertinya. Ah, kenapa pula aku harus pusing, itu uangnya sendiri. Dan mungkin baginya mengeluarkan uang untuk membeli bingkisan mewah baginya tak lebih seperti memberi sedekah bagi pengemis di jalan. Dan dengan menyeringai Lucy pun melupakannya.
Dokter De Groot memenuhi janjinya. Satu minggu sebelum tanggal yang disepakati beliau mengirimkan surat yang juga dilampiri dengan tiket penerbangan kelas ekonomi dari Heathrow ke Schipol dengan pesan bahwa Jaan yang akan menjemputnya di sana. Karena jadwal keberangkatan pesawat hari Senin sore maka Lucy berencana pulang ke rumah orang tuanya Sabtu pagi, meski itu berarti setelah dinas malam, tanpa tidur, Lucy harus mengejar kereta api dan melanjutkan tidur di perjalanan. Lucy akan berangkat ke London Senin pagi langsung ke bandara agar lebih praktis.
Malam terakhir sebelum kepulangannya ke ke Beaminster, keadaan di ruang anak-anak sangat tak tertahankan. Delapan pasien mungil itu seolah kompak mengeluarkan kemarahannya dan membuat kalang kabut ketiga perawat yang berjaga di ruangan. Dan Lucy sedang berkutat dengan seoarng batita yang sangan sakit dan sangat marah serta menangis menjerit-jerit minta pulang. Lucy berusaha mendiamkan dengan mendukungnya dan meletakkan kepalanya di pundak seraya mengocehkan kata-kata bujukan. Kata-kata bujukannya hampir berhasil kalau saja Dr. Henderson, ahli bedah yang tadi siang mengoperasi salah satu anak yang sekarang sedang tertidur nyenyak di pojok ruangan, datang untuk visite. Dan bersamanya tinggi menjulang dan sama sekali tidak jelas kepentingannya adalah Professor der Linssen. Entah kenapa Lucy merasa mulai jengkel karena sepertinya laki-laki itu selalu muncul dimana-mana. Dan melihat kedatangan kedua laki-laki itu anak dalam dukungan Lucy menjerit semakin keras.
“Professor der Linssen ingin berbicara kepadamu, Miss Prendergast,” kata Dokter Handerson.
Lucy mengerutkan alis menatapnya. Dia seoarng lelaki yang cukup pendek dan berbakat untuk menjadi gemuk dan botak. Dan yag lebih menjengkelkan dia selalu membuat anak-anak ketakutan dan menangis lebih keras. Bukan karena dia jahat, tetapi hanya karena dia sangat tidak suka melihat anak sakit, hal yang sangat ironis bagi seorang dokter. Dan sepertinya aura itulah yang tersampaikan kepada makhluk-makhluk mungil malang itu. Seperti si kecil yang menjerit-jerit marah dan putus asa dalam dukungan Lucy saat ini.
“Letakkan anak itu kembali ke boks, Suster,” perintahnya tidak sabar kepada Lucy.
Lucy tak akan berniat menuruti perintah itu. Dia malah menunduk dan membalikkan badan, kembali sibuk menenangkan si kecil. Namun dia terkejut saat sepasang lengan kokoh dan panjang terulur mengambil anak dari gendongan Lucy, dan meletakkan kepala si kecil dibahunya yang bidang. Secara otomatis si kecil menghentikan tangisnya, memutar kepalanya untuk menatap siapa yang mendukungnya dan tertawa menunjukkan gigi susunya yang baru tumbuh dua itu. Dengan wajah masih bersimbah air mata, leleran liur di bibir serta ingus di hidung, bocah itu tertawa ceria dan berkata, “Da...da....”
Professor der Linssen tertawa, dengan tangannya yang bebas menowel pipi gemuk itu. “Nah, sekarang kembalilah kepada Suster Cantik ini, sayang. Jangan rewel ya, kasihanilah dia,” dengan kata-kata itu Professor der Linssen mengembalikan si bocah kepada Lucy. “Kau tidak perlu khawatir begitu. Anak kecil suka padaku. Bukankah kau sendiri pernah mengatakan bahwa aku pasti seorang ayah yang baik?” katanya kepada Lucy.
“Yang saya khawatirkan bukanlah Anda akan menakut-nakuti anak ini, Professor. Saya hanya khawatir ingus dan liur anak ini akan mengotori baju Anda yang mahal,” jawab Lucy.
Professor der Linssen menyambutnya dengan tawa terbahak-bahak. “Miss Prendergast, selalu siap dengan jawaban yang tak terduga,” dan setelah Lucy meletakkan si kecil kembali ke boksnya laki-laki itu menambahkan, “Aku bertemu Smithson barusan dan kudengar dari dia kau akan pulang ke Beaminster besok pagi. Kebetulan aku akan ke Bristol. Aku akan memberimu tumpangan.”
Pada tawaran yang lebih mirip perintah itu Lucy hanya menanggapi dengan dingin, “Anda baik sekali. Tetapi saya pergi dengan kereta. Lagi pula Beaminster agak diluar jalur Anda.”
“Ah, Beaminster adalah bagian dari Inggris yang selalu ingin kukunjungi,” dia meyakinkan dengan manis. “Apakah jam sepuluh terlalu pagi untukmu? Kau bisa tidur di sepanjang jalan bila kau mau.”
Dengan kata lain, pikir Lucy masam, tidak akan ada bedanya aku ada atau tidak. Siapalah aku ini. Toh aku bukan si blonde yang spektakuler yang cocok untuk bertengger di mobilnya yang hebat itu.
Seolah memahami jalan pikiran Lucy, laki-laki itu menambahkan, “Kalau boleh memilih, aku pasti lebih suka kalau kau tetap terjaga sepanjang perjelanan dan menghiburku dengan celotehanmu yang suka diluar dugaan itu. Tetapi dengan jam kerjamu sekarang sepertinya aku tak bisa berharap lebih. Dan jangan katakan aku laki-laki yang suka menuntut sesuatu yang masuk akal.”
Wajah Lucy kontan memerah.
“Jam sepuluh aku akan menunggumu di depan.”
“Baiklah, Sir. Terima kasih,” katanya. Dan kepada Dokter Henderson Lucy menganggukkan kepalanya.
Dengan anggukan singkat Professor der Linssen melangkah pergi diikuti Dokter Henderson.
Keesokan paginya Lucy, karena cuaca yang sudah mulai panas, hanya mengenakan celana denim selutut dan t-shirt katun berpola bintik-bintik yang manis, telah siap dengan tas ranselnya dan berderap ke pintu depan. Masih kurang lima menit dari waktu yang dijanjikan dan dia berencana akan ngobrol sebentar dengan portir yang berjaga di bagian depan. Laki-laki ramah yang selalu siap membantu siapapun. Namun ternyata Professor der Linssen sudah berdiri di sana. Laki-laki itu dalam pakaian resmi maupun santai tetap menguarkan aura yang sama, mahal! Namun Lucy menolak untuk terintimidasi. Biar dia berpenampilan selayaknya gembel, dia tak peduli. Yang mengajak kan laki-laki itu, bukan dia yang ngotot ikut. Maka dengan mengangkat kepala Lucy berderap gagah menemuinya.
“Selamat pagi, Professor,” salamnya ceria.
“Selamat pagi, Lucy. Aku senang tak perlu harus menunggu,” katanya seraya menatap Lucy dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Bila saya terlambat mungkin Anda sudah meninggalkan saya, Sir. Dan saya pasti menyesal tidak sempat merasakan mobil Anda yang hebat itu.”
“Masih Lucy yang sama. Suasana pagi ternyata semakin mempertajam lidahmu,” komentar professor sambil tertawa geli.
Beberapa saat kemudian setelah berpamitan dengan portir, Lucy sudah duduk nyaman di jok kulit mahal dalam mobil yang sejuk dan beraroma harum. Sangat lain bila dibandingkan dengan mobil tua ayahnya. Apalagi dengan kereta api. Ditambah lagi Professor der Linssen sepertinya seorang pengemudi yang ahli, sama ahlinya dia dalam mengatasi bocah yang menangis atau menghadapi pasien di ruang operasi. Dan tidak mengherankan bila dia juga ahli dalam menangani wanita-wanita cantik. Tak pernah sekalipun dia mengeluarkan umpatan pada lalulintas London yang padat. Llucy juga tidak mendapati tangannya yang berjari-jari panjang elegan terawat itu mengetuk-ketuk kemudi dengan tidak sabar. Tanpa malu-malu Lucy mengamati pria di sampingnya itu.
“Apapun yang ada dalam pikiranmu itu, lebih baik katakan saja. Aku sudah mulai terbiasa mendengar celetukanmu itu,” kata professor. “Aku tak heran bila kau masih marah padaku. Aku memang kadang pemarah, bertemperamen buruk dan arogan. Namun aku bukan pendendam. Kau boleh tidur semaumu saat aku meberi kuliah lain kali meski aku yakin semua kuliah yang aku sampaikan sangat bermutu, namun aku akan pura-pura tidak tahu. Itu salah satu dari daftar kebaikan hatiku yang sedikit yang bisa kutawarkan padamu.”
“Sebaliknya, Sir, saya sedang mengagumi Anda. Anda memang tampan. Dan saya hampir yakin bahwa Anda juga orang baik,” kata Lucy terus terang.
Suara tawa terbahak memenuhi mobil itu. “Andai adik perempuanku bertemperamen sepertimu.”
“Anda punya adik perempuan?”
“Kenapa kau heran? Aku punya saudara, laki-laki dan perempuan seperti orang lain. Aku juga punya orang tua, lengkap sepasang, ayah dan ibu. Tentu kau tak berfikir aku dilahirkan dari batu kan?”
“Well... biasanya orang-orang tua seperti Anda akan membicarakan anak dan istri.”
“Tetapi seperti pernah kukatakan padamu aku tak memiliki keduanya. Mungkin karena bagimu aku sudah terlihat sebagai laki-laki separuh baya. Memang usiaku sudah hampir empat puluh dan tidak akan bisa dikatakan muda lagi.”
“Omong kosong. Orang bilang usia empat puluh bagi laki-laki adalah usia emas. Sedangkan perempuan lebih cepat menua.”
“Benarkah? Apa yang kalian lakukan dengan segala bedah plastik, face lift, sesi tanpa akhir di klinik kecantikan dan parade baju-baju di setiap musim?”
“Itu menunjukkan Anda hidup di planet yang berbeda dengan kami para pekerja, Sir. Anda tak akan berkata demikian kalau saja Anda tahu betapa penderitaan kami para gadis agar tetap terlihat pantas dengan segala krim wajah dan penggulung rambut itu,” Lucy mengakhiri perkataannya karena rasa kantuk tak tertahankan.
“Ah, kau sudah terlalu lelah. Tidurlah. Aku akan membangunkanmu nanti.”
Tak perlu waktu lama bagi Lucy untuk segera tertunduk dan tertidur lelap. Dia tak sadar waktu Fraam membetulkan kepala gadis itu yang hampir membentur pintu mobil dan menyandarkannya di bahu bidangnya. Aku pasti sudah gila, pikirnya sambil mengamati rambut pendek Lucy yang meski berantakan namun tebal dan bersih. Dia berkali-kali menganalisa letupan perbuatannya yang tak terkontrol bila berhubungan dengan Lucy. Seperti semalam, hanya karena mendengar dari Smithson tentang Lucy yang akan pergi ke Beaminster telah cukup membuatnya menyeret Handerson ke ruang anak menemui Lucy. Dan sesudahnya dia terheran-heran sendiri karena terus terang dia tak punya urusan apapun di Bristol. Bahkan dia telah menolak menghabiskan akhir minggu di rumah James dan Caro di Richmond hanya untuk mengantar gadis berambut wortel ini pulang. Dan tadi pagi, menatap cermin di kamarnya di hotel Ritz tempatnya mnginap, dia melihat betapa wajahnya tampak semakin tua. Terlalu tua. Terlalu tua untuk apa? Terlalu tua untuk siapa? Agaknya dia harus cepat kembali ke negaranya untuk menjaga kewarasan otaknya.

Thursday, December 29, 2011

The Last Choice (5)

Tak pernahterlintas dalam kepala Katty bahwa dia akan memiliki jenis hubungan yang begituintens secara fisik dengan Sev. Bagai berjalan di atas awan Katty tenggelamdalam euphoria atas kesadaran baru bahwa perempuan seperti dirinya ternyatabisa memiliki gairah yang begitu menggebu. Tubuh femininnya yang sekian lamaterlelap seolah dibangkitkan oleh Sev. Kini Katty jadi faham apa gunanya dadaber-cup C miliknya itu. Juga bibirnya yang baru dia sadari masuk dalam kategori seksi. Bahkan mata almondmilikinya ternyata mempunyai daya tarik tersendiri. Padahal selama ini betapa iri dia dengangadis-gadis kerempeng bak peragawati yang seperti mannequin berjalan danberdada rata, sementara dia harus risih setengah mati menyembunyikan gumpalanmenggelantung di dadanya yang seolah salah tempat pada badannya yang berposturmungil, dan telah membuatnya malu karena saat remaja selalu menjadi bahanejekan teman-teman pria. Bibirnya pun seperti salah bentuk saat diciptakankarena terlalu lebar untuk raut muka mungil dan berbentuk segitiga itu. Bahkanwarna mata, sering dia berfikiran untuk mengenakan contact lens warna hijauatau biru karena apa menariknya sih mata berwarna coklat?
Tapi ternyataSev memuja semua kekurangan itu. Atau setidaknya Sev menampilkan kesan begitu.Sering lelaki itu berlama-lama mencumbu bibir dan dadanya hingga membuat gairahKatty menggelegak ingin disalurkan. Saat mereka tengah mabuk dalam pusarangelombang yang mengiringi penyatuan fisik mereka, Sev akan menatap matanya danterkunci dalam kedalaman mata coklat almond Katty. Sebagai seorang kekasih, Sevmemang tak diragukan lagi keahliannya dalam membahagiakan pasangannya. BagiKatty yang lugu dan tak berpengalaman, mana dia sadar bahwa perempuan tanpapengalaman seperti dirinya tanpa partner yang tepat tak akan begitu mudah untukmencapai puncak kepuasan. Rasa nyaman dan aman yang diberikan oleh Sev seolahmembiusnya sehingga dia menerima dengan tanpa banyak keraguan dimensi baruhubungan mereka. Meski kadang sempat terlintas dalam benak Katty bahwa meskiselalu mengatakan bahwa Katty adalah perempuan yang telah lama ditunggunya, dansatu-satunya yang tepat untuk mendampinginya, namun Sev sama sekali tak pernahmengungkapkan kata cinta sekalipun.
Kenapa haruspusing? Pikir Katty berusaha tak peduli. Toh itu hanya sekedar kata-kata.Mereka berdua sudah sama-sama dewasa dan saling mengenal cukup lama sehinggauntuk menuntut kata-kata itu dari mulut Sev Katty merasa konyol dan absurd. Punkarena kesibukan Sev yang teramat padat membuat lelaki itu sering pulang larut,bahkan kadang harus pergi selama beberapa hari, tanpa pemberitahuan yang cukuplayak, hanya pesan pendek semisal : harusmenghadiri gala dinner anu... atau haruske Jepang untuk dua hari... , tak membuat Katty terpancing cemburu. Meskikadang tanpa bisa dicegah sebersit perasaan was-was menghinggapi dirinyamembuatnya ingin tahu dengan siapa Sev menghabiskan malam bila lelaki itupulang pagi atau apakah Sev masih menikmati hubungannya dengan wanita-wanitalain di luar sana. Dan kenapa sejauh ini tak sekalipun Sev melibatkan Kattydalam lingkungan sosialnya. Namun Katty berusaha rasional dan berfikir jernihbahwa kepribadian Sev tak akan mengijinkan lelaki itu untuk bertingkahbrengsek. Sev seorang gentleman yang tak mungkin mengkhianati wanita baik-baik,teman masa kecil seperti Katty. Bahwa Sev sebagai seorang pengacaraprofessional yang bertaraf internasional memang memiliki jam kesibukan yangpadat dan jam kerja yang panjang dan tak menentu. Dan Katty meyakinkan diriuntuk kembali ke platform dasar hubungan mereka. Bila selama bertahun-tahun diatak pernah gundah karena jarang bertemu dengan Sev, kenapa pula sekarang diaharus berubah? Maka daripada dia menghabiskan kebersamaan dengan Sev yang hanyabeberapa jam sehari dengan meributkan hal-hal yang tidak jelas, Katty lebihmemilih menikmati perhatian dan gairah lelaki itu yang seolah tak pernahterpuaskan.
Kattymenganggap dirinya telah sangat mengenal Sev dan cukup tahu betapa pesona Sevtelah menyihir setiap wanita yang berada di sekitarnya. Dulu waktu mereka masihremaja tak terkatakan betapa banyak gadis-gadis yang ingin berteman denganKatty hanya karena dia dekat dengan Sev. Sekali waktu beberapa teman dariasrama putri tempatnya bersekolah menghabiskan liburan dengan menginap diStockley House dan secara kebetulan berkenalan dengan Sev. Sejak itu merekaselalu memohon Katty mengundang mereka untuk berlibur ke rumahnya. Permintaanyang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Katty. Bahkan Lindsay Fowler, putripemilik toko serba ada di wilayah mereka telah gembar gembor bahwa dia telahmenyerahkan keperawanannya kepada Sev karena Sev memintanya menjadi pasangansaat menghadiri pesta dansa.
“Memang kaupikir dia cukup baik untuk membuatku bersikap konyol begitu?” Tanya Sev sinissaat Katty mengatakan apa yang telah beredar di gereja tentang gossip yangdikatakan oleh Lindsay.
Hinggaperiode Virginia yang ternyata berakhir di luar dugaan.
Untukmembunuh kesepian Katty mencurahkan segala energi untuk pekerjaan. Bila diaingin karirnya meningkat sepertinya inilah saat yang paling tepat. Dia beradadi jantung kota London, dalam mansion mewah milik lelaki spektakuler yangmengklaim dirinya, gadis sederhana, sebagai miliknya, dalam ruang kerja canggih,dan memiliki waktu tak terbatas tanpa gangguan, apalagi yang diharapkannya?Semua toh sudah ada dalam genggaman. Dengan bakat yang dimilikinya, Kattymerasa dirinya sudah harus keluar dari dunia aman yang selama ini memanjakannyaseolah dalam fantasi kekanakan, seperti ilustrasi yang sering dibuatnya dalambuku anak-anak.
Sudah tigaminggu Katty berada di London. Kesibukan Sev yang hanya menyisakan sedikitwaktu membuat Katty memiliki kesempatan menggali kembali kemampuan danide-idenya. Katty sudah mempertimbangkan beberapa karya yang ingin dibuatnyaselain dia juga menyelesaikan kontrak kerja yang dia buat dengan perusahaanpenerbitan yang selama ini memanfaatkan bakatnya. Dan sungguh luar biasakepercayaan diri yang baru tumbuh merubah kepribadian seseorang. Untuk pertamakalinya dalam hidup Katty merasa lega, bebas, dan entah kenapa, merasa sangatcantik dan penuh semangat. Perasaan yang memberi rona merah segar di pipinyaserta memancarkan kilau muda yang ceria di mata coklat almond itu. Dengan energi baru tersebut Katty merasasanggup untuk menaklukkan dunia.
Perubahan itusangat disadari oleh teman-teman di sekitar Katty di perusahaan penerbitan.Mereka melihat Katty sering keluar masuk gedung dan menjadi saksi hiduptransformasi gadis itu menjadi seekor kupu-kupu yang cantik.
“Kini semuatelah melihat dengan jelas betapa cantiknya cewek yang sedang jatuh cinta,”komentar Simon saat Katty mampir ke meja lelaki itu.
Menanggapikomentar tersebut Katty hanya tertawa lebar. “Apakah terlihat sejelas itu?”tanyanya iseng.
“Sejelaspapan iklan di stasiun kereta api bawah tanah. Dan aku heran cowokmu yangcanggih itu membiarkanmu berkeliaran sendirian meski kau hanya mengenakansehelai sapu tangan di tubuhmu.”
“Sev sedangsibuk sekali. Aku hanya punya sedikit waktu dengannya,” mata Katty sepertibermimpi mengingat semalam Sev pulang hampir jam dua belas malam dan segeramembangunkannya yang sedang terlelap. Dan sejak tengah malam mereka tidak tidurhingga menjelang jam lima pagi. Dan pagi ini dengan perasaan melambung sisasensualitas semalam Katty memutuskan mengenakan gaun musim panas yang ringanmelambai tanpa lengan yang meski memiliki garis leher cukup sopan namunpanjangnya hanya beberapa centi di bawah pinggul, menampakkan tungkai langsingdan padat miliknya.
“Hai!Sadarlah!” seru Simon melihat gadis itu mulai melamun.
Dengangelagapan Katty mengerjapkan matanya, “Sorry.”
“Padahalsemula aku ingin memintamu menjadi pendampingku dalam gala dinner perusahaanJumat malam nanti. Namun karena kau sudah punya cowok, terpaksa aku harus carigadis lain karena bagaimanapun aku tak ingin mengawali permusuhan denganpacarmu.”
“Jumat malamini ya?” tanya Katty untuk meyakinkan diri. “Tetapi kenapa tidak?”
“Eh?” Simonmembelalakkan matanya. “Benarkah?”
Katty menganggukmantap. “Sev sangat sibuk jadi sepertinya aku pergi pun dia tidak bakal tahu.Asal kita pulang sebelum tengah malam kurasa tak akan apa-apa.”
“Katty...”
“Ayolah,sekali-sekali aku juga ingin sedikit gila-gilaan. Dan denganmu akan aman. Sevsudah mengenalmu dan aku juga sudah menjelaskan padanya tentang hubunganpertemanan kita. Pasti tidak apa-apa. Serahkan semua padaku. Ok?”
Ya, pastitidak apa-apa. Katty tak pernah menaruh curiga terhadap semua aktifitas Sev,dan Katty yakin Sev pun pasti begitu. Lagipula toh mereka bukan lagi pasanganingusan yang sedang mengalami cinta monyet. Hubungan mereka merupakan hubungandua orang dewasa yang dijalani dengan penuh tanggung jawab dan merupakankelanjutan dari hubungan jangka panjang selama bertahun-tahun sejak merekamasih kanak-kanak. Dengan keyakinan tersebut Katty melangkah mantap menuju kejalan yang dipenuhi deretan butik-butik mewah untuk mencari gaun pesta.
Dan malam itusetelah berkutat di studionya hingga lewat waktu makan malam Katty bergelung disofa di depan layar televisi membaca buku sambil mendengarkan musik. Malam iniadalah satu di antara malam-malam Sev melewatkan makan berdua bersama Katty.Dan bila harus makan sendiri biasanya Katty tak mau repot-repot memasak danlebih memilih cara praktis memesan makanan siap saji. Saat pukul sepuluh Sevpulang hanya mendapati Katty yang sedang tertidur di ruang keluarga dengan bukuyang tergenggam longgar di tangannya. Sev menatap ke sosok gadis di depannya.Rambut coklatnya tersebar berantakan sementara bibir sensualnya sedikitterbuka. Dadanya mergerak lembut naik turun seirama tarikan nafasnya.
Tiba-tiba Sevmerasa serbuan gairah yang menggelora mengisi setiap pembuluh darahnya. Tanpamembuang waktu dengan gerakan cepat dia melepas atasan setelan dan dasinyauntuk kemudian di lempar di sandaran kursi, menyusul tas kerja yang telahmendapat perlakuan sama sebelumnya. Langkahnya mantap ketika dia mendekatitempat Katty tertidur dan tanpa suara membungkuk di sebelahnya.
“Halo....,”bisiknya di telinga Katty. Nafasnya yang panas menerbangkan anak-anak rambut dipelipis gadis itu.
Kattyterbangun, matanya mengerjap terbuka dengan bingung dan seolah kehilanganorientasi. “Sev...” suaranya parau karena masih mengantuk.
Sev takmenunggu berkata-kata, direngkuhnya Katty dengan erat, memuaskan bibirnyadengan kemanisan bibir Katty hingga gairah berkobar membakar keduanya. Malamitu keduanya tak mau lagi direpotkan untuk pindah ke kamar tidur. Sev mencumbuKatty dengan penuh nafsu, hanya menyempatkan sedikit akal sehat sebelumkeduanya bergulung dalam pusaran birahi yang tak memungkinkan adanyaperbincangan.
Beberapa saatkemudian, masih dengan pakaian yang terbuka dan acak-acakan, Katty dudukbersandar di dada Sev. Telapak tangannya yang lembut membelai bulu-bulukehitaman yang tersebar melapisi otot keras lelaki itu. Sebetulnya Katty inginberteriak, kemana saja kau! Tapi lidahnya serasa kelu dan tak satu kata punkeluar dari bibirnya.
“Apakahkesibukanmu hari ini?” tanya Sev seolah melamun sambil menenggelamkan bibirnyadalam gerai rambut Katty.
“Sepertibiasa. Bekerja di studio,” jawab Katty. Dia sebenarnya ingin menceritakanhari-harinya di kantor atau rencananya untuk menghadiri pesta di perusahaan.Tapi pasti hal tersebut tak cukup penting atau menarik bagi Sev. Dan saat Sevmenggigiti lembut area belakang telinganya yang sensitif, Katty pun melupakansemuanya.
***
Hotel tempatpesta itu berada di sisi lain London yang berseberangan dengan daerah dimanaKatty tinggal bersama Sev. Simon menjemputnya di mansion Sev dan dibuatterkagum-kagum pertama akan kemunculan Katty dalam busana pesta yang mahal danelegan, lalu pada interior mewah kediaman Sev. Katty menerima pujian Simondengan tawa lebar. Pujian Sev selalu membuatnya tersipu. Sedangkan pujianSimon, mungkin juga dari laki-laki lain tak akan sanggup membuat pipinyamemerah. Agaknya aku memang ditakdirkan menjadi kekasih Sev,pikirnya. Tak adalaki-laki lain sehebat dia. Ibarat orang tak akan memilih milkshake setelahmerasakan kelezatan sampanye.
Katty bertemudengan hampir semua teman kantor di tempat pesta. Agaknya transformasi Kattytelah menjadi gossip hangat di seluruh gedung. Katty tahu bahwa di belakangpunggungnya dulu mereka menjulukinya gadis dusun atau putri pendeta. Katty takmerasa tersinggung karena pada kenyataannya memang begitulah penampilannyadulu. Namun sekarang Katty merasa senang dengan dirinya yang baru. Bilagadis-gadis lain berusaha menarik perhatian dengan gaya dandan seseksi mungkin,memperlihatkan terlalu banyak bagian dada dan paha, maka Katty membuat dirinyaterlihat menarik dengan gaya gadis kaya yang simple tapi modis, seksi namuntidak murahan, mahal dan chic. Dan meski Simon untuk malam itu tampak tampandalam busana resminya tetap tak bisa dibandingkan dengan ketampanan Sev. Namunpaling tidak Katty tidak harus sendiri datang ke pesta seperti waktu-waktulalu.
Pesta dimulaidengan lancar. Katty, dalam waktu singkat telah menemukan rombongan rekan-rekanlain di antara penuhnya para undangan yang terdiri dari seluruh jajaraneksekutif dan karyawan penerbitan, baik regular maupun freelance, serta pararelasi bisnis perusahaan. Setelah segelas sampanye mengalir melaluitenggorokannya, serta beberapa potong tarlets dan canape mengisi perutnya,Katty berbaur bersama yang lain. Menerima ajakan beberapa laki-laki untukberdansa maupun berbincang dengan mereka. Simon pun tak kalah aktif dalambersosialisasi. Katty mengerling kepada kawannya dengan sayang dan tersenyummemberi support. Agaknya perceraian telah berdampak bagus pada lelaki itu tanpadia sadari. Simon seperti menemukan dimensi baru kepribadiannya, terlepas dariistrinya yang tukang selingkuh itu. Baik Simon maupun Katty memang berada diplanet yang sama, planet tempat orang-orang yang baru saja menemukan sisi lainkepribadian mereka.
Katty sedangmengambil setusuk udang dan memasukkannya ke dalam mulut ketika tiba-tibaseorang perempuan paruh baya muncul di hadapannya.
“Katty kan?”tanya perempuan tersebut.
Kattymembelalak menatapnya. Wanita itu berbusana resmi, anggun, mahal, dan tampakangkuh di usia senja. Katty berfikir sebentar berusaha mengingat wajah itu.“Mrs. Clever?” tebaknya.
Wanita itutersenyum “Agaknya kau tidak lupa. Bagaimana kabarmu? Sudah cukup lama ya,sejak ayahmu meninggal dulu.”
PasanganClever adalah salah satu tetangga di Oxford yang mengenal keluarga Katty. Putrimereka, Angela, dua tahun lebih tua dari Katty, sangat cantik, dan kabarnyatelah lama menapaki karir di dunia fashion. Sekitar lima tahun yang lalupasangan itu pindah ke Birmingham.
“Joe ternyatateman sekolah direktur penerbitan. Dia mengundang kami berdua, bersama Angelajuga tentunya, untuk hadir. Sayang, Angela masih berada di Paris. Yah, kau tahusendiri bagaimana dunia fashion itu.”
Kattysetengah mati ingin seseorang menyelamatkan dia dari perjumpaan tak terdugadengan wanita sombong ini.
“Oh ya,bagaimana kabar Drake Muda, tetanggamu itu? Apakah kau masih sering bertemudengan dia sewaktu kalian di Oxford? Seingatku kalian dulu sangat dekat semasakanak-kanak. Tetapi memang sulit mempertahankan keakraban masa lalu. Apalagidia sekarang sudah sangat sukses. Bujangan kaya dan tampan, mungkin terlalusibuk untuk menemui kembali teman kana-kanaknya. Orang biasanya begitu. Itunormal.”
Kattymemendam kedongkolannya dalam hati. Ingin dihapusnya cengiran puas diri diwajah wanita itu dengan mengatakan bahwa Sev dan dia sekarang bukan hanya masihakrab, namun juga telah menjadi sepasang kekasih. Tapi emosi tak akan membawakemana-mana. Maka alih-alih membantah Katty hanya tersenyum manis, “ Agaknyabegitu. Apalagi sekarang saya juga sudah sibuk di London.”
“Anak mudajaman sekarang, terlalu asyik dengan dunia karir dan tidak peduli kepadakehidupan berkeluarga. Kalian para gadis, tidak perlu harus mengejar karierterlalu tinggi. Yang perlu kalian lakukan hanyalah mencari leki-laki yang cukupbaik dan kaya dan kalian akan hidup bahagia. Angela juga. Dengan wajahnya yangcantik dan posisi kami yang cukup terpandang, dia tidak perlu harus bekerjasekeras itu bila Severus Drake berencana mempersuntingnya.”
Eh? Kattymerasa telinganya berdenging.
“Oh, ayolah,sayang...” Mrs. Clever melanjutkan melihat keterkejutan di mata Katty. “Sevmungkin tak menceritakannya padamu. Mereka berdua telah liburan bersama keHawaii musim dingin akhir tahun lalu. Apalagi yang terjadi bagi dua orang ituselama dua minggu di pulau yang eksotis itu selain percintaan yang menggebu?Dan kami yakin kali ini mereka telah saling serius. Sev begitu kaya, sukses,dan tampan sementara Angela kami yang cantik pasti merupakan pasangan yangcocok untuknya. Laki-laki dengan kedudukan seperti Severus membutuhkan pasanganyang mengerti dengan baik lingkungan sosial kelas atas. Kami benar-benar tak sabarmenunggu kabar bahagia mereka. Sayangnya baik Sev maupun Angela masih malu-maluuntuk mengatakannya. Bahkan waktu kami bertemu saat makan malam minggu lalumereka juga masih berusaha menutupi hubungan mereka. Ya ampun, kami benar-benarpenasaran.”
Mrs. Cleverterus berbicara tanpa menyadari betapa wajah Katty memucat. Simon yang beradadi seberang ruangan melihat sekilas kepada Katty dan segera tersadar bahwaKatty tengah memancarkan sinyal SOS.
***
Pukul delapanmalam. Sev memutar kunci dan membuka pintu, melangkah memasuki mansionnya denganperasaan lega dan penuh antisipasi. Pekerjaannya yang seolah tak pernahberakhir, meeting panjang seolah tanpa henti, negosiasi alot yang mengurasseluruh energi hingga tak menyisakan apapun saat dia pulang, pada akhirnyamencapai titik akhir dengan menorehkan kesuksesan dalam daftar panjangkeberhasilannya. Trend investasi skala besar di kawasan Asia telah pulamenghinggapi para klien kelas kakap yang selama ini ditangani oleh Sev. Bayang-bayangsuram ekonomi Amerika dan Eropa menciptakan kekhawatiran tersendiri bagipemegang kapital skala internasional yang bergerak di bidang produksi massal.Sebaliknya kebangkitan wilayah timur begitu menggiurkan dengan semakinmembengkaknya jumlah penduduk dengan kemampuan menengah yang bersiap menjadikonsumen baru. Menghadapi prospek cerah di benua timur dan meninggalkanbayang-bayang kemakmuran Eropa yang diperkirakan hanya akan menjadi kenanganbelaka. Sev sebagai salah satu rekanan termuda dan memiliki segala kepiawaianyang dibutuhkan seorang pengacara korporasi harus mengawal klien-klien utamadalam melakukan ekspansi pasar ke Asia. Dibutuhkan segala kecerdikan danketangguhan untuk menembus birokrasi dunia baru, menyiasati segalaundang-undang perdagangan dan keuangan serta kelihaian tingkat tinggi untukmenyelip di sela perlindungan yang diterapkan oleh negara-negara yang memasangsistem dumping demi melindungi perekonomian lokal dari serbuan investor asing.Proyek yang sudah dimulai sejak berbulan-bulan lalu mencapai puncaknya justrudalam minggu-minggu terakhir ini.
Jelas waktuyang sangat tidak tepat karena di saat Sev sangat ingin memfokuskan seluruhperhatiannya pada Katty. Katty yang telah membawa kenyamanan dan ketentramandalam mansion mewah miliknya yang selama ini selalu terasa dingin dan kaku.Hanya dengan melangkahkan kaki memasuki ruangan depan, Sev sudah merasakansemburan keberadaan Katty di wilayah pribadinya. Membayangkan gadis ituterlelap di sofa, atau mendengar senandung pelannya saat asyik di studio telahcukup membawa pergi semua beban pekerjaan dari pundaknya. Kattynya yang mungildengan mata coklat almond dan bibirnya yang seksi, yang selalu menghampiribenaknya, bahkan di saat paling tidak tepat sekalipun, seperti saat dia harusmemeriksa berkas-berkas hukum yang disiapkan oleh asistennya atau dalamperbincangan penting yang terjadi dalam jamuan makan malam resmi, dan selalumembuatnya hampir gila karena ingin segera pulang. Katty yang sejakkehadirannya bertahun-tahun lalu telah meBahkan dengan satu kerlingan sajatelah sanggup membuat Sev melepaskan semua kontrol dirinya dan segera membopongKatty ke kamar utama, sarang cinta mereka.
Hampirsetelah percintaan mereka yang pertama Sev tak lagi mengijinkan Katty menempatikamar tamu. Dia sendiri yang memindahkan semua barang pribadi Katty ke dalamkamarnya. Dan sekarang Sev bisa melihat deretan parfum dan make up Kattymenempati meja riasnya. Baju-baju Katty telah pula tergantung berjajarmendampingi pakaiannya di lemari besar di kamarnya. Mereka pun berbagi laciuntuk menyimpan tumpukan pakaian dalam dan aneka pernik lainnya. Perasaan dekatdan intim menghangatkan hatinya manakala mereka bergantian memakai kamar mandiyang sama, sikat gigi Katty berada bersisian dengan miliknya, atau alat cukurKatty yang berwarna pink dan tumpul tampak imut dan cantik mendampingi miliknyayang punya pisau ganda. Bahkan hanya dengan tumpukan dua handuk lembab bekasdipakai atau baju-baju kotor mereka yang tertumpuk di keranjang cucian Sev merasakanKatty memenuhi hatinya, lebih dari belasan tahun hubungan mereka.
Sev bukanpria sok suci. Dia menyadari benar seperti apa dirinya dan hubungan-hubungannyadengan banyak wanita. Dunia yang mungkin tidak akan siap untuk dikenalkannyapada Katty. Namun dia ingin Katty lebih mengenalnya, lebih memahaminya, bukanuntuk mencari pembenaran atas sikapnya di masa lalu, namun lebih untuk menciptakanlandasan kuat bagi hubungan asmara mereka yang masih teramat sangat muda. Sevingin bila saatnya tiba ia ingin Katty melihatnya secara keseluruhan, baik danburuknya dia dengan adil sebagai satu kesatuan manusiawi bagai dua sisi kepingmata uang. Dia ingin Katty yakin bahwa Sev lah lelaki satu-satunya yang memangdiciptakan untuk membahagiakannya.
Sev melirikjam tangan platina tipis di pergelangan tangannya dan kaget manakala sadarbahwa jarumnya sudah menunjuk ke pukul sepuluh malam. Dan Katty belum jugapulang. Mungkin dia sedang ketemu teman-temannya. Tetapi, brengsek sekalikenapa dia tidak meninggalkan pesan? Dan handphonennya pun kenapa dimatikan?Sev sudah beberapa kali mencoba menghubungi tanpa hasil.
Saat waktumenunjukkan pukul sebelas Sev merasa keringat dingin mengaliri punggungnya.Berbagai skenario jahat berputar di kepalanya. Pikiran yang tak mampudicegahnya mengingat betapa mandirinya Katty, yang merasa London sudah sebagaikota taklukannya sehingga menumpang kereta bawah tanah pun dilakoninya. Sevberharap semoga Katty punya cukup akal sehat untuk tidak berkeliaran sendirian danmemilih transportasi yang lebih aman.
Menjelangpukul dua belas Sev akhirnya mendengar pintu depan di buka dan suara Katty yangmemberi salam perpisahan kepada siapapun itu menggema halus menyirami emosinyayang sudah di puncak kepala. Dari ruang duduk diamatinya gadis kesayangannyaitu melenggang masuk dalam balutan busana pesta yang diakui Sev sangat cocokuntuk Katty. Sev menyaksikan manakala Katty tiba-tiba sadar bahwa dirinyasedang diamati serta merta menoleh, membalikkan langkahnya yang semula menujuke tangga dan bergegas menghampirinya.
“Sev...”
“Brengsek !Dari mana saja kau selarut ini baru pulang?” semburnya marah tanpa bisaditahan.
Katty terkejut.Dia benar-benar tak menyangka Sev sudah berada di rumah dalam busana santai,tanda dia pulang dari tadi. Dan lebih terkejut lagi saat Sev menegurnya penuhkemarahan.
“Aku takmenyangka kau pulang cepat. Biasanya kau pulang lewat tengah malam.”
“Jadi kaumemanfaatkan ketidak-beradaanku dengan main-main di luar?”
Wajah Kattyberkedut. Tak sampai lima detik tiba-tiba kemarahan yang selama ini terbenamdalam dirinya menggelegak ingin dilampiaskan. Mata coklatnya berkobar. “Aku takpernah usil dengan jadwalmu yang tidak wajar. Aku merasa diriku cukup dewasauntuk menerimamu yang sering pergi tanpa pemberitahuan yang layak. Aku tak maumembebani kepalaku dengan kemarahan dan prasangka yang tidak perlu karena akumerasa telah mengenalmu dengan sangat baik. Untuk itu aku mengharap perlakuanserupa darimu. Tetapi sepertinya aku salah,” dengan kata-kata itu Kattymendekat dengan berani menghampiri Sev. “Apa yang kau katakan main-main itusebetulnya adalah aku menghadiri pesta gala dinner perusahaan. Kau terlalusibuk sehingga aku sengaja tidak memberitahumu. Aku pergi dengan Simon, temankuyang sudah kau kenal. Namun kau sangat tidak adil karena kau tak pernah menceritakanapapun kepadaku. Sehingga acara makan malammu dengan Angela Clever minggukemarin harus aku dengar dari Mrs. Clever yang sangat menantikan kalian berduameresmikan hubungan, meneruskan apa yang kalian rencanakan di Hawaii padaliburan musim dingin tahun lalu.”
Sev merasasemburan hawa dingin membekukan hatinya.
“Dan mungkinbukan hanya Angela yang harus kau kenalkan lagi kepadaku. Perempuan-perempuanlain dengan siapa kau menghabiskan waktumu selama ini, mungkin ada baiknya kaubawa kepadaku sehingga aku tidak harus mendengarnya dari orang lain. Namunsebaliknya kau tak perlu terlalu marah dengan teman laki-lakiku. Karena tidakseperti dirimu yang sukses dan populer, lingkup pergaulanku dengan laki-lakisangat terbatas, dan tentu saja tidak akan sebanding dengan petualanganasmaramu.”
Dengan kata-kata ituKatty pun berbalik dan pergi meninggalkan Sev yang berdiri mematung. Namun Sevtak perlu waktu lama untuk menemukan kesadarannya dan dalam sedetik diamelangkah dan meraih Katty.